
Ling Tian memandangi semua orang yang menyerukannya dengan sebutan 'Dewa Alkimia' dengan seksama lalu menghela nafas panjang. Dia tidak mengira akan terjadi hal yang serupa atau reaksi seperti saat dirinya di Sekte Neraka.
Setelah ikut berseru lantang, Patriark Zhong Lin mengangkat tangannya memberikan kode untuk orang-orang berhenti berteriak. Patriark Zhong Lin maju beberapa langkah dan memberikan sebuah cincin penyimpanan kepada Ling Tian.
Para penonton kembali bersorak dan menimbulkan gemuruh. Tepuk tangan dan teriakan orang-orang yang mendewakan Ling Tian jelas terdengar begitu antusias. Terlebih bagi para perempuan. Hampir seratus persen semuanya meneriaki Ling Tian karena tampang atau wajah Ling Tian yang tiada obat dalam hal ketampanannya. Mahakarya Tuhan yang paling sempurna menurut mereka.
Ling Tian menerima hadiah itu dengan tangan terbuka untuk menghargai para dewan panitia. Dia tidak mengecek apa isi didalamnya namun langsung menyimpannya di saku jubah.
"Terima kasih Patriark Zhong!" ucap Ling Tian dengan tersenyum ramah.
"Tuan Mu-, maaf maksudku Dew-.." ucapan Patriark Zhing Lin dipotong oleh Ling Tian.
"Namaku Ling Tian! Anda bisa memanggil dengan namaku saja Patriark Zhong!" ujar Ling Tian.
"Emm.. Baiklah! Tuan Muda Ling!" kata Patriark Zhong Lin.
Patriark Zhong Lin kembali terbang melayang kemudian mengarahkan pandangannya kehadapan semua penonton.
"Hadirin sekalian! Harap tenang terlebih dahulu!" teriak Patriark Zhong.
"Dengarkan kataku! Dewa Alkemis kita adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong! Beliau baru saja mengatakan kepadaku bahwa kita semua dilarang memanggilnya Dewa karena tidak suka! Aku harap kalian semua menurutinya!..."
"Oiya, beliau bernama Ling Tian!" lanjut Patriark Zhong Lin dengan suara menggelegar.
***
Dua hari telah berlalu semenjak diumumkannya Ling Tian menjadi pemenang turnamen dan mendapat gelar Dewa Alkimia. Saat ini dibelakang kediaman Tetua Zhong En atau lebih tepatnya disebuah taman kecil, Ling Tian, Ling We dan Zhong Nian sedang duduk santai sambil ditemani minuman teh yang tercium bau harumnya yang khas dan menyegarkan.
Ling Tian dan Zhong Nian memasang wajah senyum dan cerah, sementara Ling We memasang wajah suram sesuram-suramnya. Ling Tian tersenyum karena suatu hal yang sedang dia fikirkan, begitu juga dengan Zhong Nian.
Dan untuk Ling We yang wajahnya teramat buruk, itu disebabkan karena kekasih hatinya alias Zhong Nian selalu memandangi wajah Ling Tian yang tidak memakai topeng tanpa berkedip dan ditambah lagi dengan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
'Sial! Mengapa wajahku tidak setampan saudara Tian! Sial! Sial! Sial!' umpat Ling We didalam hatinya.
__ADS_1
Ling Tian sedikit melirik kearah Ling We dan mendapati muka buruknya.
"Saudara We! Ada apa dengan wajahmu?" tanya Ling Tian.
Ling We tidak langsung menjawab. Dia justru melotot kearah Ling Tian yang seolah tidak menyadari sesuatu.
"Eh? Mengapa kamu malah melotot gitu? Saudari Nian! Ada apa dengan calonmu it-.." ucapan Ling Tian tidak selesai saat melihat Zhong Nian yang tidak berkedip memandanginya sambil senyum-senyum. Ling Tian langsung memahami pokok masalah yang membuat saudaranya itu berwajah buruk.
Zhong Nian terus melihat Ling Tian dan tersenyum manis bahkan sampai tidak menyadari ujaran Ling Tian. Matanya terbuka dan sadar namun yang dilihatnya adalah halusinasi tingkat tinggi dengan pemilik wajah paling sempurna yang pernah dia pandang.
"Saudari Nian! Saudari Nian!"
Lamunan Zhong Nian tersadarkan saat Ling Tian hampir sepuluh kali memanggil namanya dan kembali memakai topeng separuh wajah.
