
Ling Tian dan Wei Ziin berdiri didepan sebuah kubah formasi berwarna biru tipis.
"Array pelindung?" tanya Wei Ziin.
"Benar sekali!" jawab singkat Ling Tian.
"Apakah kakak juga yang membuatnya?"
"Tentu saja! Selain tampan dan hebat, kakakmu ini juga serba bisa lho!" canda Ling Tian.
"Iya iya.. Percaya!" Wei Ziin memutar malas bola matanya.
Ling Tian tidak melanjutkan kata-katanya. Dia membuat gerakan ringan pada tangan kemudian menempelkan pada lapisan luar kubah pelindung.
Zhuung!
Kubah pelindung menjadi sedikit bergetar yang kemudian muncullah lubang yang cukup untuk dimasuki tiga orang.
"Mari masuk Ziin'er!" ajak Ling Tian.
"En.." Wei Ziin hanya mengangguk setuju.
Mereka berdua berjalan memasuki gerbang Klan Ling melalui lubang tersebut. Tak lama, lubang itu kembali menutup seperti sedia kala. Wei Ziin begitu terperangah melihat pemandangan yang tersaji. Mewah! Dan sangat indah!
"Waah.. Ini sangat indah kakak!" puji Wei Ziin dengan tulus.
"Begitulah.."
"Bahkan di istana tidak ada pemandangan seindah serta seasri ini!" ungkap Wei Ziin.
"Kamu tahu Ziin'er?" ujar Ling Tian.
"Apa kak?" Wei Ziin mengangkat alisnya.
"Pemandangan seperti ini kami bangun hanya dalam waktu sepuluh hari!" kata Ling Tian.
"Apaaa! S-sepuluh hari?" Wei Ziin sangat terkejut mendengan pengungkapan Ling Tian.
"Benar sekali! Dan kakakmu yang tampan inilah yang menjadi desainernya!" jawab Ling Tian sambil mengangkat sedikit dadanya dengan bangga.
"Helleh.. Lagi-lagi membanggakan diri sendiri!" malas Wei Ziin.
"Hahaha.. Tidak-tidak! Kakak tidak bangga diri! Hanya saja memang begitulah kenyataannya! Yasudah! Ayo masuk dulu!"
__ADS_1
"Baiklah.." pasrah Wei Ziin.
Klan Ling saat ini terlihat begitu sunyi dan sepi. Suasananya begitu lenggang namun tenang. Pemandangan yang memukau, ditambah keasrian dan rimbunnya pepohonan yang ada melukiskan keindahan alam yang nyata.
Wei Ziin tak henti-hentinya berdecak kagum dengan lingkungan sekelilingnya. Beberapa kali dia memetik bunga dan tertawa dengan riang. Hah! Wanita memang suka akan keindahan!
"Mengapa Klan Ling kakak sepi sekali?" setelah terlewat beberapa menit Wei Ziin baru menyadari bahwa Klan Ling yang indah ini tidak ada satu orangpun yang terlihat.
"Ooh.. Akhirnya Ziin'er bertanya juga. Semua orang di Klan Ling kakak sedang menjalani kultivasi tertutup untuk meningkatkan kekuatan!" jawab Ling Tian.
"Jadi begitu.. Pantas saja sangat sepi!" faham Wei Ziin.
"Baiklah.. Mari kita kerumah kakak!" ajak Ling Tian kepada Wei Ziin untuk mengunjungi kediamannya.
"Mari kak!"
Wei Ziin ikut melangkahkan kaki dengan santai menuju kediaman Ling Jun atau ayah Ling Tian sambil menikmati pemandangan yang ada. Tak lama, mereka pun sampai di depan sebuah pintu gerbang atau gapura sederhana milik kediaman yang sederhana pula. Benar! Itu adalah kediaman Ling Tian.
"Selamat datang dirumahku yang sederhana ini Tuan Putri Wei Ziin!" goda Ling Tian sambil membungkuk seperti orang mempersilahkan masuk.
"Kakak! Apa yang kakak lakukan!" gugup Wei Ziin dengan semu kemerahan diwajahnya.
"Haha! Bukankah memang benar yang aku katakan Tuan Putri Ziin?" ujar Ling Tian dengan nyengir kuda.
"Hahaha.. Yasudahlah.. Yasudah! Mari kita masuk! Haahh.. Sayang sekali ayah dan ibu masih dalam kultivasi tertutup! Andai saja mere-" ucapan Ling Tian terpotong oleh suara yang sangat dia kenal.
"Kata siapa ayah dan ibu masih berkultivasi?"
