
Keduanya mengutuk perbuatan Mao An karena dia mengerang disaat dimana mereka tidak mungkin bisa bergerak dengan leluasa dan berkonsentrasi penuh. Sementara Mao An hanya tersenyum menyeringai melihat kedua tua bangka itu yang berwajah masam. Mao An yakin seribu persen bahwa dia tidak perlu terlalu repot untuk mengalahkan keduanya.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa membuat ulah dengan kami?" tanya Leluhur Xiao Chen yang merasa sakit luar biasa saat dihantam bogem mentah milik Mao An.
"Apakah kamu bertanya kepadaku untuk mengulur waktu supaya bisa menyelesaikan penyerapan pil? Hehehe.." Mao An balik bertanya sambil tertawa jahat.
Wajah Leluhur Xiao Chen dan Leluhur Song Mu langsung masam karena mendapati pertanyaan balik dari Mao An. Ya! Mereka bertanya kepada Mao An juga disamping ingin tahu identitasnya, mereka juga memiliki niat terselubung untuk mengulur waktu supaya bisa menyerap seutuhnya pil penyembuh serta pil peledak energi.
"Kalian hanya diam? Berarti itu benar! Bagaimana jika aku memberikan beberapa pukulan lagi untuk para pembantu penghianat Lian Qin itu?" ucap Mao An bertanya lalu melesat dengan kecepatan tinggi menyerang kedua pria tua itu.
Leluhur Xiao Chen dan Leluhur Song Mu langsung membelalakkan matanya saat mendengar pertanyaan dari Mao An. Mereka ingin bertanya balik mengenai suatu hal. Tapi bogem mentah sudah bersarang kembali didada kedua orang tua itu hingga mereka terlempar puluhan langkah.
Mao An langsung menghajar keduanya terus-menerus hingga satu jam lamanya hanya dengan tinjunya secara bergantian hingga keduanya babak-belur. Pil peledak energi dan pil penyembuhan yang sebelumnya mereka minum kini telah habis esensinya tanpa ada manfaat sedikit pun.
Kedua pria sepuh itu kini tergeletak dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali alias benar-benar dibuat-babak belur oleh Mao An.
"Haiih.. Akhirnya aku puas sekali setelah memberikan kalian beberapa pukulan pembuka seperti ini!" kata Mao An sambil tersenyum cerah.
Dia lalu membuat sebuah segel ditangannya, lalu seberkas cahaya berwarna kehitaman muncul dari ujung-ujung jari Mao An yang berjumlah empat cahaya lalu dia mengarahkan tangannya kepada dua pria sepuh itu.
Bhussh...
Cahaya berwarna kehitaman terbagi menjadi dua kemudian melesat ke arah dua pria sepuh atau Leluhur Kekaisaran Xiao dan Leluhur Kekaisaran Song yang menjerit karena merasakan panas yang luar biasa kepada dua bagian vitalnya yaitu bagian jantung dan bagian dantian.
__ADS_1
Kedua leluhur dua kekaisaran itu hanya bisa menerapkan giginya saat mendapat diri mereka kini benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jika sedikit saja mereka membelot dari Mao An maka cahaya kehitaman yang ternyata adalah esensi api milik Mao An akan langsung membakar dua bagian terpenting tubuh mereka.
"Hehehe.. Bangunlah para tua bangka! Maaf saja ya! Bukan aku tidak punya sopan santun terhadap orang yang lebih tua, akan tetapi sikap dan keserakahan kalian di masa lalu benar-benar tidak bisa dimaafkan!" ucap Mao An sambil memperlihatkan wajah seolah dirinya sangat menyesal melakukan hal kepada dua pria tua di depannya itu.
Sementara untuk kedua leluhur dari Kekaisaran Song dan Kekaisaran Xiao hanya tersenyum asam mendapat ucapan dari pria muda di hadapannya itu yang menurut mereka adalah bualan semata.
Keduanya bangkit dan mencoba untuk duduk. Mereka lalu menatap ke arah Mao An yang kini telah menjadi tuan mereka.
