
Dua hari lebih telah berlalu didunia nyata. Sementara didalam penjara ilusi jiwa sudah menginjak hari yang ke-29. Ini adalah hari terakhir babak kedua dilaksanakan.
Para pengunjung masih sangat antusias menonton dan tidak berpindah sedikitpun dari tempat duduknya. Dengan sajian yang sangat menegangkan itu, mereka sama sekali tidak ingin ketinggalan meski walau hanya sedetik. Mereka semua sangat penasaran dengan siapa yang akan lolos kebabak final nantinya.
Jika mereka merasa ingin memakan sesuatu atau minum teh, mereka tinggal membelinya dari orang-orang yang berjualan keliling. Seperti saat ini yang dilakukan oleh beberapa pengunjung.
"Yuk yang lapar, yang haus, yang galau, yang bosan, yang tidak bisa move on dari peserta jagoannya yang ternyata kalah. Ayo beli kacang.. Kacang.. Kacaaang! Teh.. Teh Tehnya pak, buk! Tuan-tuan, nona-nona! Nasi bungkusnya juga ada! Ayo dipilih.. Dipilih! Silakan dibeli!" tawar salah satu pedagang keliling yang membawa dua ransel yang lumayan besar.
"Woy.. Tolong kacang sama tehnya!" kata seorang pengunjung yang memakai pakaian lumayan mewah dengan sedikit berteriak.
Pedagang keliling itu langsung melihat kearah sumber suara. Dia mendapati seorang pria paruh baya sedang melambai kearahnya. Pedagang keliling itu segera mendekat dengan antusias karena ada lagi satu orang yang akan memberinya keuntungan.
"Berapa haraganya?" tanya pria paruh baya berpakaian mewah. Wajahnya terlihat sangat buruk saat ini. Sepertinya apa yang dikatakan si pedagang keliling agak mengenai hatinya yang terluka yaitu tidak bisa move on dari jagoannya yang kalah.
"Mau beli berapa tuan?" tanya si pedagang dengan ramah tamah.
"Harga satunya berapa untuk kacang dan tehnya?" tidak menjawabnya, pria paruh baya berpakaian mewah balik bertanya.
"Untuk kacangnya hanya satu koin perak per-bungkusnya tuan! Sementara tehnya adalah dua koin perak! Teh buatan saya langsung diambil dari gunung kembar yang sudah terjamin akan akan kualitasnya!" jawab pedagang tersebut dengan tenang.
Mata pria paruh baya berpakaian mewah melotot saat mendengar harga yang ditawarkan oleh si pedagang. Dia tidak menyangka bahwa makanan ringan seperti kacang dan secangkir teh akan semahal ini. Sial! Ini adalah pemerasan yang berkedok perdagangan!
"Apa kau sudah gila hah? Hanya kacang dan teh semahal itu? Apa kau ingin memerasku?" tanya pria paruh baya berpakaian mewah dengan membentak.
Sementara si pedagang yang mendapati dirinya dibentak hanyalah tersenyum dengan lebar dan sedikit jejak seringai.
"Tuan! Tempat ini sekarang adalah tempat bergengsi di seluruh Kota Awan! Turnamen kali ini juga berbeda dan jauh lebih sempurna dari sebelum-sebelumnya. Jadi harga yang ditawarkan oleh kami para pedagang juga sedikit dinaikkan!" jawab si pedagang dengan tenang.
__ADS_1
Keributan yang terjadi antara pedagang keliling dan pria paruh baya berpakaian mewah akhirnya banyak mengundang ketertarikan pengunjung lain. Banyak sekali orang-orang yang berbisik-bisim dan memandangi pria berpakaian mewah dengan tatapan mencibir.
Hanya mengeluarkan tiga koin perak saja harus berbicara dengan nada keras dan membentak? Dan lagi hal itu tentunya cukup mengganggu pengunjung yang lain yang sedang fokus-fokusnya menontong peserta yang mereka jagokan meski peserta itu adalah betina, bukan jantan.
"Pria itu sungguh tidak tahu malu sekali!" kata salah satu orang yang menyaksikan perdebatan pria baya dan pedagang keliling.
