
Setelah perginya Tombak Belakang, Keempat saudara yang tersisa itu masih terus berdiskusi mengenai bagaimana cara mereka untuk melindungi Tuan Mudanya dari bahaya yang pastinya akan mengancam.
***
Wilayah Terlarang, Daratan Tengah.
Satu hari kembali berlalu setelah auman Naga hijau itu bergema. Langit diseluruh daratan juga sudah mulai kembali cerah kecuali langit yang ada di daratan tengah atau lebih tepatnya diwilayah terlarang.
Dikatakan sebagai wilayah terlarang karena wilayah itu adalah tempat yang tidak pernah terjamah oleh siapapun, bahkan oleh Leluhur Ling Dong sekalipun. Hal itu karena ditempat itu terdapat susunan array yang terbuat secara alami oleh alam yang mustahil bagi siapapun untuk membukanya.
Sementara keberadaan sang Naga hijau berada dipinggiran formasi array tanpa halangan suatu apapun karena memang Naga hijau itu dikehendaki oleh Sang Maha Dewa dan mendapatkan tugas darinya.
Dan untuk portal yang menghubungkan dengan dunia tempat harta langit dan bumi itu berada tepat diatas sang Naga hijau. Jika seseorang ingin masuk kedalamnya, maka dia harus melewati ujian terlebih dahulu dari sang Naga hijau lalu setelahnya saling berebut harta didalam dunia dibalik portal.
Suasana didekat wilayah terlarang kini mulai ramai didatangi oleh orang-orang. Mereka semua tentu adalah orang-orang yang menginginkan harta langit dan bumi untuk menjadi milik mereka.
Klan dan sekte termasuk dua sekte besar telah mendatangi tempat itu. Dua sekte itu tidak lain adalah Sekte Pedang Suci dan Sekte Kekuatan. Sementara untuk Sekte Neraka, mereka belum bergerak mendatangi wilayah terlarang karena masih menunggu balasan pesan dari Dewa Formasi mereka.
Namun meski begitu, Sekte Neraka sudah mengirim beberapa tetuanya termasuk Tetua Ketujuh yang menjadi pengawal Tuan Muda Li Shin untuk menjadi mata-mata di daerah wilayah terlarang.
"Dimana tua bangka Duanren itu? Apakah dia tidak ikut serta?" tanya seorang pria baya yang mana disekelilingnya ada niat pedang yang sangat mengerikan selalu terpancar dari dalam tubuhnya. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Patriark Sekte Pedang Suci, Ong Li.
"Hahaha.. Aku rasa dia tidak ikut! Kamu tahu bukan, jika Sekte Neraka itu hanya fokus pada array tidak berguna itu!" kata pria baya berbadan kekar. Dia adalah Hei Lou. Patriark Sekte Kekuatan.
Keduanya adalah orang yang sudah berada di ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 7 dan termasuk jajaran orang terkuat di Benua Langit. Nama mereka juga sudah dikenal luas. Ong Li dikenal dengan julukan Pedang Pembasmi, sementara Hei Lou dikenal sebagai Badak Baja.
Kedua Patriark itu saling menertawakan ketidak-hadiran Patriark Li Duanren dalam acara agung ini karena menganggap Sekte Neraka memanglah yang terlemah dan formasi arraynya sama sekali tidak berguna.
Tapi setelah Hei Lou selesai mengatakan kata-kata tidak enak didengar itu secara terang-terangan, fluktuasi udara disekitarnya menjadi sangat kacau. Udara seperti berhenti berhembus dan suasana panas yang seperti api membakar tubuhnya.
__ADS_1
Zhuuung!
Sebuah lingkaran formasi array yang berpusat dari seorang pria berpakaian serba hitam terbentuk dan mengunci pergerakan Patriark Sekte Kekuatan.
Zhuusshh...
Sebuah tombak cahaya dengan aura mengerikan tercipta dari atas pria berpakaian serba hitam itu. Tombak itu berdengung dengan lembut namun semakin lama semakin nyaring dan auranya juga semakin mencekam.
Swoosh...
Tombak itu melesat dengan kecepatan luar biasa mengarah kearah Patriark Sekte Kekuatan Hei Lou yang mustahil untuk dirinya hindari.
