
Beberapa bawahan dari pangeran Song Yunlei menghampirinya saat merasakan niat membunuh yang sangat pekat keluar dari arah ruangan sang pangeran. Dia adalah seorang pria paruh baya yang tidak lain juga adalah paman dari Song Yunlei dari jalur ibu.
"Paman Un! Ada apakah gerangan paman mendatangiku?" tanya pangeran Song Yunlei.
"Aku hanya mendatangi keponakanku karena merasakan niat membunuh yang begitu kuat keluar dari tubuhmu sekaligus menyampaikan pesan dari Tuan Han Tianba!" jawab paman pangeran Song Yunlei yang bernama Yong Un.
"Niat membunuh itu tentu saja karena aku ingin balas dendam kepada pemuda bertopeng separuh wajah keparat itu! Lalu pesan apa yang disampaikan oleh Tuan Han Tianba?" jawab pangeran Song Yunlei sekaligus menanyakan perihal pesan tersebut.
Pangeran Song Yunlei tentu saja sudah mengetahui mengenai pergantian dari pimpinan tertinggi aliansi aliran hitam dari sang iblis sejati Mogui Tugu yang diambil oleh pemimpin tertinggi gedung pembunuh daratan selatan Han Tianba.
Dia tidak mempermasalahkan sama sekali mengenai siapa pemimpinnya. Yang terpenting baginya adalah sekarang dia menjadi Kaisar Kekaisaran Song atau menjadi penguasa utama daratan barat.
"Tuan Han Tianba mengatakan bahwa pangeran harus segera mendatangi daratan selatan dalam waktu 7 bulan!" kata Yong Un.
"Oh? Ke daratan selatan lagi? Ada apakah Tuan Han Tianba mau minta aku untuk mendatanginya? Apakah dia akhirnya sudah memutuskan untuk mengobarkan perang terhadap aliran putih sebelum pemuda bertopeng separuh wajah atau Tuan Muda dari Klan Ling itu menyatukan mereka?" tanya pangeran Song Yunlei keheranan.
"Saya tidak tahu pangeran! Tapi yang jelas semua pemimpin yang tersisa dari aliansi aliran hitam diminta untuk datang dan merembukkan sesuatu!" jawab Yong Un sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah paman! Semoga dalam waktu yang singkat itu aku sudah sepenuhnya memulihkan diri dan menerobos kultivasiku!" ujar pangeran Song Yunlei pada akhirnya.
***
Ling Tian dan Mao An yang berada diatas pundak kanannya dengan tiduran malas melesat pergi meninggalkan Kota Hanleng atau Ibukota Kekaisaran Bing. Mereka berdua berniat menuju ke suatu tempat yang belum terjamah oleh manusia karena disebut sebagai wilayah terlarang yang sangat berbahaya.
Ya, begitulah Ling Tian. Dia justru merasa tertantang saat menemukan sebuah tempat yang berbahaya dan dijauhi oleh orang-orang. Dia ingin mengungkapkan alasan mengapa tempat itu dikatakan berbahaya dan meneliti apa saja yang ada didalamnya.
Sama dengan Tuannya, Mao An juga seperti itu. Terlebih saat ini kekuatannya sudah berada di ranah yang seharusnya ada di Alam Menengah. Berkat teknik penyamaran langit yang diberikan oleh Ling Tian, dia beserta seluruh pengikut Ling Tian dapat tidak terdeteksi oleh hukum ruang atau aturan dimensi di Benua Langit.
Ling Tian terus melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah utara dimana tempat yang dikatakan menjadi wilayah terlarang itu berada. Setahu orang-orang dari daratan utara, tempat itu dinyatakan sebagai wilayah terlarang karena memiliki suhu yang sangat rendah bahkan di bawah nol derajat celcius.
__ADS_1
Namun Ling Tian dan Mao An memiliki pendapat lain. Menurut mereka berdua kemungkinan ada suatu harta yang sangat berharga yang memiliki tipe es atau terdapat keberadaan seekor monster kuno yang hidup terasingkan atau tersegel.
Setelah menempuh perjalanan 3 minggu dengan kecepatan tingginya tanpa berhenti, akhirnya Ling Tian dan Mao An kini melihat sebuah kota kecil yang keberadaannya terjauh dari Kota Hanleng atau Ibukota Kekaisaran Bing. Kota ini juga adalah kota yang paling dekat dengan wilayah terlarang.
