
Ling Tian tidak mengatakan dengan jelas kepada Tetua Zhong En berada di tinggal apakah alcemisnya. Disamping itu juga, Ling Tian tidak bisa mengatakan kepada Zhong En karena dia belum memiliki label dan lencana khusus dari perkumpulan alcemis.
Lencana itu dibuat khusus hanya para alcemis saja yang memilikinya. Lencana itu sama sekali tidak bisa dipalsukan dan ada formasi khusus yang mana pemiliknya bisa membuatnya bersinar jika di alirkan energi Qi. Cukup praktis dan tidak bisa berbohong jika memang seseorang tersebut seorang alcemis atau bukan.
"Tetua Zhong! Bagaimana jika kita melanjutkan perjalanannya sekarang?" tanya Ling Tian.
"Tidak masalah! Kalian semua! Untuk sementara, masukkan jasad saudara-saudara kita kedalam cincin penyimpanan! Ayo kita lanjutkan perjalanan sekarang!" jawab Tetua Zhong En lalu berseru kepada rombongannya.
"Eh! Sebentar!" Ling We tiba-tiba menghentikan.
"Ada apa saudaraku?" tanya Ling Tian keheranan.
"Hehehe.. Sangat disayangkan dan mubadzir jika cincin-cincin penyimpanan ini tidak dipungut!" jawab Ling We sambil cengengesan dan melucuti satu persatu cincin penyimpanan anggota Klan Lian yang telah terbunuh.
"Selesai! Ayo kita berangkat!" kata Ling We dengan wajah sumringah karena mendapat jarahan yang cukup lumayan.
Alis Ling Tian sampai berkedut melihat saudaranya itu yang sangat tidak tahu yang namanya jaga image.
"Hahh.. Baiklah.." lemas Ling Tian.
"Lalu bagaimana dengan mayat-mayat mereka?" tanya salah satu rombongan Tetua Zhong En.
"Biarkan saja! Tidak lama setelah kita pergi, pasti keluarga Lian akan segera datang setelah mengetahui giok jiwa wanita itu beserta anak buahnya hancur!" jawab Tetua Zhong En.
"Baiklah.. Ayo pergi sekarang!" ujar Ling We.
Mereka semua akhirnya pergi meninggalkan hutan dan menuju ke Kota Obat. Dan benar! Setelah sekitar setengah jam dari kepergian mereka, beberapa sosok memakai jubah hitam dan bermotif emas muncul didekat mayat-mayat orang Klan Lian yang Ling We bunuh.
__ADS_1
"Sial! Wanita bodoh ini telah gagal menjalankan misi dan malah terbunuh mengenaskan!" ujar salah satu dari enam orang berjubah hitam. Dia adalah pemimpin kelompok tersebut.
"Maaf Tetua! Bukankah ini tidak wajar jika yang membunuh mereka adalah aliran putih seperti Asosiasi Alkemis?" tanya salah satu anak buah seorang yang dipanggil tetua.
"Benar sekali! Dari luka yang didera oleh semua orang, tampaknya memang ada campur tangan orang lain disini! Zhong tua itu tidak akan mungkin mengalahkan wanita bodoh ini!" ujar si pemimpin kelompok.
"Kejadian serupa juga terjadi pada kelompok Tuan Muda Lian Kun, mungkinkah orang yang melakukan ini adalah orang kejam yang sama?" tanya si anak buah.
"Entahlah! Tapi itu mungkin saja iya! Mungkin ada pihak tersembunyi yang sedang berusaha memerangi Klan Lian kita dan tidak mau tunduk dengan kita! Mungkinkah kelompok itu?" jawab si Tetua dan membuat spekulasi.
"Tapi rasanya tidak mungkin Tetua! Kelompok itu tidak akan berani bertindak hingga sampai ke titik ini!" ujar si anak buah memberikan komentarnya.
"Yasudah! Ayo tinggalkan tempat ini! Bawa mereka semua dan segera kita laporkan ini semua kepada Tetua Tertinggi!" kata si Tetua mengajaknya kembali ke istana Klan Lian.
"Baik Tetua!" seru semua anak buah dan menurut saja.
Ling Tian, Ling We beserta rombongan Tetua Zhong akhirnya sampai di pintu gerbang Kota Obat. Dengan identitas Tetua Zhong En, tidak sulit bagi kelompok ini memasuki kota tanpa harus repot-repot mengantri.
