
Ling Tian pun masuk kedalam gua yang berada di Gunung Diyu lalu kemudian disusul oleh Leluhur Bai Senlu dibelakangnya. Dia melihat banyak sekali batu cahaya berwarna-warni yang menyinari lorong gua.
Setelah setengah jam jalan kaki memasuki perut gunung, Ling Tian dan Leluhur Bai Senlu menemukan ruangan yang sangat luas.
"Apakah disini tempatmu bertapa?" tanya Ling Tian yang melihat ada batu besar seperti tempat duduk yang berada ditengah-tengah ruangan.
Ling Tian merasakan aura langit dan bumi ditempat itu lebih pekat daripada saat diluar gua. Selain itu, dia juga merasakan sensasi sejuk didalam ruangan itu. Berbanding balik dengan nalar yang seharusnya jika didalam sebuah gua yang ada diperut bumi harusnya pengap atau panas.
"Lalu dimana tempatnya?" tanya Ling Tian yang tidak melihat ada sebuah warisan ditempat itu.
"Disana Tuan Muda!" jawab Leluhur Bai Senlu sambil menunjuk sebuah dinding gua yang tercipta dari batu.
Setelah itu Leluhur Bai Senlu menuju ketempat yang ditunjuk sebelumnya lalu mengusap-usap dinding itu yang beberapa saat kemudian ada sebuah getaran halus ditempat itu.
Drrttttt...
Dinding batu yang sebelumnya diusap oleh Leluhur Bai Senlu tiba-tiba memurun kebawah dan memmbentuk sebuah lorong bawah tanah yang sangat gelap dengan anak tangga yang tidak terhitung jumlahnya.
Selain itu nuga terdapat sebuah formasi petir yang berwarna hitam yang terus berderak-derak berada dilapisan luar lorong itu.
"Silakan Tuan Muda! Hanya keturunan dari Yang Mulia Ling Dong lah yang mampu melewati formasi petir hitam itu dengan tanpa terluka!" ucap Leluhur Bai Senlu yang mengagetkan Ling Tian.
"Eh.. Iya! Baiklah.. Aku akan masuk kesana dulu!" jawab Ling Tian yang sadar dari lamunannya.
Sebelumnya dia begitu takjub dengan pengaturan dan manual yang dibuat oleh Leluhurnya itu. Bagaimana tidak? Membuat lorong bawah tanah seperti itu dengan pengaturan yang begitu rumit dan mengharuskan ahli mantra formasi yang membuatnya.
Ling Tian yakin bahwa Leluhurnya itu juga termasuk ahli formasi dan array yang sangat hebat dan tidak tertandingi. Ya.. Meskipun pengetahuannya tidak akan pernah bisa menang jika dibandingkan dengan pengetahuan Ling Tian yang didapat dari Sang Maha Dewa atau gurunya.
__ADS_1
"Silakan Tuan Muda!" ujar Leluhur Bai Senlu.
Ling Tian melangkahkan kakinya untuk turun keanak tangga lorong itu. Untuk sekejap, formasi petir hitam yang melingkupi lubang lorong itu bereaksi dengan menjalar dan menyelimuti seluruh tubuh Ling Tian.
Formasi petir itu seperti sedang mendeteksi apakah Ling Tian termasuk dari Klan Ling atau bukan. Lalu setelahnya, petir hitam dari formasi itu kembali seperti sebelumnya dan tidak ada efek apapun pada Ling Tian.
Namun Ling Tian yakin bahwa jika ada orang yang selain dari keturunan Leluhur Ling Dong yang berusaha masuk kedalam lorong, maka orang itu pasti akan dihancurkan oleh petir hitam itu menjadi debu. Bahkan jika orang itu adalah kultivator yang berada di Ranah Kaisar Puncak sekalipun.
Ling Tian terus masuk kedalam lorong gelap itu. Namun dengan kekuatan mata dewa yang dikuasainya, dia bahkan bisa melihat dengan jelas isi dari lorong itu.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Dan tiga jam pun ikut berlalu. Ling Tian masih saja melangkahkan kaki turun dari tangga dan belum menemukan ujung dari lorong itu.
"Sial! Apakah lorong ini merupakan formasi juga?" umpat Ling Tian yang sudah merasakan pegal-pegal pada kakinya.