"Ah! Saudara Tian! Anu.. Ada apa?" Zhong Nian gelagapan dan salah tingkah saat menyadari kekhilafannya. Ling We tersenyum kecut sementara Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak berapa lama, tiba-tiba ketiganya dihampiri oleh seorang pelayan keluarga Zhong Nian yang langsung mengatakan bahwa Ling Tian kedatangan beberapa tokoh tua dari beberapa kalangan dan menunggunya di ruang tamu.
Keduanya hanya menggelengkan kepala tanda tidak mau. Mereka menduga bahwa obrolan dalam pertemuan kali ini akan membahas masalah-masalah rumit. Dan lagi, keduanya tidak cukup terbiasa jika harus duduk-duduk bersama orang-orang tua.
"Kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Ling Tian sambil berdiri dari tempat duduknya.
Tidak lupa Ling Tian juga mengucapkan terima kasih kepada pelayan dan mempersilahkannya untuk kembali.
"Oiya saudara We! Tidak usah terlalu cemburu kepadaku! Hal yang seperti tadi itu wajar, karena aku memang tercipta terlalu tampan! Hahaha.." ujar Ling Tian lalu dengan cepat-cepat dia menghilang dari hadapan sepasang kekasih itu.
"Sialan kau saudara Tian! Saudara laknat!" seru Ling We dengan tersungut-sungut.
"We Gege! Sabar-sabar!" ujar Zhong Nian.
"Sabar yang bagaimana? Dia memang selalu sok narsis! Sialan!" kata Ling We.
"Lagian mengapa kamu juga terus memandanginya? Sambil senyum-senyum lagi! Huh!" lanjut Ling We dengan nada sedikit tinggi secara tidak sengaja.
__ADS_1
"Maaf Gege!" ucap Zhong Nian.
"Kamu tahu apa yang ada disini dan kondisinya saat ini?" tanya Ling We sambil menunjuk dada kirinya sendiri.
"Hatiku berdarah Nian'er!" lanjut Ling We dengan menekankan kata berdarahnya.
"Maafkan Nian'er We Gege! Tadi.. Tadi aku.. Aku tadi khilaf!" tutur Zhong Nian terbata-bata sambil memasang wajah sedih dan menunduk. Mata indahnya juga berkaca-kaca yang bisa saja saat itu juga pecah dan mengalir membanjiri pipi halusnya.
Melihat itu, Ling We menjadi salah arah dan tidak bisa lagi harus bagaimana dirinya bersikap. Dia hanya bisa menghela nafasnya panjang-panjang lalu memeluk kekasih hatinya itu.
"Yasudah.. Yasudah.. Maafkan Gege! Gege terlalu terbawa suasana sebelumnya!" ucap Ling We sambil mengelus lembut punggung Zhong Nian.
Zhong Nian masih saja diam dan membisu membuat Ling We menjadi semakin bingung.
"Maafkan Gege yaa.. Gege salah sudah berkata keras kepada Nian'er! Maafkan Gege sayang!"
Ucapan Ling We nyatanya tidak mendapat tanggapan apapun dari Zhong Nian dan justru malah Ling We merasakan ada rasa basah pada pakaian bagian dadanya yang tidak lain karena air mata Zhong Nian yang sudah tidak tertahankan.
"N-nian'er! Maafkan Gege!" ujar Ling We kebingungan. Dia memeluk Zhong Nian semakin erat dan berulang kali berucap maaf.
Setelah beberapa saat lamanya, Zhong Nian akhirnya mendongakkan pandangan memandangi wajah Ling We.
"Hiks.. Hiks.. Nian'er yang salah We Gege! Harusnya Nian'er bisa pandai menjaga bersikap jika dengan Gege. Tapi tolong jangan bentak Nian'er lagi!" tutur Zhong Nian masih dengan terisak.
Ling We kembali memeluk Zhong Nian dengan eratnya.
"Tidak Nian'er.. Tidak! Gege tidak akan mengulanginya lagi! Maafkan Gege!" ujar Ling We.
***
Ditempat lain, Ling Tian baru saja menginjakkan kakinya untuk masuk kedalam ruang tamu kediaman Tetua Zhong En. Dirinya dikejutkan dengan begitu ramainya orang-orang pria dan wanita baya yang hendak menemuinya. Beberapa dari mereka juga ada muda-mudinya.
"Selamat datang Dewa Alkimia!" seru semua orang sambil menangkupkan kedua tangan.
__ADS_1