
Ling Tian dan Mao An melesat dengan kecepatan tinggi yang membuat mereka berdua tidak terlihat oleh orang-orang yang sudah menjaga bibir pantai. Keduanya bagaimana dengan angin dan hanya terlihat seperti sebuah asap hitam yang melesat memasuki daratan barat karena keduanya memiliki elemen yang berwarna hitam. Mao An dengan elemen api hitamnya dan Ling Tian dengan elemen bayangannya.
"Kita lolos dari pemantauan mereka!" ucap Mao An sembari tersenyum menyeringai.
"Wajar saja. Tidak mungkin orang-orang yang hanya berada di ranah Pendekar Perak dan Emas matanya dapat mengimbangi kecepatan kita," sahut Ling Tian sembari menggelengkan kepalanya.
"Hahaha.. Kamu benar saudaraku!" tawa Mao An membenarkan.
Setelah keduanya sudah sampai berada di atas hutan yang terlihat sangat rimbun dan lebat, keduanya pun menghentikan baju mereka karena Mao An tiba-tiba berhenti.
"Ada apa saudaraku?" tanya Ling Tian keheranan dan mengerutkan keningnya.
"Ehem.. Aku bertanya-tanya mengapa Tuan Muda tidak mengajak saudari Feng dan saudara Gui untuk ikut dalam berpetualang di daratan barat ini?" tanya Mao An.
"Ooh.. Itu.. Kamu tahu bukan bahwa berpetualang bersama dengan seorang wanita cantik seperti saudari Feng dapat menimbulkan sesuatu yang tidak perlu dan merepotkan? Terlebih kita saat ini sedang berada di wilayah kekuasaan aliansi aliran hitam yang mana mereka itu memiliki kebiasaan yang buruk!" jawab Ling Tian.
"Hmm.. Benar sekali. Meskipun mustahil ada seseorang yang mampu mengalahkan saudari Feng, akan tetapi menghindari sesuatu yang tidak perlu itu juga perlu dilakukan!" ujar Mao An mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya.. Begitulah." kata Ling Tian.
Wajah Mao An tiba-tiba saja berubah seperti wajah seekor kucing yang terlihat sangatlah imut dan matanya seperti mata anjing yang seperti sedang merayu tuannya. Mao An senyum-senyum tidak jelas kepada Ling Tian yang membuat pemuda bertopeng separuh wajah itu mengerutkan keningnya lagi.
"Ada apa?" tanya Ling Tian heran.
"Ehehehe.. Bagaimana jika aku kembali menjadi kucing seperti kemarin-kemarin Tuan Muda?" tanya Mao An dengan wajahnya yang yang memohon dan sangat terlihat menjijikan.
"Oh.. Jadi kami ingin kembali bermalas-malasan dan hanya tiduran saja di atas pundakku?" kata Ling Tian yang akhirnya mengerti mengapa saudaranya berekspresi seperti itu.
__ADS_1
"Ehem.. Jangan salah sangka dulu saudaraku. Aku hanya ingin membuat dirimu lebih leluasa dengan bergerak sendiri!" ucap Mao An pergilah dan membuat alasan yang terdengar masuk akal.
"Cih! Baiklah.. Terserah kau saja!" decih Ling Tian lalu dengan senang hati dan sedikit terburu-buru Mao An langsung berubah menjadi kucing hitam kecil yang terlihat sangat imut dan melesat menuju ke atas pundak kanan Ling Tian.
"Hehehe.. Semoga sukses dalam perjalananmu Tuan Muda!" kata Mao An dengan berbisik lalu mulai menutup matanya untuk tidur dan bermalas-malasan.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah yang sangat-sangat aneh dari saudaranya itu. Akan tetapi dia tetap membiarkannya begitu saja karena jika saudaranya itu tidak bertingkah aneh dan membuat onar maka dia malah justru terlihat seperti bukan saudaranya.
Setelah itu Ling Tian pun kembali melanjutkan perjalanan dengan melesat menggunakan elemen bayangannya yang membuatnya tidak terlihat ataupun terdeteksi auranya sedikitpun dan kecepatannya berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelum-sebelumnya.
.
.
Satu jam kemudian, Ling Tian gini akhirnya telah dapat melihat sebuah pemukiman yang mungkin lebih layak disebut seperti desa dan dia berniat untuk beristirahat di sana dan sekaligus mencari informasi yang berhubungan dengan kelompok manusia yang memberontak kepada pangeran Song Yunlei.
