Ling Tian

Ling Tian
Terkejut!


__ADS_3

"Apa? Kau terkejut tua bangka?" tanya Ling Tian memasang senyum sinis.


Tetua Ketujuh Sekte Neraka hanya bisa diam tidak bisa menjawab. Dia sangat menyesali perbuatan Tuan Mudanya yang telah menyinggung monster yang sedang menyamar. Tetua Ketujuh tidak bisa membayangkan Sekte Neraka jika monster didepannya ini benar-benar akan berkunjung dan berniat menghancurkannya. Hal itu tentulah akan sangat mudah bagi pemuda bertopeng seperuh wajah didepannya mengingat kultivasi orang terkuat di dalam Sekte Neraka hanya berada di ranah Pendekar Berlian Awal Bintang 9.


Sementara Ling We yang berada didalam array pelindung buatan Ling Tian tidak bisa untuk tidak memasang senyum penuh kemenangan. Pasalnya, tidak akan lama lagi dirinya akan mendapatkan persenan dari harta milik Sekte Neraka. Begitu hebatnya pemikiran Ling We ini! Tidak bekerja, namun mendapatkan gaji buta! Sungguh patut untuk ditiru!


Ling Tian tentu melihat senyuman Ling We. Namun begitu, dia hanya membiarkannya saja karena memang dia mempunyai rencananya tersendiri.


"T-tuan Muda! M-mohon ampunilah kami yang punya mata namun tidak bisa melihat agungnya gunung didepan kami!" ucap Tetua Ketujuh memohon pengampunan.


"Mengampuni kalian? Jika kalian tahu saja, seorang yang berani menunjukkan niat membunuh kepada Tuan Muda Tampan ini maka hukumannya mati bersama dengan seluruh anggota keluarganya!" jawab Ling Tian. Setelah itu, dia menambah tekanan aura tiraninya satu detik namun sukses membuat Tetua Ketujuh Sekte Neraka dan semua pengawal serta Tuan Muda Li Shin terjatuh dan memuntahkan darah segar lagi.


Jawaban yang diberikan disertai tekanan aura yang sangat kuat membuat Tetua Ketujuh hanya bisa menggertakkan gigi saja. Ini adalah peringatan keras akan keseriusan dari jawaban pemuda bertopeng separuh wajah.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, bagaimana jika aku dan saudaraku berkunjung ke Sekte Neraka kalian? Mungkin saja sekte kalian mempunyai sesuatu yang menarik untuk dijadikan kompensasi ini!" tambah Ling Tian. Dia menarik kembali aura tiraninya.


Lagi-lagi ucapan yang terlontar dari mulut monster didepannya ini membuat Tetua Ketujuh bergidik ketakutan. Hal itu karena dia memikirkan jika Sekte Neraka tidak mampu memberikan sesuatu yang memuaskan si monster, maka tamatlah riwayat Sekte Neraka yang padahal telah berdiri selama seribu tahun lebih.


Tetua Ketujuh kembali melirik Tuan Muda Li Shin dan menyalahkannya dalam hati. Andai saja dia tidak menyinggung?.. Ah! Sudahlah! Ini sudah terlanjur! Fikir Tetua Ketujuh.


"Baiklah Tuan Muda! Untuk menebus kesalahan Tuan Muda Li Shin, Tuan Muda yang tampan dan kuat boleh berkunjung ke Sekte Neraka dan meminta sesuatu yang memuaskan sebagai kompensasi!" kata Tetua Ketujuh.


"Tetua Ketujuh! Ini-?" Tuan Muda Li Shin hendak protes.


"Diam kau bocah sialan! Semua ini karenamu yang terlalu sembrono!" bentak Tetua Ketujuh. Dia sudah tidak bisa menahan lagi emosinya kepada Tuan Muda Li Shin. Andai saja Patriark Sekte atau ayahTuan Muda Li Shin berada diposisinya, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama atau bahkan membunuh Tuan Muda Li Shin ditempat karrna tidak berguna.

__ADS_1


"Hahaha.. Memang begitulah harusnya tua bangka!" ucap Ling Tian sambil tertawa senang.


Ling Tian melambaikan tangannya kearah Ling We dan menghilanglah formasi pelindung yang melingkupi saudaranya itu.


"Baiklah.. Untuk kompensasi yang pertama, kalian harus membayar makanan kami dan mengganti rugi semua kerusakan yang ada!' kata Ling Tian.


"T-tuan Muda bisa tenang! Kami akan menanggung semuanya!" balas Tetua Ketujuh sambil menangkupkan kedua tangan dan pandangannya menunduk dalam.


