Ling Tian

Ling Tian
Turnamen Alkemis 2


__ADS_3

"Begitulah.. Turnamen antar alcemis yang diadakan tiga tahun sekali oleh Asosiasi Alkemis yang bekerja sama dengan Paviliun Harta Karun memang cukup disegani oleh orang-orang di daratan tengah. Maka tidak heran akan banyak sekali pungunjung yang mendatangi Kota Obat!" kata Zhong Nian menjelaskan.


Ling Tian mengangguk. Dia lalu melihat kearah saudaranya, Ling We.


"Saudara We! Kami akan meninggalkanmu dikursi penonton sendirian. Tidak apa-apa kan?" tanya Ling Tian.


"Haha.. Kamu dan Nian'er bisa fokus saja dalam berlomba! Aku akan menjadi supporter terbaik kalian!" jawab Ling We dengan tertawa.


"Baiklah jika begitu, aku dan saudari Nian bisa tenang sekarang!" tutur Ling Tian yang diangguki juga oleh Zhong Nian.


"Lalu bagaimana kita bisa melewati lautan manusia ini dan sampai di alun-alun kota tidak terlambat?" tanya Ling We.


"Kamu bisa tenang saudaraku!" jawab Ling Tian sambil tersenyum.


Ling Tian memegang bahu kedua sejoli bucin itu lalu menyelimuti mereka dengan energi Qi yang disertai elemenitas bayangan, sehingga mereka berdua terlihat seperti menghilang dan lenyap dalam udara tipis tanpa tertinggal jejak aura keberadaannya sedikitpun. Ling Tian juga tidak lupa menyelimuti tubuhnya sendiri.


"Baiklah.. Mari kita berangkat!" kata Ling Tian sambil mengangkat terbang keduanya.


Zheep!


Ketiganya terbang melesat dengan sangat cepat tanpa ada seorangpun yang mengetahui. Hanya butuh waktu sekitar lima tarikan nafas ketiganya sudah berada diatas alun-alun Kota Obat dengan nafas Ling We dan Zhong Nian yang tersengal-sengal karena tidak kuat menahan tekanan angin yang sangat kuat.


"Gila! Hah.. Hah.. Lagi-lagi kau gila saudaraku!" umpat Ling We. Dia masih berusaha mengontrol nafasnya untuk menjadi lebih stabil.

__ADS_1


"Hah.. Benar! Apa saudara Tian ingin membunuh kami!" tambah Zhong Nian.


"Hahaha.. Ayolah saudara-saudariku.. Kalian ini kenapa lemah sekali! Itu baru separuh kecepatan yang aku miliki!" tutur Ling Tian dengan wajah tanpa dosa.


Ling We dan Zhong Nian ingin terus mengumpati Ling Tian namun tiba-tiba mereka melihat keberadaan beberapa sosok pria dan wanita baya terbang mendekat sehingga mereka berdua terpaksa menghentikannya.


Ling Tian juga tentu dapat melihat ada beberapa Tetua dengan kekuatan Pendekar Platinum sampai Pendekar Berlian Awal dari Asosiasi Alkemis dan Paviliun Harta Karun yang sedang melayang sambil menghilangkan keberadaan. Mereka adalah para pengawas sekaligus keamanan turnamen alkemis ini.


Keberadaan Ling Tian dan sepasang kekasih itu sama sekali tidak bisa dilacak keberadaannya. Elemenitas bayangan memang terbaik dalam penyembunyian aura.


"Ada apa Tetua Ma?" tanya salah satu pengawas yang berada di ranah Pendekar Platinum Akhir.


"Aku seperti merasakan beberapa orang terbang melintas sebelumnya!" jawab orang yang dipanggil Tetua.


"Apa mungkin hanya perasaanku saja? Tapi aku merasakan dengan jelas pergerakan angin sangat halus dan cepat seperti ada seorang sedang melesat sangat cepat!" tutur Tetua Ma. Matanya terus menyelidik ke segala arah untuk mencari keberadaan seseorang.


Setelah beberapa saat mencari dan tidak menemukannya, Tetua Ma akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Hahhh.. Mungkin memang benar katamu! Ini hanya perasaanku saja!" lemas Tetua Ma.


"Kalau begitu, mari kita kembali! Tetap pasang kewaspadaan tinggi kalian!" lanjut Tetua Ma memberikan perintah.


