
"Wah.. Kamu sungguh baik dan pengertian sekali saudaraku!" ucap Ling We sambil melihat keenam orang yang sebelumnya menyiksa dirinya hingga nyaris tewas.
"Baiklah.. Tolong jaga mereka sebentar! Aku ingin pulihkan sedikit tenagaku!" lanjut Ling We.
Ling We duduk lotus dengan tenang dan memulai berkultivasi untuk mengembalikan energi Qi miliknya. Meskipun udara disekitar tidaklah stabil dan terasa sangat tajam, Ling We tetap tenang dan melanjutkan kultivasinya.
Sementara Ling Tian menambahkan kekuatan aura tiraninya dan memfokuskan kepada keenam orang itu sehingga mereka tidak bisa bergerak sedikitpun dan merasakan siksaan yang luar biasa menyakitkan.
Setelah sepuluh menit, Ling We membuka matanya perlahan dan menarik nafas dalam-dalam secara perlahan.
"Haahhh.." Ling We menghempaskan nafas beratnya dan berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah selesai?" tanya Ling Tian.
"Hanya sepuluh persen! Tapi sudah cukup!" jawab Ling We.
Ling Tian hanya mengangguk faham sebagai balasan. Sementara Ling We langsung mengambil pedang miliknya yang dari dalam cincin penyimpanan. Itu disebabkan karena pedangnya yang sebelumnya tertinggal ditempat dimana dia dan Hitam Lima bertarung.
"Ahaaa.. Apa kabar kalian semua? Sehat wal afiat bukan? Hehehe.. Aku sudah katakan bahwa jika saudaraku datang pasti kalian akan sangat bahagia!" ucap Ling We dengan tersenyum menyeringai.
Dengan tenang Ling We berjalan mendekati Hitam Lima karena dialah orang yang membuatnya babak belur dan nyaris saja mati.
Ling We mengingat jelas kejadian sebelumnya, dia ditampar dengan sangat kuat oleh Hitam Lima dan giginya sampai rompal tiga biji. Ling We tidak bisa membayangkan jika dia tidak akan dilirik oleh para gadis sebab gigi-giginya yang ompong! Itu sudah cukup membuat Ling We emosi berat!
Beruntung Ling Tian mempunyai obat atau pil yang dia tidak tahu apa namanya yang bisa menyembuhkan luka dan menumbuhkan gigi-giginya yang mencolot keluar saat terkena tampar.
Pakaian Ling We yang compang-camping dan penuh dengan darah justru semakin menambah kengeriannya. Ling We saat ini benar-benar seperti iblis pembantai.
Seluruh tubuh Hitam Lima bergetar ketakutan dan keringat dingin mengalir dengan deras dari punggungnya.
"A-am-pun T-tu-an! J-ja-ngan b-unuh ak-ku!" ucap Hitam Lima dengan terbata-bata dan berat karena terus ditekan oleh aura tirani Ling Tian.
"Ooh.. Kamu adalah orang yang paling bersemangat menghajarku! Kamu juga tidak mau mendengarkan penjelasanku sebelumnya! Lalu kenapa aku harus mendengarkanmu?" ujar Ling We bertanya.
Hitam Lima tentu tidak bisa menjawab pertanyaan Ling We. Dia sangat menyesal tidak mau mendengarkan penjelasan Ling We sehingga saat ini dalam kondisi sangat memprihatinkan. Hitam Lima benar-benar sangat menyesal!
"Tidak bisa menjawab? Ah! Saudaraku telah memotong kaki kiri dan tangan kananmu! Baiklah.. Aku akan menggenapinya memotong tangan kiri dan kaki kananmu!" ucap Ling We.
Setelah mengatakan itu, Ling We dengan tanpa ragu mengayunkan pedangnya ke lengan kiri Hitam Lima hingga buntunglah lengan tersebut.
Craasshh...
"Aaakkhh..."
Teriakan memilukan keluar dari mulut Hitam Lima dan Ling We terlihat sangat menikmatinya. Darah Hitam Lima mengucur dengan deras dan membanjiri tanah dibawahnya. Bau amis yang menyengat segera tercium oleh Ling We dan lainnya.
"Bisa diam?" tanya Ling We.
Buak!
__ADS_1
"Ugh!"
Ling We menendang wajah Hitam Lima dengan sangat kuat dan terbanglah lima gigi dari mulut Hitam Lima.
Hitam Lima hanya bisa pasrah menerima dan tidak lagi bisa berteriak. Hal itu karena tanpa sengaja pada tendangan Ling We sebelumnya pita suaranya yang ada dibawah dagu ikut terkena.