"Benar katamu! Padahal hanya tiga koin perak saja! Seperti itu dipermasalahkan? Sungguh kepelitan yang tiada tara! Dia, jika mati pasti kuburannya akan sempit!" sahut orang yang disebelahnya.
"Eh.. Apakah akan seperti itu matinya orang-orang pelit?" dia mengangkat alisnya.
"Aku tidak tahu pasti! Tapi aku pernah mendengar kata-kata itu dari orang jaman dulu!"
"Ohh.. Jadi begitu?"
"Iya! Dan lagi, apa yang dikatakan oleh pedagang itu ada benarnya! Ini adalah turnamen akbar yang istimewa, maka sudah sewajarnya para pedagang sepertinya menaikkan harga!"
"Aku jug setuju dengan hal itu!"
Sementara pria paruh baya yang mendengar itu semua hanya bisa menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia sangat malu saat ini. Dengan terpaksa, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga koin perak untuk membeli satu bungkus kacang dan secangkir teh hangat. Sebenarnya dia ingin mengusir pedagang didepannya ini, tapi jika dia sampai melakukan hal seperti itu maka rasa malunya kepada semua orang yang melihatnya akan lebih besar lagi.
"Baik! Beri aku satu bungkus kacang dan secangkir teh!" kata pria paruh baya berpakaian mewah dengan sedikit dingin dan melemparkan tiga koin perak.
Pedagang keliling segera menangkap rejeki nomploknya itu dan menyimpannya. Dia juga dengan cepat menyeduh teh untuk pelanggan baiknya itu.
"Ini tuan! Silakan dan selamat menikmati!" kata pedagang keliling sambil tersenyum hangat.
"Sudah pergi saja sana!" usir pria baya berpakaian mewah.
__ADS_1
"Baik tuan! Terima kasih!" jawab si pedagang dengan nada senang.
.
.
Dari atas langit, Ling Tian yang menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala. Dia kembali sedikit teringat akan kehidupan di bumi yang hampir mirip-mirip dengan pedagang keliling itu.
Ling Tian dengan cepat menepis fikiran itu dan melihat kearah tiga layar hologram diatas bulatan penjara ilusi jiwa.
"Tidak lama lagi babak kedua akan segera selesai!" ucapnya dengan pelan.
***
Penjara ilusi jiwa.
Didalam penjara ilusi jiwa, saat ini peserta yang tersisa hanyalah tinggal dua puluh enam orang. Diantara mereka ada yang terbunuh oleh monster beast atau hewan iblis, adapula yang dibegal oleh peserta lain.
Dua pentol korek alias Hong Lie dan Xuan Ji masih saja terus berburu tanpa mengenal lelah. Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Harga diri mereka dipertaruhkan dalam poin yang dikumpulkannya nanti. Dipanggil adek? Sial! Itu adalah pelecehan batin tingkat dewa!
"Hong Lie! Sudahlah.. Kamu istirahat dulu! Aku kasihan denganmu! Itu.. Wajahmu kelihatan lelah sekali!" ucap Xuan Ji seperti seorang yang memberikan perhatian.
"Hahaha.. Mengapa tidak kamu saja yang duduk adek manis. Dan juga aku lihat berdirimu sudah tidak tegap lagi! Aku takut nanti kamu terkena penyakit encok sebelum pinggangmu kepakai! Hahaha.." Hong Lie menganggapinya dengan asal-asalan dan tertawa terbahak-bahak.
"Sialan! Jangan menganggilku adek! Kompetisi ini belum berakhir! Aku pasti yang akan memanggilmu dengan sebutan itu!" teriak Xuan Ji dan memaki Hong Lie.
"Hahaha.. Kalau begitu, mari kita buktikan siapa pemenangnya!" jawab Hong Lie.
__ADS_1
Mereka berdua kembali melesat pergi kedalam hutan yang belum mereka jajaki. Tanpa sadar karena kompetisi yang mereka buat sendiri, mereka menjadi layaknya saudara yang teramat dekat meski saling caci dan maki satu sama lain.
Hal itu juga dibuktikan disaat salah satu dari keduanya hampir terbunuh karena monster beast atau hewan iblis, maka salah satu yang lain dengan cepat membantunya untuk mengalahkan musuh. Sungguh pertemanan yang tidak disangka-sangka.