
Diatas langit sebuah hutan yang berbatasan langsung dari hutan lindung kekuasaan Kota Yunzun, Ling Tian dan Mao An terus bergerak dengan sangat cepat. Disela-sela perjalanannya, mereka terus berbincang-bincang santai dan kadang tertawa dengan pecah.
Selain itu, Ling Tian juga menajamkan penglihatannya untuk memindai setiap tempat yang dia dan Mao An lewati. Beberapa kali dirinya menemukan sumber daya langka berupa tanaman obat atau yang lainnya.
Dengan tanpa ragu Ling Tian dan Mao An mengambil sumber daya tersebut meski kadang harus melawan penjaganya yang berupa hewan buas tingkat rendah sampai tingkat tinggi.
"Tuan Muda! Sebenarnya berada dimanakah letak Gunung Diyu itu? Dan mengapa namanya begitu asing?" tanya Mao An tiba-tiba.
"Itu wajar saja Mao An! Bahkan aku yakin penduduk daratan tengah ini juga tidak ada yang tahu letak gunung itu. Gunung Diyu berada di kawasan terdalam Hutan Tanpa Batas!" jawab Ling Tian.
"Pantas saja!" angguk Mao An faham.
"Lalu untuk apa kita kesana?" tanya Mao An lagi.
"Mencari harta karun peninggalan Klan Lingku!" jawab Ling Tian.
"Kamu tahu bukan bahwa Klan Ling dahulunya adalah Klan Penguasa Benua Langit?" lanjut Ling Tian bertanya.
"Tentu saja! Tapi aku tiba di Benua Langit ini setelah Klan Ling jatuh karena perang besar di daratan timur!" jawab Mao An.
"Benar! Sebagai klan yang mampu memimpin seluruh daratan Benua Langit pastilah Klan Ling dahulunya sangat kuat dan kaya raya. Mereka pasti memiliki banyak rahasia yang disembunyikan khususnya bagian harta dan kekayaannya. Aku mendapatkan peta kuno ini secara tidak sengaja saat berada di Kota Obat dan ada kata 'Ling' didalamnya!" ujar Ling Tian menjelaskan sambil memperlihatkan tulisan 'Ling' di peta tersebut.
"Aku menduga bahwa peta ini adalah peta harta milik keluargaku dahulu kala!" lanjutnya.
Mao An mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dari penjelasan yang Tuan Muda katakan sebelumnya memang sangatlah masuk akal!" ucap Mao An.
"Maka dari itu aku ingin membuktikannya dengan diriku sendiri akan hal tersebut!" tutur Ling Tian.
"Jika memang benar Gunung Diyu adalah gudang harta Klan Ling, maka aku yakin Klan Ling dapat bangkit kembali menjadi penguasa seperti dahulu kala! Dan kita bisa menyusul senior Wei dan si cacing biru sialan itu di Alam Menengah dengan tenang!" lanjutnya.
"Ahh.. Mengapa Tuan Muda mengatakan kakak pertama dan kakak kedua? Aku jadi merindukan mereka! Terlebih sikap konyol dan koplak kakak kedua itu! Belum lagi kakak Hu kecil yang imut itu," ujar Mao An dengan lemas.
__ADS_1
"Ohh.. Kamu sudah merindukan mereka? Baiklah.. Mari kita percepat laju kita supaya kita bisa lebih cepat pula menyusul mereka!" ucap Ling Tian sembari menambah laju terbangnya hingga dua kali lipat
"Baik!" angguk Mao An sambil mengikuti ketertinggalannya.
Dua hari kemudian, mereka akhirnya sampai diperbatasan sebuah hutan yang terlihat sangat angker dengan aura aneh yang terpancarkan.
"Kita sampai di Hutan Tanpa Batas!" ucap Ling Tian.
"Benar! Dan aura aneh ini sangat mengerikan!" ucap Mao An sedikit mengigil dibuatnya.
"Hahaha.." Ling Tian tiba-tiba tertawa pecah.
"Sialan! Apa yang kau tertawakan Tuan Muda?" tanya Mao An berdecak kesal.
"Seorang yang sudah berada di ranah puncak kultivasi di Benua Langit ketakutan karena aura. Bukankah itu sangat lucu? Hahaha.." Ling Tian kembali tertawa terbahak-bahak.
