
Ling Tian terus terbang melesat dan bahkan kali ini sedikit menambah kecepatannya yang membuat kelima orang yang mengejarnya mengerutkan kening.
"Bocah itu sepertinya sudah mengetahui keberadaan kita! Dia mempercepat laju terbangnya! Ayo kejar!" ucap salah satu pria baya.
"Baik Tetua Pertama!" seru keempat lainnya serentak.
Mereka berlima pun menambah kecepatan laju terbangnya sehingga tampak seperti orang-orang yang sedang main kejar-kejaran. Ling Tian mengangkat sudut bibirnya lalu menggunakan elemenitas bayangannya untuk menghilangkan jejak serta aura keberadaannya.
Zheep!
Ling Tian mengilang seolah bersatu dengan udara tipis yang membuat kelima orang pengejarnya terkejut dan berhenti tepat dimana aura Ling Tian terakhir tertinggal sebelum menghilang.
"Kemana dia pergi? Apakah dia bisa secepat itu dalam melesat?" tanya pria baya yang dipanggil Tetua Pertama.
Keempat lainnya tidak menjawab karena memang tidak ada jawaban yang bisa mereka keluarkan untuk menjawab pertanyaan Tetua Pertama. Kelimanya mencari Ling Tian disemua sudut yang ada namun hanya kekecewaan yang mereka dapatkan.
"Sial! Kita kehilangan jejaknya!" ucap Tetua Pertama mengumpat.
Keempat orang yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Mereka sangat tidak menduga bahwa bocah yang mereka tandai dan kejar akan lepas tanpa hasil apapun.
__ADS_1
Disela-sela umpatan mereka, tiba-tiba suara tepuk tangan yang menggema dan seolah bersatu dengan angin terdengar ditelinga kelima orang paruh baya tersebut.
"Empat orang ranah Pendekar Berlian Menengah dan satu ranah Pendekar Berlian Akhir? Aku tebak kalian pasti dari Klan Lian!" ujar suara tanpa rupa.
"Bocah sialan! Keluar kau! Jangan hanya bersembunyi seperti seorang pengecut!" teriak Tetua Pertama.
"Hahaha.."
Suara tawa yang terdengar sangat mengejek menjadi jawaban dari ucapan Tetua Pertama.
"Aku bertanya-tanya, apakah kalian ini memiliki otak atau tidak! Hendak melawan satu orang dengan dengan lima orang? Siapakah pengecut yang sebenarnya itu?" ujar suara tersebut mengejek.
Mereka berlima memasang sikap siaga karena sewaktu-waktu musuh yang bersembunyi ini bisa melancarkan serangan dadakan.
Swish...
Boommmm...
Dan benar! Salah satu dari pria baya yang sedikit lengah langsung mendapatkan serangan dari bilah angin berbentuk bulan sabit yang mengandung niat pedang yang sangat dahsyat. Pria paruh baya itu terlempar menghantam tanah dengan kecepatan luar biasa dan terluka dengan lumayan parah.
__ADS_1
Keempat Tetua yang lain segera menghampiri Tetua tersebut. Namun ketika masih berada ditengah perjalanan, sosok pemuda bertopeng hitam separuh wajah dengan jubah hitamnya lengkap dengan pedang pusaka terhunus ditangan tiba-tiba muncul dari kekosongan dan menghadang jalan mereka.
"Biar dia merasakan nikmatnya rasa sakit terlebih dahulu!" ujar pemuda bertopeng itu yang tidak lain adalah Ling Tian.
Swooshh...
Setelah mengatakan itu, Ling Tian melesat dengan cepat menyerang dengan ayunan pedang pusaka tingkat putihnya. Ling Tian menyuntikkan dua persen energi Qi miliknya pada serangannya kali ini. Melihat yang dihadapi adalah empat orang sekaligus, maka tidak akan cukup kuat jika hanya satu persen saja seperti biasanya.
Bilah angin berbentuk bulan sabit yang mengandung niat pedang kuat dengan diameter lumayan besar melesat hendak memotong apa saja yang dilewatinya. Keempat Tetua itu yang melihat Ling Tian menyerang tentulah tidak tinggal diam. Mereka dengan sigap mengeluarkan pedang pusaka masing dan mengalirkan energi Qi dalam jumlah besar untuk bersama-sama menahan serangan Ling Tian.
Boommm...
Ledakan dahsyat terjadi saat kedua serangan saling bertemu. Ketiga Tetua dari Klan Lian terdorong mundur beberapa meter dan langsung memasang wajah serius sementara Tetua Pertama hanya diam ditempat.
Dengan bertukar satu serangan ini, keempatnya sudah mengirakan kekuatan yang dimiliki lawannya atau pemuda bertopeng bermarga Ling ini cukup kuat namun tidak melebihi Tetua Pertama. Namun, andaikan mereka tahu bahwa Ling Tian hanya menggunakan dua persen saja energi Qi miliknya, mereka pasti akan muntah darah dan langsung kabur untuk menyelamatkan nyawa daripada meneruskan pertarungan.
"Hahaha.. Cukup lumayan!" ujar Ling Tian dengan senyum mengejek daan terlihat sangat mengesalkan. Siapapun yang melihatnya pasti rasanya ingin memukulinya saat itu juga.
__________________________________________
__ADS_1
*Mohon maaf karena Up sangat sedikit (50%)🙏. Author lagi kurang sehat dan ini pun sedikit memaksakan buat ngetik. Mohon doanya para temen-temen semua🙏.