Ling Tian

Ling Tian
Kalian Berani Menyakiti Saudaraku? Mati!


__ADS_3

***


Dunia jiwa Ling Tian.


Sementara di dunia jiwa, Ling Tian baru lima jam disana atau lebih kurangnya baru sekitar setengah jam di dunia luar. Ling Tian yang masih duduk mengobrol bersama saudara-saudarinya tiba-tiba merasakan firasat buruk. Wajahnya yang semula ceria dan terang gembira, kini menjadi suram dan gelap gulita.


Deg! Deg! Deg!


Jantung Ling Tian berdetup tidak karuan. Nafasnya terasa begitu berat dia rasakan. Belum lagi keringat dingin juga tiba-tiba mengalir dari pelipisnya.


"Saudara We!" ucap Ling Tian pelan.


Saudara-saudarinya tentu merasakan keanehan saat perubahan mimik wajah Ling Tian yang seketika.


"Ada apa saudaraku?" tanya Wei Hun.


"Saudara We! Aku merasakan suatu hal buruk sedang menimpa saudara We! Maaf semuanya.. Aku harus pergi sekarang!" ucap Ling Tian.


Zheep!


Tanpa menunggu balasan dari saudara dan saudarinya, Ling Tian langsung bangkit dari tempat duduk dan menghilang meninggalkan semuanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Tuan Muda Tian begitu terburu-buru?" tanya Gu Mei yang masih belum bisa memahami keadaan.


"Saudaraku Ling Tian datang ke daratan tengah bersama Ling We. Dia meninggalkan Ling We sendirian ditengah hutan belantara untuk membiarkannya fokus berkultivasi. Namun sepertinya suatu hal buruk terjadi pada Ling We! Firasat saudaraku tidak pernah salah!" ucap Long Yuan menjelaskan.


"Ohh.. Jadi begitu.. Semoga tidak ada apa-apa kepada Tetua We!" ujar Gu Mei penuh harap.


"Ya! Semoga saja begitu!" angguk semua orang.


***


Hutan daratan tengah.


Ling We yang sudah pingsan diseret menuju Tuan Muda Lian berada. Setelah itu dia dilemparkan begitu saja layaknya sampah yang tidak berguna.


"Mengapa kalian lama sekali?" tanya Tuan Muda Lian.


"Maaf Tuan Muda! Hamba hanya ingin memberinya sedikit pelajaran karena telah melakukan hal yang tidak sopan yaitu mendahului mengambil jinshen yang harusnya milik Tuan Muda!" jawab Hitam Lima.


"Oh.. Begitukah? Baguslah jika kamu melakukannya! Dan lagi, kamu tidak sampai membunuhnya!" ucap Tuan Muda Lian.


"Yang rendah ini mana mungkin membunuh orang yang harusnya Tuan Muda Lian lah orang paling berhak membunuhnya!" tutur Hitam Lima.


"Sangat bagus! Sekarang ikat dan bangunkan pencuri sialan itu!" titah Tuan Muda Lian.


"Baik Tuan Muda!" jawab kelompok hitam serentak.


Para pria berjubah hitam langsung menjalankan perintah Tuan Muda Lian. Mereka mengikat Ling We dengan tali yang sudah dialiri tenaga dalam sehingga menjadi sangat kuat.

__ADS_1


Setelah itu, mereka mendudukkan Ling We beberapa saat dan mengguyurnya dengan air.


"Aakhh.." rintih Ling We saat siuman dan merasakan sakit serta perih disekujur tubuhnya.


Plak!


"Bangun pencuri sialan!" ucap Hitam Satu sambil menampar Ling We.


Gigi Ling We sampai tanggal satu dibagian depan karena saking kuatnya Hitam Satu menamparnya.


"Cuih!" Ling We meludah darah dari mulutnya.


"Sialan! Siapa sebenarnya kalia-"


Buak!


"Uhuk!"


Ucapan Ling We terputus oleh tinjuan Hitam satu pada perutnya yang membuat Ling We kembali batuk darah.


"Diam! Dan jawab pertanyaan yang Tuan Muda Lian hendak tanyakan kepadamu!" ucap Hitam Satu dengan dingin.


"Tuan Muda Lian? Aku tidak mengenal kallan! Aku juga tidak akan menjawab pertanyaan karena memang tidak mungkin bisa menjawabnya!" balas Ling We separuh berteriak.


"Dimana kamu menyembunyikan jinshen itu?" tanya Tuan Muda Lian menyela.


"Sialan! Jinshen apa aku tidak tahu!" jawab Ling We dengan berteriak.


Plaakkk!


"Ugh!"


Hitam Lima menampar Ling We lebih keras daripada tamparan Hitam Satu sebelumnya. Hal itu membuat tiga gigi Ling We kembali tanggal.


