
"Aaakkhh.. Sialan! Matilah!" teriak pria paruh baya itu sambil menusukkan tombak pusakanya kearah titik lemah Ling Tian.
Boommm...
Ledakan dahsyat terjadi saat serangan itu menghantam sasaran yang dibidiknya.
"Hahaha.. Selamat tua bangka! Anda telah menyerang ruang kosong! Lihatlah.. Woy lihat! Aku disini! Bukan disana!" seru Ling Tian dengan tertawa mengejek yang tiba-tiba muncul ditempat lain.
"Apaaa! Tidak mungkin!" ucap pria paruh baya.
"Tua bangka! Sudah aku katakan bahwa kau itu sangat lambat seperti keong! Baiklah.. Sekarang giliranku menyerang!" ucap Ling Tian lalu mengedarkan elemenitas bayangannya. Dia memindah pedang pusaka tingkat putih pada tangan kirinya lalu menghilang dari tempat.
Zheep!
Plaakk!
Swush... Boommmm...
Sebuah tamparan keras bergema dengan nyaring dan menerbangkan pria paruh baya sejauh ratusan meter lalu berakhir dengan tubuhnya menghantam tanah dengan keras setelah menabrak beberapa pohon besar hingga merobohkannya.
"Ukhuk!"
Pria paruh baya itu batuk darah dan meludahkannya.
Zhepp!
Ling Tian muncul beberapa meter dari pria baya tersebut dengan senyuman menyeringainya.
"Ternyata gigimu melekat pada rahang dengan sangat kuat! Baiklah.. Aku akan mencabutnya satu persatu! Namun sebelum itu aku akan menghajarmu terlebih dahulu karena kau telah membuat Tuan Muda ini sedikit berkeringat an kotor!" ucap Ling Tian lalu kembali menghilang dari pandangan.
Zheepp!
Buak! Bamm...
Plaak!
Bammm... Bak! Buk!
Buak! Bammm...
Ling Tian terus menghajar pria paruh baya itu dengan tanpa ampun. Tinjuan, tendangan bahkan tamparan
"Aakkhh.. Keparat!" teriak pria baya itu sangat marah lalu ledakan aura sangat kuat terpancar dari tubuhnya.
Tombak pusaka yang dia pegang sebelumnya terlepas dari genggaman tangannya yang dengan cepat Ling Tian raih dan simpan dalam cincin penyimpanan miliknya. Ling Tian mundur puluhan meter karena merasakan tanda bahaya jika terus didekat pria paruh baya itu.
"Aaakkhh.. Bajing*n! Aku akan membunuhmu!" teriak marah pria paruh baya lalu bertransformasi menjadi ular berkepala tiga raksasa dan bergerak sangat cepat menyerang Ling Tian secara membabi-buta.
__ADS_1
Dengan serangan berupa semburan racun atau gigitan dari ketiga kepala dan sabetan dari ekor membuat Ling Tian sedikit kewalahan.
Boommm... Boommm...
Ledakan demi ledakan terus terjadi saat hantaman ekor sang ular mengenai area sekitar dan menghancurkannya.
"Sssssshh.."
Ular kepala tiga itu mendesis dengan keras lalu memuntahkan bola energi dari kepalanya yang tengah melemparkan ke arah Ling Tian.
Buummmmmm...
Ledakan maha dahsyat mengguncang bumi disekitar seketika membuat Ling Tian tersadar akan suatu hal.
"Oh tidak! Suara pertempuran ini bisa memanggil kekuatan yang lain! Aku harus cepat memberaskannya!" ucapnya lalu mengerahkan segenap kemampuannya.
Zhep!
Ling Tian menghilang dari jangkauan penglihatan sang ular. Bahkan aura keberadaannya tidak terdeteksi sama sekali membuat ular berkepala tiga itu menjadi sangat waspada.
Ular kepala tiga mengitari pandangannya kesegala arah dengan harapan menemukan keberadaan Ling Tian.
Disaat ular kepala tiga itu kebingungan karena kehilangan jejak sang lawan, tiba-tiba dari arah belakang dia merasakan suhu yang sangat dingin mengitari lehernya. Dengan sigap ular kepala tiga membalik badan dan memuntahkan bola energi.
Blaarrrr!
Ledakan sangat keras terjadi saat bola energi yang dimuntahkan ular kepala tiga bertabrakan dengan bilah angin berbentuk bulan sabit yang diselimuti dengan niat pedang yang sangat mengerikan.