Mereka juga mengatakan bahwa tempat yang sedang didatangi oleh Ling Tian adalah bernama Desa Baili.
"Mohon maaf tuan-tuan! Lencana klan atau kota milikku telah hilang karena sebelumnya aku dibegal oleh sekelompok orang," ucap Ling Tian yang beralasan telah kehilangan identitasnya dan memasang ekspresi wajah menyedihkan. Tidak lupa untuk memperkuat ucapannya itu, sebelumnya Ling Tian juga sudah menurunkan basis kultivasinya hingga berada di ranah Pendekar Tembaga Menengah Bintang 3 saja.
Dan benar saja! Seketika kedua prajurit penjaga pintu gerbang Desa Baili itu pun langsung terdiam dan menggeleng-gelengkan kepala mereka tanda mereka juga turut prihatin dengan nasib yang dialami oleh pemuda bertopeng separuh wajah di hadapan mereka.
"Semenjak pangeran Yunlei yang berkuasa dan menjadi kaisar di kekaisaran Song, hal seperti begal ataupun kriminal lainnya menjadi sangat lumrah di seluruh penjuru daratan barat!" ucap salah satu prajurit kemudian mempersilahkan Ling Tian memasuki desa tanpa syarat sedikitpun.
"Terima kasih tuan, karena telah mengizinkanku memasuki desa dan mencari tempat yang aman!" ucap Ling Tian dengan menundukkan sedikit badannya dan menangkupkan kedua tangannya untuk memberikan penghormatan kepada dua penjaga pintu gerbang itu.
"Tidak masalah. Cepat kamu masuk saja dan cobalah untuk mengenal beberapa orang di dalam desa karena aku yakin mereka pasti akan bersimpati kepadamu dan memberikanmu makanan yang layak," ucap salah satu dari kedua prajurit penjaga pintu gerbang desa memberikan saran.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih tuan-tuan! Semoga kebaikan tuan berdua akan segera dibalas dengan kepemimpinan kekaisaran yang lengser dan berubah menjadi yang lebih baik bahkan dari sebelum pangeran penghianat itu berkuasa!" ucap Ling Tian lalu memasuki desa setelahnya.
Dua prajurit penjaga pintu gerbang masuk desa itu sedikit tertegun dengan doa yang dipanjatkan oleh pemuda bertopeng separuh wajah yang hendak memasuki desa itu. Mereka benar-benar tidak menyangka akan menemui seseorang yang sedemikian membencinya terhadap sang kaisar yang baru atau pangeran Song Yunlei.
"Semoga Sang Maha Dewa memanjangkan umur pemuda itu!" ujar salah satu diantara keduanya.
"Ya, semoga saja." sahut yang lainnya.
.
.
Ling Tian berjalan menyusuri jalan raya Desa Baili dan melihat-lihat pemandangan asri yang disajikan oleh Desa Baili. Dia menjumpai beberapa orang dan berpapasan dengan mereka. Mereka dengan sopan dan ramah langsung menyapa pemuda bertopeng separuh wajah yang meski orang asing itu.
'Sepertinya penduduk Desa Baili ini merupakan orang-orang yang benar-benar beraliran lurus dan murni belum kemasukan orang-orang aliansi aliran hitam..'
'Itu artinya meskipun pihak aliansi aliran hitam telah menguasai kekaisaran Song, namun mereka belum sepenuhnya menjajaki seluruh daratan barat yang luas ini.' batinnya lalu dirinya terus berjalan untuk mencari sebuah penginapan ataupun restoran yang dapat digunakan untuk beristirahat atau pun mengisi perut.
Ling Tian tidak ingin membuat saudara rewelnya yang dalam bentuk kucing hitam jadi-jadian itu kembali kumat karena dia tidak mampir terlebih dahulu di sebuah restoran. Setelah sekitar setengah jam berjalan, Ling Tian akhirnya menemukan sebuah penginapan yang lantai dasarnya memiliki restoran sendiri.
"Selamat datang di Penginapan Langit Mendung tuan muda! Apakah ada yang dapat kami bantu?" tanya salah satu gadis resepsionis yang menyambut kedatangan tamunya.
Ling Tian dan Mao An yang sebelumnya masih tertidur langsung membuka matanya dan mengerutkan kening saat mendengar nama dari penginapan di hadapan mereka.
"Nama yang keren!" puji Ling Tian.
"Ehem.. Tentu saja! Aku ingin menginap selama satu malam dan sebelum itu kami ingin makan terlebih dahulu!" ucapnya lagi.
__ADS_1