Ling Tian

Ling Tian
Perang Takdir 6


__ADS_3

Ledakan besar segera terjadi saat serangan dua lawan satu itu bertemu. Debu-debu segera beterbangan ke segala arah dan energi panas sekaligus dingin menyebar ke semua penjuru, membuat para pasukan yang tidak jauh dari mereka terkena efeknya.


"Mati? Kamu saja sana, yang mati!" seru Ling Xing'er sembari tersenyum saat mendapati bahwa dirinya dan ayahnya lah yang menang dalam adu serangan ini.


Ling Xing'er melihat lawannya terpental puluhan meter dan terjatuh ke tanah dengan keras. Cairan merah yang tidak lain adalah darah segar miliknya juga tampak terlihat dari sudut bibir Han Sheng, yang menandakan bahwa dirinya saat ini terluka dalam.


'Sial! Bagaimana mungkin bocah dan pak tua itu sangatlah kuat?' batin Han Sheng sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


Dia kemudian berdiri dan kembali membuat kuda-kuda bela diri sembari terus menatap ke arah Ling Jiu dan Ling Xing'er dengan tatapan ganas dan nafssu membunuh. Dia benar-benar tidak dapat menerima jika kan ada yang mereka berdua yang hanya memiliki kekuatan 4 tingkat atau 4 bintang di bawahnya.


"Xing'er! Dia masih sanggup berdiri! Ayo kita habisi dia!" Ling Jiu berseru sembari melesat mendahului putrinya.


Zheep!


"Ayah! Tunggu!" gerutu Ling Xing'er lalu melesat menyusul ayahnya.


Zheep!


"Kalian kira aku adalah orang yang dapat dengan mudah kalian bunuh? Bangs*t!" maki Han Sheng.


Pemimpin pasukan kalajengking dari kelompok gedung pembunuh daratan selatan itu sangat marah karena merasa begitu diremehkan oleh kedua kultivator aliran putih tersebut. Dia mengalirkan banyak sekali energi Qi menuju pedang yang dia genggam sehingga pedangnya itu berdengung sangat keras dan juga mengeluarkan cahaya merah menyala dengan semu kehitaman.


Suhu udara di sekitar Han Sheng langsung melonjak dengan ekstrem sehingga membuat orang-orang aliran hitam lainnya yang sebelumnya ingin membantu atau sekedar mengecohkan pertahanan dari anak dan ayah malah justru terkena sedikit efek panasnya.


Zheep!


"Kalian terlalu lama!"


Tiba-tiba Gui Lu yang entah datang dari arah mana sudah berdiri di tempat di depan pemimpin pasukan ular gedung pembunuh daratan selatan sembari mengayunkan tombak membuat gerakan menusuk.

__ADS_1


Jleeb!


"Aakh! K-kau.. Bagaimana mungkin kau tiba-tiba muncul?" ujar Han Sheng dengan nada yang terbata-bata dan mata melotot sembari memegangi gagang tombak Gui Lu yang telah menancap di perut dan menembus punggungnya.


"Dalam sebuah pertarungan, tingkat kewaspadaanmu adalah nol besar!" ejek Gui Lu sembari menarik tombaknya yang menancap dan menjatuhkan tubuh tidak berdaya Han Sheng.


Ling Jiu menatap keganasan dari salah satu saudaranya dengan tatapan ngeri. Namun ekspresi lain justru malah diperlihatkan oleh Ling Xing'er. Dia tampak cemberut dan berkacak pinggang sembari menatap Gui Lu dengan tatapan tidak senang.


"Ada apa Xing'er?" tanya Gui Lu yang merasa aneh dengan tatapan gadis mungil berumur 9 tahun itu.


"Mengapa kakak Gui mengganggu pertarungan kami?" Ling Xing'er justru balik bertanya dengan nada ketus.


"Eh? Itu.. Fikir kalian itu bertarungnya terlalu lama dan tidak cepat-cepat membunuh kampret ini, jadi aku langsung menembaknya saja!" jawab Gui Lu yang masih belum mengerti dengan alasan akan tatapan tidak suka Ling Xing'er.


"Kami bukan terlalu lama! Tapi kami baru saja memulai pertarungan!" seru Ling Xing'er sambil menggembungkan pipinya sehingga dia terlihat sangatlah imut sekali meskipun beberapa pakaian yang dia kenakan serta sebagian tubuhnya bermandikan dengan darah.


