
Pedang Nan Kong dan Ling Jian beradu yang langsung menimbulkan suara ledakan yang luar biasa keras. Ling Jian dnan Nan Kong sama-sama termundur yang membuat Nan Kong melotot tidak percaya.
"Mungkin kau lebih kuat dariku, tapi teknik berpedangku jauh berada jauh diatasmu!" ujar Ling Jian sambil tersenyum.
"Bajing*n! Kau terlalu sombong bocah!" teriak Nan Kong.
Dia yang berada di puncak kultivasi tentulah merasa sangat terhina dengan lawannya yang hanya berada pada ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 2 namun dapat dengan percaya diri mengimbanginya.
Dia kemudian membuat persiapan serangan dengan berencana akan membuat domain untuk mengurung Ling Jian namun segera diketahui oleh Ling Jian karena dia melihat bagaimana gerakan-gerakan tangan serta tubuh Nan Kong.
"Ho.. Ingin membuat domain? Rasakan ini!" ucap Ling Jian lalu niat pedang yang sangat kuat muncul daripadanya membentuk bilah angin dengan petir hitam berderak-derak dan melesat menyerang Nan Kong.
"Keparat! Ternyata kau juga telah menguasai niat pedang!" teriak Nan Kong dengan kesal kemudian niat pedang yang tidak kalah hebat juga keluar dari tubuhnya.
Nan Kong menebaskan pedangnya untuk menghalau niat pedang Ling Jian yang ingin memotong tubuhnya.
Boommm...
Ledakan kembali terjadi. Tanpa menunggu waktu, Nan Kong langsung bergerak dengan sangat cepat menembus ledakan energi itu lalu memberikan serangan tebasan kepada Ling Jian.
Dengan insting pertarungannya, Ling Jian yang merasakan adanya bahaya mendekat langsung waspada. Dan benar! Dia melihat Nan Kong melesat dengan sangat cepat menuju kearahnya.
"Mati!" ucap Nan Kong sambil menebaskan pedangnya.
Trankkk!
Ling Jian masih dapat menghalau serangan dari Patriark Sekte Pedang Kelelawar itu karena sikap kewaspadaannya yang liar biasa.
"Merepotkan!" ucap Nan Kong lalu bergerak menyerang Ling Jian menggunakan serangan jarak dekat.
Trank! Trank!
Trank!
Tring! Tring!
Suara dentingan pedang terdengar begitu nyaring yang disertai dengan percikan api di setiap kali dua senjata pusaka tingkat hijau saling beradu. Nan Kong dan Ling Jian saling beradu teknik pedang dan ingin tahu teknik siapakah yang lebih kuat.
.
.
__ADS_1
Disisi lain, Ling We yang sebelumnya telah menghantam Kaisar Han Biao yang mesum itu dengan serangan tapaknya langsung bergerak lagi untuk memberikan serangan susulan.
Boomm...
Kedua tapak beradu yang langsung menghasilkan ledakan yang cukup nyaring. Ledakan energi itu menimbulkan gelombang angin setajam pisau yang menyebar ke berbagai arah.
"Mustahil! Kau hanya ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 7! Bagaimana mungkin bisa sekuat ini?" ujar Kaisar Han Biao yang terkejut dan tidak percaya dengan kekuatan Ling We.
"Hoo.. Terkejut? Aku juga sama! Aku sendiri bahkan tidak menyangka bahwa aku akan sekuat ini?" ujar Ling We sambil tersenyum lebar yang seketika membuat Kaisar Han Biao merubah wajahnya.
"Sialan! Apa kau sedang mempermainkanku?" teriak Kaisar Han Biao dengan murkanya.
"Siapa yang mengatakan sedang mempermainkanmu? Dasar Kaisar aneh!" ucap Ling We dengan santai.
Melihat betapa santainya Ling We menanggapi kemarahannya, Kaisar Han Biao lalu mengeluarkan tombak emas dengan ukirang naga yang berwarna hitam kemerahan yang merupakan senjata pusaka tingkat hijau kualitas tinggi.
"Saat aku telah mengeluarkan tombak nagaku, maka kematianmu sudah ditentukan hari ini!" ucap Kaisar Han Biao dengan dingin.
"Benarkah? Aku ingin melihatnya, apakah tombakmu itu yang dapat menghajarku atau pedangku ini yang dapat menyayat tubuhmu!" ucap Limg We sambil mengeluarkan pedang pusaka tingkat hijau kualitas sempurna yang dulu pernah diberikan oleh Ling Tian sebagai ganti pedang samudera kegelapan yang Ling We ingin miliki setelah menghabisi para pengawal dari Tuan Muda Lian Kun.