"Melihat kemana kau ular jelek?!"
Tiba-tiba suara Ling Tian terdengar dari arah kiri ular tersebut dan serangan berupa bilah pedang berbentuk bulan sabit menghampirinya.
Swoooshh...
Sang ular berusaha untuk menghindarinya namun karena jaraknya dengan Ling Tian begitu dekat maka dia sudah terlambat.
Sraaak!
"Sssssshhhh.."
Ular itu mendesis sangat keras karena merasa sakit yang teramat saat salah satu kepalanya yang bagian kiri terpotong dengan rapi. Darah segar berwarna merah kehijauan dengan bau yang sangat menyengat membanjiri area pertempuran.
"Ssssshhh.."
Sekali lagi ular kepala tiga yang sekarang menjadi ular kepala dua mendesis dengan keras hingga Ling Tian yang sedang bersembunyi dengan elemen bayangannya harus melindungi gendang telinganya supaya tidak terluka.
Wusshh... Wusshh...
__ADS_1
Wusshh...
Ular itu menembakkan racunnya kesegala arah berharap Ling Tian yang kembali menghilang dari jangkauan penglihatan keluar dari tempat persembunyiannya.
Sementara orang yang dituju dari serangan racun yang mematikan itu atau Ling Tian sudah menjauh dari jarak aman dan duduk santai diatas sebuah batu sambil melihat sang ular yang sedang mengamuk.
'Ular ini sangat ganas! Tapi aku yakin transformasinya tidak akan bertahan lebih lama!' gumam Ling Tian dalam hati.
Dan benar saja! Setelah beberapa saat setelah ular itu berhenti menyemburkan serangan racun, dia kembali dalam bentuk manusia atau pria paruh baya yang terluka parah dan dalam kondisi berlutut.
Zhep!
Ling Tian segera berdiri dari tempatnya duduk lalu pergi menghampiri pria paruh baya dan memberikan serangan kejut berupa tebasan pedang.
Srak!
"Aakkhh.. Keparat!" teriak pria paruh baya kesakitan.
Pria paruh baya itu hanya bisa merelakan tangan kanannya yang terpotong karena menghindar adalah suatu kemustahilan baginya. Dengan cepat dia mengedarkan energi Qi yang tersisa untuk menghentikan pendarahan.
Belum selesai dia menghentikan pendarahannya, Ling Tian tiba-tiba muncul disebelah kanannya dan memberikan pukulan keras untuknya pada bagian wajah.
Baammm...
Sekitar tiga gigi pria paruh baya tanggal dan terbang entah kemana.
"Ukhuk! Ukhuk!" pria paruh baya batuk darah.
Ling Tian lalu muncul lagi tepat didepan pria paruh baya. Dengan sisa kekuatan yang ada dia bangkit dengan cepat dan berniat menyerang Ling Tian dengan tangan kirinya.
Namun hal itu hanyalah menjadi angan saja karena Ling Tian tiba dan mencengkram lehernya sangat kuat meski dengan tangan kiri.
"Uughh.."
Hanya suara itu yang bisa pria paruh baya itu keluarkan dari mulutnya. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cekikan Ling Tian yang sangat kuat.
Ling Tian menyimpan pedang pusaka tingkat putihnya kedalam cincin penyimpanan lalu dengan tanpa kode langsung menghujani pria paruh baya dengan tamparan.
Plaak! Plaak! Plaak!
Suara tamparan beruntun menggema dengan sangat keras membuat Mao An yang sedang menyeret kedua pemuda nakal dengan kuping dijewer menghentikan langkahnya. Ketiganya secara reflek melihat kearah dimana sumber suara tamparan itu berasal.
"Sangat kuat dan kejam!" ucap kedua pemuda dari ras ular kepala tiga itu tanpa sadar. Bahkan mereka berdua sampai lupa dengan rasa sakit yang sedang mereka alami sendiri dengan siksaan yang Mao An berikan.
"Haaiih.. Kalian harusnya memikirkan diri kalian sendiri!" Mao An hanya menghela nafas panjangnya lalu kembali menyeret kedua pemuda itu dengan kuping terjewer.
Kedua pemuda itu segera tersadar dan langsung menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Aaakkhh.. Tuan! Ampun Tuan! Sakit!"
"Tidaak! Telingakuu! Tidaak!"