Ling Tian

Ling Tian
Daratan Barat 8


__ADS_3

Semua orang secara reflek langsung memundurkan badan mereka untuk menjaga jarak dari salah satu pemuda berjubah hitam bertopeng separuh wajah. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang membuat kekacauan itu memiliki kekuatan yang luar biasa cepat sehingga tidak ada satu orang pun di antara mereka yang menyadari gerakannya.


"Bukankah sudah aku katakan bahwa kedatangan kami berurusan dengan pemimpin kalian yang lemah itu? Kami ingin membuat perhitungan dengannya karena dengan keberadaannya membuat kelompok bandit kelabang kuning, kelompok kami menjadi dirugikan!" kata Ling Tian dengan dingin sembari menatap tajam ke arah orang-orang yang datang paling awal.


***


Di tempat lain di sebuah aula yang ada di satu-satunya bangunan yang berdiri tegak di kawasan pemukiman para anggota perampok atau bandit kelabang kuning, seorang pria sedang duduk di atas kursi singgasananya dengan beberapa orang yang memiliki aura kultivasi ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 9 hingga Pendekar Berlian Akhir Bintang 1.


"Jadi, siapa sebenarnya yang berani membuat kekacauan di markas bandit kelabang kuning kita?" tanya pria yang duduk di atas kursi singgasana itu yang tidak lain adalah pemimpin dari para bandit kelabang kuning.


"Kami tidak tahu pemimpin! Dari informasi yang dikirim oleh salah satu dari orang yang meminta bantuan, mereka hanyalah dua orang namun memiliki kultivasi ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 9," jawab salah satu diantara kultivator yang berada di ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 9.


"Hanya dua orang ya? Hm.. Mereka ternyata hanyalah orang nekat saja!" kata sang pemimpin bandit.


"Benar pemimpin!" angguk anak buahnya.


"Tapi meskipun begitu, kamu pergilah dan lihatlah kemampuan yang dimiliki kedua orang nekat itu. Jika memang mereka layak, maka aku akan dengan senang hati menghadapi mereka!" kata sang pemimpin bandit kelabang kuning.


"Baik pemimpin. Saya pergi dulu!" ucap si anak buah lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu untuk melihat apakah memang benar keduanya cukup layak untuk beradab dengan pemimpin para bandit kelabang kuning.


Beberapa menit kemudian anak buah yang merupakan salah satu orang kepercayaan dari pemimpin bandit itu pun kembali lagi ke tempat di mana sang pemimpin itu berada.


"Salam pemimpin!" ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya untuk memberikan penghormatan.


"Ya! Katakan bagaimana menurut penilaianmu tentang mereka!" ucap sang pemimpin bandit kelabang kuning.

__ADS_1


"Mereka adalah utusan yang berasal dari kelompok lain yang merasa dirugikan oleh kelompok kita. Lalu mengenai kekuatan yang dimiliki, salah satu diantara keduanya memiliki kecepatan yang di luar nalar pemimpin," jawab si anak buah.


"Hoo.. Benarkah begitu? Sangat jarang sekali kamu memuji orang lain jenderal kanan!" ujar sang pemimpin bandit sembari tersenyum penuh arti dan ketertarikan akan pertarungannya dengan kedua tamu tak diundang itu.


"Itu karena memang kecepatannya sangat abnormal sekali pemimpin! Aku harap pemimpin juga berhati-hati jika berhadapan dengan kultivator yang memiliki kecepatan itu," kata si anak buah yang ternyata adalah jenderal kanan dari kelompok bandit kelabang kuning.


"Apa kau meremehkanku jenderal kanan?" tanya sang pemimpin bandit sembari mengangkat satu alisnya.


"Aku sama sekali tidak meremehkan anda, pemimpin! Namun aku hanya menyarankan agar anda berhati-hati dan waspada kepada kultivator itu," ujar sang jenderal kanan sambil menangkupkan kedua tangannya untuk menunjukkan akan ketulusannya.


"Hmm.. Baiklah.. Mari kita lihat, apa memang benar mereka memiliki kemampuan untuk menghadapiku!" kata sang pemimpin bandit sembari berdiri dari kursi atau singgasananya.


