Ling Tian

Ling Tian
Klan Xun Yang Ditekan


__ADS_3

Wajah prajurit elite itu menjadi seputih kertas karena pucat saat mendengar pertanyaan yang paling dia takutkan dari menemui Patriark dan Tetua Klan.


"Ada apa? Mengapa wajahmu berubah seperti itu?" tanya Patriark Xun Chai dengan membentak. Aura ganas dari Ranah Kaisar Tahap Awal dengan niat membunuh yang pekat meledak dari tubuh Patriark Xun Chai.


Dia melakukan hal demikian untuk mengekspresikan kekacauannya meski dalam hatinya sudah bisa menebak bahwa jawabannya adalah sesuatu yang paling dia tidak inginkan.


"I-itu.." ucap prajurit elite terbata dan tidak sanggup melanjutkan.


"Itu apa? Katakan yang jelas! Atau aku akan membunuhmu!" teriak Tetua Agung Xun Zuo yang juga sudah tidak bisa menjaga ketenangannya.


"C-cincin penyimpanan Nona Muda j-juga menghila-..'


Boommm...


Belum sempat prajurit elit itu menyelesaikan ucapannya, dia sudah dikirim terbang oleh Patriark Xun Chai dengan serangan tapaknya hingga menembus tembok bangunan aula pertemuan.


"Aaaakkkhhh.." teriak Patriark Xun Chai yang marah dan frustasi.


"Siapa.. Siapa yang melakukan.. Kheuk!" ucapan Patriark Xun Chai terputus karena dia tiba-tiba memuntahkan seteguk darah akibat terlalu frustasi dan akhirnya terjatuh dalam posisi berlutut lemah.


"Patriark!" ucap semua orang yang menjadi sangat khawatir dengan kondisi Patriark Xun Chai. Mereka dengan cepat melesat menuju sang Patriark dan mencoba membuat Patriark Xun Chai berdiri.


"Patriark!" ucap Tetua Pertama sambil membantu Patriark Xun Chai berdiri.


"S-siapa.. Siapa yang melakukan ini.." ucap Patriark Xun Chai dengan lemah lalu setelah itu dia pingsan tidak sadarkan diri.


Hal ini cukup wajar bagi seseorang yang tertekan sepertinya. Patriark Xun Chai mungkin adalah orang yang kuat, tapi sekuat apapun dia jika ditekan dengan sesuatu yang mungkin akan membawa kehancuran bagi Klan Xunnya maka dia juga tidak akan kuat.


Melihat bahwa Patriark mereka tidak sadarkan diri, para Tetua langsung membopongnya untuk kembali kedalam istana utama Klan Xun.


Sementara Tetua Agung Xun Zuo hanya berdiri membeku menatap kepergian para Tetua yang membawa pergi Patriark Xun Chai keluar dari aula pertemuan.


"Apakah ini karma?" tanya Tetua Agung Xun Zuo pada dirinya sendiri dengan ekspresi tidak berdaya.


"Tetua Agung! Bagamana selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tetua Keenam.

__ADS_1


"Katakan dan kabari saja semuanya yang terjadi kepada semua orang!" jawab Tetua Agung Xun Zuo dengan lemah.


Dia sudah tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa Klan Xun jika semua klan menekan mereka. Terlebih klan yang murid atau anggotanya kehilangan sumberdaya berharga yang dengan susah mereka dapatkan dari dunia rahasia atau Dunia Jimi De.


"Tapi Tetua Agung.." sanggah Tetua Keenam dengan khawatir.


"Jujur lebih baik daripada kita dianggap perampok!" ujar Tetua Agung Xun Zuo dengan tegas meski dalam hatinya goyah.


"B-baik Tetua Agung!" ucap Tetua Keenam dengan terbata.


***


Hari berikutnya, kegemparan kembali terjadi saat kabar dari Klan Xun yang menyatakan bahwa mereka telah kehilangan barang yang harusnya dilelang. Terlebih mereka yang datang jauh-jauh untuk memperebutkan buah anggur putih abadi dan klan yang sumberdaya murid mereka dipaksa dilelang karena peraturan dari Klan Xun.


Semua orang berbondong-bondong mendatangi pintu gerbang istana Xun untuk menanyakan kebenaran berita itu serta protes dengan keamanan Klan Xun yang sangat lemah dalam menjaga sumberdaya.


