
***
Alam Tingkat Menengah.
Di sebuah pegunungan yang jauh dari pemukiman manusia, terlihat seorang pria sepuh yang sedang duduk bertapa dengan petir hitam yang terus menyambar dari dalam tubuhnya tiba-tiba membuka kedua mata. Mata pria sepuh itu begitu tegas dan berwibawa layaknya pemimpin tertinggi seluruh alam.
Pria sepuh itu tidak lain adalah Ling Dong. Leluhur Klan Ling sekaligus orang terkuat saat ini yang ada di Alam Menengah. Saat ini dia sedang mencoba untuk naik tingkat dalam kultivasinya agar bisa menaiki Alam Tingkat Tinggi lalu kemudian kembali de Alam Dewa untuk membalaskan dendam.
Namun pada saat dia sedang fokus, dia merasakan bahwa formasi yang dia buat di Alam Rendah atau lebih tepatnya di Gunung Diyu yang berada di Hutan Tanpa Batas bereaksi tanda ada orang dari keturunannya yang memasuki tempat warisan.
"Akhirnya.. Setelah sekian ribu tahun keturunanku ada juga yang memasuki tempat warisan yang aku tinggalkan! Semoga saja kamu tidak mengecewakan aku dan sedikit lebih cerdas nak!" ucap Leluhur Ling Dong dengan penuh harapan.
Namun yang tidak diketahui olehnya adalah orang yang sedang mengambil warisannya itu sedang mengutuknya habis-habisan bahkan akan menendang bokongnya karena kesal kepada leluhurnya yang menurutnya kurang kerjaan membuat-buat ujian.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ling Dong kembali menutup matanya untuk melanjutkan berkultivasi dengan harapan dirinya akan segera menerobos tingkat dan naik ke Alam yang lebih tinggi.
***
Hutan Tanpa Batas, Tempat Warisan.
Swush...
Tap!
Ling Tian muncul disebuah tempat yang seperti perkebunan. Dia mendarat dengan mantab didepan pohon besar berwarna emas.
"Tempat apa lagi ini?" ucap Ling Tian bertanya pada dirinya sendiri.
Swoosshh...
__ADS_1
Sebuah angin kencang menerpa wajah Ling Tian hingga dia menutup matanya untuk beberap detik. Ling Tian membuka matanya dan melihat ada sebuah replika dari seorang pemuda tampan berdiri didepannya.
"Kamu pasti salah satu cucuku! Aku ucapkan selamat karena telah sampai ditempat ini dengan selamat!" ucap replika itu.
Ling Tian hanyalah diam, dia tidak menanggapi sedikitpun ucapan dari replika itu karena tahu jika itu hanyalah sebuah rekaman seseorang saja yang tidak bisa diajak bicara. Ling Tian bisa menarik kesimpulan bahwa replika orang didepannya itu adalah Leluhur Ling Dong dengan tampilan muda.
"Perkenalkan! Aku adalah Leluhurmu Ling Dong!" ucap replika Ling Dong.
"Sudah tahu!" jawab Ling Tian dalam hati.
"Disini aku hanya ingin memberikan warisan yang hanya dimiliki oleh klan kita! Shen Zhu Ling! Kamu kaget bukan dengan nama Shen Zhu Ling? Aku yakin kamu baru pertama kali mendengarnya!" ucap replika Ling Dong.
"Cih! Aku sudah tahu dan sudah beberapa kali dengar kata-kata itu!" jawab Ling Tian lagi dalam hatinya.
"Sebelum itu, perlu kamu ketahui bahwa Shen Zhu Ling kita adalah.."
Hanya putra kedua dari Kaisar Ling atau Shen Zhu Ling Dong sajalah yang selamat karena pada saat penyerangan, dia sedang berada di luar klan dan setelah mengetahui klannya dibantai oleh komplotan dewa yang rakus, dia melarikan diri kealam tingkat rendah dengan mengorbankan kultivasinya lalu membuat peradaban di Alam Rendah atau Benua Langit.
Setelah itu, replika Ling Dong juga menceritakan masa-masa kesulitan dirinya hingga dapat membuat sebuah klan kuat dan menguasai seluruh daratan.
