
Tuchi dan semua prajurit penjaga desanya dengan tergesa-gesa. Mereka tidak ingin terlambat sebentar pun karena takut akan terjadi hal tidak baik dengan prajuritnya yang ada dipintu gerbang.
Sesampainya di gerbang desa, Tuchi sang kepala desa sudah melihat puluhan prajuritnya sedang berhadapan dan saling tatapan dengan ratusan pria berbadan kekar dan berwajah sangar.
Diantara mereka ada yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Emas dan ranah Pendekar Platinum Awal yang menjadi pemimpinnya. Seketika para prajurit penjaga desa langsung ketar-ketir dibuatnya. Mereka tidak mungkin melawan para bandit yang lebih kuat daripada mereka.
Para prajurit hanya umpama semut bagi pemimpin bandit. Tuchi sang kepala desa maju beberapa langkah untuk bertanya perihal kedatangan mereka meski sudah tahu bahwa mereka adalah para bandit yang kejam dan suka menjarah desa-desa.
"Mohon maaf Tuan-tuan sekalian! Aku adalah Tuchi, Kepala Desa Chugu! Jika boleh tahu ada gerangan apa para Tuan-tuan ini datang ke desa kami dengan membawa rombongan besar dan sejata seperti itu?"
"Hahaha.."
Sang pemimpin bandit tertawa terbahak-bahak yang langsung diikuti oleh anak buahnya.
"Tentu saja kami menginginkan harta dan gadis-gadis muda kalian! Serahkan semuanya kepada kami! Maka kami akan mengampuni nyawan kalian!" ujar sang pemimpin bandit.
Tuchi tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh pemimpin bandit karena memang dia sudah tahu jawabannya akan seperti itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebegai tanda tidak puas dengan para bandit yang mana mereka adalah para kultivator yang seharusnya menggunakan kekuatannya untuk membantu atau menolong yang lebih lemah, akan tetapi mereka justru menggunakannya untuk tindak kriminal.
"Mohon maaf jika begitu kami dengan terpaksa menolak! Kami lebih baik mati daripada menyerahkan kehormatan atau tiang desa kami!" ujar Tuchi dengan tanpa ragu.
Dia mengatakan bahwa para wanita adalah tiang dari desanya. Dan memang itu adalah benar adanya! Jika disuatu daerah wanita-wanitanya baik dan bagus pekertinya, maka pasti didaerah tersebut akan baik secara keseluruhannya.
Namun sebaliknya, jika para wanitanya buruk tingkah dan pekertinya, maka sudah dipastikan daerah tersebut akan rusak dan kacau balau. Oleh sebab itu Tuchi sang kepala desa mengatakan wanita adalah tiang atau cagak dari desanya. Sungguh pemimpin yang sangat luas pengetahuan dan kebijakannya!
Pemimpin bandit itu hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan dari Tuchi sang kepala desa. Dia tidak akan mendengarkan apapun alasan dari kepala desa ataupun yang lainnya. Yang terpenting baginya adalah harta, tahta dan wanita untuk menyenangkan hasratnya.
"Jika kalian menolak! Maka.. Serang dan habisi semuanya!" seru pemimpin bandit memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Serang!" teriak para bandit secara bersamaan lalu bergerak untuk menghabisi para prajurit serta kepala desa Tuchi.
"Jika sampai kami mati, kami mengutuk kalian akan mati lebih mengerikan daripada kami nanti! Serang!" teriak kepala desa Tuchi.
__ADS_1
"Serang!" teriak para prajurit dengan tanpa gentar sedikit pun.
.
.
Sementara dari atas langit, Ling Tian dan Mao An mengangguk dengan puas mendengarkan ucaoanndari sang kepala desa. Mereka berdua sudah sangat lama tidak menemukan pemimpin desa yang memiliki sastra dan pengetahuan yang sama seperti kepala desa, Tuchi.
Keduanya sudah mantab untuk menolong para warga Desa Chugu ini. Disaat semua orang dibawahnya sudah mulai bergerak untuk saling bunuh, Ling Tian melihat kearah Mao An.
"Habisi secara cepat dan sisakan pemimpin banditnya saja dengan kultivasi hancur!" ujar Ling Tian sambil mengeluarkan pedang pusaka putih pemberian Patriark Yi Sun Sang.
Pedang ini adalah pedang yang paling sering dipakai oleh Ling Tian. Hal itu karena pedang ini adalah pusaka pertama yang dimilikinya disaat dia masih belum memiliki Qi. Jika Patriark Yi atau Tetua Yi Bei tahu bahwa pedang pemberian mereka menjadi pedang favorit Ling Tian, mereka pastilah akan senang dan merasa puas dengan pemberian kecilnya pada saat itu.
