Ling Tian

Ling Tian
Ketenangan Sebelum Badai?


__ADS_3

"Hanya saja apa Tuan Muda?" Mao An pun mengerutkan keningnya.


"Hanya saja aku merasa bahwa suasana tenang ini adalah ketenangan sebelum datangnya badai," jawab Ling Tian sembari menghalangi nafas panjangnya.


"Ketenangan sebelum badai? Bukankah kata-kata itu sangatlah cocok bagi pihak aliansi aliran hitam, karena di sini kitalah yang akan menjadi pihak yang menyerang mereka dan memberikan kejutan?" tanya Mao An yang keningnya semakin mengerut. Begitu juga dengan saudara-saudara dan para bawahan Ling Tian.


"Entahlah saudaraku, aku hanya merasa bahwa rencana penyerangan ini tidak akan mulus seperti apa yang kita bayangkan meski kekuatan kita benar-benar cukup untuk mengalahkan aliansi aliran hitam." ujar Ling Tian yang merasakan sedikit kegelisahan di dalam hatinya.


"Sudahlah Tuan Muda, mungkin Tuan Muda terlalu lelah saat ini, sehingga mengkhawatirkan sesuatu hal yang tidak perlu di khawatirkan. Bagaimana jika kita minum anggur atau teh di Istana Ling saja bersama dengan saudari kakak ketiga dan yang lainnya?" tutur Mao An bertanya sembari mencoba untuk menenangkan keresahan hati Ling Tian.


"Ya, rencanamu itu cukup menarik juga. Baiklah.. Mari kita mengadakan pesta saat ini untuk merayakan keberhasilan dari para murid kita semua yang telah menerobos karena Pendekar Berlian secara besar-besaran seperti saat ini," kata Ling Tian sembari mencoba untuk tersenyum.


"Ya, baiklah.." ujar saudara dan saudari Ling Tian dengan serentak menyetujui.


Mereka pun di teleportasikan oleh Ling Tian menuju ke Istana Ling yang tempatnya berada di poros dari dunia jiwa. Sedangkan saat sebelumnya mereka berada di suatu tempat yang jaraknya sangatlah jauh dan memerlukan waktu sekitar tiga bulan bagi Mao An yang sudah berada di Ranah Kaisar untuk dapat sampai di Istana Ling. Hanya Ling Tian yang memiliki kuasa atas dunia jiwa lah yang mampu dengan sesuka hatinya berteleportasi ke sana kemari dalam waktu yang singkat.


Swooshh...


Sebuah pusaran angin putih keemasan berdiameter cukup lebar muncul di atas langit Istana Ling dunia jiwa. Dan benar, tentu saja pusaran angin putih itu adalah gerbang teleportasi yang dibuat oleh Ling Tian menggunakan kehendaknya untuk memindahkan dirinya serta saudara-saudara dan para pelayannya yang akan melakukan sebuah pesta untuk memeriahkan acara penerobosan dari para murid mereka karena Pendekar Berlian.


Setelah menyiapkan segala perlengkapan untuk pesta seperti ikan-ikan yang dipelihara oleh Ling Tian di dalam kolam dan juga beberapa anggur dengan kualitas terbaik, mereka pun memulai pesta tersebut dengan meriah dan penuh akan canda dan tawa.

__ADS_1


Bagi siapapun yang melihat mereka pastilah akan langsung memberi penyangkaan bahwa orang-orang ini adalah satu keluarga besar. Namun siapa yang mengira bahwa semua orang ini berasal dari keluarga yang berbeda-beda namun memiliki tali berupa persaudaraan yang mengikat mereka dan menjadikannya sebagai keluarga.


"Anggur dan ikan-ikan panggang milik Tuan Muda memanglah yang terbaik!" seru Mao An dengan ekspresi wajah bahagia dan tertawa senang sekaligus sedikit teler karena kebanyakan minum anggur.


Plakk!


"Aduh! Kakak ketiga, mengapa kau memukul kepalaku?" tanya Mao An yang protes kepada Zhuge Ruxu karena tiba-tiba memukul kepala belakangnya.


"Kau bahkan masih bertanya mengapa aku memukulmu?" tanya balik Zhuge Ruxu dengan mata yang melotot.


"Lha?" Mao An malah justru mengerutkan keningnya.