Sementara wajah Mao An bergerak-gerak tidak karuan mendengar jawaban Ling Tian yang terlalu kentara mengejeknya. Dia juga dengan segera menyadari kebodohannya. Buat apa dirinya takut? Bukankah seharusnya orang lain yang takut kepadanya? Mao An sungguh menyesali kebodohannya.
"Baiklah.. Baiklah.. Hahaha.. Ayo kita turun! Sepertinya kita tidak bisa melewati Hutan Tanpa Batas itu dengan terbang! Aura aneh yang keluar dari hutan adalah sebuah peringatan agar tidak terbang saat melewati hutan dari susunan formasi array tingkat tinggi!" jelas Ling Tian lalu turun dari atas langit yang diikuti Mao An.
Tap!
Tap!
"Hutan ini sangatlah luas! Jika kita terbang saja dapat melewatinya dalam waktu beberapa minggu. Lalu disini kita harus melaluinya dengan perjalanan darat!" ucap Ling Tian.
Mao An menganggukkan kepala lalu ikut melihat peta yang ada ditangan Ling Tian.
"Mengapa isi petanya berisikan hutan semua?" tanya Mao An.
"Aku juga baru tahu bahwa hampir tujuh puluh lima persen daratan tengah ini adalah hutan semuanya!" jawab Ling Tian.
"Jadi kota-kota yang sudah kita lewati sebelumnya?" Mao An mengerutkan kening.
__ADS_1
"Benar! Itu adalah titik-titik kecil ini!" jawab Ling Tian sambil menunjuk beberapa titik yang memiliki nama yang tidak lain adalah Xudong, Yunzun dan satu lagi adalah Kota Obat.
"Jika begitu Hutan Tanpa batas ini berarti sangatlah luas sekali!" ujar Mao An terperangah.
"Benar! Coba kamu lihat ini!" kata Ling Tian sambil menunjukkan betapa luasnya Hutan Tanpa Batas.
"Warna-warna yang berbeda dalam peta ini sepertinya adalah sebuah kode atau peringatan akan tingkat bahaya Hutan Tanpa batas! Warna kehijauan untuk area aman, warna kemerahan untuk area berbahaya dan warna hitam untuk area terdalam atau paling berbahaya!" jelas Ling Tian.
"Dan Gunung Diyu berada di area yang berwarna hitam?" tanya Mao An.
"Benar sekali!" jawab Ling Tian sambil tersenyum penuh arti.
Mao An merasakan sedikit merinding bulu kuduknya saat membayangkan area terluar dari Hutan Tanpa Batas saja yang merupakan area berwarna kehijauan pada peta sudah memiliki aura yang aneh dan sangat mencekam, lalu bagaimana jika itu area berwarna kemerahan atau bahkan kehitaman? Sungguh tidak bisa Mao An bayangkan betapa berbahayanya kawasan itu.
"Lalu tanda-tanda ini?" tanya Mao An sambil menunjuk beberapa tanda silang berwarna kemerahan.
"Sepertinya ini adalah kawasan terlarang dan area paling berbahaya Hutan Tanpa Batas!" jawab Ling Tian dengan bersemangat.
"Apakah kita akan kesana?" tanya Mao An.
"Itu sudah pasti! Kau tahu Mao An, semakin berbahaya suatu tempat maka biasanya semakin banyak pula sumber dayanya!" jawab Ling Tian menjelaskan.
"Anda benar Tuan Muda! Tapi apakah Tuan Muda yakin akan ke Gunung Diyu?" tanya Mao An ragu.
"Apa kamu takut?" Ling Tian balik bertanya yang membuat Mao An gelagapan dan tidak ingin ditertawakan lagi.
"T-tentu saja tidak!" jawab Mao An dengan gaya yakin.
"Hahaha.. Mao An.. Mao An.. Kamu itu lucu sekali!" ucap Ling Tian sambil tertawa lantang.
"Cih!" Mao An hanya berdecak kesal sebagai tanggapan.
"Hahaha.."
__ADS_1
"Baiklah.. Baiklah.. Jika begitu, waktunya memulai kembali petualangan menegangkan!" ucap Ling Tian tiba-tiba mengubah wajahnya menjadi serius dan memulai melangkahkan kaki memasuki kawasan Hutan Tanpa Batas.