Ling Tian

Ling Tian
Juara


__ADS_3

Ling Lianhua terus memasang wajah tersenyum dan sumringah karena lawannya atau Yi Shu telah melakukan hal yang lumayan ceroboh.


Menurutnya, menggunakan energi Qi berlebih diawal-awal pertarungan adalah hal yang bodoh. Seseorang akan keteteran diakhir pertarungan karena kehabisan Qi. Yi Shu yang terkenal cerdas malah melakukan itu ketika dirinya tersudut. Lalu bagaumana Ling Lianhua tidak senang?


Ling Lianhua membiarkan Yi Shu untuk mengambil nafas sejenak. Dia juga memanfaatkan waktu saat ini dengan sebaik mungkin. Setelah satu tarikan nafas, Ling Lianhua kembali menyerang Yi Shu.


Yi Shu yang diserang tentu tidak tinggal diam. Dia mengelak kekanan dan kekiri untuk menghindar. Dia sadar jika dirinya telah menggunakan energi Qi dengan berlebih. Maka dari itu, saat ini dia hanya bisa terus menghindar sebisa mungkin untuk menghematnya. Dia ingin menguras Qi milik lawannya.


"Menyerangku dengan serangan yang sama? Sungguh meremehkan Tuan Muda ini!" ucap Yi Shu memulai memprovokasi disela menghindarnya.


"Ooh.. Begitu? Bagaimana jika aku tambah ritme kecepatannya?" ujar Ling Lianhua memberi tanggapan dengan pertanyaan.


Tanpa menunggu jawaban dari Yi Shu, Ling Lianhua langsung memepercepat gerakan pedangnya dan memperagakan gerakan dasar teknik pedang petirnya. Yi Shu langsung dibuat mendelik saat kecepatan serang dari Ling Lianhua bertambah beberapa kali lipat.


'Sial! Ini cepat sekali! Aku tidak bisa mengimbanginya!' batin Yi Shu.


Tring! Tring!


Sreett! Sreett!


"Ugh!"


Dua tebasan pedang Ling Lianhua berhasil mendarat di lengan kiri dan paha Yi Shu. Darah yang sangat banyak langsung membanjiri pakaian yang Yi Shu kenakan. Dengan cepat pula dia langsung mundur beberapa puluh langkah jauhnya.


Yi Shu meringis kesakitan sembari mengalirkan energi Qi untuk menghentikan pendarahan.


"Bagaimana? Apakah nikmat?" tanya Ling Lianhua dengan senyuman mengejek.


Yi Shu hanya bisa menggertakkan giginya kuat-kuat untuk meredam amarahnya yang memuncak. Awalnya dia yang berusaha memprovokasi untuk memancing amarah lawan, kini malah dirinya sendiri yang amarahnya tidak terkontrol dan meluap-luap.


Seorang Ling Lianhua mana mungkin akan terprovokasi oleh omongan lawan? Dia adalah gadis yang cerdas dan tahu betul apa saja yang harus dilakukan saat bertarung dan apa saja yang tidak boleh dilakukan. Ling Lianhua juga sudah sangat hafal dengan Yi Shu yang ucapannya sangat pedas layaknya cabai ples merica saat memprovokasi lawan.


"Apakah masih mau dilanjut?" tanya Ling Lianhua sambil mengibaskan pedang pusaka tingkat putihnya guna membuang darah Yi Shu yang tertinggal.


"Sial! Jangan hanya karena berhasil sedikit melukaiku kemu sudah beranggapan menang!" jawab Yi Shu yang masih dengan nada geram dan meringis menahan rasa sakit yang didera.


"Haha.. Mari buktikan jika kamu masih bertahan saudara Yi Shu!" ucap Ling Lianhua tenang. Dia kembali melesat dengan sangat cepat untuk menyerang Yi Shu.

__ADS_1


Swuusshh...


"Sialan!" teriak Yi Shu yang kembali dikejutkan dengan kecepatan Ling Lianhuan.


Traankk!


Bhuush...


Bunyi dentingan pedang terdengar menggelegar. Yi Shu berhasil menghalau serangan Ling Lianhua. Namun begitu, dia harus terpental mundur hingga hampir keluar dari arena.


.


.


Dari kursi para Patriark dan Tetua klan, semuanya dibuat mengangguk oleh kehebatan dan kecepatan yang dimiliki Ling Lianhua.


"Seperti yang diharapkan dari putri Tetua Kedua Klan Ling, Ling Lian Zong!" ucap salah satu Tetua dari klan lain yang berada di Kota Awan.


"Haha.. Tetua terlalu memuji kemampuan putriku! Sebenarnya dia tidak sehebat itu!" ujar Ling Lian Zong merendah.


