Ling Tian

Ling Tian
Sudah Waktunya Bergerak


__ADS_3

Hutan Tanpa Batas, Klan Du.


Suasana di aula pertemuan Klan Du menjadi sangat tegang saat Patriark Klan mereka Du Ruo berucap sangat marah dan geram beserta ledakan aura Ranah Kaisar Tahap Awal.


"Patriark! Tenanglah!" ucap Tetua Agung Klan Du berusaha menenangkan sang Patriark.


Dia tahu betul alasan mengapa Du Ruo begitu marah saat mendengar ada manusia yang menyusup di Hutan Tanpa Batas. Klan Du atau klan dari monster beast jenis serigala bulu emas itu memiliki cerita kelam ribuan tahun lalu dengan sekelompok manusia.


Waktu itu Du Ruo belumlah menjadi Patriark Klan. Keluarganya juga belum bertempat di kawasan Hutan Tanpa Batas. Pada suatu malam, tiba-tiba sekelompok manusia memakai jubah emas menyerang Klan Du dan berniat mengambil semua anak-anak serigala untuk mereka jadikan budak untuk berjaga dan tunggangan.


Sekelompok manusia itu membantai para serigala yang sudah tua dan membawa pergi mereka yang masih anak-anak. Du Rui atau Patriark Klan Du saat itu yang tidak lain adalah ayah dari Du Ruo harus meregang nyawa dan tewas karena penyerangan itu.


Sebelum Patriark Du Rui itu mati, dia memberikan wasiat kepada anak semata wayangnya itu untuk menggantikan posisinya sebagai Patriark Klan Du. Saat itu Du Ruo hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya masihlah begitu lemah.


Dengan tekatnya untuk membalaskan dendam itulah, Du Ruo terus berusaha untuk menjadi kuat dan kuat hingga akhirnya seorang manusia yang memiliki kekuatan seperti dewa dan bertujuan melestarikan beast di Benua Langit memaksa ratusan klan dari ras monster beast untuk mendiami Hutan Tanpa Batas dan tidak diperbolehkan keluar dari hutan.


Tidak lupa manusia yang memiliki kekuatan dewa itu membuat formasi array yang sangat luas melingkupi seluruh kawasan Hutan Tanpa Batas yang memiliki kegunaan menarik aura langit dan bumi yang begitu murni didalam hutan dan menutupi deteksi ruang dimensi Benua Langit sehingga banyak para beast yang memiliki kekuatan diatas Pendekar Berlian.


Selain melindungi para monster beast yang selalu diburu, array itu juga memiliki susunan formasi pembunuhan yang mampu meledakkan kultivator ranah Pendekar Berlian Puncak sekalipun jika berani melewati Hutan Tanpa Batas dengan cara terbang.


Karena alasan itulah Patriark Du Ruo sangat membenci ras manusia yang menurutnya adalah ras paling serakah dan berbuat semena-mena serta tidak menghormati sesama makhluk hidup.


"Bagaimana aku bisa tenang jika ada manusia masuk di Hutan Tanpa Batas ini!" ucap sang Patriark Klan Du tersebut.


Melihat jika terus membahas tentang manusia akan membuat Patriark Du Ruo semakin marah, Tetua Keempat Klan She mencoba mencairkan suasana dengan membahas hal lain yang bersifat santai.


Dengan perlahan, kemarahan sang Patriark akhirnya mulai mereda digantikan dengan keramahannya yang begitu luar biasa dengan perwakilan dari klan tetangganya.


Setelah berbincang-bincang santai bahkan sesekali sampai tertawa terbahak-bahak, utusan dari Klan She itu berniat untuk undur diri.


"Patriark Du dan para petinggi sekalian! Aku She Pa Xue, Tetua Keempat Klan She beserta rombongan mengucapkan banyak terima kasih atas penyambutan yang luar biasa ini dari Patriark Du dan petinggi sekalian.."


" Karena urusan kami telah selesai, Kami berniat untuk undur diri dan kembali ke klan! Mohon Patriark Du dan petinggi sekalian memberikan izin!" ucap She Pa Xue dengan sangat sopan.


"Aiih.. Tetua Keempat kenapa terburu-buru sekali?" ucap Patriark Du Ruo mencoba menahan dengan keramahannya.

__ADS_1


"Mohon maaf Patriark Du! Kami tidak bisa terlalu lama ditempat ini! Mohon Patriark Du memahami!" ujar Tetua Keempat, She Pa Xue.


"Baiklah.. Baiklah.. Silakan jika kalian ingin kembali! Dan sampaikan salamku kepada Patriark She Manglong bahwa aku Du Ruo dan semua orang dari Klan Du dengan senang hati membantu menangkap manusia keparat itu jika memasuki wilayah kami!" ucap Du Ruo.


"Baik! Terima kasih Patriark Du! Kami undur diri!" kata Tetua Keempat sambil berdiri dari tempat duduk lalu menangkupkan kedua tangannya dengan hormat.


