
Ling Tian, Zhuge Ruxu dan Mao An terus melesat kearah tanda silang pada peta yang berada di timur. Meskipun pada peta itu terlihat tidak jauh, namun karena luasnya dunia kecil milik Dewa Neraka Kuno atau Dunia Jimi De ini, mereka sudah melakukan perjalanan selama satu hari dengan kecepatan penuh namun belum juga sampai di tempat.
Mereka melakukan perjalanan yang cukup lama dirasakan karena kultivasi mereka yang ditekan. Beberapa kali juga mereka berhenti untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.
"Haiih.. Kultivasi tersegel benar-benar menyebalkan!" gerutu Mao An.
"Kau itu bisa diam atau tidak? Cerewet sekali seperti perempuan! Apa kau jangan-jangan adalah perempuan yang menyamar?" ujar Zhuge Ruxu yang sudah sangat bosan mendengar Mao An mengeluh.
Mao An yang melihat Zhuge Ruxu kesal terhadapnya langsung terdiam membisu. Dia tidak ingin melanjutkannya lagi atau nasibnya akan beeubah menjadi sengsara.
Saat kedua saudaranya sibuk dengan fikirannya masing-masing, Ling Tian hanya diam dan terus melesat dengan memasang sikap waspada dan wajah serius. Dia melakukan ini karena memang tempat yang dituju sudahlah dekat dan kemungkinan adanya bahaya sangatlah besar.
Dia sengaja tidak mengingatkan kedua saudaranya itu karena dia tahu bahwa keduanya juga selalu memasang sikap waspada meskipun sedang mengobrol ataupun berdebat.
Syutt! Syutt!
"Menghindar!" seru Ling Tian tiba-tiba.
Dia dan kedua saudaranya menghindar dari serangan jarum emas yang melesat sangat cepat.
"Waspada! Aku tidak merasakan aura apapun yang ada ditempat ini! Itu berarti serangan sebelumnya adalah sebuah jebakan! Dan lagi, kalian lihat gunung batu itu! Itu tempat yang kita tuju!" ujar Ling Tian sambil menunjuk arah gunung batu.
Zhuge Ruxu dan Mao An mengangguk.
"Jadi apakah gunung batu itu ada sebuah harta?" tanya Zhuge Ruxu.
__ADS_1
"Saudari Ruxu! Kamu jangan pernah lupa, bahwa semakin berbahaya sebuah tempat maka semakin berhaga pula sumberdaya yang akan ada ditempat itu!" jawab Ling Tian.
"Dan serangan sebelumnya, aku yakin jika kuktivator ranah Pendekar Berlian sekalipun akan terluka jika terkena jarum emas itu!" lanjut Ling Tian.
"Tuan Muda benar! Kamu jangan pernah lupakan itu kakak ketiga!" imbuh Mao An.
"Sialan! Buat apa kau ikut bicara hah? Aku tidak bertanya padamu!" ucap Zhuge Ruxu kesal.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya melihat tempramen Zhuge Ruxu yang meledak-ledak. Dia bertanya-tanya apakah Zhuge Ruxu saat ini sedang menstruasi sehingga akhir-akhir ini cepat sekali marah dengan Mao An.
Namun meski begitu, Ling Tian tidak mempermasalahkannya. Karena dia tahu bahwa keduanya benar-benar saudara yang tak terpisahkan. Jika salah satu diantara keduany berani ada yang menyentuhnya, maka satunya lagi akan rela mati demi membalaskan dendam saudaranya. Begitulah setahu Ling Tian.
"Kalian tetap tingkatkan kewaspadaan! Jangan lengah sedikit pun atau kalian akan menjadi tumbal ditempat ini!" ujar Ling Tian memperingatkan.
"Baik Tuan Muda!" ucap keduanya mengangguk mengerti.
"Sial! Ini sebuah serangan formasi! Kita sudah terjebak didalamnya!" ujar Ling Tian yang melihat kearah belakangnya ada dinding transparan yang mengurung mereka bertiga.
"Mau tidak mau kita harus terus maju! Tidak ada jalan kembali!" ucap Mao An yang juga baru menyadarinya.
