
Cepat-cepat Wei Ziin menghapus air matanya dan kembali memaksakan untuk tersenyum.
"Ah.. Anu.. Aku tidak apa-apa kakak Tian!" kata Wei Ziin sambil mengarahkan pandangan kearah lain.
Ling Tian menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Wei Ziin.
"Apanya yang tidak apa-apa? Kamu menangis seperti itu?" ujar Ling Tian.
"Sungguh, aku tidak apa-apa kakak!" Wei Ziin terus mengelak.
Hei Si yang juga melihat Wei Ziin menangis dapat memahami suatu hal. Dia perlahan mendekati Wei Ziin dan dengan sigap memeluknya.
"Ada apa nak?" tanya Hei Si dengan lembut.
"Emh.. Bibi! Aku.. Aku.." Wei Ziin berbicara terbata-bata.
"Kenapa? Katakan sama bibi! Tidak usah malu!" ujar Hei Si sembari mengelus lembuh pucuk kepala Wei Ziin dengan kasih sayang.
"Aku.. Aku merindukan ibunda!" jawab Wei Ziin dengan lirih. Air matanya yang suci kembali tumpah tak terbendung.
"Kenapa? Dimana ibundamu sayang?" tanya Hei Si dengan tenang.
"Ibunda.. Ibunda sudah pergi selamanya bibi!" jawab Wei Ziin dengan tersedu-sedu. Dia juga membalas pelukan Hei Si dengan sangat erat menggambarkan betapa kerinduannya yang tidak terbayangkan.
Hei Si juga mempererat pelukannya dengan kasih.
"Sudah.. Jangan sedih sayang. Kamu tidak cantik jika menangis seperti ini. Mulai sekarang, anggap saja bibi adalah ibundamu!" kata Hei Si pelan.
"Bibi.. Ibunda?" Wei Ziin merenggangkan sedikit pelukannya dan mendongakkan wajah melihat wajah Hei Si.
Hei Si tersenyum dan mengusap lembut pipi Wei Ziin guna menghapus air matanya yang mengalir.
"Benar! Sekarang bibi adalah ibundamu! Maka mulai sekarang jangan buat sedih ibundamu ini dengan kesedihanmu!" jawab Hei Si.
Hati Wei Ziin bergetar penuh kebahagiaan. Dia kembali memeluk Hei Si dengan erat seperti tidak ingin kehilangan meski hanya satu detik saja.
"Terima kasih ibunda!" ucap Wei Ziin dengan senang.
"Iya sayaang!" jawab Hei Si dengan tersenyum.
"Oiya, siapa namamu nak?" lanjut Hei Si bertanya.
__ADS_1
"Wei Ziin! Namaku Wei Ziin ibunda!" jawab Wei Ziin dengan antusias.
"Wei?" Hei Si dan Ling Jun berucap dengan serentak.
"Benar ibunda! Aku adalah Wei Ziin, putri Kaisar Wei Heian!" jawab Wei Ziin dengan santai.
Hei Si dan Ling Jun sangat terkejut mendapati kenyataan bahwa gadis lemah didepan mereka adalah Tuan Putri Kekaisaran Wei atau lebih tepatnya Putri Sang Penguasa daratan timur. Dengan tatapan tajam, Hei Si dan Ling Jun melihat kearah Ling Tian. Dalam benak, mereka benar-benar tidak habis fikir bisa-bisanya putra kecilnya itu menggondol Tuan Putri penguasa masuk ke pemukiman terpencil seperti Klan Ling.
Sementara Ling Tian dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain dan bersiul-siul pelan seperti orang tak berdosa.
"Tian'er!" ucap Hei Si dan Ling Jun serentak.
"Eeh.. Ibu, ayah.. Ada apa tiba-tiba memanggil anak tampan ini?" ujar Ling Tian sambil pringas-pringis tidak jelas.
"Huh! Lihatlah suami! Bocah bau itu ketularan sifat narsismu yang dulu!" kata Hei Si dengan nada kesal.
"Eeeeh.." giliran Ling Tian dan Wei Ziin yang terkejut. Ternyata sifat narsil Ling Tian bukanlah murni! Tapi turunan dari ayahnya!
"Ibu.. Jangan membicarakan aib didepan anak-anak!" buru-buru Ling Jun mencegah Hei Si dengan menutup mulutnya untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Mmm.. Huh! Apa yang kau lakukan?" bentak Hei Si.
"I-ibu.. Ayah.. Sudahlah! Apa kalian tidak malu? Bertengkar dan disaksikan oleh Yang Mulia Tuan Putri Kekaisaran Wei?" lemas Ling Tian.
"Baiklah.. Silakan dilanjut! Ziin'er ayo kita pergi saja! Daripada disini hanya disuguhi orang lagi berkelahi, mending kita ke danau saja! Ayo!" ujar Ling Tian.
