
Ling Tian dan Long Yuan berjalan dengan santai menuju gedung Paviliun Harta Karun, tempat dimana pelalangan agung diadakan.
Mereka berdua menikmati hiruk-pikuk keramaian yang ada. Berbagai macam jenis wajah manusia berkumpul disatu tempat demi sebuah sumber daya.
Banyak orang-orang dari luar Kekaisaran Wei juga ikut andil dalam perebutan buah anggur putih abadi. Berbagai macam kekuatan mulai dari individu sampai kelompok seperti sekte-sekte, entah beraliran putih atau hitam, semua menyatu disatu tempat, Kota Awan.
Ling Tian juga melihat ada beberapa orang yang pernah dikenalnya selerti anggota Klan Yi juga ikut hadir. Namun dengan memakai topeng hitam setengah wajah tak ada yang mengenalinya sama sekali.
"Hmm.. Aku mencium bau saudara Wei disini! Keluarlah saudaraku! Aku tahu kau sedang bersembunyi!" kata Long Yuan.
Zheep!
"Ahahaha.. Memang penciuman cacing biru kecil tidak bisa dianggap remeh sama sekali!" ujar Wei Hun setelah muncul dari kehampaan.
"Sialan kau saudara Wei! Jangan kau sebut kata-kata itu lagi!" gerutu Long Yuan.
"Ooh.. Salam senior Wei. Anda datang juga rupanya!" kata Ling Tian tersenyum lebar.
"Tentu saja! Siapa yang tidak mau menghadiri pesta agung buatan kalian ini! Hahaha.." ungkap Wei Hun.
__ADS_1
"Jadi senior Wei tahu bahwa pelelangan ini gempar karena kami?" tanya Ling Tian.
"Tentu saja! Tidak ada sejarahnya buah abadi ada di Benua Langit ini. Namun dari auranya yang sedikit tersisa darimu, aku yakin buah abadi itu milikmu!" jawab Wei Hun yakin.
"Haahh.. Tidak ada yang bisa kami sembunyikan dari senior Wei," desah Ling Tian.
"Oiya senior Wei. Mari ikut bersama kami sekalian. Kami sudah punya kartu masuk lelang!" lanjutnya mengajak Wei Hun.
"Baik" jawab Wei Hun.
Wei Hun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ling Tian dan Long Yuan. Sebenarnya Wei Hun sudah mempunyai kartu masuk VIP atas nama Leluhur Kekaisaran Wei. Dia awalnya datang juga karena menginginkan buah abadi untuk bisa menembus kekuatan diatas ranah Pendekar Berlian, namun dia tidak menyangka bahwa buah abadi itu adalah milik bocah yang dilatihnya selama dua tahun setengah ini.
Mereka bertiga akhirnya sampai didepan gedung Paviliun Harta Karun. Terdapat antrean yang sangat panjang seperti naga yang menjalar tak melingkar.
Namun begitu, Manajer Ma Huang bukanlah orang bodoh yang tak mengenali aura Ling Tian dan Long Yuan. Dia bersama pria tua lain dengan cepat mendatangi ketiga orang yang baru sampai dan menyambutnya dengan sangat ramah membuat para pengunjung lain dari berbagai arah benua berbisik-bisik.
"Siapa ketiga orang itu, bahkan Pemimpin Paviliun Ma Rong dan Manajer Ma Huang sendiri yang menyambutnya sendiri?"
"Aku tidak tahu! Apalagi dari kedua orang itu memakai topeng!"
__ADS_1
"Tapi sepertinya mereka terlihat masih sangat muda?"
"Kau benar! Dari separuh wajah yang terlihat, mereka memang terlihat masih cukup muda! Namun sungguh mengherankan, sampai membuat pemimpin Ma Rong menyambutnya secara pribadi! Bahkan sebelumnya Yang Mulia Kaisar Sujin tidak mendapat hak seperti ketiga orang itu!"
"Mungkin saja mereka dari kelompok tersembunyi dibalik layar Paviliun Harta Karun?"
"Mungkin Saja!"
Ling Tian, Long Yuan dan Wei Hun tidak menggubris ocehan para pengunjung lain. Dia berfokus melihat dua pria paruh baya yang berjalan tergopoh-gopoh menuju kearah mereka untuk memberi sambutan kedatangan.
"Selamat datang kembali di Paviliun kami tuan-tuan!" ucap Ma Huan.
"Ahh.. Selamat datang kembali Manajer Ma! Sepertinya pesta lelang nanti akanlah sangat meriah!" ungkap Ling Tian jujur.
"Hahaha.. Tuan muda bisa saja! Oiya, perkenalkan beliau Ma Rong, pemimpin pusat Paviliun Harta Karun di wilayah tengah!" ujar Manajer Ma memperkenalkan pemimpinnya.
"Ooh.. Salam kenal pemimpin Ma Rong!" ucap Ling Tian ramah.
"Salam tuan muda. Aku sudah mendengar banyak tentang tuan muda dari Ma Huang. Namun sebelum itu, begitu tidak sopannya kami jika tamu kehormatan kami dibiarkan berdiri saja disini dan tidak diajak masuk! Mari tuan muda, tuan-tuan!" ajak Ma Rong.
__ADS_1
"Ahaha... Baiklah.. mari-mari!" kata Ling Tian.