Ling Tian sangat terkejut mendengar suara itu. Suara seorang lelaki yang sangat menguatkan tekatnya, suara seorang lelaki yang selalu merawatnya tanpa mengeluh.
"A-ayah! Kamu sudah selesai? Dan kultivasi ayah?" Ling Tian masih saja tidak percaya dengan keadaan ini.
"Yaah.. Begitulah.. Ayah dan ibu mempunyai sebuah manual kultivasi yang cukup menarik sehingga tidak perlu waktu lama bagi kami menyerap buah-buahan abadi darimu!" jawab Ling Jun.
"Wanita mana lagi yang kamu bawa untuk menjadi menantu ibu Tian'er?" kini giliran suara seorang wanita baya yang bertanya dari dalam kediaman sederhana itu.
"I-ibu.." Ling Tian melihat arah sumber suara dan tidak bisa lagi berkata-kata apapun.
Hei Si keluar dari rumah dengan tangan dilipat didepan dada dan menyandarkan tubuhnya didepan pintu. Kepalanya menggeleng-geleng saat melihat putra kecilnya berani menggoda seorang perempuan cantik didepan matanya.
Tubuh Ling Tian merinding karena ketakutan saat melihat ekspresi wajah sang ibu yang demikian. Baginya, bertarung melawan sosok yang jauh lebih kuat bukanlah masalah dan tidak akan ada jejak ketakutan sama sekali. Namun lain halnya dengan sekarang ini. Mati aku! Fikir Ling Tian.
Sementara wajah Wei Ziin semakin memerah seperti bokong bayi baru lahir. Eh.. Tidak! Maksudnya seperti kepiting rebus saat mendengar ucapan dari ayah dan ibu pria yang disukainya itu.
__ADS_1
"Jadi putra kecil ibu hanya akan diam disitu dan tidak memeluk ibunya yang selalu merindukannya disetiap waktu ini?" tanya Hei Si sambil membuka pelukannya.
Hati Ling Tian bergetar karena haru.
"Tentu saja tidak ibuku sayang!" ujar Ling Tian sambil menggelengkan kepala.
Zhep!
Ling Tian menghilang dari tempat awal dan muncul tepat didepan ibunya.
"Ibu.. Ling Tianmu pulang!" ujar Ling Tian sambil memeluk erat sang ibu tersayangnya.
"Oh.. Selamat datang kembali putra kecil ibu!" kata Hei Si dan membalas pelukan Ling Tian.
Mereka berpelukan selama beberapa menit lamanya hingga kemudian adegan haru itu hancur menjadi bubur oleh Ling Jun yang mengganggu.
"Ekhemm.. Kau selalu melupakanku saat sudah bersama ibumu! Hiks.. Tega sekali!" ujar Ling Jun yang memasang wajah pura-pura sedih.
Ling Tian melepaskan pelukannya dengan Hei Si dan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ayolah ayah! Ayah itu laki-laki! Tidak akan keren jika laki-laki memeluk laki-laki!" kata Ling Tian asal.
"Dasar anak durhaka kau Tia-" ucapan Ling Jun teputus karena Hei Si.
"Apa kau bilang! Kau berani mengatakan putraku yang baik ini durhaka? Apa kau mau tidak aku masakkan makanan dan tidur dirumah lagi?" bentak Hei Si sambil memelototkan mata kepada Ling Jun.
"Ahaa.. Ibu.. Sudah-sudah, jangan seperti itu! Kasihan ayah!" kata Ling Tian sambil mengelus punggung Hei Si untuk mendinginkan emosi ibunya.
"Huh! Selalu saja mengancam!" keluh Ling Jun pelan.
"Katakan lagi! Nanti akan aku tendang kau dari rumah!" ujar Hei Si.
"Ayaah.. Ibu.. Sudahlah." lemas Ling Tian tak berdaya.
Sementara Wei Ziin sangat terharu melihat kedekatan Ling Tian keluarganya, terlebih dengan ibunya. Tak terasa air matanya ikut mengalir dengan deras. Benar! Wei Ziin sangat merindukan ibunya yang telah tiada!
'Ibunda.. Ziin'er rindu ibunda..' gumamnya sambil menangis.
Ling Tian baru sadar bahwa dirinya datang tidaklah sendirian. Dia melihat kearah dimana Wei Ziin berada.
"Ziin'er.. Kemar-" ucapan Ling Tian terpotong. Dia buru-buru mendekati Wei Ziin yang tampak sedang menangis.
"Ziin'er.. Kamu kenapa?"
__ADS_1