"Maaf jika budak ini lancang! Sebenarnya siapakah tuan ini? Apakah Tuhan berasal dari Klan Ling? Namun mengapa aura yang dipancarkan oleh tuan adalah aura monster beast?" tanya Leluhur Xiao Chen memberanikan diri.
"Bisa dikatakan seperti itu! Aku adalah saudara sekaligus pelayan dari tuan muda Ling Tian!" jawab Mao An sambil tersenyum lebar.
Kedua leluhur tua itu hanya bisa tertunduk lesu saat ternyata pria muda di depannya itu benar-benar memiliki sangkut-paut dengan sesuatu yang sangat mereka takutkan. Sesuatu itu tidak lain adalah balas dendamnya para anggota Klan Ling kepada mereka yang telah membantu Leluhur Lian Qin dan Klan Lian untuk memberontak dan membantai anggota Klan Ling di masa lalu.
"Baik tuan!" jawab kedua orang tua itu dengan cepat agar tidak membuat Mao An marah dan akan memberikan penyiksaan pada jantung atau dantian mereka.
Keduanya langsung mengeluarkan dua pilihan dikatakan oleh Mao An lalu menelannya secara bersamaan. Hanya butuh waktu 1 jam bagi keduanya untuk menyerap esensi dari kedua pil itu lalu mereka berdua membuka matanya.
"Baiklah! Mari kita bergerak sekarang juga!" ucap Mao An yang tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada keduanya untuk beristirahat meskipun hanya sejenak saja.
"B-baik tuan!" angguk keduanya secara bersamaan.
Ketiganya lalu bergerak ke arah selatan untuk mencari keberadaan dari Ling Tian.
__ADS_1
***
Disebuah hutan yang kini tanamannya telah menjadi lapuk dan tanahnya menjadi gersang Ling Tian berjalan dengan santai untuk keluar dari hutan itu. Dia tidak terlalu memperdulikan mengenai fenomena berubahnya hutan itu, sebab dunia ini bukanlah dunianya serta manfaat yang didapatkan dari menyerap energi aneh cukup memuaskannya.
Saat Ling Tian baru saja melangkahkan kakinya sejauh 1 kilometer, dia merasakan beberapa aura milik manusia namun mempunyai energi aneh yang ada di dunia ini.
'Oh? Apakah orang-orang ini adalah penduduk pribumi dunia ini' batin Ling Tian berspekulasi.
Dia mengedarkan Indra spiritualnya untuk mengukur kekuatan yang dimiliki oleh aura-aura manusia yang dirasakannya sebelumnya.
'Kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang ini cukuplah kuat! Bahkan ada lima yang sudah berada di ranah Pendekar Tembaga dan dua di ranah Pendekar Besi Tahap Puncak! Sungguh entitas yang sangat kuat dan tidak tersentuh bagi orang-orang dari Benua Langit!' Ling Tian membatin.
Ling Tian tidaklah mungkin takut dengan mereka semua. Dengan mengandalkan kekuatan tubuh serta teknik berpedang yang dikuasainya, maka Ling Tian sangat yakin akan mengalahkan mereka semua dengan mudah.
Dia berjalan dengan santai menuju ke arah di mana aura-aura itu terpancar.
'Kira-kira apakah aku akan disambut dengan penuh senyuman atau diacungi senjata ya?' tanya Ling Tian pada dirinya sendiri menebak mengenai orang-orang pribumi yang tentang bagaimana cara mereka akan berekspresi setelah mengetahui keberadaan dirinya.
Setelah berjalan beberapa waktu, Ling Tian akhirnya melihat sekelompok orang yang memakai pakaian seadanya dan terlihat sangatlah primitif.
"Itu dia pembuat bencana di hutan ini! Mari bunuh dia!" teriak sang jenderal setelah melihat keberadaan Ling Tian.
'Oh.. Sambutan yang sangat baik!' kata Ling Tian dalam hatinya.
__ADS_1