Ling Tian

Ling Tian
Daratan Barat 18


__ADS_3

***


Di sisi lain, Mao An yang sudah berdiri di titik yang telah Ling Tian tunjuk sebagai pusat dari formasi array yang akan di aktifkan tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan jiwa dari Ling Tian. Ling Tian mengatakan bahwa dia harus mengaktifkan formasi tersebut saat ini juga karena dirinya telah keluar dari Kota Renqun.


Namun sebelum Mao An mengaktifkannya, dia terlebih dahulu menghubungi pangeran mahkota beserta orang-orangnya untuk segera bersiap memasuki kota dan mengambil alih kembali tampuk kekuasaan kekaisaran Song yang memang seharusnya menjadi miliknya setelah kaisar sebelumnya turun tahta.


Dengan cepat pangeran mahkota langsung membalas pesan itu dan mengatakan bahwa dirinya beserta orang-orangnya telah bersiap di pinggiran Kota Renqun lengkap dengan persenjataannya.


Melihat balasan pesan itu, Mao An langsung mengalirkan Kaisar Qi ke sebuah pedang yang tertancap di tanah dan setelah itu pedang itu pun bergetar dengan hebat dan memunculkan seberkas cahaya berwarna kebiruan lalu menyebar ke segala arah dan batu-batu serta kristal roh yang sebelumnya telah tersebar juga langsung bereaksi.


Zhuuung!


Susunan formasi array yang berbentuk seperti kubah secara perlahan mulai terbentuk dan hal itu langsung menarik semua orang yang ada di dalam kota serta pangeran mahkota dan para pengikutnya yang melihat.


Akan tetapi ketertarikan serta kekaguman dari penduduk Kota Renqun itu berubah menjadi kepanikan karena secara lambat mereka semua merasakan sebuah tekanan yang luar biasa yang menekan seluruh syaraf-syaraf yang ada di tubuh mereka mulai dari kaki dan terus merambat ke atas hingga kepala yang membuat mereka semua tidak dapat menggerakkan tubuh sama sekali kecuali mengedipkan mata dan menghirup oksigen.


Namun hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang memiliki umur 10 tahun ke bawah. Anak-anak tetaplah dapat bergerak dengan leluasa dan tidak merasakan suatu penekanan apapun. Hal itu memang sudah diatur oleh Ling Tian agar tidak membuat para anak-anak ataupun balita merasakan suatu hal yang menyiksa.


"Sungguh, Tuan Muda Ling Tian memang benar-benar kultivator yang super genius!" seru pangeran mahkota sembari terus melihat dengan seksama terbentuknya susunan formasi array itu.


"Tidak pangeran mahkota! Tuan Muda Ling Tian tidak pantas mendapatkan julukan jenius, hanya kata monster lah yang paling tepat untuknya!" sahut salah satu pengikut dari pangeran mahkota yang langsung di angguki oleh beberapa orang di sampingnya.


"Hmm.. Mungkin itulah yang paling cocok untuk tuan muda Ling Tian!" tutur pangeran mahkota lalu menatap kembali ke arah di mana susunan formasi array hampir terbentuk dengan sempurna.


"Baiklah.. Sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk bergerak!" ujar pangeran mahkota lagi sembari memberikan kode kepada para pengikutnya.


"Baik!" patuh semua orang lalu mulai bersiap untuk beraksi.

__ADS_1


Mereka semua pun akhirnya melesat maju untuk memasuki kota atau lebih tepatnya menuju ke arah istana kekaisaran di mana mereka akan membunuh orang-orang yang saat itu dengan setia mendukung pangeran kedua atau pangeran Song Yunlei untuk memberontak kepada ayahandanya.


Sekitar dua puluhan ribu orang itu bergerak secara serentak layaknya seperti semut yang mencium adanya makanan lezat atau yang berbau gula-gula. Mereka pun memasuki kota dengan damai dan tanpa halangan suatu apapun. Mereka semua dapat melihat jika semua orang kecuali para anak kecil dan balita terdiam membeku di tempat mereka.


Setelah itu rombongan yang dipimpin oleh pangeran mahkota langsung mengeksekusi sepihak orang-orang yang sebelumnya berkomplot dengan pangeran kedua atau pangeran Song Yunlei yang mana mereka terdapat di segala penjuru tempat, entah itu di jalanan, ataupun di rumah-rumah.


Tidak ada yang tersisa di antara para penghianat yang mengikuti pangeran kedua itu. Mereka terbantai habis dengan mata yang melotot karena tidak percaya akan kematian mereka yang begitu tragis dan tanpa adanya perlawanan sama sekali karena tubuh mereka yang terbebani serta tidak dapat digerakkan.


