
Ling Tian yang sedang menampari Tuan Muda Mang Kang menghentikan pekerjaannya saat medengar teriakan kemarahan serta niat membunuh yang sangat pekat terarah kepadanya.
Dia melemparkan tubuh Tuan Muda Mang Kang yang wajahnya sudah tidak berbentuk dan dikenali itu kepada orang yang berteriak seperti sampah tidak berguna. Memang bagi Ling Tian orang-orang yang seperti Mang Kang itu tidaklah lebih daripada sampah.
Wusshh...
Pria paruh baya itu menangkap tubuh putranya itu dengan sigap lalu menatapnya dengan kesedihan. Pria paruh baya itu meletakkan tubuh yang sudah sekarat itu diatas tanah secara perlahan.
"A-ay-yah.." ucap Mang Kang dengan terbata-bata kemudian pingsan karena tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.
"Yakinlah nak! Ayah akan membalas rasa sakitmu jutaan kali lipat!" tutur Jendral Besar Mang Juan.
Setelah meminta salah satu orang untuk mengamankan putranya, Sang Jendral Besar lalu berdiri dengan tegap menatap Ling Tian dengan tajam. Andai tatapan itu bisa membunuh maka sudah dipastikan Ling Tian akan terbunuh puluhan kali.
"Nak! Atas dasar apa kau menyiksa putraku dengan begitu kejam?" tanya Jendral Besar Mang Juan.
"Sebelum berbicara, bukankah tidak sopan jika belum memperkenalkan diri!" ucap Ling Tian dengan santai yang membuat pria paruh baya itu semakin murka. Bahkan orang-orang yang berada tidak jauh dari kedua orang itu hampir muntah darah mendengar ucapan santai Ling Tian yang secara tidak langsung mengatakan tidak mengenali sosok Jendral Besar Kota Xun itu.
Yang Ling Tian tahu adalah pria didepannya ini adalah ayah dari Mang Kang yang memiliki kekuatan yang cukup tinggi dan sebanding dengan dirinya. Namun begitu, dia sama sekali tidaklah gentar! Selagi bukan Ranah Kaisar, dia akan dengan senang hati melayaninya.
Mengenai Ranah Kaisar, Ling Tian belum terlalu yakin untuk melawannya. Itu karena kemurnian Qi biasa dan Kaisar Qi sangatlah jauh dan mungkin terpaut tiga sampai lima kali lipat lebih murni. Sehingga orang yang bertarung menggunakan Kaisar Qi dan Qi biasa akan sangat mustahil dimenangkan oleh orang yang menggunakan Qi biasa.
Wajah Jendral Besar Mang Juan semakin menghitam mendengar ucapan santai Ling Tian yang tidak mengenalinya.
"Keparat! Orang luar tidak tahu diri! Sebelum kau mati, ingatlah nama orang yang akan membunuhmu! Aku Mang Juan, Jendral Besar Kota Xun!" seru Mang Juan lalu melesat menyerang Ling Tian dengan serangan tapak.
Swoshh...
Ling Tian yang melihat lawannya menyerang tentu tidak tinggal diam. Dia juga ikut melesat menyambut serangan tapak itu dengan tapak juga.
Swoshh...
Boommm...
__ADS_1
Ledakan besar terjadi saat kedua tapak salong bertemu. Keduanya terlempar puluhan meter lalu dengan cepat bangkit kembali dan saling serang lagi dengan beradu tapak.
Bomm... Bomm...
Bomm...
Setelah lima belas menit, ledakan itu terhenti dan keduanya mengambil jarak.
"Tidak aku sangka ternyata kau cukup kuat dan menyembunyikan kekuatan aslimu! Pantas saja putraku beserta para pengawalnya dapat dengan mudah kau kalahkan!" ucap Jendral Mang Juan sengan sombonh namun dalam hatinya cukup terkejut dengan kekuatan asli pemuda didepannya itu. Dia juga merasakan tangannya yang seperti mati rasa setelah saling adu dengan tangan Ling Tian.
Jendral Besar Mang Juan tidak tahu bahwa Ling Tian barulah menggunakan lima puluh persen kekuatannya. Andai dia mengetahuinya, maka dia pasti tidak akan berani bicara sesombong itu dan memilih untuk berdamai dengan Ling Tian.
Dia mengeluarkan sebilah pedang pusaka tingkat hijau kualiatas tinggi dari cincin penyimpanannya. Jendral Besar Kota Xun itu saat ini tidak akan lagi meremehkan pemuda didepannya dan akan mulai bertarung dengan serius.
"Ehehehe.. Jendral Besar! Anda terlalu memujiku! Aku tidaklah sekuat itu!" ucap Ling Tian memberikan jawaban sambil cengengesan.