Namun ada juga beberapa kelompok yang mana mereka adalah orang-orang yang kehilangan sumberdaya yang akan dilelang tidak serta-merta percaya dengan kabar itu.


Kelompok itu menganggap bahwa kabar yang tersiar itu hanyalah akal-akalan yang dibuat-buat oleh Klan Xun yang dari awal memang sangat tamak terhadap harta dan sumberdaya untuk menguasai semuanya untuk diri mereka sendiri.


Kelompok orang yang tidak percaya itu sedikit lebih brutal pada aksinya. Mereka menghancurkan beberapa bangunan yang dimiliki Klan Xun. Bahkan gedung yang ada di Gunung Huashu yang sebelumnya akan digunakan untuk acara lelang mereka hancurkan tanpa berfikir dua kali.


Melihat itu, Klan Xun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menggertakkan gigi karena marah namun tidak berani bertindak karena kelompok orang itu juga terdiri dari klan bangsawan atau Klan Tingkat Satu.


Mereka hanya bisa menerima dengan pahit penekanan dari berbagai klan itu serta berharap Tuan Muda atau Pangeran Bai Wutian yang juga sedang ada di Kota Xun memberikan mereka pertolongan.


"Woi.. Xun Chai! Buka pintu gerbang sekarang! Berikan penjelasan kepada kami atau Klan Ju kami akan menghancurkan semua yang ada di kota ini!" teriak salah satu pria baya yang tidak lain Ayah dari kedua Ju bersaudara atau Patriark Klan Ju.


Dia dan beberapa Patriark dari klan menengah atau klan tingkat dua bergabung kedalam kelompok orang yang tidak mempercayai serta menerima alasan yang diberikan oleh Klan Xun.


Terlebih setelah dia mendapatkan cerita dari kedua putranya yang mengatakan bahwa mereka mendapatkan sumberdaya langka didalam dunia rahasia atau Dunia Jimi De dengan mempertaruhnya nyawa. Hal itu tentu tidak bisa diterima begitu saja oleh seorang ayah yang baik sepertinya.


Bommm...


Boommm...

__ADS_1


Beberapa kali dia dan kelompok orang itu menyerang pintu gerbang yang sudah terpasang oleh formasi pertahanan untuk menghancurkannya.


"Xun Chai keparat! Keluar kau!" teriak Patriark Ju lagi dengan kemarahan yang sudah tidak bisa terbendung. Dia dan beberapa orang terus berusaha untuk menghancurkan formasi pertahanan.


.


.


Sementara itu disebuah penginapan yang super mewah di Kota Xun, seorang pemuda tampan sedang duduk dikamarnya sambil menyesap teh dengan tenang. Pemuda itu melihat kesuatu arah lalu tiba-tiba muncul dua sosok dengan mata berwarna biru.


"Hormat kepada Tuan Muda!" ucap kedua sosok bermata biru itu berlutut didepan sang pemuda.


"Ya! Berdirilah!" ucap pemuda itu dengan tenang.


"Baik Tuan Muda!" jawab keduanya dengan serentak.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah menyelidiki tentang siapa sebenarnya pemuda yang dimaksudkan oleh ayahku itu?" tanya sang pemuda.


"Ampun Tuan Muda! Yang kami tahu dia adalah pemuda yang berasal dari klan tingkat dua She Tian!" jawab salah satu sosok bermata biru.


"Dari Klan She?" pemuda yang dipanggil Tuan Muda itu mengerutkan kening.


"Benar Tuan Muda!" jawab sosok itu.


"Tapi bagaimana mungkin dia dari Klan She? Dan nama She Tian, apakah kalian juga sudah menyelidiki tentangnya di Klan She?" tanya sang pemuda.


"Ampun Tuan Muda! Belum!" jawab satu sosok bermata biru yang satunya.


"Hmm.. Baiklah.. Lalu dimana She Tian itu sekarang?" ujar pemuda itu bertanya lagi.


"Itu.." kedua sosok bermata biru itu ragu menjawab.


"Ada apa?" tanya sang pemuda.


"Kami.. Kami kehilangan jejaknya Tuan Muda!" jawab sosok itu dengan wajah penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2