
"Hehehe.. Apa kau kira aku sudah mengeluarkan segenap kemampuanku? Hehehe.. Bahkan 1% saja itu belum, kau tahu! Hahaha.." ujar Mao An mengejek sang pemimpin bandit kelabang kuning.
Wajah sang pemimpin bandit kelabang kuning pun langsung menjadi merah karena menahan marah dari mendengar ejekan dari lawannya yang menurutnya sangatlah mengada-ngada. Karena bagaimana mungkin seorang kultivator yang hanya memiliki ranah kultivasi dua tingkat berada di bawahnya mengatakan belum menggunakan kekuatan aslinya meski hanya satu persen saja.
Padahal hal itu adalah nyata. Andai sang pemimpin bandit mengetahui bahwa sebenarnya Mao An mengatakan dengan jujur dan benar mengenai kekuatannya, maka dia pasti akan segera lari dan menjauh dari pemuda bertopeng separuh wajah berjubah merah kehitaman itu serta tidak akan mau berurusan dengannya.
Mao An lalu mengalirkan lebih banyak Qi Kaisar ke tempatnya yang membuat serangannya berkali-kali lipat lebih mengerikan dari sebelumnya sekaligus kobaran api hitamnya lebih panas.
Dia membuat gerakan menusuk dan menebas ke arah sang pemimpin bandit kelabang kuning. Akan tetapi sang pemimpin bandit masihlah sanggup menghalau setiap serangan tersebut meski dia terkejut dengan kekuatan yang dikeluarkan oleh lawannya yang berkali-kali lipat lebih kuat daripada sebelum-sebelumnya.
Boommm... Boommm...
Pertarungan sengit antar keduanya pun terjadi dan ledakan demi ledakan terus terdengar di saat serangan keduanya saling bertemu. Mao An yang kini telah menguasai pertarungan terus saja memberikan serangan tusukan serta tebasan tombak kepada titik-titik vital yang dimiliki oleh sang pemimpin bandit kelabang kuning.
Karena terlalu bersemangat dan menikmati pertarungannya, Mao An tidak sadar bahwa link yang telah berhasil membunuh ribuan para bandit sekaligus 50 bawahan sang pemimpin bandit kecuali satu orang menggunakan kecepatannya yang di luar akal sehat. Kini yang tersisa hanyalah sang pemimpin bandit seorang diri yang sedang bertarung dengan Mao An dengan satu orang yang disisakan oleh Ling Tian.
Sementara Ling Tian, dia saat ini sedang duduk santai sembari mengobrol dengan satu-satunya tahanannya yang sebelumnya adalah bawahan paling hebat dari pemimpin para bandit kelabang kuning yang memiliki kultivasi ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 1.
Ling Tian membuat bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning itu tidak berdaya dengan menyegel seluruh kekuatan yang dia miliki dan menotok beberapa titik sarafnya sehingga dia tidak dapat bergerak dengan leluasa.
"Jadi, menurutmu kapan saudaraku dapat mengalahkan bosmu itu?" tanya Ling Tian kepada bawahan dari sang pemimpin bandit.
"S-saya t-tidak tahu Tuan Muda! Mungkin sebentar lagi," jawab bawahan dari sang pemimpin bandit dengan terbata-bata karena ketakutan.
"Ayolah.. Kau tidak perlu takut seperti itu kepadaku! Aku tidak akan memakanmu. Lagi pula aku juga sangat tampan!" seru Ling Tian yang merasa sedikit kesal dengan bawahan paling hebat dari sang pemimpin bandit kelabang kuning yang terlalu ketakutan kepadanya.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Ling Tian yang berubah menjadi masa membuat bawaan dari pemimpin bandit itu berlipat-lipat menjadi lebih ketakutan lagi. Dia sebelumnya dapat melihat dengan jelas akan kebengisan dan kekejaman dari pemuda bertopeng separuh wajah itu yang membantai seluruh teman-temannya dengan sangat cepat sekali.
'Monster kampret! Gimana aku tidak takut denganmu? Padahal sebelumnya aku dengan jelas melihatmu membantai saudara-saudaraku seolah nyawa mereka sama sekali tidak berguna!' batin bawahan dari sang pemimpin bandit.
"Hmm.. Janganlah menggerutu seperti itu. Apa kamu ingin aku memotong jarimu satu persatu?" tanya Ling Tian dengan senyuman khas tokoh antagonis dalam cerita novel mafia.
