Ling Tian

Ling Tian
Membesuk Pangeran Kedua 3


__ADS_3

"Hanya dengan seperti ini kamu ingin membuatku membuka mulut membeberkan strategi perang aliansi aliran hitam? Hahaha.. Kau hanya bermimpi Ling Tian!" jawab pangeran Song Yunlei dengan berteriak dan tertawa terbahak-bahak.


"Oh? Jadi kamu menantang? Baiklah.. Saudaraku, lanjutkan!" ujar Ling Tian meminta Mao An untuk melanjutkan kembali aksi penyiksaannya terhadap pangeran Song Yunlei.


"Dengan senang hati Tuan Muda." jawab Mao An dengan tersenyum menyeringai mengerikan dan berjalan kembali mendekati sang pangeran kedua.


Mao An kemudian meledakkan aura kultivasinya hingga berada di ranah Pendekar Emas Tahap Awal dan memfokuskan hanya kepada pangeran Song Yunlei saja, sehingga langsung membuatnya tertekan dengan teramat mengingat dirinya saat ini hanya memiliki kultivasi di ranah Pendekar Kayu.


"Yoo.. Pangeran manja, di mana kehebatanmu itu sehingga kamu berani membunuh orang tuamu sendiri?" ejek Mao An dengan pertanyaan.


"Ugh!" pangeran kedua kekaisaran Song itu tidak bisa menjawab apa-apa kecuali hanya memuntahkan seteguk darahnya karena sudah tidak dapat lagi bertahan menahan tekanan luar biasa dari Mao An.


Darah segar tidak hanya mengalir dari mulutnya saja, namun juga dari mata, hidung dan telinganya, yang membuat siapapun yang melihatnya seolah akan ikut merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Ini hanya penekanan di ranah Pendekar Emas Tahap Awal saja pangeran manja. Bagaimana jika aku tingkatkan satu tahapan lagi?" ujar Mao An dengan tersenyum ala kucing psikopatnya.


Mao An kemudian secara perlahan menaikkan tingkatan kultivasi dari Pendekar Emas Awal Bintang 9 menuju ke Pendekar Emas Menengah Bintang 1, 2, 3 dan seterusnya, yang membuat pangeran Song Yunlei semakin tersiksa dan darahnya yang mengalir dari lubang-lubang kepalanya semakin deras.


Disisi lain, Ling Tian hanya menonton aksi tersebut dengan wajah biasa saja dan tanpa adanya ekspresi sama sekali. Dia tidak mempermasalahkan dengan cara apa saudaranya menyiksa pangeran yang telah membunuh orang tuanya itu.


Bagi Ling Tian, asalkan saudaranya berhasil membuat pangeran song Yunlei membuka mulut maka hal itu tidaklah masalah sama sekali. Toh dia bisa kembali menyelamatkan pangeran itu dengan pil penyembuhan miliknya yang berada di tingkat jiwa ketika masih ada detak jantung meski sangatlah lemah.


Mao An menghentikan kenaikan kultivasinya hingga berada di ranah Pendekar Emas Puncak saja karena jika dilebihkan lagi hingga menerobos ranah Pendekar Platinum maka sudah dipastikan pangeran Song Yunlei yang hanya memiliki ranah Pendekar Kayu saja akan mati.

__ADS_1


Mao An menikmati pemandangan indah akan darah yang mengalir dari lubang-lubang kepala pangeran Song Yunlei dengan senyuman lebarnya. Dia lalu berawakening menjadi sosok pemuda tampan dengan jubah merah kehitaman.


"Ternyata masih belum cukup." ujarnya kemudian mendudukkan pangeran itu diatas lantai yang penuh dengan darahnya itu.


Pangeran Song Yunlei sendiri sudah hampir kehilangan kesadarannya karena tekanan yang di lepaskan Mao An. Bahkan hingga Mao An berawakening, dia masih saja merasakan tekanan itu tanpa berkurang sedikitpun.


Pangeran kedua kekaisaran Song itu hanya bisa pasrah saja saat tubuhnya di dudukkan oleh Mao An. Dia tidak tahu akan mendapatkan siksaan macam apa lagi. Namun yang pasti dia tidak akan pernah mengungkapkan mengenai strategi perang pihak aliansinya.


