
Ling Tian akhirnya hanya bisa kembali masuk kedalam kediamannya. Namun sebelum itu, dia memberikan suatu pesan untuk suadara-saudaranya.
"Saudaraku! Kalian boleh berikan buah abadi milikku kepada mereka sampai mereka menembus ranah Pendekar Platinum Awal!" ucapnya melalui telepati.
"Baik!" jawab semua saudara Ling Tian dengan serentak dari dalam dunia jiwa.
"Lho? Tian'er? Yang lainnya pada kemana?" tanya Hei Si saat mendapati Ling Tian seorang diri.
"Ooh.. Mereka sudah pergi ibu!" jawab Ling Tian.
"Pergi? Pergi kemana?" Hei Si mengangkat alisnya.
"Ke suatu tempat untuk melatih para murid baru mereka bu!" jawab Ling Tian memberikan sedikit penjelasan kepada sang ibu.
"Oh.. Jadi begitu! Baiklah.. Ayo masuk! Kita makan dulu!" ajak Hei Si.
"Baik bu!" angguk Ling Tian menurut.
Ling Tian dan kedua orang tuanya makan dengan tenang. Setelah itu, Ling Tian beniat pamit untuk kembali berpetualang. Sebelumnya, dia juga sudah menyerahkan urusan tiga formasi array untuk latihan kepada para Tetua Klan. Jadi dia sudah tidak ada tanggungan lagi untuk tinggal lebih lama didalam klan.
"Ibu, ayah!" ucap Ling Tian.
"Iya.." jawab kedua orang tua Ling Tian serentak.
"Ada yang ingin Tian'er sampaikan kepada ibu dan ayah!" kata Ling Tian.
"Iya.. Ada apa nak?" Hei Si bertanya.
"Itu ibu.. Tian'er ingin minta izin untuk kembali berpetualang!" jawab Ling Tian pelan. Dia sangat takut ibunya tidak memberi izin.
Hei Si tersunyum melihat tingkah anaknya ini saat tampak sangat gugup dan berhati-hati dalam berbicara.
"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Hei Si dengan tersenyum hangat.
"Eh? Ibu mengizinkan Tian'er pergi?" Ling Tian cukup terkejut mendapati ibunya sama sekali tidak menahannya.
"Buat apa ibu melarangmu nak? Seekor rajawali tidak akan terlihat agungnya jika hanya berdiam diri didalam sarangnya. Begitupun denganmu! Putraku bahkan adalah sosok Naga Agung yang sangat kuat! Dia juga harus keluar dari rumahnya untuk memberitahukan ke semua orang bahwa Ling Tian adalah yang terkuat!" jawab Hei Si dengan lembut.
Ling Tian sedikit tertegun mendengar penuturan sang ibu. Dia tentu sangat membenarkan ucapan itu.
__ADS_1
"Terima kasih ibu!" kata Ling Tian.
"Iya putraku!" sahut Hei Si.
"Ayaah.." Ling Tian melihat ayahnya, Ling Jun.
Ling Jun yang faham langsung memberikan beberapa patah kata,
"Jika ibumu sudah berkata demikian, maka ayah juga hanya akan menyetujuinya! Namun satu hal yang harus kamu ingat nak! Kamu boleh Pergi kemanapun kamu mau! Kamu bisa mengembara ketempat apapun yang kamu inginkan! Namun tetaplah berhati-hati dan jaga diri baik-baik. Dan jika kamu lelah, maka pulanglah.. Ayah dan ibumu beserta semua anggota keluarga Klan Ling disini selalu menunggu untuk menyayangimu!"
Tanpa terasa air mata Ling Tian sedikit menetes mendengar ucapan Ling Jun. Dia sangat terharu dengan kata-kata yang keluar dengan tulus dari mulut yang memang sangat menyayanginya.
"Terima kasih ayah! Tian'er akan mengingat semua pesan ayah dan juga ibu! Tian'er akan menjaga diri dan menjadi yang terkuat di Benua Langit! Itu janji Ling Tian ini!" kata King Tian dengan tekat yang sudah bulat.
Kobaran api semangat juga terlihat jelas dimata Ling Tian.
"Lalu hendak dengan siapa kamu bepergian nak?" tanya Ling Jun.
"Rencanaku, aku ingin pergi berpetualang dengan saudara We!"
"Oh.. We konyol itu?" tanya Ling Jun.