Ling Tian sampai menguap bosan karena mendengar cerita panjang kali lebar yang sudah dia ketahui sebagian besarnya itu. Dia ingin sekali menampar replika itu hingga hancur namun dia juga belum tahu warisan apa yang akan diberikan oleh Leluhurnya yang menjengkelkan itu.
Replika Ling Dong itu terus berbicara tanpa berhenti selama dua jam lamanya. Ling Tian sampai mengeluarkan teh dan buah-buahan abadi dari cincin jiwanya untuk menyimak ocehan replika Leluhurnya. Sial! Andai saja ada kopi dan rokok di dunia kultivator, Ling Tian pasti sudah melakukannya sejak tadi!
Setelah dua jam bercerita, replika itu akhirnya berhenti bercerita.
"Bagaimana nak? Apakah kamu terkesan dengan perjuangan Leluhurmu yang hebat ini?" tanya replika itu.
"Tidak sama sekali!" jawab Ling Tian dalam hati.
__ADS_1
"Yah.. Itu wajar saja jika kamu terkesan! Karena memang Leluhurmu ini sangatlah hebat dan keren!" ucap replika Ling Dong itu lagi yang membuat Ling Tian ingin sekali menghancurkannya saat itu juga.
"Leluhur kampret! Bisa-bisanya dia membuat replika narsis seperti ini! Dia tidak tahu bahwa yang paling keren dan paling tampan tentu hanyalah aku seorang!" ujar Ling Tian dalam hatinya.
"Baiklah.. Sudah waktunya kamu menerima warisan dariku! Warisanku ini adalah sebuah teknik pedang yang hanya dimiliki oleh klan kita, Shen Zhu Ling! Teknik ini adalah teknik pedang petir!" kata replika Ling Dong.
Seketika wajah Ling Tian menghitam dan bergerak-gerak tidak karuan karena sudah tidak sanggup lagi menahan jengkelnya.
"Mungkin kamu sudah mempelajari sebagian dari teknik ini, tapi itu bukanlah versi lengkapnya! Aku sengaja mengurangi isinya karena versi lengkap hanya akan aku ajarkan kepada pewarisku yaitu kamu!" ujar replika itu lagi.
Setelah itu dia mengambil sebuah pedang pusaka tingkat merah yang memang sejak awal terselip dipinggangnya dan berniat memulai gerakan-gerakan teknik pedang petir dengan versi lengkap.
Namun sebelum replika itu memulainya, Ling Tian sudah memberikan serangan petir tanpa warna kepada replika itu yang seketika membuatnya hancur berkeping keping.
Boommm...
"Dasar Leluhur bodoh dan menjengkelkan! Bisa-bisanya kau menyuruh Tuan Muda tampan ini menunggu hingga dua jam lamanya untuk kau selesai mengoceh lalu akan memberikan warisan yang tidak berguna kepadaku? Sialan! Leluhur sialan!" teriak Ling Tian dengan sangat kesal.
Bagaimana tidak kesal? Ling Tian bahkan sudah tahu teknik itu bahkan memiliki teknik yang lebih baik daripada teknik yang akan diberikan leluhur sialannya itu.
Setelah menenangkan diri dan mengambil oedang pusaka tingkat merah, Ling Tian lalu memindai tempat itu untuk mencari jalan keluar. Tanpa menunggu waktu lama, Ling Tian sudah menemukan sebuah tuas yang sama seperti pintu masuk yang ada diluar ruangan.
Dengan terburu-buru karena kekesalannya, Ling Tian menggeser tuas itu seperti tuas yang sebelumnya. Namun sebelum dia melakukannya secara sempurna, dia merasakan ada sesuatu hal yang salah.
"Tunggu dulu! Sepertinya ada yang salah?" ucapnya pelan dan mengentikan menggeser tuas.
Ling Tian terlihat seperti seorang yang sedang berfikir keras dan berusaha mengingat-ingat sesuatu. Dia lalu menoleh kebelakangnya ketempat dimana sebelumnya replika Ling Dong itu berdiri.
"Ahahaha.. Kampret! Ternyata itu! Hahaha.." teriak Ling Tian sambil tertawa terbahak-bahak karena kegirangan.
__ADS_1