"Nah.. Sekarang tinggal kaki kananmu!
Craasshh...
"Eenggghhh..."
Suara tertahan terdengar dari mulut Hitam Lima. Dia merasakan sakit yang luar biasa pada kaki kanannya yang telah buntung. Dia berusaha mengalirkan energi Qi untuk menetralisirkan sedikit rasa sakit dan menutup pendarahannya.
"Ohoho.. Sudah buntung semuanya ternyata! Jika aku menebas lehermu maka itu terlalu menyenangkan untukmu! Bagaimana dengan ini?" Ling We berjongkok.
Ling We mengganti senjatanya dengan sebuah pisau kecil lalu menguliti hidup-hidup Hitam Lima seperti kambing yang sudah disembelih. Kelima orang lainnya bergidik ngeri menyaksikan pemandangan menakjubkan itu tepat didepan matanya. Mereka berfikir apakah mereka juga akan merasakannya juga nanti.
Sementara Ling Tian hanya bisa memelototkan matanya karena melihat kesadisan Ling We.
'Kampret! Bocah itu benar-benar sangat kejam rupanya! Dasar psikopat gila!' gumam Ling Tian didalam hatinya.
Meskipun begitu, Ling Tian tidak menghentikan tindakan Ling We. Ling Tian sadar bahwa saudaranya ini pasti mempunyai sebuah alasan kuat sehingga melakukan hal yang sedemikian rupa.
Setelah dua puluh menit, Ling We telah berhasil menguliti Hitam Lima dan membunuhnya. Pisau kecil ditangannya kini berubah warna merah. Perasaan lega muncul dari hatinya yang sakit.
"Giliranmu!" ujar Ling We sambil berjalan mendekati Lian Kun.
Tuan Muda Lian Kun sangat ketakutan sampai-sampai mengompol di celana.
"Sial! Kamu itu jorok sekali! Sudah besar masih saja ngompol! Cih!" ucap Ling We.
Tuan Muda Lian Kun diangkat oleh Ling We dengan kerah bajunya yang dicengkram.
"Kamu tadi telah menamparku! Kini tiba juga gilirannya dirimu merasakan bagaimana rasanya ditampar!" ucap Ling We sambil mengangkat tangannya bersiap untuk menampar.
"J-jang-an T-tuan M-muda! Am-puni aku!" ucap Tuan Muda Lian Kun.
"Lagi-lagi meminta pengampunan saat sudah tidak berdaya! Dasar tidak tahu diri!" jawab Ling We.
Plak!
"Ini untukmu yang tidak tahu diri!" ucap Ling We setelah menampar Lian Kun.
Plak!
"Ini untuk orang yang menuduh tanpa alasan!"
Plak!
__ADS_1
"Ini untuk orang yang sok berkuasa!"
Plak!
"Ini balasan untukmu yang menindas orang yang lebih lemah!"
Plak!
"Ini untuk orang yang menyiksa tanpa tau sebabnya!"
Plak!
"Ini balasan atas tamparanmu sebelumnya!"
Plak!
Plak! Plak! Plak!
Plak! Plak!
Plak!
Ling We terus menampar wajah Tuan Muda Lian dan mengatakan alasan mengapa dirinya menampar tanpa memperdulikan wajah Tuan Muda Lian Kun yang sudah tak berbentuk lagi. Hampir seluruh gigi milik Lian Kun copot karena kerasnya Ling We menampar.
"Oi.. Oi.. Saudaraku! Jangan sampai kamu membunuhnya dahulu! Aku masih sedikit membutuhkan bajing*an kecil itu!" ucap Ling Tian dengan separuh berteriak.
Ling We menghentikan tamparannya dan melihat kearah Ling Tian.
"Kamu masih membutuhkan cecunguk ini?" tanya Ling We memastikan.
"Tentu saja! Jangan sampai membunuhnya terlebih dahulu!" jawab Ling Tian dengan tenang.
"Baiklah.." kata Ling We.
Plaakkkk!
"Dan ini untuk kekesalanku pribadi!"
Bruk!
Ling We menyudahi menampar Tuan Muda Lian Kun dan menjatuhkannya begitu saja seperti sampah tidak berguna.
"Aagh.."
Tuan Muda Lian Kun hanya bisa merintih menahan rasa sakit yang dia rasakan. Sementara Ling Tian segera mendekatinya.
"Jadilah pribadi yang baik dikehidupan selanjutnya jika kamu mati setelah ini!" ucap Ling Tian dan mencengkram kepala Tuan Muda Lian Kun.
"Serap!"
__ADS_1