
***
Di dalam dunia dantian milik Ling Tian, yang mana dunia itu berada di sebelah dari dunia jiwa, sosok agung yang diselimuti dengan aura yang sangat mengerikan dan kelam yang bersemayam sejak lama di dalam tubuh Ling Tian yang tidak lain adalah Sang Naga Bayangan tiba-tiba saja membuka matanya yang berwarna merah darah lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha.. Kau kalah lagi!" cibir sosok Naga Bayangan kepada Ling Tian yang saat ini jiwanya sedang di rantai dengan rantai hitam yang sangat besar tepat dihadapannya.
Ling Tian tidak menyahuti ucapan tersebut. Dia hanya terus diam sembari menitipkan air mata darahnya. Ingatan-ingatan mengenai terbunuhnya Ling Lianhua tiba-tiba saja muncul di benaknya, yang membuat kesedihan yang sedang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
Tidak hanya ingatan tentang itu saja, namun ingatan saat kedua orang tuanya dilukai oleh para penatua dari Sekte Macan Iblis juga ikut-ikutan muncul sehingga dia merasakan hatinya begitu sakit karena lalai untuk melindungi mereka semua.
Ling Tian merasa bahwa dirinya telah gagal berkultivasi dan hanya menumpuk-numpuk kekuatan saja tanpa berguna sedikitpun untuk orang-orang yang dia sayangi itu.
"Kau masih lemah dan tidak berguna seperti biasanya, Ling Tian! Hahaha.." sosok Naga Bayangan kembali mengulangi ejekannya.
"Mengapa.. Mengapa aku selalu gagal?" ucap Ling Tian dengan lemah dan bertanya kepada dirinya sendiri.
"Itu karena kau memang lemah! Kau tidak dapat melindungi orang-orang yang kau sayangi!" sahut sang Naga Bayangan.
Ling Tian termenung menanggapi ucapan sosok tersebut. Yang dikatakan olehnya memang sangat benar sekali. Dia saat ini di Benua Langit merupakan kultivator yang sangat kuat dan hanya beberapa orang saja yang dapat mengalahkan dirinya.
Namun karena kesalahannya dalam bertindak dan tidak bersegera menghancurkan formasi array pengacau, keluarga dan orang-orang yang mendukungnya kini banyak sekali yang tewas dan juga terluka.
Ling Tian tentu saja menyalahkan dirinya sendiri karena sikapnya yang begitu implusif dan hanya menunggu dari Yi Shu dan juga para muridnya untuk menghancurkan titik-titik yang telah ia tandai bersama dengan Feng Lanse'er.
Awalnya rintihan bertujuan untuk menyadarkan semua orang yang berasal dari aliran bukti bahwa perjuangan menegakkan keadilan dan juga kesejahteraan itu sangatlah sulit. Dibutuhkan darah yang harus dialirkan untuk melakukannya sehingga nanti untuk para generasi mendatang akan mau menjaganya selalu supaya tidak terpecah belah.
Akan tetapi malah takdir berkata lain dan salah satu orang yang harus darahnya mengalir ternyata adalah wanita yang sangat dia cintai dan sudah berencana untuk menikahinya setelah perang usai.
Hal ini tentu saja membuat Ling Tian begitu terpukul dan menyerahkan dirinya sendiri sehingga rantai takdir yang ada di dunia dantian miliknya kembali mengikat dirinya dan hal itu segera membuat Sang Naga Bayangan yang bersemayam di tempat itu membuka mata dan tertawa mengejeknya.
"Aku salah.. Aku bersalah.." ujarnya dengan tidak berdaya.
"Ya.. Kau memang salah! Dan semua dosa manusia yang terbunuh akibat rencana bodohmu itu, kini menjadi tanggungan bagimu!" sahut Sang Naga Bayangan.
__ADS_1
Setelah menyebut ucapan dari Ling Tian, kemudian aura yang mengerikan yang menyelimuti sosok Naga Bayangan itu mengalir kepada Ling Tian yang terikat rantai.
"Meskipun aku sangat tidak menyukai akan kebodohanmu itu, tapi di pundakmu masih banyak beban yang kau pikul dan tugas harus kau selesaikan semuanya! Aku akan menyerahkan kekuatanku kepadamu dan tergantung tekad yang kau miliki!" ujar Sang Naga Bayangan.
Ling Tian segera membelalakkan matanya saat merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya dikala aura yang sangat mengerikan dari sosok Naga Bayangan di hadapannya memberikan aura mengerikan itu kepada dirinya.
