
"Bagaimana?" tanya Ling Tian kepada Mao An setelah kucing itu kembali.
"Beres!" jawab singkat Mao An.
Setelah itu, dia membagikan ingatan barunya kepada Ling Tian dan Zhuge Ruxu melalui mode transfer ingatan. Ling Tian dan Zhuge Ruxu memejamkan matanya beberapa saat untuk menyerap ingatan itu lalu setelahnya mereka membukanya kembali.
"Pantas saja aliran ruang dan waktu itu sangat cepat dan tenang! Ternyata itu adalah ciptaan Dewa Neraka Kuno yang sangat ahli menggunakan kedua hukum itu dan sengaja dihubungkan dengan Benua Langit oleh para hewan iblis peliharaannya!" ujar Ling Tian menyimpulkan.
"Tapi mereka sungguh sangat bodoh sekaligus sial jika mereka benar-benar sepenuhnya menghubungkan Dunia Jimi De ini dengan Benua Langit!" lanjutnya.
"Maksud Tuan Muda?" tanya Zhuge Ruxu yang kurang mengerti.
"Tentu saja mereka bodoh dan sial! Mereka tidak tahu jika mereka ini terhubung dengan Hutan Tanpa Batas! Yang mana penghuninya adalah musuh alami mereka dan kekuatannya berada jauh diatas mereka!" jawab Ling Tian menjelaskan.
Zhuge Ruxu pun mengangguk sementara Mao An hanya diam mendengarkan penjelasan dari Ling Tian.
"Lalu mengenai alasan jatuhnya Dewa Neraka Kuno yang sangat misterius itu?" tanya Zhuge Ruxu lagi.
"Aku juga tidak tahu! Yang jelas dia telah turun tahta karena sebuah masalah! Aih.. Andai saja senior Wei dan cacing biru sialan itu masih bersama kita, mereka pasti mengetahui alasan kejatuhan dan menghilangnya Dewa Neraka Kuno!" ujar Ling Tian.
"Huh! Benar! Tuan Muda menyebut nama itu, aku jadi sedikit merindukan berkelahi dengan cacing sialan itu dan menyengat dengan elemen petirku yang berevolusi ini!" ucap Zhuge Ruxu tiba-tiba sambil mengeluarkan petir emasnya.
Ucapan Zhuge Ruxu memang terdengar sangat tegar atau bahkan sangar. Namun matanya terlihat begitu nanar dan sedikit berkaca-kaca karena kerinduan yang mendalam dengan saudaranya itu. Terlebih kepada Ling Hu kecil yang sebelumnya selalu nemplok kepadanya.
Memang benar kultivasi mereka bertiga telah tersegel, namun kemampuan menggunakan elemen tidaklah menghilang. Hanya saja kekuatan penuh elemen itu tidak bisa dimunculkan.
***
Disebuah hutan di Alam Menengah.
"Ha-hachiiimmm!"
"Sial! Siapa yang mengatai Naga Agung tertampan ini?" gerutu seorang pemuda berpakaian biru yang sedang membakar daging hewan buas tingkat tinggi sambil sesekali meneguk anggur berkualitas tinggi.
__ADS_1
"Ada apa denganmu kakak kedua?" tanya pemuda tampan lainnya yang berambut putih panjang disebelah pemuda itu.
"Ah.. Tidak ada apa-apa adik keempat! Sebelumnya aku merasa seperti sedang ada orang yang mengatai buruk tentangku! Sudahlah! Ayo kita lanjut lagi pesta ini! Biarkan saudara Wei yang bekerja seperti biasa! Hehehe.." jawab pria berpakaian biru itu sambil tertawa terkekeh. Setelahnya dia kembali meneguk anggur yang ada pada botolnya.
"Oh.. Baiklah kakak kedua! Gas lanjut!" ucap pemuda berambut putih itu dengan bersemangat.
Benar! Mereka berdua adalah Long Yuan dan Ling Hu kecil yang sedang berpesta. Mereka berdua lari dari tugas yang diberikan oleh Wei Hun untuk melakukan suatu hal.
"Kakak kedua!" ucap Ling Hu.
"Iya, ada apa?" tanya Long Yuan.
"Kapan kita bisa berkumpul dengan kakak Tian dan yang lainnya lagi? Aku sudah cukup merindukan mereka semua!" ujar Ling Hu dengan lemah.
