
Zheep! Zheep! Zheep!
Ling Jun, Patriark Ling Bo Teng, Ling We dan Ling Jian muncul di dekat Feng Lanse'er. Tidak ketinggalan para saudaranya yang lain juga ikut mengerumuni sang Dewi Phoenix yin dan yang itu. Tidak terkecuali Tetua Lian Zong atau ayah dari Lianhua yang sedang bersedih akibat putri semata wayangnya tewas terbunuh dan menjadi butiran cahaya setelahnya.
"Apa yang harus kami lakukan untuk membantu, nona Feng?" tanya Patriark Ling Bo Teng dengan wajah yang cemas.
"Tolong bantu kami untuk terus mengalirkan energi Qi sudahlah merantai cahaya dan gunakan kekuatan darah kalian semua." jawab Feng Lanse'er dengan tanpa mengalihkan pandangannya.
Semua orang menganggukkan kepala dan membagi kelompok menjadi empat bagian. Ayah Ling Tian atau Ling Jun dan Patriark Ling Bo Teng membantu Feng Lanse'er, Bai Si'er dan Ling Jian membantu Mao An, Kaisar Wei terdahulu Wei Zhuo dan putranya Kaisar Wei Heian membantu Leluhur Xueren Chong serta Bai Wutian dan Ling We membantu Zhuge Ruxu.
Semuanya saling bahu membahu untuk mengalirkan energi Qi guna menghentikan kemarahan dari Ling Tian yang dalam bentuk naganya. Rantai cahaya biru itu juga berguna untuk menghentikan aliran Qi dalam meridian tubuh orang yang terikat sehingga semakin besar dan semakin kuat mereka mengikat Ling Tian, maka naga Ling Tian akan tidak dapat berkutik setelahnya dan dapat disadarkan dengan mudah.
Feng Lanse'er kemudian menghentikan diri dari mengalirkan energi Qi ke dalam rantai cahaya biru sehingga membuat Ling Jun dan Patriark Ling Bo Teng mengerutkan kening.
"Ada apa, nona Feng? Mengapa anda menghentikan mengalirkan energi?" tanya Patriark Ling Bo Teng penasaran. Hal yang sama juga dirasakan oleh ayah Ling Tian.
"Aku harus menghentikan perang terlebih dahulu agar tidak ada yang mengganggu prosesi penyadaran Tuan Muda Tian!" jawab Feng Lanse'er dan mengalihkan pandangan ke arah orang-orang yang berasal dari aliran hitam atau Klan Hanzhen.
"Tolong tahan untuk sementara paman Jun, Patriark! Ini tidak akan lama!" ujarnya lagi lalu melepaskan pegangannya pada rantai cahaya biru dan melesat menuju ke arah Hanzhen Fang.
Swwwiiiitttttt...
Feng Lanse'er memekik dengan sangat keras sehingga membuat orang-orang yang ada di sekitarnya harus menutup telinga dengan energi Qi, khususnya untuk Hanzhen Fang yang memang siulan itu ditujukan untuk dirinya.
Zheep!
__ADS_1
Feng Lanse'er kemudian menerkam lalu mencengkram Hanzhen Fang dengan kaki phoenixnya yang memiliki kupu-kuku tajam sehingga kultivator bertubuh keras seperti batu itu menjerit kesakitan.
"Aaaakkkhh.."
Phoenix biru itu sama sekali tidak menggubris teriakan dari orang yang sedang dia cengkram itu. Dia justru semakin memperkuat cengkraman kakinya sehingga kuku-kuku yang tajam pedang itu menancap seluruhnya ke dalam tubuh Hanzhen Fang yang langsung mengeluarkan banyak darah.
"Karena kalian Tuan Mudaku menjadi seperti itu, maka sekarang, terimalah kutukan darah dariku, Sang Dewi Binatang Suci Phoenix Yin Yang!" seru Feng Lanse'er kemudian menjemput kan api sekaligus es yang memiliki esensi dewa ke tubuh Hanzhen Fang yang sudah berlumuran dengan darah.
Setelah itu, dirinya pun pergi meninggalkan Hanzhen Fang yang kebingungan dan kembali kepada Ling Jun dan Patriark Ling Bo Teng. Hanzhen Fang tidak merasakan panas ataupun dingin saat sang Phoenix biru itu menyemburnya.