"Eh? Begitukah?" tanya Gui Lu sembari menatap Ling Jiu yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Ehem.. Xing'er yang cantik dan lucu, maafkan kakakmu yang tidak tahu ini, ya.." ujarnya membujuk Ling Xing'er agar tidak merajuk.


Gui Lu pasti akan merasakan sengsara sekali jika gadis mungil berumur 9 tahun itu merajuk dan tidak mau lagi untuk dekat-dekat dengannya, padahal dirinya mendapatkan tugas langsung dari Ling Tian agar terus menjaga adik kesayangannya itu.


Gui Lu tentu tidak ingin mendapatkan marah atau kata-kata mutiara dari tuan mudanya karena gadis kecil di hadapannya itu mengadukan apa yang telah dia lakukan saat ini.


"Cih! Kakak Gui jahat! Tidak mau membiarkanku melawan musuh kuat agar aku berkembang!" seru Ling Xing'er lalu tiba-tiba menghilang dari tempat itu meninggalkan Gui Lu dan Ling Jiu.


Gui Lu langsung panik dan ingin mengejar gadis kecil berumur 9 tahun itu, namun dengan segera Ling Jiu langsung menghentikannya dan membiarkan dirinya saja yang menyusul, karena dia merasakan sebuah aura yang sangat kuat sedang melesat dengan cepat ke arah mereka.


.

__ADS_1


.


Hanzhen Chu, seorang pria paruh baya yang merupakan ayah dari Han Sheng menghentikan laju dari pedangnya yang membawa setiap aliran putih yang mendekatinya.


Deg! Deg!


Jantung Hanzhen Chu tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang dan merasakan sebuah firasat buruk terjadi kepada putra semata wayangnya. Dia yang memiliki kekuatan Ranah Kaisar Puncak segera mengedarkan indra spiritualnya untuk mencari keberadaan dari Han Sheng.


Saat pria paruh baya itu menemukan aura yang dikeluarkan oleh anaknya, dia langsung mengerutkan kening karena aurat tersebut sangatlah lemah sekali dan hampir menghilang sepenuhnya.


Jarak antara dirinya dan anaknya saat ini cukuplah jauh. Namun tanpa berpikir lagi, Hanzhen Chu langsung melesat menuju tempat anaknya berada dan menerobos pasukan yang sedang bertarung.


Hanzhen Chu menggunakan pedang pusaka tingkat hijau kualitas sempurna yang ada di tangannya untuk membuka jalan. Alhasil, entah itu lawan ataupun kawan, banyak sekali yang terbunuh olehnya sehingga beberapa pasukan lain yang berasal dari aliran hitam langsung mengerutkan keningnya.


"Apa yang dilakukan oleh orang tua itu? Apa dia sudah gila sehingga juga membunuh anggota keluarga kita?" tanya salah satu kultivator yang berada di Ranah Raja.


"Bukankah dia Tetua Hanzhen Chu yang terkenal akan ketenangannya? Bagaimana mungkin dia dapat berubah seperti itu? Apa mungkin suatu hal yang buruk terjadi kepada anak kesayangannya, Han Sheng?" ujar kultivator lain yang ada di samping kultivator sebelumnya.


"Itu mungkin saja." angguk kultivatir Ranah Raja itu mengangguk.


.


.


Hanzhen Chu semakin merasakan bahwa aura yang dimiliki oleh putranya sebentar lagi akan benar-benar hilang. Dia mempercepat laju lesatannya dan akhirnya dirinya telah tiba tidak jauh dari putranya berada.


Namun tubuh tua dari Hanzhen Chu langsung bergetar dengan hebat saat melihat sesosok jasad yang tergeletak di atas tanah dengan perut yang berlubang dan berlumuran darah, serta seorang pemuda tampan sedang memegang tombak yang juga dipenuhi dengan darah.


"Kauu.. K-kau membunuh putraku.." ujar Hanzhen Chu dengan terbata-bata dan air mata darah telah mengalir dari pelupuk mata tuanya.

__ADS_1


"Iya. Memang aku yang membunuhnya! Memangnya kenapa? Masalah?" kata Gui Lu dengan tenang namun sangatlah waspada karena kekuatan miliknya saat ini setara dengan pria tua itu.


"Keparat!" teriak Hanzhen Chu lalu melesat dengan sangat cepat menerjang Gui Lu dengan pedang pusakanya.


__ADS_2