"Tenanglah Hu kecil! Setelah bocah bau itu menyelesaikan tugas dari Yang Agung Sang Maha Dewa, aku yakin dia akan segera datang menemui kita lagi!" tutur Long Yuan dengan menepuk ringan kepala Ling Hu.
Setelahnya, Long Yuan meneguk anggur ditangannya dengan sangat cepat lalu menatap langit dengan tatapan menerawang. Sebenarnya dia juga sangat merindukan saat-saat bersama Ling Tian, berkelahi dengan Zhuge Ruxu, mengerjai Mao An yang sangat polos dan semua kebersamaan dengan orang-orang di Klan Ling.
"Haaahh.." Long Yuan hanya bisa menghela nafas dan membiarkan waktu yang akan menjawabnya nanti.
'Semoga kalian semua baik-baik saja!' ucapnya didalam hati.
Mereka berdua akhirnya terus melanjutkan pestanya hingga menjelang pagi tanpa menghiraukan Wei Hun yang pusing tujuh keliling karena ulah kemalasan mereka berdua.
***
Ling Tian dan kedua saudaranya terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Zhuge Ruxu. Mereka sama-sama sangat merindukan kebersamaan dengan ketiga saudaranya yang telah naik ke Alam Menengah.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Mao An memecahkan keheningan.
Ling Tian tidak langsung menjawab, dia mengeluarkan gulungan kertas yang tidak lain adalah sebuah peta Dunia Jimi De. Ling Tian mengamati peta itu dengan seksama dan memasang wajah serius. Setelah itu, dia melesat terbang keatas langit dan melihat area sekitarnya.
Dia turun kembali didepan Zhuge Ruxu dan Mao An yang keheranan dengan tingkah Ling Tian.
__ADS_1
"Kebetulan sekali! Peta yang aku salin sebelumnya dari dua Ju bersaudara adalah peta bagian barat Dunia Jimi De ini!" ujar Ling Tian bersemangat.
"Benarkah?" tanya Mao An.
"Tentu! Ayo kita mulai bergerak!" ujar Ling Tian lalu melesat kearah timur dimana ada tanda silang berwarna hitam pada peta dan letaknya tidaklah terlalu jauh dari tempat mereka tinggal saat ini.
"Baik!" angguk keduanya lalu mengikuti Ling Tian dari belakang.
Lima belas menit setelah kepergian ketiganya, sepuluh kelinci iblis yang dipimpin oleh satu diantaranya yang ada di ranah Pendekar Berlian tiba ditempat itu dengan wajah muram.
"Siapa yang berani membunuh anak buahku?" teriak pemimpin pasukan itu dengan murka.
Aura penindasan yang sangat kuat dengan niat membunuh yang sangat kental meledak dari tubuhnya. Seluruh pasukannya menjadi sangat tertekan dan mengutuk orang yang telah membunuh saudara-saudara mereka itu.
Setelah beberapa menit lamanya, pemimpin kelompok itu akhirnya dapat kembali tenang dan dia langsung menatap tajam kearah semua anak buahnya.
"Siapa menurut kalian yang telah membunuh saudara-saudara kalian?" tanya sang pemimpin.
"Dari aura yang mereka tinggalkan, mereka adalah para monster beast!" jawab salah satu anak buahnya.
"Sialan para beast itu! Tapi bagaimana mungkin? Bukankah kultivasi mereka akan tersegel dan itu adalah mayat komandan Jong? Apakah mungkin hanya mereka?" tanya sang pemimpin itu lagi.
"Kami tidak tahu persis jendral! Tapi juga ada kemungkinan ini dilakukan oleh klan lain yang berebut untuk menangkap beast-beast sialan itu!" jawab anak buahnya yang lain.
"Itu masuk akal! Aku tidak ingin tahu, kalian harus menangkap pelakunya hidup ataupun mati!" ucap sang pemimpin.
"Baik jendral!" angguk semua kelinci iblis.
"Segera pergi!" teriak sang pemimpin yang dipanggil jendral itu.
"Siap!"
Sembilan orang langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu dan bergerak menyebar untuk mencari pelaku pembunuhan yang terjadi kepada lima saudara mereka.
__ADS_1