Jika sampai pangeran Song Yunlei membocorkannya, itu artinya dia tidak akan pernah mendapatkan balas dendamnya akan penyiksaan yang diberikan Ling Tian maupun Mao An. Menurutnya, dengan terus diam dan diam, maka esok saat perang terjadi, pasukan aliran putih hanya akan menjadi domba yang datang dan mengantri untuk disembelih oleh para jagal.


Seelah mendudukkan pangeran Song Yunlei, Mao An lalu mulai melakukan penyiksaan yang paling disukai oleh Ling Tian. Penyiksaan itu tentu saja adalah tampar-tampar dan merontokkan gigi satu persatu.


Plaakk!


Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk!


Satu persatu gigi milik pangeran Song Yunlei mulai terbang meninggalkan gusinya dan darah langsung mengalir dengan derasnya dari sela-sela gusinya yang giginya terlepas. Rasa ngilu dan sakit yang tidak terbayangkan juga sudah pasti dirasakan oleh si empunya.


Pangeran Song Yunlei yang awalnya hampir kehilangan kesadarannya kini di paksa untuk sadar kembali karena rasa sakit itu. Dia benar-benar di buat menderita oleh cara penyiksaan Mao An yang satu ini.


Bukan rasa sakitnya yang berkali-kali lipat, tapi karena Song Yunlei adalah sosok pangeran dan wajah merupakan bagian tubuh yang sangat sakral dan harga dirinya. Selama ini tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh wajahnya kecuali wanita penghibur yang mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan.


Namun kali ini, Song Yunlei atau sosok pangeran yang teramat menjaga hal sakral itu benar-benar telah di buat sakit hati karena wajahnya kini tak lagi berbentuk.

__ADS_1


Plaakkk! Plaakkk!


Mao An sama sekali tidak menghentikan tamparannya itu. Dia hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja atau tanpa menggunakam sedikitpun energi Qi untuk melakukannya. Dia ingin membuat sosok pangeran kedua dari kekaisaran Song ini merasakan bagaimana sakitnya wajah yang selama ini di jaganya dia rusak karena hanya mempertahankan mulutnya yang tidak mau angkat bicara mengenai strategi perang aliansi aliran hitam.


Plaakkk! Plaakkk!


Plaakkk!


Selain itu, Mao An juga ingin bersenang-senang dengan tangannya yang terus menampar wajah musuh dari Tuan Mudanya. Terlebih, sebelumnya pangeran manja itu telah berani berkata tidak sopan dan bernada membentak dalam menjawab ucapan dari Ling Tian.


Plaakkk! Plaakkk!


"Apa kau masih belum mau berbicara wahai pangeran manja?" tanya Mao An sembari tangan kirinya terus memegangi kerah baju pangeran Song Yunlei dan tangan kanannya melayang serta mendarat di pipi kanan maupun kiri pangeran itu.


Pangeran Song Yunlei ingin menggertakan gigi saat mendengar pertanyaan dari pemuda yang menyiksanya itu. Namun dia malah justru mendapati rasa perih itu ada gusinya yang saling mengerat karena giginya yang telah habis akibat di buat beterbangan ke segala arah oleh Mao An.


"Ugh!" dia hanya mampu mengeluarkan suara tersebut sebagai tanggapan dari pertanyaan Mao An.


Mao An kemudian memaksa membuka mulut dari sang pangeran kemudian melemparkan pil regenerasi yang hanya di tingkat 5 saja dan menelankannya. Alhasil, beberapa saat kemudian, pangeran Song Yunlei langsung memelototkan matanya karena merasakan evek samping yang luar biasa sakit saat gigi-giginya secara perlahan mulai tumbuh kembali.


"Aaakkhh.." teriak pangeran Song Yunlei yang tidak tahan dengan rasa sakit dari evek samping pil regenerasi itu.


"Masih belum mau bicara?" tanya Mao An lagi dengan senyuman menyeringai karena dia akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dan mengulanginya terus menerus penyiksaan dengan tamparan dan menelankan pil regenerasi jika pangeran kedua itu masih belum mau angkat bicara dan menjawab pertanyaan darinya.

__ADS_1


__ADS_2