"Baik Tetua Ma!" jawab semua orang dengan serentak.

__ADS_1


Disisi lain, Ling Tian, Ling We dan Zhong Nian dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Tetua Ma dan rombongannya. Untuk Ling Tian sendiri, ia merasa cukup terkejut dengan ketajaman indra perasa milik Tetua Ma. Itu karena hanya sedikit sekali orang yang mampu melacak serta merasakan pergerakannya yang sudah ditutupi oleh elemenitas bayangan.


'Indra Tetua Ma ini sangat tajam! Dari sekian banyak orang yang aku temui di Benua Langit, hanya dia yang sanggup merasakan sedikit keberadaanku!' gumam Ling Tian merasa takjub.


Setelah menggumamkan hal tersebut, Ling Tian membawa kedua saudaranya itu turun ditempat yang sekiranya tidak akan menimbulkan kegaduhan saat ada orang yang melihat ketiganya muncul dari udara kosong.


"Saudaraku! Aku akan ikut mengantri untuk memasuki area penonton! Kamu dan Nian'er silakan berangkat!" ucap Ling We.


Ling We saat ini tidak lagi menggunakan topengnya layaknya Ling Tian. Dia merasa tidak diperlukan jika berada dalam posisi berkumpul serta menyatu dengan keramaian. Ling We bergegas meninggalkan tempat itu sementara Ling Tian dan Zhong Nian pergi untuk memasuki tempat para peserta.


Sekitar dua ratus peserta turnamen telah tiba ditempat setelah kedua sampai. Mereka memandang Ling Tian dan Zhong Nian dengan pandangan berbeda-beda. Diantara para peserta, ada satu orang yang melihat keduanya dengan tatapan ketakutan. Tidak! Lebih tepatnya memandang Ling Tian seorang! Dia adalah seorang pemuda yang memakai pakaian mewah dan bertandakan khusus. Pemuda itu tidak lain adalah Tuan Muda Huang Cai.


Tuan Muda Huang Cai bukan tanpa alasan memasang ekspresi ketakutan seperti itu. Selain masih ingat dengan hukuman yang diberikan Ling Tian yang membuat telinganya hampir robek dan kepalanya benjol akibat digetok palu, dia juga mendapat tamparan keras dari sang ayah, Ma Pu.


Setelah kepergian Ling Tian waktu itu, Tuan Muda Ma Huang Cai pulang kerumahnya dan melaporkan apa yang terjadi dengannya kepada Manajer Ma Pu atau ayahnya. Dia berniat mengadukan hal itu dan menganggap omongan Ling Tian yang sok tahu atau akrab dengan ayahnya adalah kebohongan belaka.


Namun reaksi yang diperlihatkan oleh Ma Pu saat mendengar bahwa anaknya membuat masalah dan menyinggung Ling Tian tidaklah sesuai yang diharapkan Huang Cai. Ma Pu marah besar dan menampari Huang Cai dengan tanpa ampun.


Bagaimana tidak begitu? Ling Tian adalah tamu kehormatan Paviliun Harta Karun! Yang mana pemimpin pusat paviliun saja jika bertemu akan memberikan wajah dan hormatnya, lalu anaknya yang tidak berguna ini malah menyinggungnya? Ma Pu tentu tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Ma Pu sendiri dibuat kelimpungan dan bingung harus memberikan penjelasan terbaik bagaimana saat bertemu kembali dengan Ling Tian. Belum lagi Ling Tian masih mempercayakan beberapa pusakanya untuk di lelang yang juga akan memberikan keuntungan lagi kepada pihak Paviliun Harta Karun. Lebih tepatnya, Ma Pu sebenarnya tidak punya wajah lagi untuk bertemu Ling Tian.


Ling Tian tersenyum melihat sekitar dua ratus peserta yang akan menjadi lawannya nanti diatas panggung. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan untuk kalah dari mereka semua. Karena bisa dikatakan bahwa kemenangan ini sudah jelas miliknya sejak awal. Hal ini juga disadari betul oleh Zhong Nian. Dia mengetahui bahwa bahkan ayahnya sendiri yang merupakan alcemis tingkat tinggi masih belajar dan mengharapkan bimbingan dari Ling Tian. Jadi, Zhong Nian atau yang biasa dikenal dengan Dewi Alcemis ini hanyalah berharap bisa pada posisi kedua dari podium juara.

__ADS_1


__ADS_2