Zhuge Ruxu hanya mengangguk. Mereka bertiga lalu mengeluarkan senjata masing-masing yang semuanya berada di tingkat merah. Ling Tian menggunakan pedang samudera kegelapan, Zhuge Ruxu menggunakan pedang petir pembunuh dan Mao An mengeluarkan Tombak Api Malam.
Kedua senjata Zhuge Ruxu dan Mao An itu tentu adalah senjata buatan Ling Tian yang dibuatkannya khusus untuk mereka berdua. Dengan bahan-bahan yang ada di gudang Istana Ling di dunia jiwa maka sangat mudah bagi Ling Tian membuat senjata yang sesuai dengan kedua saudaranya itu.
Mereka terus menghalau serangan tombak angin yang tiada habisnya itu dengan segenap kemampuan yang mereka bertiga miliki. Sekali lagi batasan kultivasi membuat mereka begitu kewalahan hanya dengan serangan tombak angin itu. Padahal jika mereka berada pada kondisi puncak, mereka hanya butuh melambaikan tangan maka serangan tombak itu sudah bisa mereka hancurkan.
__ADS_1
Saat mereka bertiga sedang bersusah payah menghadapi tombak-tombak menyebalkan itu, sebuah suara tawa lantang terdengar dari arah belakang yang membuat Ling Tian dan kedua saudaranya semakin kesal.
"Hahaha.. Akhirnya aku menemukan kalian! Dasar tiga beast bodoh! Tapi kalian telah memasuki array Gunung Yanshi! Maka tidak akan ada lagi jalan untuk kalian kembali! Dan aku tidak perlu repot-repot untuk membunuh kalian yang sudah pasti akan mati!"
Suara itu keluar dari mulut salah satu dari tiga kelinci iblis yang ada diluar array yang ditugaskan sang jendral pasukan sebelumnya. Mereka sangat puas melihat Ling Tian dan dua lainnya sangat kepayahan menghadapi serangan tombak-tombak angin.
Mereka hanya butuh melaporkan kepada jendralnya bahwa pelaku yang membunuh kelima saudara mereka telah terperangkap didalam formasi array Gunung Yanshi yang tidak mungkin bagi siapapun yang masuk atau terjebak akan keluar dengan selamat.
Mao An dan Zhuge Ruxu menatap ketiganya dengan penuh kebencian dan berjanji akan menghabisi mereka semua tanpa ampun. Bagaimana tidak, mereka dari awal sudah sangat jengkel namun kini ditambah lagi dengan ejekan ketiga kelinci iblis membuat Zhuge Ruxu dan Mao An tidak bisa menahan diri.
Tiga kelinci itu kemudian pergi meninggalkan Ling Tian dan dua saudaranya dengan senyuman terpampang jelas diwajah mereka. Sementara Zhuge Ruxu dan Mao An yang melihat hanya bisa menggerutu dalam hati dan terus menghalau serangan tombak angin yang tiada habisnya.
"Kalian berdua tenanglah! Jangan terbawa emosi hanya karena ejekan yang seperti itu!" ucap Ling Tian berusaha menasehati.
"Tapi mereka itu benar-benar ingin dihajar! Awas saja jika aku sampai keluar dari tempat menyebalkan ini!" ujar Mao An dengan nada sangat marah.
"Benar! Untuk kali ini aku juga akan ikut serta membantumu adik kelima!" tutur Zhuge Ruxu mendukung.
"Iya kakak ketiga! Kita hapuskan saja nama Klan Tuzi itu dari Dunia Jimi De ini!" kata Mao An geram.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya pelan menyaksikan kedua saudaranya itu tidak bisa dinasehatinya. Namun, didalam hatinya juga ada rasa sedikit kesal dengan tiga kelinci iblis sebelumnya. Dan jika kedua saudaranya itu bergerak untuk menyerang Klan Tuzi setelah keluar dari tempat terkutuk ini, maka dia dengan senang hati akan membantu mereka berdua.
Ling Tian lalu memejamkan matanya satu detik lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Teknik pedang melahap! Melahap segalanya!" teriak Ling Tian lalu mengayunkan pedang samudera kegelapannya.
__ADS_1
Swooosshhhh...