"Emm.. Iya kakak!" jawab Wei Ziin menurut.
"Eh! Kalian mau kemana?" tanya Hei Si yang menyudahi perdebatannya ditengah jalan.
"Kami mau ke danau saja! Disini tidak asik! Yang ada nanti kami malah kena dampak buruk dari pertengkaran ayah dan ibu!" ujar Ling Tian dengan acuh yang dibuat-buat.
"Hoi bocah bau! Apa maksudmu!" keluh Ling Jun.
"Tidak ada maksud kok ayahku yang baik! Ayo Ziin'er!" ujar Ling Tian.
"En.." Wei Ziin hanya mengangguk.
"Baiklah.. Baik! Ibu dan ayah tidak akan bertengkar lagi. Baiklah.. Silakan masuk Tian'er, Ziin'er!" kata Hei Si membujuk.
"Haahh.. Yasudah.. Mari masuk Ziin'er!" lega Ling Tian dan mengajak Wei Ziin.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua masuk kedalam rumah sederhana itu. Ling Tian dengan cekatan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan teh semua orang termasuk untuk dirinya sendiri. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Ling Tian sejak dulu. Dia tidak ingin merepotkan ibunya walau sekedar membuatkan teh. Jika ada tamu siapapun dan Ling Tian ada dirumah, maka Ling Tian lah yang bertugas membuatkan teh untuk si tamu. Sungguh! Anak yang sholeh!
Mereka berempat mengobrol dengan tenang dan sesekali tertawa.
"Nak.. Ngomong-ngomong dimana Yuan'er? Mengapa ibu tidak melihatnya bersamamu?" tanya Hei Si tiba-tiba menanyakan si cacing biru.
"Oh.. Iya! Aku lupa! Ayah.. Aku ingin memperkenalkan kalian kepada seseorang!" ujar Ling Tian.
"Siapa nak?" tanya Ling Jun dengan mengangkat alisnya.
Ling Tian tidak menjawabnya. Kemudian dia mengirim pesan telepati kepada semua orang yang ada didalam dunia jiwa bahwa mereka akan segera dikeluarkan untuk bertemu ayah dan ibunya. Terlebih untuk Zhuge Ruxu yang notabenya adalah pelayan asli Klan Ling.
Setelah membuat gerakan kecil atau segel ditangan, terbukalah pintu gerbang dunia jiwa.
Swoosshh...
Zhep! Zhep! Zhep! Zhep!
Empat sosok dengan satu orang wanitanya menggendong harimau putih yang lucu dan imut muncul bersamaan dengan tertutupnya gerbang dunia jiwa. Pancaran aura mereka benar-benar sangat luar biasa.
"Salam bibi! Salam paman!" ujar Long Yuan tiba-tiba dengan menundukkan badan serta kepalanya kepada Hei Si dan Ling Jun.
"Iya.. Salam juga Yuan'er! Apa kabarmu? Darimana saja kamu ini? Apakah kamu sudah tidak peduli lagi dengan bibi? Dan juga kok bisa kamu tiba-tiba muncul dari pusaran angin di kehampaan?" tanya Hei Si dengan tanpa henti.
Long Yuan sedikit gelagapan saat disuguhi rentetan pertanyaan layaknya kereta api itu.
"Hahaha.. Mampus kau cacing biru sialan! Makan itu pertanyaan ibu! Kekeke.." ejek Ling Tian melalui telepati Long Yuan.
Long Yuan hanya melirik kecil Ling Tian yang menertawakannya. Urat-urat besar seperti kawat sedikit muncul dikening dan pelipisnya. Long Yuan hanya bisa menggertakkan giginya pelan-pelan lalu menghela nafasnya panjang-panjang.
"Haaahh.. Bibi! Intinya aku baik-baik saja!" jawab Long Yuan dengan lunglai.
Ling Tian yang sudah cekikikan sedari sebelumnya tiba-tiba menghentikannya dan memperkenalkan Wei Hun, Zhuge Ruxu dan Ling Hu dan Mao An.
"Perkenalkan ayah dan ibuku!" ujar Ling Tian kepada ketiganya yang lain.
"Roar!" "Salam Tuan! Salam Nyonya!" ujar Wei Hun dan Mao An dengan menundukkan badan. Juga tak ketinggalan pula Ling Hu dengan auman kecilnya.
Bruk!
"Hamba Zhuge Ruxu menghadap Tuan Besar Ling dan Nyonya!" ujar Zhuge Ruxu dengan tulus dan hikmat serta berlutut dihadapan Ling Jun.
__ADS_1
_____________________________________
*Maaf, alur cerita sengaja Author buat santai dan tidak terburu-buru! Bagi yang tidak suka silakan pencet tombol like, lalu pencet kubus hadiah dan yang terakhir klik tombol kopi dan kirim! Terima kasih.😁