Ling Tian

Ling Tian
Memperbudak Dua Orang Tua


__ADS_3

Sang komandan pasukan manusia primitif sangat terkejut saat mendapati serangan yang diberikan oleh manusia jadi-jadian dari monster beast itu sangatlah kuat dan kuat. Dia dipaksa untuk mundur beberapa langkah saat baru saja dia menghadang dua serangannya.


'Sial! Bagaimana mungkin dia bertambah kuat dari waktu ke waktu?' keluh sang komandan pasukan manusia primitif dalam hatinya.


"Hehehe.. Ayo kita percepat lagi ritme pertarungannya!" kata Mao An lalu melesat lagi menyerang sang komandan manusia primitif.


Mao An tidak hanya menggunakan serangan dari tombaknya saja untuk menyerang komandan manusia primitif, akan tetapi dia juga menggunakan serangan cakar yang mana serangan itu adalah serangan asli miliknya dan bawaan dari sejak dirinya terlahir menjadi monster beast Harimau Malam atau Jaguar.


Hal itu langsung membuat sang komandan manusia primitif kelabakan dan terdesak seketika. Mao An langsung berhasil membuat banyak luka pada tubuh sang komandan manusia primitif dan membuatnya berdarah-darah.


Trank! Trank! Srak!


Srak! Trank!


Trank!


Duk!


Baamm...


Serangan tendangan Mao An juga akhirnya berhasil mengenai dada sang komandan manusia primitif dan menerbangkannya hingga beberapa puluh meter jauhnya dan menghantam pohon besar dibelakangnya.


"Uhuk!" sang komandan manusia primitif terbatuk-batuk darah dan merasakan dadanya seperti mau hancur saja.


Rasa sesak juga dia derita seperti paru-parunya terhimpit oleh tulang rusuk dan kesusahan untuk dimasuki udara dari nafasnya.


'Bajing*n ini ternyata handal dalam berjurus selain tombak!' batin sang komandan manusia primitif sambil memegangi dadanya yang sangat sakit lalu setelahnya mencoba untuk berdiri.

__ADS_1


Dia meludahkan darah dari mulutnya dan menatap Mao An dengan tatapan penuh kebencian. Sementara Mao An sendiri yang ditatap dengan tatapan membunuh itu hanya tersenyum menyeringai lalu mengacungkan jari tengahnya untuk membuat lawannya semakin kesal dan marah.


Dan benar! Sang komandan manusia primitif sangatlah marah melihat penghinaan dari Mao An. Selama ini belumlah ada yang berani melakukan itu kepadanya karena dirinya termasuk jenius dalam kelompoknya.


Namun pria muda dari ras beast itu dengan berani membully serta mengejeknya dengan berbagai macam ejekan yang sangat menjengkelkan menurutnya.


Sang komandan manusia primitif akhirnya dapat berdiri dengan tegak lagi setelah berusaha beberapa saat dengan seluruh tenaganya. Tubuhnya kini telah penuh dengan luka menganga dan lubang akibat serangan cakar dan tusukan tombak.


Mao An hanya tersenyum melihat lawannya itu kembali bangkit. Dia kemudian berjalan dengan santai mendekatinya tanpa menurunkan senyumannya yang terlihat menjengkelkan.


"Sepertinya masa hidupmu telah selesai sampai disini saja!" katanya lalu bergerak menusukkan tombak tepat di jantung komandan manusia primitif yang tidak bisa menghindarinya.


Jleb!


Tombak pusaka tingkat merah menembus dada sang komandan manusia primitif hingga tembus belakang punggung dan seketika itu juga dia menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah itu, Mao An mengambil pedang pusaka tingkat merah yang digunakan oleh sang komandan manusia primitif dan langsung menyimpannya di dalam cincin penyimpanan. Mao An senyum dengan lebar, ternyata petualangannya kali ini mendapatkan senjata yang cukup luar biasa dan dikatakan sebagai senjata terhebat di Benua Langit.


Mao An memang tidak membutuhkan pedang itu karena spesialisasi senjatanya adalah tombak. Dia berniat akan menghadiahkannya kepada salah muridnya atau akan melelangnya saja agar uang jajannya semakin banyak.


