
***
Kediaman Tetua Zhong En.
Diwaktu yang sama, dikediaman mewah Tetua Zhong En, Ling We dan Zhong Nian baru saja kembali dari belanjanya. Mereka berdua bisa melihat seorang pria baya tertidur diatas kursi empuk atau sofa ruang tamu.
Zhong Nian mengerutkan kening karena kelakuan ayahnya, sementara Ling We hanya tersenyum penuh arti. Zhong Nian berjalan menghampiri Tetua Zhong En dan berniat membangunkannya.
"Ayah! Bangun! Mengapa ayah tidur disini?" ujar Zhong Nian sambil berusaha membangunkan sang ayah dengan menggerak-gerakkan tubuhnya.
Tetua Zhong En segera bangun namun tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi sangat suram. Tetua Zhong En memandangi dalam diam putrinya itu dengan tatapan sedikit tidak senang. Hal itu tentu membuat Zhong Nian merasa aneh dan bertanya-tanya.
"Ayah! Ada apa dengan wajahmu itu? Mengapa sangat kusut sekali?" tanya Zhong Nian.
"Mengapa kamu membangunkanku disaat aku bermimpi Tuan Muda Ling Tian sedang mengajariku secara perlahan membuat formasi seperti ini?" jawab Tetua Zhong En dengan balik bertanya dan menunjuk tungku formasi buatan Ling Tian. Nada bicaranya bahkan sedikit dingin.
"Padahal sudah di tahapan akhir tadi Tuan Muda Tian mengajariku!" lanjut Tetua Zhong En dengan keluh kesahnya.
"A-ayah.. B-bukan maksud Nian'er bertujuan demikian! Nian'er.. Nian'er tidak tahu jika ayah sedang bermimpi seperti itu!" kata Zhong Nian dengan sedih dan rasa salah sangat besar.
Tetua Zhong En melihat putri satu-satunya itu menunduk dan merasa sangat menyesali perbuatannya hanya bisa menghela nafas panjang dan mengelus pucuk rambutnya dengan lembut.
"Sudahlah.. Tidak perlu merasa bersalah! Ayah tidak apa-apa! Lihatlah.. Ayah akan membuat formasi ini dengan benar kali ini!" ujar Tetua Zhong En.
Setelah mengatakan itu, Tetua Zhong En membuat gerakan segel tangan yang pelan dan seberkas sinar kekuningan tiba-tiba muncul.
"Seperti ini.. Lalu seperti ini.. Dan terakhir seperti ini!" ucap Tetua Zhong sambil terus menggerakkan jari-jari tangan dan mengontrol energi Qi dan kekuatan jiwa miliknya.
__ADS_1
Zhung!
Dari seberkas sinar itu tiba-tiba menembakkan sinar terang kedepan Tetua Zhong En dan membentuk formasi berbentuk tungku alkimia.
"Berhasil! Lihatlah! Ayah berhasil membuatnya! Hahaha.." tutur Tetua Zhong dengan kegirangan.
Sang putri yang melihat ayahnya tertawa bahagia ikut menjadi senang dan mulai tersenyum. Begitu pula dengan Ling We.
"Selamat ayah! Ayah telah berhasil membuatnya!" ucap Zhong Nian.
"Selamat ayah mertua!" tambah Ling We.
"Hahaha.. Terima kasih.. Terima kasih! Aku sangat senang kali ini! Ayo kita rayakan keberhasilan ini dan memasak lebih banyak makanan untuk kita dan Tuan Muda Tian serta semua penghuni rumah ini! Oiya Nian'er! Ambil anggur-anggur ayah di gudang penyimpanan keluarga kita!" Tetua Zhong berseru dengan lantang dan terus tertawa. Dia telah melupakan kekecewaannya kepada sang putri yang telah memutus mimpi indahnya.
Zhong Nian dengan cepat mengiyakan, sementara Ling We tidak bisa untuk tidak ikut senang. Bagaimana tidak? Makan dan minum anggur gratis adalah sesuatu yang paling dia harapkan. Dia sungguh berterima kasih kepada Ling Tian karena telah membuat semacam ujian ini kepada ayah mertuanya ini.
***
"Lalu, apakah ada yang lain lagi selain peta ini Manajer Pu?" tanya Ling Tian. Dia sedikit berharap ada hal lain yang bisa menarik perhatiannya.