"Diam dan jawab saja dengan jujur bodoh! Jika kau tidak ingin merasakan tamparan serta tinjuan kami!" ucap Hitam Lima dengan nada jijik dan geram.


"Cuih! Kalian benar-benar telah melakukan sesuatu yang salah kepada orang yang salah! Jika saudaraku datang, maka matilah kalian semua!" ujar Ling We dengan suara lemah.


"Oh.. Apakah kamu sedang mengancam?" Tuan Muda Lian tertarik dan berdiri dari tempatnya duduk.


"Heh!" Ling We membalasnya dengan senyuman sinis.


"Kalian tunggu saja sebentar lagi! Kematian kalian sudah ditakdirkan jatuh pada hari ini!" lanjut Ling We.


Plak!


"Baik! Aku akan menunggu bajing*n kecil mana yang bisa melepaskanmu dari kematian! Aku harap ucapanmu bukan kebohongan!" ujar Tuan Muda Lian dengan dingin.


"TIDAK PERLU MENUNGGUKU! KARENA AKU SUDAH DATANG! KALIAN BERANI MENYAKITI SAUDARAKU? MATILAH!"

__ADS_1


Swuusshh...


Boommmmmm...


Sosok pemuda bertopeng hitam separuh wajah berjubah hitam muncul dan menyerang Hitam Satu serta Tuan Muda Lian. Alhasil, Hitam Satu langsung menjadi bubur daging dan Tuan Muda Lian terluka parah.


"Kamu tiba diwaktu yang tepat saudaraku!" ucap Ling We lalu kembali terjatuh pingsan.


***


Sebelumnya, saat setelah pergi dari tempat duduknya dan meninggalkan saudara-saudarinya, Ling Tian langsung membuka gerbang dunia jiwa dan muncul kembali di tempat dimana dirinya mengambil sebuah jinshen.


Swuusshh...


Ling Tian keluar dari gerbang dengan ekspresi wajah serius.


'Aura tujuh orang kultivator! Salah satunya berada di ranah Pendekar Platinum! Ini bisa gawat jika saudara We di serang oleh mereka!' gumam Ling Tian saat berhasil mendeteksi aura yang tertinggal.


'Aku harus bergegas!'


Swoosshh...


Ling Tian melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana Ling We melakukan kultivasinya. Ling Tian juga merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Ling We sendirian berkultivasi tanpa membuatkannya sebuah formasi array untuk melindunginya.


Hanya butuh waktu sekejap Ling Tian telah sampai ditempat Ling We berada. Ling Tian dapat melihat saudaranya itu dalam kondisi mengenaskan dan sedang ditampar serta disiksa.


Melihat itu, mata Ling Tian menjadi merah karena marah. Aura kultivasi serta niat membunuhnya meledak dengan gila bertepatan dengan itu juga Tuan Muda Lian mengatakan akan menunggu orang yang hendak membunuh dirinya. Ling Tian menjawabnya dengan teriakan lantang dan menggema kesegala arah hutan tersebut, kemudian melesat dengan kecepatan tidak bisa dilihat mata.


"TIDAK PERLU MENUNGGUKU! KARENA AKU SUDAH DATANG! KALIAN BERANI MENYAKITI SAUDARAKU? MATILAH!"


Swuusshh...


Booommmmm...


Ling Tian berhasil menyerang dua orang sekaligus namun salah satunya berhasil selamat. Ling Tian melihat saudaranya dengan tatapan iba dan meminta maaf.


"Kamu tiba diwaktu yang tepat saudaraku!" ucap Ling We kemudian pingsan.


***


"Saudaraku!" ucap Ling Tian sambil menangkap Ling We agar tidak terjatuh. Ling Tian mengeluarkan sebuah pil roh penyembuhan tingkat jiwa dan tanpa ragu memasukkannya kedalam mulut Ling We.


Ling Tian membaringkan tubuh Ling We pada pangkuannya dengan pelan sembari terus mengalirkan energi Qi miliknya agar penyerapan pil menjadi lebih cepat.


Beberapa saat kemudian, luka-luka menganga yang diderita Ling We perlahan merapat dan sembuh dengan kecepatan dilihat mata.


"Istirahatlah sebentar saudaraku! Aku akan membereskan mereka semua!" ucap Ling Tian pelan sambil meletakkan kepala Ling We diatas tanah. Kemudian Ling Tian membuat gerakan khusus dengan menggunakan hampir lima puluh persen energi Qi dalam tubuhnya.


"Aku akan menyiksa kalian sampai saudaraku siuman. Domain Pedang, aktif!" teriak Ling Tian.

__ADS_1


Zhuuung!


__ADS_2