Dia melihat kearah cincin penyimpanan milik lawannya lalu dengan segera dia mengambilnya. Mao An lalu menonton pertarungan antara dua Leluhur Tua dari Kekaisaran Xiao dan Kekaisaran Song yang masih terus berlanjut tidak jauh darinya.


'Hmm.. Teknik berpedang dan cara bertarung kedua tua bangka itu sangatlah teratur! Mungkinkan karena pengalaman hidup yang sangat lama hingga mampu melakukan hal demikian?' tanya Mao An pada dirinya sendiri saat melihat pertarungan dua entitas yang dikatakan terkuat di Benua Langit.


Jujur saja, Mao An sangat takjub dengan cara berpedang mereka berdua. Namun jika dibandingkan dengan dua kakaknya Wei Hun dan Zhuge Ruxu atau dengan Ling Tian, maka keduanya bukanlah apa-apa.


.

__ADS_1


.


Leluhur Tua Kekaisaran Xiao dan Leluhur Tua Kekasisaran Song dapat mengimbangi pertarungan meski mereka berdua dikeroyok dan harus tiga lawan satu. Akan malah justru menyudutkan enam lawannya dengan jurus-jurus pedang yang dikuasai oleh keduanya.


"Saudara Chen! Sepertinya pemuda itu telah mengalahkan komandan pasukan manusia primitif ini! Itu artinya dia sama kuatnya dengan kita! Bagaimana? Apakah kita jadi untuk bekerja sama dengan dia untuk mengalahkan keroco-keroco merepotkan ini?" tanya Leluhur Tua Song Mu melalui telepati. Dia terus membabat tiga lawannya dengan pedang ditangannya.


"Sepertinya tidak perlu! Dia terlihat tidak peduli dengan pertarungan kita!" jawab Leluhur Xiao Chen.


"Baiklah.. Ayo kita habisi enam manusia aneh ini! Setelah itu kita keroyok pemuda itu untuk mengambil pusakanya! Hehehe.. Sebelumnya dia memakai tombak pusaka tingkat merah dan komandan pasukan manusia aneh sialan ini juga pedang pusaka tingkat merah! Kita akan bagi satu-satu!" kata Leluhur Song Mu sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan rencananya.


"Sepakat!" ucap Leluhur Xiao Chen dengan cepat.


Keduanya akhirnya berhasil mengalahkan keenam manusia primitif setelah satu jam bertarung. Mereka juga mendapat beberapa luka yang membuat mereka harus memulihkan diri dulu barulah akan menjalankan rencana yang sebelumnya telah disepakati.


Setelah mengambil tiga senjata pusaka tingkat hijau yang digunakan oleh ketiga manusia primitif lawannya, mereka berdua menelan pil penyembuh dan pil peledak energi untuk menstabilkan kembali kekuatan milik mereka dan menyembuhkan luka-luka yang diderita.


Namun saat kedua orang tua itu baru saja menelan pil penyembuh dan pil peledak energi, tiba-tiba Mao An yang sebelumnya hanya berdiam diri sambil menonton pertarungan kini berdiri lalu berjalan mendekati mereka berdua.


Wajah keduanya langsung berubah menjadi masam karena mereka merasakan sebuah niat membunuh yang tertahan dari pria muda itu sementara mereka berdua sudah terlanjur menelan 2 pil dan harus mereka serap segera mungkin agar tidak membahayakan tubuh dan dantian mereka.


"Sial! Apa yang kau inginkan bocah!" teriak marah Leluhur Xiao Chen. Wajahnya terlihat sangat memerah karena menahan amarah dan juga menahan ledakan energi dari kedua pil yang sebelumnya dia telan.


"Hehehe.. Tentu saja membuat kalian menderita sebelum akhirnya membunuh kalian!" jawab Mao An sambil tersenyum menyeringai. Dia berniat menghajar keduanya terlebih dahulu sebelum akhirnya memberikan segel budak sampai dia bertemu dengan Ling Tian dan menyerahkan keduanya kepadanya untuk dieksekusi mati sebab membantu pengkhianatan Leluhur Klan Lian.


Setelah mengatakan itu, Mao An langsung bergerak dengan kecepatan tinggi yang membuat kedua orang tua itu gelagapan karena tidak siap. Terlebih mereka harusnya menyerap esensi pil yang sebelumnya mereka telan.


Boommm...

__ADS_1


__ADS_2