"Aaaaakkkhh..." Ling Tian segera berteriak keras menahan rasa sakit tersebut. Dia merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup atau diremukkan tulang-tulangnya dengan kejam.
Namun, bersamaan dengan terus berjalannya waktu dan rasa sakit yang mendera tubuhnya, kekuatan darah yang sebelumnya hanya 5% saja yang telah terbuka, kini melonjak naik menjadi 30%. Dan hal itu sangat mengejutkan bagi Ling Tian.
Rantai besar yang berwarna hitam yang sebelumnya membelenggu dirinya, tiba-tiba saja langsung melonggar dan dia dapat bergerak dengan leluasa lagi. Namun, hatinya masih belum bisa menerima jikalau kekasihnya itu mati terbunuh oleh musuh.
***
Di dunia luar atau lebih tepatnya di bagian timur peperangan yang ada di daratan selatan, aura hitam yang keluar dari dalam tubuh Ling Tian semakin pekat dan terasa mengerikan, membuat semua orang entah yang berasal dari aliran hitam ataupun aliran putih merasakan penekanan yang luar biasa.
"Aaaaakkkhhh.." Ling Tian berteriak keras dan mendongak ke atas langit.
Jdeeeeeeerrrrrrrrr...
Langit terus bergemuruh dengan petir-petir yang terus menyambar dan awan hitam yang sangat menakutkan berputar-putar layaknya pusaran angin ataupun black hole.
"Aaaakkkhhh.."
Ling Tian berteriak lagi dan aura penekanan yang menekan semua orang bahkan yang berada di Benua Langit semakin terasa lebih kuat.
Secara perlahan, tubuh Ling Tian terbang melayang ke atas langit dan tidak berhenti hingga mencapai awan. Lalu setelahnya, tiba-tiba seluruh tubuhnya membesar dan terus membesar hingga diameternya sangat sulit untuk diukur lagi. Ling Tian kini telah berubah menjadi sosok naga yang sangat besar dengan mata menyala seperti api.
___________________________________________
(Ilustrasi Ling Tian saat dalam mode Dewa Naga Bayangan).
__ADS_1
___________________________________________
"Bunuh!"
"Bunuh semuanya!"
Hanya kata-kata itu saja yang keluar dari mulut Ling Tian.
Aura penekanan yang mengerikan itu langsung lenyap saat telah sempurna menjadi sosok naga, sehingga semua orang kembali dapat bernafas dengan lega. Namun, mereka semua tercengang melihat sosok yang sangat besar terbang melayang di atas mereka dengan niat membunuh yang menyelimuti seluruh tubuh sosok tersebut.
"T-tuan Muda kembali kehilangan kesadarannya! Dan ini lebih mengerikan ketimbang saat berada di Hutan Tanpa Batas," ujar Zhuge Ruxu dengan seluruh tubuhnya yang bergetar.
"Kakak ketiga, b-bagaimana kita dapat menyadarkan Tuan Muda?" tanya Mao An yang sudah melepaskan diri dari rundungan Hanzhen Fang dan tiba-tiba muncul di samping Zhuge Ruxu.
"Aku tidak tahu!" jawab Zhuge Ruxu sembari menggelengkan kepalanya namun dia tampak sedang berfikir keras.
"Mungkin saudara Xueren Chong dan saudari Feng Lanse'er dapat mengatasinya! Keduanya telah berada di Ranah Dewa!" ucapnya lagi lalu setelahnya langsung melesat menuju ke arah kedua saudarinya yang telah menjadi dewa dan dewi itu.
"Benar sekali! Semoga Tuan Muda dapat disadarkan kembali sebelum melakukan hal yang membahayakan semua orang!" ucap Mao An sembari menggertakkan giginya dan menyusul Zhuge Ruxu untuk mendiskusikan cara menyadarkan Ling Tian.
.
.
Sedangkan untuk Ling Tian yang dalam bentuk naga masih belum bergerak sedikit pun kecuali hanya mulutnya saja yang terus mengatakan 'bunuh!'.
Dia yang sedang tidak sadarkan diri kemudian mencari keberadaan dari seseorang yang telah membuat wanita yang sangat dia kasih terbunuh yang tidak lain adalah Han Tianba. Setelah menemukannya, niat membunuh yang sangat mengerikan seketika itu juga langsung terpancar dan menekan semua orang.
Grrrooooaaaaarrr...
"Bunuh!"
"Bunuh semuanya!" ucapnya kepada Han Tianba setelah mengaum sangat keras.
__ADS_1
Ling Tian lalu membuka mulutnya dan sebuah bola energi dengan aura menakutkan yang berwarna hitam muncul dan terus membesar.