Mereka semua yang ada di tempat itu berjumlah 30 orang mengikuti sang pemimpin bandit keluar untuk melihat dua orang yang membuat kekacauan di tempat atau markas mereka.


***


Sebelumnya Ling Tian juga merasakan bahwa salah satu dari kultivator tingkat tinggi para bandit kelabang kuning ada yang menyelinap di balik bayangan sembari memantaunya. Namun sebelum Ling Tian menindaki kultivator itu, dia sudah kembali menjauh dan menghilang dari pemantauannya.


"Kalian semua tidak terima? Maju dan hadapi aku!" ucapnya dengan arogan sembari mengeluarkan pedang pusaka tingkat putih pemberian dari Patriark Yi Sun Sang dan mengacungkannya ke arah para bandit.


"Bajing*n! Lama-lama kau semakin berani saja! Semuanya, bunuh kultivator bangs*t itu!" seru kultivator yang memiliki ranah kultivasi Pendekar Berlian Menengah.


"Bunuh!" seru semua bandit dan bergerak untuk menyerang Ling Tian dan Mao An.


Ling Tian langsung membuat kuda-kuda bela diri untuk bersiap menahan gempuran dari para bandit. Sementara Mao An, dia langsung tersenyum bahagia dan mengeluarkan tombak kesayangan miliknya dari dalam cincin penyimpanannya.

__ADS_1


"Majulah kalian para semut!" ucap Mao An sambil menyiapkan kuda-kuda beladiri.


Para bandit yang memiliki tingkatan kultivasi ranah Pendekar Besi hingga Pendekar Emas itu menyerbu Ling Tian dan Mao An layaknya seperti segerombolan semut kelaparan yang tiba-tiba dijatuhi sebuah gula.


"Hehehe.. Berhubung sebelumnya aku mengatakan bahwa kalian adalah para semut, maka dengan senang hati aku akan membakar kalian semua!" seru Mao An lalu membuat gerakan memutar tombaknya dan terbang melayang di atas udara.


Swuuush... Swuuush...


Mao An terbang dengan tombak memutar seperti helikopter lalu secara perlahan sebuah api berwarna hitam dengan suhu panas yang luar biasa muncul dari tombaknya itu kemudian menyimpan ke segala penjuru dan mengenai para bandit yang bergerak mendekatinya.


"Aaakkhh.." "Aaakkhh.."


"Aaakkhh.. Tidak! Panaaas!"


"Aakkhh.. Toloooong.. Mamakee, bapakeee! Aku kebakar! Tuluuung.."


"Aaakkhh.."


Seketika itu juga ratusan teriakan memilukan hati segera terdengar dari para bandit yang terciprat oleh api hitam yang muncul dari tombak Mao An yang berputar-putar.


"Hehehe.. Ini adalah gaya baru terkeren yang aku lakukan! Huh! Aku memang jenius! Hahaha.." ucap Mao An sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa bahwa cara bertarungnya ini sangatlah keren sekali.


"Ayo maju dan mendekatlah wahai para semut! Aku akan dengan senang hati membakar kalian semua! Hahaha.." teriak Mao An dengan tawanya yang menjijikkan.


Di sisi lain, Ling Tian yang mendapati dirinya terkepung oleh ratusan para bandit, dia tetap bersikap tenang dan mengayunkan pedang pusaka tingkat putihnya untuk membunuh para bandit yang bergerak mendekatinya menggunakan teknik pedang Klan Yi.

__ADS_1


Meskipun cara yang dilakukan oleh Ling Tian tidaklah seekstrem yang dilakukan Mao An, akan tetapi dengan kecepatan yang dia miliki, Ling Tian dapat membunuh bahkan sampai dengan 5 orang di setiap satu tebasan pedangnya.


Hal itu membuat dirinya layaknya seorang pendekar pedang terkutuk yang memiliki kepribadian suka membunuh. Padahal jika saja mereka mengetahui bahwa Ling Tian dan Mao An sedang melakukan perlombaan atau kompetensi untuk perolehan terbanyak dalam membunuh para bandit, mereka pasti akan langsung muntah darah karena nyawa mereka sama sekali tidaklah dianggap penting oleh dua orang ini.


__ADS_2