"Yasudah kalau begitu! Oiya, jangan lupa pamitlah kepada kedua kakakmu dan juga paman bibimu! Ayah dan ibu tidak mau mereka menghujani kami dengan banyak pertanyaan atas kepergianmu jika tanpa pamit!" ujar Ling Jun.
"Baik ayah! Ayah tidak perlu khawatir. Tian'er pasti akan pamit kepada mereka!" balas Ling Tian.
"Lalu kapan kamu berangkat?" Hei Si bertanya.
"Besok pagi bu!" jawab Ling Tian.
"Kalau begitu, mengapa tidak sekarang saja kamu pamit kepada paman dan bibimu serta kedua kakakmu itu?" ucap Hei Si sekaligus memberi saran.
"Emm.. Baiklah ibu! Tian'er akan pamit sekarang juga! Kalau begitu Tian'er pergi dulu ibu, ayah!" pamit Ling Tian.
"Silakan nak!" jawab Ling Jun dan Hei Si serentak.
.
.
__ADS_1
Dikediaman yang sangat besar dan tampak lebih mewah dari yang lainnya terdapat dua orang muda-mudi sedang berlatih tanding dengan pedang di halaman. Ada juga sepasang pria baya dan wanita cantik sedang duduk santai menyaksikan kedua muda-mudi yang sedang berlatih tanding tersebut.
Terkadang, pria baya itu memberikan sedikit arahan kepada kedua muda-mudi itu meski ada sedikit jejak ketidak-fahaman dari jurus atau teknik pedang yang diperagakan oleh kedua muda-mudi.
Dan benar! Pria paruh baya dan wanita disampingnya itu adalah Patriark Ling Bo Teng bersama istrinya Wang Zie. Sementara kedua muda-mudi itu tidak lain adalah Ling Jian dan Ling Yun.
Ling Jian dan Ling Yun sedang berlatih tanding dengan teknik pedang tingkat dewa yang telah diberikan oleh adiknya, Ling Tian. Oleh sebab itu pula, Ling Bo Teng atau Patriark Ling tidak faham dengan jurus apa yang sedang digunakan oleh kedua anaknya. Yang Ling Bo Teng tahu adalah jurus tersebut sangatlah mengerikan! Bahkan lebih mengerikan dari jurus utama Klan Ling, teknik pedang petir.
Swiiiisshh...
"Adik Yun! Awaaas!" teriak Ling Jian dengan keras.
Traankkk!
Bhuushh...
Baam...
Disaat keduanya sedang sedikit jeda untuk mengambil nafas, tiba-tiba sebuah belati terbang melesat dengan sangat cepat menyerang Ling Yun. Beruntung Ling Jian sangat gesit dan mampu menangkis belati terbang itu. Jika tidak, mungkin Ling Yun bisa saja tewas atau paling ringan akan terluka parah oleh belati terbang tersebut.
Ling Jian yang memblokir serangan belati terdorong mundur lumayan jauh dan berakhir menabrak pohon besar hingga merobohkannya.
"Ugh! Sial!" gerutu Ling Jian saat merasakan sakit luar biasa pada tangan dan punggungnya yang menabrak pohon besar.
Keempat orang itu menjadi sangatlah waspada dengan adanya penyusup yang datang kekediaman mereka. Setidaknya penyusup ini sama kuatnya dengan Patriark Ling atau berada diatasnya sedikit, melihat Ling Jian dapat terpental mundur beberapa jauhnya. Mereka berempat langsung mengeluarkan senjatanya masing-masing dari cincin penyimpanan.
"Sialan! Siapa disana! Tunjukkan wajahmu! Jangan hanya menjadi seorang pengecut yang hanya berani menyerang dari belakang!" teriak Ling Jian.
Ling Jian tentu sangat marah dan tidak terima saat adiknya hampir saja celaka karena sebuah serangan dari orang yang bersembunyi.
"Ohoo.. Kakak Jian ternyata cukup waspada dan gesit mendapati sebuah serangan mendadak!"
Sebuah suara yang sangat mereka semua kenali tiba-tiba terdengar oleh keempatnya.
Zheep!
Sosok pemuda tampan memakai jubah hitam kesukaannya muncul dari kekosongan dengan wajah yang sedang tersenyum.
"Kakak Yun! Meski kita sedang tidak dalam kondisi bertarung sekalipun, tidak seharusnya kakak mengendurkan kewaspadaan!" ucap pemuda berjubah hitam yang tidak lain adalah Ling Tian.
__ADS_1