Wajah bawahan dari pemimpin para bandit kelabang kuning yang mendengar ancaman dari Ling Tian seketika itu juga langsung memucat menjadi putih seputih kertas. Dia tentu tidak ingin merasakan sakit akan jarinya yang dipotong-potong satu persatu oleh pemuda bertopeng separuh wajah tidak berperasaan itu.
"T-tidak berani Tuan Muda! Aku yakin bahwa saudara Tuan Muda akan segera mengalahkan pemimpin para bandit itu!" ujar bawahan dari pemimpin bandit dengan ekspresi wajah yang sok terlihat yakin namun ucapannya masih terbata-bata akibat menahan ketakutan yang menguasai seluruh perasaannya.
"Ohoo.. Benarkah? Mari kita taruhan! Jika memang benar apa yang kamu katakan sebelumnya maka aku akan melepaskan satu totokan pada titik sarafmu. Namun jika itu salah, maka aku akan memotong telingamu. Bagaimana?" tanya Ling Tian dengan tersenyum seolah-olah kesepakatan itu benar-benar sangatlah adil baginya.
"T-tuan Muda, tolonglah jangan seperti itu. Aku tidak ingin diejek oleh orang-orang karena hanya memiliki satu telinga," ujar bawahan dari sang pemimpin bandit kelabang kuning dengan wajah menyedihkannya.
"Tenang-tenang. Aku hanya bercanda sebelumnya." ucap Ling Tian sehingga bawahan dari pemimpin bandit itu mengalami nafas lega.
Mao An yang belum sadar bahwa dirinya sedang ditonton oleh tuan mudanya beserta dengan bawahan dari sang pemimpin bandit terus bergerak menyerang pemimpin bandit lawannya dengan menggunakan jurus-jurus tombak yang dia kuasai.
Dia pun merasa mulai bosan akan pertarungannya yang tidak segera usai. Mao An lalu menambah lagi ritme kecepatannya sehingga membuat sang pemimpin bandit kelabang kuning terkejut bukan main.
Sang pemimpin bandit langsung dibuat dalam posisi bertahan dan mulai menerima beberapa luka tusukan dan tebasan dari tombak Mao An.
'Sial, dia benar-benar sangat hebat sekali!' batin sang pemimpin bandit yang terus dibuat kewalahan oleh gerakan-gerakan rumit yang dilakukan Mao An.
Jleb! Srak!
__ADS_1
Srak!
Satu bersatu serangan dari Mao An terus mendarat di tubuh sang pemimpin bandit sehingga darah pun mulai mengucur dengan deras dan membasahi pakaiannya. Gerakannya pun kini mulai melambat akibat dari rasa perih di sekujur tubuhnya yang terluka.
Sementara untuk Mao An, dia bergerak semakin cepat saja sembari mengalirkan Qi Kaisar lebih banyak lagi ke tombaknya sehingga tampaknya tersebut terlihat hitam karena kobaran api miliknya yang begitu panas.
Karena banyaknya luka tusukan dan tebasan yang diterima oleh sang pemimpin bandit, pada akhirnya pedang pusaka tingkat hijau kualitas menengah miliknya pun terlepas dari genggaman tangannya yang membuat Mao An tersenyum dengan lebar.
"Sepertinya sudah waktunya untuk mengakhiri pertarungan ini!" seru Mao An lalu bergerak dengan cepat melewati sang pemimpin bandit.
Srak!
Blug!
Mao An tersenyum dengan lebar dan memutar-mutarkan tongkatnya untuk menghapus noda darah dari sang pemimpin bandit lawannya lalu menyimpannya kembali di dalam cincin penyimpanan.
Bersamaan dengan itu, kepala dari sang pemimpin bandit pun jatuh ke tanah karena terkena tebasan dari ujung tombak Mao An yang sangat tajam.
"Huh.. Selesai jug-.. Apaaa!" ujar Mao An yang terkejut karena sadar bahwa seluruh tempat itu kini sudah menjadi sepi dan dipenuhi dengan mayat-mayat yang bergelimpangan dan penuh dengan luka menganga di sekujur tubuh mereka.
"Kau kalah saudaraku! Hahaha.." teriak Ling Tian dari arah belakang Mao An sembari tersenyum dengan lebar dan tertawa terbahak-bahak.
Wajah Mao An pun langsung berubah menjadi masam karena baru menyadari akan hal tersebut.
'Cih! Sialan! Bagaimana mungkin aku bisa lupa bahwa aku saat ini sedang berkompetisi dengan Tuan Muda. Harusnya aku sebelumnya membunuh pemimpin bandit itu dengan cepat.' batin Mao An yang menangis berdarah karena telah kalah taruhan.
__ADS_1