"Itu.. Tidak ada Tuan Muda Ling! Hanya berupa sumber daya atau pusaka biasa! Yang aku yakin Tuan Muda Ling tidak akan pernah meliriknya!" jawab Manajer Ma Pu.
Bukan tanpa alasan Manajer Ma Pu mengatakan hal tersebut. Seluruh pengurus Paviliun Harta Karun telah mengetahui atau lebih tepatnya diberi tahu siapa pemilik sekaligus orang yang melelang buah abadi di Kota Awan Kekaisaran Wei.
Jika buah abadi saja dimiliki lalu di lelang oleh Tuan Muda Ling ini, lalu apa harganya sumber daya yang saat ini dipegang Manajer Ma dimatanya? Belum lagi alasan Klan Ling yang tiba-tiba menjadi penguasa daratan timur secara tiba-tiba. Paviliun Harta Karun berspekukasi bahwa semua karena keberadaan buah abadi yang sangat berlimpah yang dimiliki Tuan Muda Ling ini. Dan spekulasi itu sama sekali tidaklah salah.
Ling Tian tersenyum mendengar jawaban Manajer Ma Pu, dia memang tidak sepenuhnya hendak mencari hal lain yang bisa menarik perhatiannya. Dirinya menanyakan hal tersebut karena untuk menambah obrolan saja. Dia menyesap teh didepannya yang ternyata juga adalah teh galaksi.
__ADS_1
"Ah.. Teh galaksi ini memang sangat menyegarkan!" kata Ling Tian dengan wajah kepuasan.
"Apakah Manajer Pu punya teh galaksi yang masih kering yang lain? Aku ingin membelinya!" lanjut Ling Tian.
"Hahaha.. Tuan Muda Ling lagi-lagi bertemu orang yang tepat! Teh galaksi adalah salah satu produksi Paviliun Harta Karun kami! Tuan Muda Ling bisa membelinya dariku! Hendak berapa banyak yang Tuan Muda Ling beli?" tutur Manajer Ma Pu dengan tersenyum lebar. Dia yakin akan mendapatkan uang yang cukup banyak lagi dari bisnis yang akan terjalin ini.
"Berapa banyak yang dimiliki cabang Paviliun Harta Karun ini?" tanya Ling Tian yang membuat Manajer Ma Pu mengerutkan kening.
"Kami tentu memiliki cukup banyak teh galaksi. Maksudku berapa ons yang Tuan Muda Ling inginkan?" Manajer Ma Pu balik bertanya.
"Aku ingin membeli semuanya yang Paviliun Harta Karun cabang ini miliki!" kata Ling Tian.
"Apaa! Semuanya? T-tuan Muda Ling! Apakah aku tidak salah mendengarnya? Saat ini kami memiliki hampir enam kilogram teh galaksi! Apakah anda benar-benar akan memborong semuanya?" Manajer Ma Pu sangat terkejut. Dia langsung memastikan dan menanyakan kebenaran ucapan Ling Tian.
Ling Tian tersenyum melihat keterkejutan Manajer Ma Pu sebelum menganggukkan kepalanya.
"Benar sekali Manajer Pu! Aku serius akan memborongnya! Tapi cukup lima kilogram saja!" jawab Ling Tian.
Manajer Ma Pu segera mengangguk lalu berdiri dan pergi untuk meminta seorang pelayan mengambilkan teh galaksi tersebut untuknya. Setelah itu dia kembali duduk ditempat semula.
"Jadi berapa harga keseluruhannya?" Ling Tian bertanya.
"Satu ons teh galaksi akan aku hargai khusus untuk Tuan Muda Ling delapan ratus koin emas. Jika satu kilogram teh berarti delapan ribu koin emas. Lalu delapan ribu dikalikan lima maka jumlah keseluruhan adalah empat puluh ribu koin emas!" tutur Manajer Ma Pu mengkalkulasi. Senyuman indah tidak bisa untuk tidak terukir diwajah Manajer Ma Pu setelah mengetahui jumlah transaksi yang sangat besar ini.
Ling Tian mengangguk dan merasa puas dengan harga yang ditawarkan Manajer Ma Pu. Dia juga ikut tersenyum dengan hal ini. Ling Tian melemparkan satu cincin penyimpanan kepada Manajer Ma Pu dan langsung ditangkapnya.
"Didalamnya empat ratus batu roh tingkat rendah! Bukankah itu cukup sebanding dengan empat puluh ribu koin emas?"
__ADS_1