Ling Tian berhenti bergerak lalu dia melihat kearah langit-langit lorong. Setelah itu wajah Ling Tian langsung berubah saat mengetahui bahwa lorong ini merupakan sebuah ujian untuknya agar bisa menemukan warisan dari Leluhurnya.
Tentu saja Ling Tian kesal dengan perbuatan Leluhurnya itu. Tidak! Tapi Leluhur dari tubuh yang sedang ditempati oleh jiwa orang lain yang mana tentu saja adalah murid Sang Maha Dewa di semesta ini.
Memang Ling Tian terlihat sedikit kurang bijak dalam hal ini. Namun bagaimana pun dia tetaplah dia dan tubuh yang sedang ditempati jiwanya adalah orang lain. Ling Tian kesal karena mengapa juga harus ada ujian-ujian jika memang berniat memberikan warisan.
Jika saja orang itu bukanlah Ling Tian dan tidak lulus tes, lalu bagaimana dengan nasib orang itu yang akan terkurung selama-lamanya dilorong ini tanpa bisa keluar sebelum mengetahui teka-teki yang dimaksudkan dengan lorong tak berujung. Hal itu juga yang menjadi sebab kekesalan Ling Tian.
"Aku Ling Tian! Tekatku adalah menjadi yang terkuat untuk melindungi! Dan tujuan hidupku tentu saja menemukan ARTI JIWA PENDEKAR!" teriak Ling Tian dengan semua auranya keluar dari tubuhnya.
Lorong itu bergetar dengan hebat lalu tidak lama kemudian lorong itu oecah layaknya sebuah kaca lalu setelahnya memperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan ditempat Ling Tian berdiri.
"Huh.. Pemandangan yang sangat bagus!" ucap Ling Tian lalu melangkahkan kakinya untuk melihat-lihat.
__ADS_1
Bagaimana tidak bagus? Didepannya terdapat sebuah danau buatan yang sangat luas yang didalamnya terdapat sekitar seribu jinshen beserta batu roh dan kristal roh dari berbagai tingkatan yang tidak terhitung jumlahnya.
Jinshen itu seperti sudah jinak dan tidak kabur saat Ling Tian mendekati danau itu. Tanpa basa-basi lagi, Ling Tian langsung membuat sebuah segel ditangannya lalu mengarahkannya kearah danau.
Zhuuuung!
Sebuah formasi yang melingkupi seluruh danua terbentuk. Setelahnya, Ling Tian membuka gerbang dunia jiwa dan berniat melakukan hal yang sama seperti saat dirinya berada di Dunia Jimi De. Yaitu memindahkan danau itu kedalam dunia jiwa.
Proses itu pun berlangsung cukup lama yang pada akhirnya Ling Tian tetap berhasil memindahkan danau jinshen itu kedalam dunia jiwa. Dia memindahkannya di bagian tenggara Istana Ling, diantara kebun buah buahan abadi dan kebun tanaman obat.
"Haahh.. Selesai juga!" ujarnya sambil menghapus keringan yang ada dikeningnya.
Ling Tian cukup puas dengan pendapatannya kali ini. Bisa dikatakan dia adalah orang paling kaya di Benua Langit saat ini. Bahkan jika kekayaan seluruh kaisar dari kelima daratan disatukan, Ling Tian yakin masih akan tetap kaya dirinya.
Dia melihat kearah sekelilingnya untuk mencari apakah hanya disini saja tempat harta karun yang ditinggalkan oleh Leluhur Ling Dong. Setelah beberapa saat mengamati, Ling Tian menemukan sesuatu yang seperti sebuah tuas disebelah kiri pintu masuk setelah hancurnya formasi lorong.
"Sepertinya masih ada yang lainnya! Ayo kita cek!" ucap Ling Tian sambil tersenyum. Dia pun menghampiri tuas itu lalu menariknya dengan mantab.
Greg!
Drrrttttt...
Tuas itu berubah arah dan seketika sebuah celah spasial terbentuk dengan warna hitam kebiruan.
"Oh? Sebuah dunia kecil kah?" tanya Ling Tian pada dirinya sendiri.
Dengan tanpa ragu Ling Tian memasuki lorong dimensi atau celah spasial itu. Tubuh Ling Tian ditarik dengan kuat oleh celah spasial itu dan akhirnya menghilang dari pandangan.
__ADS_1