Ling Tian dan Mao An berniat untuk beristirahat di kota tersebut untuk beristirahat sekaligus memulihkan diri. Ya, sebenarnya hanya Ling Tian saja yang membutuhkan istirahat karena Mao An sejak awal hanyalah tiduran dengan malasnya di atas pundak kanan Ling Tian.
"Sudah terasa sangat lama sekali sejak aku memakan makanan hangat terskhir kalinya!" ucap Mao An tiba-tiba.
"Cih! Ini barulah tiga minggu kucing pemalas!" kata Ling Tian menanggapi ucapan saudaranya.
Setelah itu dia pun menukik turun dari atas langit menuju ke arah pintu gerbang kota. Beberapa prajurit yang memiliki kultivasi ranah Pendekar Besi dengan komandannya yang berada di ranah Pendekar Perak segera menghentikannya untuk memasuki kota.
"Berhenti! Siapa kau anak muda? Dan katakan apa tujuanmu mendatangi Kota Heibing?" tanya sang komandan prajurit.
Ling Tian langsung menangkupkan kedua tangannya untuk menunjukkan rasa hormat lalu kemudian dia menjawab,
"Saya hanyalah pengembara tuan komandan! Namaku Tian! Saya mendatangi kota ini hanya untuk beristirahat saja sebelum saya melanjutkan perjalanan!"
Ling Tian lalu memperlihatkan lencana khusus yang diberikan oleh Kaisar Bing Xuanzhi kepada komandan prajurit itu. Sontak sang komandan beserta seluruh prajuritnya itu sangat terkejut saat melihat lencana Ling Tian.
Mereka semua buru-buru ingin berlutut namun segera dihentikan oleh Ling Tian menggunakan kekuatan jiwanya.
"Tolong jangan bertindak menarik perhatian komandan! Jangan beritahu siapapun jika aku datang di kota ini! Aku tidak ingin keberadaanku terekspos! Cukup kalian saja yang mengetahuinya!" ucap Ling Tian sambil menyimpan kembali rencana tersebut dan mengeluarkan sejumlah koin platinum untuk seluruh prajurit.
"B-baik Tuan Muda! K-kami berjanji akan merahasiakan keberadaan Tuan Muda dengan nyawa kami!" ucapkan sang komandan prajurit dengan terburu-buru dan menangkupkan kedua tangannya untuk memperlihatkan rasa hormat kepada Ling Tian.
"Baiklah! Kalau begitu aku masuk dulu!" ucap Ling Tian lalu berjalan dengan santai memasuki Kota Heibing.
Dengan langkah kakinya yang tidak terburu-buru, Ling Tian melihat suasana Kota Heibing itu dengan tenang.
__ADS_1
"Heibing berarti es hitam? Nama kota yang cukup aneh!" ucap Ling Tian lirih.
"Benar!" ucap Mao An membenarkan.
Setelah berada di suatu tempat yang cukup sepi, Ling Tian kemudian mengeluarkan Chang Ming'er dari dalam dunia jiwa.
Swush...
Chang Ming'er muncul tepat dihadapan Ling Tian dan langsung memberikan hormatnya dengan menaklukkan kedua tangan.
"Salam Tuan Muda!" ucap Chang Ming sambil tersenyum ramah namun senyuman itu tiba-tiba menurun saat merasakan suhu di sekitarnya sangatlah rendah.
Ling Tian tersenyum melihat perubahan ekspresi dari wajah Chang Ming'er.
"Saat ini kita berada di Kota Heibing! Apa yang kamu ketahui tentang kota ini?" ucap Ling Tian bertanya kepada Chang Ming'er.
"Kota Heibing?" kata Chang Ming'er terkejut.
"Benar sekali!" angguk Ling Tian.
"T-tuan Muda! Jangan katakan jika Tuan Muda dan saudara Mao An akan mendatangi wilayah terlarang?" tanya Chang Ming'er dengan sedikit terbata.
"Begitulah! Itu memang tujuanku!" jawab impian dengan santai.
"Baiklah! Sekarang katakan apa yang kamu ketahui tentang kota ini sekaligus wilayah terlarang!" ujar Ling Tian lagi.
"Baik Tuan Muda!" ucap Chang Ming'er lalu mulai menjelaskan tentang Kota Heibing dan wilayah terlarang daratan utara.
____________________________________
__ADS_1
Maaf.. Hari ini cuma Up satu bab saja! Hehe..