Semua saudara Ling Tian yang lain bahkan Ling Tian sendiri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dari kedua saudara dan saudarinya itu. Mereka selalu saja begitu di saat keduanya duduk bersama. Tetapi justru yang seperti itulah yang menjadi ciri khas dari keduanya dan menjadikan keluarga mereka tampak hidup karenanya.


"Sudah-sudah.. Jangan bertengkar lagi. Ayo kita nikmati saja pesta keberhasilan perjuangan kita melatih para generasi muda!" seru Feng Lanse'er yang tidak terlalu suka dengan sikap keduanya.


Mao An dan Zhuge Ruxu pun langsung terdiam saat mendengarkan penuturan dari saudarinya itu serta melihat tatapan tajam darinya. Keduanya tentu saja tidak berani kepada gadis cantik berambut biru itu karena dia adalah seorang Dewi ras binatang suci Phoenix yang berasal dari alam dewa.


Mereka harus berpikir ribuan kali lipat jika ingin tidak mendengarkan ucapan dari gadis berambut biru itu atau mereka akan dibakar hidup-hidup dan disiksa dengan kejam menggunakan api biru super panas milik Feng Lanse'er.


***

__ADS_1


Daratan Selatan.


"Apakah semua yang telah beres?" tanya Han Tianba kepada Mogui Heng yang telah menghentikan pekerjaannya dan menarik sebuah pedang pusaka tingkat hijau kualitas sempurna dari tengah-tengah sebuah segel yang berbentuk hexagram.


"Semuanya telah dalam kendali yang sangat baik, Tuan. Tuan hanya perlu mengaktifkannya jika memang Tuan menghendaki dan orang-orang yang berasal dari luar daratan selatan ini tidak akan pernah bisa menggunakan kekuatan mereka dengan baik karena mereka terbebani oleh kekacauan energi yang muncul secara tiba-tiba dalam tubuh mereka," jawab Mogui Heng atau sang iblis sejati yang kini menjadi tangan kanan dari pemimpin tertinggi aliansi aliran hitam, Han Tianba.


"Bagus sekali. Kita tinggal menunggu orang-orang aliran putih yang bodoh itu datang ke tempat ini. Beruntung mereka tidak datang selama kita menyiapkan susunan formasi array ini. Hahaha.." ujar Han Tianba sembari tertawa terbahak-bahak karena yakin akan rencananya dapat berhasil dengan mulus dan tanpa adanya halangan suatu apapun.


"Benar, Tuan. Mereka saat ini pasti juga sedang menyiapkan segala macam persiapan untuk menggempur kita dan memusnahkan kita dari Benua Langit. Tapi siapa yang menyangka bahwa hal itu telah memberikan peluang bagi kita untuk menyelesaikan pembuatan susunan formasi array kekacauan ini." tambah Mogui Heng dengan senyuman sinis yang terpancar dari sudut bibirnya lalu memberikan pedang yang dipegangnya kepada Han Tianba.


Han Tianba dengan senyuman puasnya meraih pedang tersebut lalu menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan. Dia tentu saja sangat puas dengan kinerja dari tangan kanannya itu. Dia tidak menyangka juga jika sang iblis sejati mantan tuannya yang kini menjadi anak buahnya memiliki sebuah formasi kuno yang dapat membantunya dalam berperang meskipun kalah dalam hal jumlah.


"Lalu bagaimana dengan kabar menghilangnya pangeran Song Yunlei? Apakah kaisar bodoh dan lemah itu telah mati?" tanya Han Tianba.


"Dia belumlah mati, Tuan. Namun keberadaannya benar-benar tidak diketahui. Dia menghilang tanpa jejak seperti ditelan oleh bumi!" jawab Mogui Heng.


"Apa dia menjadi tawanan dari tuan muda yang berasal dari Klan Ling yang membantu pangeran mahkota Song En itu?" tanya Han Tianba lagi yang belum terlalu memahami ucapan dari Mogui Heng.


"Tidak, Tuan! Dia seperti telah keluar dari dimensi Benua Langit. Aku dapat dengan yakin akan hal tersebut," jawab Mogui Heng.


"Apaa! B-bagaimana mungkin? Apa dia nekat menaikkan kultivasi hingga berada di Ranah Raja dan menuju ke alam menengah?" Han Tianba semakin tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2