"Silakan Tetua!" ujar semua orang sambil membalas angkupan tangan Tetua Keempat Klan She tersebut.


***


Dunia Jiwa.


Waktu terus berlalu. Didalam kamar Istana Ling dalam dunia jiwa, Ling Tian terus berusaha menyerap esensi yang terkandung didalam ribuan buah-buahan abadi.


Saat ini dirinya sudah naik tingkat menjadi Ranah Raja Tahap Menengah. Dengan kekuatannya saat ini, Ling Tian sudah mampu jika harus bertarung melawan Ranah Raja Puncak dan mengalahkannya dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.


Perbedaan jarak antar tahapan diatas Ranah Raja dan seterusnya begitu luar biasa umpama langit dan bumi. Jadi, dengan Ling Tian mampu melawan seseorang yang berada satu tingkat lebih tinggi sudah merupakan prestasi yang sangat luar biasa.


Hari-hari dalam dunia jiwa teruslah berlalu, tidak terasa sudah satu bulan lamanya Ling Tian berkultivasi didalam kamar. Saat ini dia sudah berada di ambang batas untuk naik tingkat ke Ranah Raja Puncak namun belum bisa menerobosnya.


'Oh tidak! Aku harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin!' batin Ling Tian yang merasakan sisa dari esensi yang dapat dia serap.


Dengan berhati-hati, Ling Tian terus mengolah esensi tersebut dengan manual kultivasi pelahapnya hingga tiga jam di dunia jiwa itu kembali berlalu.


Bamm!


Akhirnya ledakan teredam terdengar dari dalam tubuh Ling Tian menandakan dirinya kini telah naik tingkat menjadi Ranah Raja Tahap Akhir atau Puncak.


Ling Tian membuka matanya perlahan lalu menghela nafas panjang.


"Buah-buahan abadi itu sekarang hanyalah seperti buah biasa bagiku!" ucapnya dengan lemas.


"Tapi tidak perlu risau Ling Tian! Aku yakin di Hutan Tanpa Batas ini kamu akan menemukan sumber daya yang akan menaikkan kultivasimu hingga naik ke Ranah Kaisar!" ucapnya pada diri sendiri.


"Baiklah.. Sudah waktunya bergerak!" lanjut Ling Tian lalu beranjak dari kamarnya untuk menemui kedua saudaranya yaitu Zhuge Ruxu dan Mao An.

__ADS_1


Baru saja dia menginjakkan kakinya di luar Istana Ling, Ling Tian tiba-tiba dikejutkan dengan ledakan aura Ranah Raja Puncak disertai niat membunuh yang sangat pekat.


Ling Tian sangat terkejut melihat aura itu berasal dari Zhuge Ruxu dan Mao An yang sudah bersiap dengan senjata masing-masing.


"Siapa kau? Mengapa kau keluar dari Istana Ling? Dimana Tuan Muda Ling Tian?" tanya Mao An dengan dingin.


Pertanyaan yang dilancarkan oleh Mao An sontak membuat Ling Tian tersadar akan kesalahannya lalu kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang kaku.


"Hahahaha.."


Mao An dan Zhuge Ruxu yang melihat orang dengan praupan sama dengan salah satu tahanan tertawa terbahak-bahak menjadi sangat geram.


"Mengapa kau malah tertawa? Apakah ada yang lucu?" ucap Zhuge Ruxu bertanya dengan waspada.


"Ahahaha.. Saudariku Zhuge Ruxu! Saudaraku Mao An! Apakah kalian sudah tidak mengenali Tuan Muda kalian yang tamvan ini? Ingat! Pakai 'V'! Bukan 'P'!" ucap Ling Tian masih sambil tertawa lantang dengan sifat narsisnya yang kembali kumat.


"Jangan bercanda! Apakah kau tahanan itu yang melarikan diri? Cepat katakan atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" ucap Mao An sudah tidak tahan lagi meredam amarahnya.


"Ahaha.. Baiklah.. Baiklah.. Kau sangat kasar Mao An!" ucap Ling Tian lalu mengubah tampilannya ke wajah aslinya sambil berpose keren.


"Apaaa! T-tuan Muda!" ucap keduanya sangat terkejut.


"Bagaimana? Sangat keren bukan penyamaranku sebelumnya?" tanya Ling Tian dengan bangga.


"Bahkan aura yang dipancarkan dari Tuan Muda sama dengan tawanan kita!" jawab Mao An dengan jujur.


"Benar sekali! Aku menggunakan teknik penyamaran langit untuk menyamar dan mempermudah jalan kita di Hutan Tanpa Batas ini!" ucap Ling Tian.


__________________________________________



Makasih pada buronan mingguanπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’ berkah selaluπŸ“’πŸ“’πŸ“’...


Jangan Lupa VOTE VOTE brey semua πŸ˜πŸ“’πŸ“’πŸ“’

__ADS_1


__ADS_2