Hal itu tentu saja langsung membuat dirinya tertawa terkekeh-kekeh dalam hati dan menganggap apa yang dilakukan sang Phoenix biru itu hanyalah rupa gertakan saja. Hanzhen Fang lalu berdiri kembali sembari tersenyum meremehkan ke arah orang-orang dari Klan Ling ataupun kepada sang Phoenix biru.
Namun yang tidak disadari olehnya adalah di saat Feng Lanse'er menyemburkan apinya itu, esensi dewa yang dilepaskan terserap di dalam darahnya lalu merasuk ke dalam tubuhnya.
Saat Hanzhen Fang ingin memberikan komando kepada orang-orang yang berasal dari klannya yang tersisa, tiba-tiba sebuah perasaan hangat muncul pada bagian jantungnya. Dan rasa hangat itu semakin lama semakin hangat dan berubah menjadi panas yang tidak terkira sehingga dirinya pun menjerit kesakitan dan berguling-guling di tanah.
Hal itu dia lakukan karena dirinya begitu geram dan tidak bisa lagi menahan emosi yang bergejolak di dalam hati akibat melihat perubahan dan kesedihan yang dirasakan oleh Ling Tian, tuannya.
Setelah hampir 5 menit berguling-guling di tanah, Hanzhen Fang dan semua orang yang berasal dari Klan Hanzhen atau yang memiliki ketan darah sama dengannya, tiba-tiba dari perut mereka muncul kobaran api yang tidak dapat dipandang bukan dan mulai membakar tubuh mereka secara perlahan.
Hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk api yang muncul itu untuk membakar tubuh sekitar 5 juta orang dari Klan Hanzhen. Tidak sampai di situ saja, tetapi para wanita dan anak-anak yang tidak ikut perang juga hangus terbakar dan menerima kutukan itu. Sungguh kutukan darah yang sangat mengerikan!
Semua orang menatap kejadian mengerikan itu dengan tubuh yang bergidik. Mereka yang berasal dari luar Klan Ling bertekat dalam hati tidak akan menyinggung siapapun yang berasal dari Klan Ling, atau mereka akan menerima akibat yang sama seperti yang di rasakan oleh Klan Hanzhen.
Peperangan besar itu segera terhenti dan kemenangan diraih oleh pasukan aliran putih. Meski masih cukup banyak klan yang menjadi bawahan dari Klan Han dan tidak terkena kutukan darah, namun mereka lebih memilih untuk menyerah dan menerima konsekuensi ataupun hukuman dari pihak aliran putih.
__ADS_1
.
.
Feng Lanse'er kembali ke sisi Ling Jun dan Patriark Ling Bo Teng kemudian mengalirkan energi ke dalam rantai cahaya biru.
"Apakah sudah selesai Lanse'er?" tanya Ling Jun.
"Sudah, aman Jun! Kita bisa lebih fokus untuk mengunci meridian dari Tuan Muda dan tanpa khawatir akan ada orang yang mengganggunya," jawab Feng Lanse'er.
"Bagus!" angguk Ling Jun lalu fokus kembali mengalirkan Qi yang di sertai dengan kekuatan darahnya.
***
Butuh waktu 3 hari 3 malam bagi mereka untuk membuat Ling Tian yang dalam bentuk naga berhenti meronta. Setelah itu, tubuh besar itu tiba-tiba saja menyusut dan terus menyusut sehingga mengembalikan lagi sosok yang mereka kenali yang tidak lain adalah pemuda yang sangat tampan Ling Tian yang masih dalam kondisi yang hilang kesadaran.
"Bunuh.."
"Bunuh semuanya.." ucap Ling Tian dengan nada yang sangat lemah.
"Tuan Muda sadarlah!" Zhuge Ruxu yang paling pertama sendiri berseru dan mengkhawatirkan Tuan Muda Ling Tian-nya.
"Bunuh.. Bunuh semuanya.." sahut Ling Tian bernada parau.
"Tuan Muda, sadarlah!" seru Zhuge Ruxu lagi dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.
__ADS_1
_____________________________________________
Jangan lupa VOTE yaa kawan-kawan LT yang lagi kesurupan.😁