"Dengan senang hati!" jawab Mao An sambil tersenyum.
Zheep! Zheep!
"Tidak perlu menunggu kalian warga Desa Chugu mati! Tapi sekarang juga para bandit itu sudah kejatuhan kutukan kalian!" seru Mao An disela dirinya menyerang para bandit.
Mendengar seruan dari Mao An, kepala desa Tuchi dan para prajuritnya langsung menghentikan langkahnya karena setelahnya mereka terkejut dengan apa yang terjadi kepada para bandit yang akan menjarah Desa Chugu.
Srak! Srak! Srak!
Srak! Srak!
Srak!
Hanya suara itu yang terdengar dari gerakan mereka berdua. Disaat yang sama pula sebuah kepala atau potongan akan langsung jatuh ditanah dengan darah membanjir kemana-mana.
Mao An dengan serangan cakarnya terus mengayunkan tangannya lalu berpindah ketempat lain kemudian mengayunkan tangannya kembali. Setiap ayunan tangannya maka satu orang dari komplotan bandit itu terjatuh dengan kepala hilang atau tubuh terpotong-potong.
__ADS_1
Kejadian itu berlangsung hanya dalam waktu sepuluh detik saja saat akhirnya Mao An mengakhiri serangannya dengan menghantam dantian pemimpin bandit lalu mencikiknya dengan sangat kuat.
Ling Tian juga sudah selesai dengan urusannya. Pedang pusaka putihnya kini menjadi merah karena berlumuran dengan darah. Dia dan Mao An saling tatap sejenak lalu memalingkannya melihat para prajurit dan kepala desa Tuchi.
Tubuh semua orang itu menjadi merinding saat mereka ditatap dengan senyuman oleh kedua orang yang tidak dikenal itu. Terlebih saat Ling Tian mengibaskan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel pada pedang membuat mereka secara reflek mundur satu langkah.
Namun yang tidak diketahui oleh kepala desa dan para prajurit adalah dua diantara mereka sudah ada yang mengenal kedua orang yang menghabisi para bandit itu. Mereka berdua tentu adalah dua penjaga gerbang Desa Chugu yang menyambut kedatangan Ling Tian dan Mao An sebelumnya.
Satu diantaranya saat ini bergetar seluruh tubuhnya karena ketakutan. Sebab sebelumnya dia yang oernah merasakan aura tiran mengerikan dari Mao An.
Ling Tian dan Mao An mendekat kearah kepala desa Tuchi dengan senyuman ramahnya yang membuat sang kepala desa itu sedikit lebih tenang. Setelah itu Mao An melemparkan tubuh pemimpin bandit yang kini telah menjadi sampah dan tidak memiliki kekuatan apapun kedepan kepala desa Tuchi.
"Aakkhh.." teriak sang pemimpin bandit.
"Tuan kepala desa! Maaf sebelumnya karena telah mengejutkan kalian! Kami hanya ingin membantu kalian saja! Kami tidak akan rela jika orang-orang terbaik seperti kalian dibinasakan oleh orang biadab seperti dia!" ucap Ling Tian sambil menunjuki kearah pemimpin bandit.
"Dan sekarang kami serahkan dia kepada Tuan kepala desa untuk kalian adili!" lanjutnya.
"T-tuan Muda dan senior! Siapa sebenarnya kalian? Mengapa kalian yang para kultivator kuat sudi membantu kami?" tanya sang kepala desa Tuchi.
"Seperti yang Tuan Mudaku katakan! Kami hanya tidak ingin ada orang sebaik kalian yang berani mati membela kehormatan keluarga tersia-sia dengan mati begitu saja oleh para bandit ini! Dan untuk tentang siapa kami, kami hanyalah para pengembara yang sedang mencari pengalaman saja!" jawab Mao An menjelaskan.
"Baiklah.. Jika begitu, kami pergi terlebih dahulu! Kami harus melanjutkan perjalanan!" ucap Ling Tian yang berniat untuk pamit. Dia dan Mao An sudah melayang diatas udara dan bersiap untuk pergi.
"T-tuan Muda dan Senior! Jika boleh tahu.. Siapakan nama kalian?" tanya kepala desa Tuchi.
"Namaku Mao An! Dan Tuan Mudaku adalah Ling Tian!" jawab Mao An lalu menghilang bersama dengan Ling Tian.
Brruukkk!
Semua orang langsung menjatuhkan dirinya untuk berlutut kearah dimana Ling Tian dan Mao An menghilang. Diantara mereka tidak ada yang tidak menangis karena haru. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang menegakkan keadilan dan menjalankan kutukan mereka untuk para bandit adalah Tuan Muda dari Klan Ling yang pernah berkuasa diseluruh daratan.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan Muda Ling!" ucap semua orang dengan tulus dan mata yang sembab.