Pangeran mahkota sebenarnya kasihan dan tidak sampai hati untuk membunuh mereka semua. Hatinya terlalu lembut untuk melihat adegan pembantaian sepihak ini. Namun dia tetap berusaha dengan tegar menahan gejolak emosi yang ada di dalam hatinya dan mengingat kembali akan keganasan orang-orang tersebut saat mereka membantai keluarga ataupun orang-orangnya pada saat menggulingkan kekuasaan dari ayahnya.


Waktu terus berlalu. Sekitar 20.000 orang itu terus bergerak menuju ke istana kekaisaran Song sembari terus membantai siapapun yang menurut mereka adalah orang-orang yang bergabung dengan para penghianat.


Beberapa di antara kultivator tingkat tinggi ada yang melihat raut wajah pangeran mahkota yang begitu kasihan dengan aksi yang dilakukan oleh mereka. Satu diantara mereka pun ada yang memberanikan diri mendekati sang pangeran mahkota dan menasehatinya.


"Perang memang selalu berujung dengan kesedihan dan juga kematian. Namun dengan perang pula lah kesejahteraan itu dapat diraih," ucapnya.


"Hamba akan setia mengikuti pangeran mahkota dan mendukung apapun titah pangeran," ucap kultivator itu.


"Terima kasih, paman." kata pangeran mahkota Song En.


Setelah beberapa waktu, akhirnya rombongan itu pun telah sampai di istana kekaisaran yang mana seluruh penghuninya adalah keluarga kekaisaran serta keluarga bangsawan dari para menteri, hakim ataupun penasehat.


Pangeran mahkota menyuruh para pengikutnya itu untuk menahan mereka dan memenjarakan seluruhnya di penjara bawah tanah. Dia berjanji akan mengeksekusi semuanya setelah aksi perebutan kekuasaan ini telah usai dan suasananya sudah kembali menjadi kondusif.


Butuh waktu sekitar setengah hari bagi mereka semua untuk menjalankan seluruh rencana yang telah disusun rapi oleh Ling Tian. Semua orang yang mengikuti pangeran mahkota pun bergembira ria di dalam istana kekaisaran dan tersenyum dengan lebar karena telah mengambil alih kembali kedudukan yang seharusnya dimiliki oleh pangeran mahkota.


Mereka sungguh tidak menyangka bahwa untuk melakukan hal yang sebesar ini akan sangatlah mudah dan tanpa harus mengorbankan satu nyawa pun dari pihak mereka.

__ADS_1


Saat ini pangeran mahkota telah duduk di atas kursi singgasana bersama dengan para tetua yang memiliki kultivasi tinggi dan juga kebijaksanaan luar biasa. Pangeran mahkota dan orang-orang tua itu duduk dengan santai sembari menunggu kedatangan dari seseorang yang paling penting di dalam perencanaan merebut kembali tampuk kekuasaan.


Ya, tentu saja orang yang ditunggu adalah Ling Tian. Orang yang telah mereka semua anggap sebagai pahlawan sekaligus relawan yang tidak menginginkan tanda balasan sedikitpun.


***


Zheep!


Mao An yang sedang terbang di atas langit Kota Renqun sembari terus mengalirkan energi Kaisar Qi kedalam pedang tiba-tiba saja dikejutkan dengan kemunculan dari Ling Tian.


"Ah! Tuan Muda! Kamu mengagetkanku saja!" seru Mao An yang terkejut.


Ling Tian tersenyum menatap saudaranya itu. Dia kemudian memegang bilah pedang dari pedang yang dipegang oleh Mao An.


"Sudah cukup saudaraku. Semua sudah selesai. Waktunya bagi kita untuk pulang," katanya dengan tersenyum.


"Oh.. Benarkah?" tanya Mao An.


"Tentu! Lihatlah.. Saudari Feng telah menunggu kita." jawab Ling Tian sembari menunjuk ke atas langit yang begitu tinggi.


Mao An spontan langsung menatap ke atas langit dan mendapati seekor burung phoenix berwarna biru yang sangat cantik terbang melayang di atasnya. Dia kemudian menatap Ling Tian dengan intens.


"Apa kita tidak perlu berpamitan dengan pangeran mahkota itu? Aku yakin mereka semua sedang menunggu-nunggu kita." tanyanya.


Ling Tian menjawabnya dengan gelengan kepala sehingga Mao An terdiam lalu berkata,


"Baiklah.. Mari kita pulang!"

__ADS_1


__ADS_2