"Oi.. Oi.. Aku bolehkan makan dan minum satu porsi lagi dan kamu yang bayar?" tiba-tiba Ling We ikut nimbrung.


"I-itu-.. Tentu saja Tuan Muda!" kata Tetua Ketujuh sambil sedikit menggertakkan gigi. Andai saja tidak ada Ling Tian yang disamping Ling We, Tetua Ketujuh pasti akan menguliti Ling We karena berusaha memerasnya.


Ling Tian hanya terkekeh pelan saat mendapati Ling We begitu cerdas mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk masalah makanan. Ling Tian sama sekali tidak menghentikan tindakan Ling We.


Selesai menunggu Ling We makan, keempat orang dari Sekte Neraka itu menuntun dua pemuda bertopeng untuk mengunjungi sekte mereka.


"Ya!" singkat Ling Tian dan Ling We.


Mereka semua melesat terbang menuju arah dimana Sekte Neraka berada. Sepanjang perjalanan, semua orang hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Semuanya sibuk dengan fikiran masing-masing.


Tuan Muda Li Shin sibuk memikirkan akan mendapat amarah macam apa dirinya nanti dari sang ayah atau Patriark Sekte Neraka, sementara Tetua Ketujuh dan dua Tetua lainnya hanya berharap jika kompensasi yang akan diberikan Sektenya tidak akan mengecewakan Ling Tian.


Untuk Ling We sendiri, dia masih saja terus memasang wajah tersenyum karena merasakan perutnya telah kenyang dan sebentar lagi akan mendapatkan sesuatu yang tentu sangatlah berharga.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sekitar tiga jam, mereka ber-enam akhirnya sampai di Sekte Neraka. Ling Tian dan Ling We dapat melihat banyak sekali bagunan-bangunan besar dan mewah yang tertata rapih disebuah lembah dan perbukitan.

__ADS_1


Lokasi Sekte Neraka benar-benar strategis dan sangat nyaman menurut Ling Tian. Saat rombongan mendekati pintu gerbang yang sangat besar, mereka segera disambut oleh beberapa murid sekte yang bertugas menjaga gerbang.


"Salam Tuan Muda Li! Salam Tetua Ketujuh, Dua Belas dan Tiga Belas!" ucap semua murid dengan serentak.


"Ya! Salam untuk kalian semua!" jawab Tetua Ketujuh mewakili semua orang di rombongannya.


"Siapa gerangan dua pemuda bertopeng itu Tetua Ketujuh?" tanya si murid dengan sopan.


"Ohh.. Mereka adalah tamu Patriark Sekte kita! Namanya Tuan Muda..." Tetua Ketujuh menghentikan ucapannya dan melihat kedua pemuda bertopeng separuh wajah. Hal itu karena bahkan dirinya tidak tahu identitas monster yang bisa saja menghancurkan sektenya sekarang juga.


"Ling Tian!"


"Ling We!"


Ling Tian dan Ling We menyebutkan nama mereka secara berurutan dan mengeluarkan lencananya masing-masing.


"Ah.. Iya! Namanya adalah Tuan Muda Ling Ti-.." Tetua Ketujuh menghentikan ucapannya karena tersedak secara tidak sengaja. Dia menyadari akan suatu hal. Tetua Ketujuh melihat kearah Ling Tian dan Ling We, tidak! Lebih tepatnya melihat kearah dimana Lencana Giok dan Lencana Emas itu berada.


"L-ling?" ucap Tetua Ketujuh tanpa sadar. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.


Hal itu juga terjadi pada semua orang karena menyadari dua orang pemuda bertopeng separuh wajah ini adalah berasal dari klan yang menjadi topik hangat diseluruh Benua Langit.


Tidak ketinggalan pula dengan Sekte Neraka. Seluruh Petinggi Sekte belum lama ini mengadakan pertemuan darurat guna membahas masalah tentang Klan Ling yang tiba-tiba berkuasa dan menundukkan Klan Wei yang memiliki dua Leluhur Pendiri yang melegenda.


Dalam diskusi itu, terjadilah perdebatan alot dan berkepanjangan. Hingga akhirnya diambil mufakat sementara untuk jangan sampai berhubungan atau bersinggungan dengan orang-orang dari Klan Ling karena kekuatan mereka yang masih sangat misterius.

__ADS_1


Namun saat ini, Tuan Muda mereka sendirilah yang justru membuat masalah dan menyinggung dua orang bermarga Ling. Terlebih, dua orang ini adalah pemilik lencana emas dan lencana tertinggi atau giok.


"Benar sekali! Kami berdua berasal dari Klan Ling daratan timur!" kata Ling We dengan tegas.


__ADS_2