"Oiya Tetua Zong! Apakah putrimu sudah memiliki calon?" tanya seorang Patriark Klan dari Desa Bambu.


"Ooh.. Benarkah Tetua Zong? Bagaimana jika putraku nanti akan berkunjung dan melamar putrimu itu?" tanya Patriark Klan dari Desa Bambu tersebut. Wajahnya menjadi sangat bersemangat mengetahui Ling Lianhua belum memiliki calon.


"Haahhh.." Tetua Ling Lian Zong hanya menghela nafas panjang-panjang. Dia tahu betul bagaimana putrinya nanti jika ada orang yang berani melamarnya.


"Ada apa Tetua Zong? Mengapa kamu tidak bersemangat?" tanya si Patriark Klan dari Desa Bambu sambil mengangkat alisnya.


"Putriku sangat dekat dengan Tuan Muda Ling Tian!" jawab Tetua Ling Lian Zong.


Seketika itu juga, rona kegembiraan dan senyuman diwajah Patriark Klan dari Desa Bambu langsung sirna saat mendengar dekat dengan Ling Tian.


Dekat dengan Ling Tian, itu berarti dekat pula dengan kematian jika berani mengusik Ling Lianhua. Setidaknya itulah yang saat ini difikirkan oleh Patriark Klan dari Desa Bambu itu. Sungguh ironis sekali!


"Oh.. Jadi begitu.." ujar Patriark Klan dari Desa Bambu dengan wajah sedikit pucat.


"Begitulah Patriark.." sahut Tetua Ling Lian Zong dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


.


.


Diatas arena, pertarungan antara Ling Lianhua melawan Yi Shu terus berjalan dengan sengit. Kedua kubu sudah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Terlebih bagi Yi Shu, dia sebenarnya sudahlah tidak berdaya. Seluruh tubuhnya sudah penuh akan luka sabetan pedang lawan.


Sementara Ling Lianhua juga mengalami luka goresan pedang namun tidak sebanding dengan yang dialami Yi Shu.


Bruk!


Setelah sekian lama menahan rasa sakit yang didera dan memaksakan tubuhnya, Yi Shu akhirnya roboh dengan sendirinya dan tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. Benar! Yi Shu telah kalah!


Zhuung!


Zheepp!


Formasi array yang melingkupi arena pertarungan menghilang dan Ling Tian turun dari atas langit.


"Pertarungan usai! Pemenangnya adalah Ling Lianhua dari Klan Ling!" teriak Ling Tian dengan suara menggema.


Seketika gemuruh teriakan dan sorakan gembira para penonton turnamen segera terdengar dari segala arah. Kini mereka semua telah mengetahui bahwa generasi muda terkuat kali ini adalah dari Klan Ling yang misterius.


"Oh dewiku! Aku sudah menduga dari awal kamulah yang terhebat! Aku mencintaimu! Maukah kamu menjadi istriku?" teriak salah satu penonton yang terdengar sangat lebay. Dia adalah pria baya yang menjafi fans berat Ling Lianhua dan sangat mencintainya. Namun kembali pada kata cinta, tidak ada kata lebay atau berlebih-lebihan dalam sebuah pengungkapan. Semua sah-sah saja jika itu berhubungan dengan satu kata! Cinta.


"Jangan kamu bicara kotor seperti itu didepan dewi Hua jika kamu tidak ingin mati dengan cepat!" ujar teman dari orang yang berteriak sebelumnya.


"Eh.. Mengapa demikian?" tanya pria baya


"Tentu saja! Yang menginginkan dewi Hua menjadi permaisurinya bukan hanya kamu saja! Kami semua juga ingin! Namun diantara orang yang menginginkan dewi Hua, ada satu nama yang menjadi kandidat terkuat dan tidak mungkin kita-kita ini menggesernya!" jawab teman pria baya tersebut.


"Siapa orang itu? Dan sehebat apakah dia sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa menggesernya?" pria baya itu terheran-heran.


"Tuan Muda Ling Tian!" jawab teman pria baya itu.


Mata pria baya itu segera melotot seperti hendak keluar saja. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya dan sangat menyesali teriakan yang telah dia lontarkan. Keringat dingin segera membanjiri seluruh tubuhnya karena ketakutan akan nyawanya yang akan segera melayang.


Ling Tian tidak menghiraukan teriakan para penonton yang menurutnya tidak penting. Dia berjalan menghampiri Yi Shu dan memberikan pertolongan pertama dengan elemenitas cahayanya. Dia juga melakukan hal yang sama dengan Ling Lianhua.

__ADS_1


"Hahhh...Selesai.."


__ADS_2