"Salam Tetua Zhong! Silakan masuk!" ujar salah satu penjaga gerbang.
Zhong En hanya mengangguk semangai balasan. Dia mengajak Ling Tian dan semua orang untuk memasuki Kota Obat.
Satu langkah setelah masuk kota, Ling Tian dapat mencium aroma dari berbagai macam tanaman obat yang sangat menyegarkan. Dia juga melihat banyak sekali orang-orang yang berjualan tanaman obat dan beberapa orang sedang memurnikan pil didalam ruangan berkaca. Memang seperti namanya, Kota Obat adalah kota besar yang hanya dikhususkan atau surganya untuk orang-orang yang mempelajari tentang alkimia.
"Hahh.. Bau yang sangat melegakan!" ujar Ling We yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan paru-parunya.
"Memang pantas disebut Kota Obat! Dengan begitu kayanya kota ini akan obat-obatan dan alcemis yang ada!" tanggap Ling Tian.
__ADS_1
"Ya.. Begitulah Tuan Muda Ling! Ngomong-ngomong mari mampir dulu kekediamanku untuk minum teh! Aku tidak bisa membiarkan penolongku kelaparan dan berjalan tanpa arah di Kota Obat ini!" ujar Zhong En sedikit bercanda.
"Hahaha.. Tetua Zhong memang tahu apa yang kita inginkan! Setelah menghajar nenek peot itu, aku merasakan sedikit lapar dan rasa dahaga akan anggut" ceplos Ling We.
"Ahahaha.. Tenang saja Tuan Muda Ling! Semua akan aku siapkan!" jawab Tetua Zhong En dengan tawa yang dibuat-buat dan berusaha tersenyum sebisanya menanggapi keterus-terangan pemuda bertopeng satu ini.
Sementara Ling Tian seketika melihat kearah Ling We dengan pandangan tidak percaya. Ling Tian berfikir sejenak, mungkinkah Ling We ini dahulunya dikelahiran sebelumnya adalah saudara satu kandung dengan Long Yuan? Mereka sama-sama terlahir dengan tidak punya urat malu!
Ling Tian hanya tersenyum masam saat Tetua Zhong En meliriknya dengan tatapan tidak bisa dijelaskan. Dia benar-benar tidak enak hati saat ini. Rasanya ingin sekali dia menampar mulut saudaranya itu agar tidak asal keluar seperti knalpot bocor.
Setelah sekitar lima belas menit berjalan, rombongan Ling Tian dan Tetua Zhong En akhirnya sampai di sebuah kediaman yang sangat besar dan megah. Kediaman ini tidak lain adalah kediaman milik Tetua Zhong En.
Ling Tian sama sekali tidak heran dengan kediaman Tetua Zhong En yang sangat megah, pasalnya dia tahu bahwa Tetua yang satu ini pastilah memiliki kedudukan yang cukup tinggi di Asosiasi Alkemis. Karena bahkan pendapatnya sangat didengarkan saat menolak menjual saham Asosiasi kepada Klan Lian.
Dari sini saja bisa ditarik kesimpulan bahwa sosok Zhong En ini bukanlah orang sembarangan atau mungkin juga dirinya adalah seorang alcemis handal tingkat tinggi.
"Ah.. Silakan Tuan Muda sekalian! Selamat datang di kediaman sederhanaku ini!" ucap Tetua Zhong En dengan merendah namun tidak pada tempatnya. Sebab kenyataannya adalah kediamannya layaknya sebuah istana.
"Terima kasih Tetua Zhong!" balas Ling Tian dengan tersenyum ramah.
Mereka bertiga memasuki kediaman Tetua Zhong En, sementara rombongan yang sebelumnya bersama ketiganya telah kembali ketempat masing-masing.
"Silakan duduk terlebih dahulu Tuan Muda Ling! Aku akan menyuruh pelayan terlebih dahulu untuk menyiapkan teh dan beberapa camilan!" tutur Tetua Zhong En.
"Terima kasih Tetua Zhong!" balas Ling Tian dan Ling We serentak. Keduanya duduk di kursi yang sangat empuk sementara Tetua Zhong En masuk ke rumah bagian dalam.
Plak!
__ADS_1
"Aduh! Kenapa kau memukul kepalaku?" tanya Ling We protes saat tiba-tiba kepala belakangnya dipukul oleh Ling Tian.