Kaisar Han Biao mengedarkan kekuatan puncaknya dan tombak emas yang dipegangnya pun berdengung dengan lembut menanggapi kemarahan tuannya. Api hitam menyala dari tombak emas berukur naga hitam kemerahan itu yang langsung merubah suhu disekitar dengan ekstrem.
Dia menyuntikkan energi Qi yang cukup besar ke pedang pusakanya dan mengkolaborasikannya dengan niat pedang dan elemenitas petir berwarna hitam.
Kedua orang ini lalu bergerak secara bersamaan sambil mengayunkan senjatanya masing-masing.
Traankkk!
Bhuuss...
Suara mendentang yang sangat nyaring yang disertai dengan ledakan elemen dari kedua kubu menyebar kesegala arah yang membuat pertarungan keduanya terlihat sangat mengerikan.
Trank! Trank!
"Kau sangat kuat bocah! Siapa namamu? Aku akan mengingatnya setelah kamu mati nanti!" ucap Kaisar Han Biao.
Tring! Tring!
"Apa aku tidak salah dengar? Tapi baiklah.. Daripada nanti kamu mati penasaran dengan orang yang telah membunuhmu, maka aku akan memberitahunya! Namaku Ling We! ingat! Namaku Ling We! Tetua termuda di Klan Ling daratan timur!" jawab Ling We sengit sambil terus mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.
Trank! Trank! Trank!
__ADS_1
Pedang dan tombak terus beradu dengan suara dentingan yang terus menggema dan ledakan energi dari keduanya. Berbagai macam teknik telah mereka berdua keluarkan namun masih saja tetap belum bisa melihat siapakah yang lebih mendominasi.
.
.
Disisi yang lainnya. Didalam perang yang berkecamuk antara pasukan kubu daratan timur dan aliansi aliran hitam, terjadi keanehan yang dirasakan oleh kubu pasukan dari daratan timur.
Disaat mereka yang kalah dalam bertarung melawan musuhnya lalu hendak dibunuh oleh lawan dengan menebaskan pedang atau menusukkan tombak, mereka justru melihat musuh yang akan melakukan hal itu tiba-tiba mati dengan tubuh yang terpotong-potong kecil.
'Ini benar-benar mengerikan! Siapa sebenarnya orang yang membantu kami?' batin salah satu prajurit yang hampir mati oleh pasukan aliansi aliran hitam anamun diselamatkan oleh sosok yang tak terlihat yang langsung memotong tubuh lawannya menjadi potongan kecil.
Prajurit itu kembali berdiri dan menatap daging cincang milik musuhnya itu sambil menggelengkan kepala.
"Siapapun kalian, aku berterima kasih!" ucap prajurit itu dengan tulus lalu kembali masuk kedalam pertarungan.
Hal seperti itu terus terjadi hingga pasukan lawan pada akhirnya menyadari keanehan itu. Namun sadarnya mereka sungguh sangat terlambat karena hampir setengah dari pasukan yang dibawa oleh Kaisar Han Biao dan Nan Kong telah tewas dengan sangat mengenaskan.
"Waspada dengan serangan pasif!" teriak salah satu jendral pasukan aliansi aliran hitam memperingati seluruh pasukannya.
Pasukan aliansi kini menjadi lebih waspada dengan serangan yang tidak terlihat. Namun meskipun mereka telah menambah kewaspadaannya, namun tetap saja jika salah satu dari mereka hendak membunuh pasukan dari daratan timur maka tubuh mereka akan langsung tercincang dan menjadi potongan-potongan kecil.
'Apakah ini kutukan Langit?' batin salah satu jendral aliansi aliran hitam yang melihat bagaimana pasukannya tiba-tiba terpotong-potong tepat didepan matanya.
Perang terus berkecamuk. Pertarungan Ling We dan Ling Jian dengan Kaisar Han dan Nan Kong juga terus berjalan dengan intens serta mengerikan.
.
.
Bukan hanya didaratan timur saja yang sedang mengalami pertempuran, namun di daratan utara juga terjadi hal yang sama. Namun perbedaannya adalah orang-orang dari daratan utara tidak dengan persiapan alias mereka mendapat kejutan berupa serangan besar-besaran yang membuat mereka kelabakan dan menjadi layaknya kambing yang berlarian takut disembelih.
***
Dunia Jiwa.
Ling Tian yang sedang asik mengobrol dengan para saudaranya di gazebo tempat santai biasanya tiba-tiba dikejutkan dengan pesan dari Mao An yang ada di dunia luar.
"Ada apa kakak?" tanya Ling Xing'er penasaran.
"Perebutan harta langit dan bumi akan segera dilaksanakan!" jawab Ling Tian sambil tersenyum.
__ADS_1