Ling Tian juga mengeluarkan pedang pusaka tingkat merah dari cincin penyimpanannya yang tidak lain adalah pedang samudera kegelapan. Pedang pertama buatannya yang sudah cukup lama dia tidak gunakan untuk bertarung. Terakhir kali pedang ini digunakan yaitu oleh Ling We pada saat melawan gangguan dari para anggota Klan Lian beberapa waktu lalu.
Melihat pedang hitam kebiruan dengan aura ganas yang dipancarkan dari pedang Ling Tian, Jendral Besar Mang Juan merasa sedikit bergetar karena merinding.
'Pedang tingkat merah? Bahkan dikualitas sempurna! Aku harus mendapatkannya!' batin Mang Juan yang hatinya langsung dipenuhi sifat serakah.
Jendral Besar Mang Juan mengalirkan energi Qi sebanyak dua puluh persen ke pedang pusakanya. Pedang itu bergetar dengan lembut dan aura tajam segera terpancar darinya.
Dengan senyuman penuh arti, Jendral Besar Mang Juan lalu melesat menyerang Ling Tian. Sementara Ling Tian hanya perlu mengalirkan lima persen Qi miliknya ke pedang samudera kegelapan dan aura yang terpancar menyamai aura dari pedang milik Jendral Besar Mang Juan karena perbedaan tingkat senjatanya.
Traankkk!
Bhusshh...
Suara benturan kedua pedang disusul hembusan angin tajam menyebar kesegala arah memaksa para penonton yang menyaksikan pertarungan keduanya semakin menjaga jarak dan menjauh.
Trank! Trank!
__ADS_1
Seperti biasa, Ling Tian menggunakan teknik pedang Klan Yi untuk mengimbangi teknik berpedang Jendral Besar.
'Kurang ajar! Teknik berpedang pemuda ini ternyata mampu mengimbangi teknik berpedangku! Ini akan sedikit merepotkan!' batin Jendral Besar Mang Juan dengan kesal.
***
Sementara itu didalam istana Klan Xun, aksi heroik yang dilakukan Ling Tian yang memberikan tamparan kejam kepada Mang Kang dan sedang bertarung melawan Jendral Besar Kota Xun telah terdengar oleh para petinggi Klan Xun.
Mereka semua tahu alasan mengapa pemuda yang tiba-tiba muncul itu melakukan hal yang kejam seperti itu. Itu karena Ling Tian selalu menyerukan sebuah alasan setelah menampar Tuan Muda Klan Mang, Mang Kang.
Saat ini didalam aula pertemuan Klan Xun sedang diadakan rapat penting guna membahas terbukanya dunia rahasia di Gunung Huashu dan ditambah aksi Ling Tian yang sangat berani.
"Jadi Patriark, bagaimana menurut anda mengenai pemuda antah berantah yang kejam itu?" tanya Tetua Pertama Klan Xun.
"Menurutku pemuda itu datang ke Kota Xun kita ini karena dunia rahasia yang akan segera terbuka!.."
"Lalu mengenai kekacauan yang diperbuat, aku rasa pemuda itu tidaklah salah! Dia melakukan hal itu karena suatu alasan yang pasti!.."
"Namun tetap saja kita harus menahannya dan memintanya membayar denda untuk kerusakan yang dia perbuat. Begitu pula dengan Jendral Mang Juan! Dia juga harus didenda karena hal ini! Terlebih dia membela pihak yang sudah jelas salahnya!.."
"Aku membebaskan Kota Xun dari pertarungan siapapun, namun tidak dengan membayar denda kerusakan! Tetua Agung, Tetua Pertama dan Tetua Kedua! Bawa lima puluh pasukan elite kita! Hentikan pertarungan itu agar tidak semakin meluas kerusakan yang ada!" ucap Patriark Xun.
"Baik!" angguk ketiganya.
"Katakan juga kepada mereka berdua, jika memang ingin saling bunuh, maka bertarunglah di arena hidup dan mati!" ucap Patriark Xun memberikan perintah.
"Baik Patriark!" ucap ketiganya serentak lalu dengan sigap meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan tugasnya.
"Dan kalian semua, sekarang boleh pergi sekarang! Untuk urusan mengenai terbukanya dunia rahasia, kita akan bahas lagi bersama dua hari dari sekarang!" lanjutnya sambil melihat para petinggi klannya.
"Baik Patriark!" ucap semua Tetua Tingkat Tinggi Klan Xun lalu membubarkan diri dan kembali ke kediaman masing-masing.
Setelah kepergian para tetua, Patriark Xun yang bernama Xun Chai menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Haihh.. Ada-ada saja!"