Booommmm...
Sebuah ledakan super keras dan dahsyat bergema saat tombak cahaya itu menabrak tubuh dari Patriark Sekte Kekuatan yang sangat kuat itu.
Baamm!
"Uhuk! Uhuk!"
Patriark Hei Lou terlempar ratusan meter lalu dan menabrak puluhan pohon besar hingga merobohkannya. Dia yang berada di ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 7 dapat terluka dengan cukup parah hanya karena satu serangan saja.
"Uhuk! Uhuk!"
Patriark Sekte Kekuatan itu terus batuk darah sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit.
Pria berpakaian serba hitam itu melayang diatas udara sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada Patriark Hei Lou yang sedang terkapar.
"Kau boleh berbicara sesukamu! Tapi menghina Patriark dan Sekte Nerakaku, kau dan Sekte Kekuatanmu berada dalam bahaya sekarang!" ucap pria berpakaian serba hitam lalu membuka kain yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Alangkah betapa terkejutnya semua orang saat melihat wajah dari orang itu. Mereka semua tentu mengenali pria itu. Pria yang selalu berada disamping Tuan Muda Sekte Neraka sebagai pengawalnya, Tetua Ketujuh.
Tetua Ketujuh Sekte Neraka hanya memiliki kekuatan di rahan Pendekar Berlian Awal Bintang 2, namun kekuatan dari formasi buatannya itu mampu membuat Patriark Sekte Kekuatan yang hampir berada dipuncak kultivasi Benua Langit tidak berdaya. Lalu bagaimana jika yang menyerang itu adalah Patriak dari Sekte Neraka itu sendiri?
Orang-orang dari Sekte Kekuatan ingin membantu Patriark mereka, namun mereka juga takut akan mendapatkan serangan yang sama yang berakibat menghilangkan nyawa sebab formasi buatan Tetua Ketujuh Sekte Neraka masih aktif.
Alhasil, mereka semua hanya bisa diam sambil menggertakkan gigi keras-keras untuk menahan kemarahannya didalam hati masing-masing.
"Jika aku tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh Dewa Formasi kami, maka kau pasti sudah kubunuh sebelumnya! Ini juga peringatan untukmu pak tua Ong!" ujar Tetua Ketujuh Sekte Neraka menunjuk Patriark Pedang Suci lalu menghilang bersama dengan menghilangnya formasi array yang dibuatnya.
Hening! Suasana ditempat wilayah terlarang itu kini menjadi hening! Semua orang masih belum bisa percaya dengan Tetua Ketujuh dari Sekte Neraka yang mampu menghajar atau melukai Patriark Sekta Kekuatan hanya dengan satu serangan formasinya.
Sementara untuk orang-orang dari Sekte Kekuatan, mereka langsung berdatangan menuju ke tempat Patriark mereka untuk mengobatinya dengan segera.
'Sekte Neraka benar-benar tidak terduga!' batin Patriark Sekte Pedang Suci, Ong Li.
Dia lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju kearah orang-orangnya untuk memberikan beberapa pesan kata agar mereka tidak menyinggung atau membuat masalah dengan Sekte Neraka yang tiba-tiba berubah menakutkan.
.
.
Disisi lain, seorang pemuda dengan memakai topeng separuh wajah yang ditemani oleh pria baya yang memakai jubah merah kehitaman tersenyum dengan penuh arti.
Mereka berdua tentu adalah Ling Tian dan Mao An yang juga baru sampai dari perjalansn jauhnya. Mereka berdua sungguh tidak menyangka bahwa Sekte Neraka akan menjadi sangat agresif setelah kepergian mereka saat itu.
"Sepertinya Sekte Neraka sekarang mulai menunjukkan taringnya!" ujar Mao An sambil tersenyum melihat Patriark Sekte Kekuatan yang dibawa dengan pandu oleh para tetua dan murid-muridnya.
"Yah.. Sepertinya begitu! Aku akan sedikit memberikan hadiah kepada pengawal Li Shin itu nanti atas keberaniannya membela keluarga!" kata Ling Tian yang sangat puas dengan sikap Tetua Ketujuh Sekte Neraka.
__ADS_1