Ling Tian

Ling Tian
Turnamen 9


__ADS_3

"Lihatlah bocah-bocahmu itu Patriark Hong, Patriark Xuan! Hahaha.. Mereka malah sibuk bertengkar sampai-sampai membiarkan buruannya kabur!" ucap salah satu Tetua Klan mengejek kekonyolan Xuan Ji dan Hong Lie.


"Hahaha.. Sungguh kekonyolan yang tiada banding! Aku juga ikut terhibur!" tambah Patriark dari Klan lainnya.


Patriark Xuan dan Patriark Hong hanya bisa terdiam dan tidak membalas apapun. Mereka benar-benar ingin menangis sekarang atau pergi kebelakang panggung lalu mengubur diri mereka sendiri.


***


Penjara ilusi jiwa.


Disaat Xuan Ji dan Hong Lie sedang bertengkar karena memperdebatkan sengaja atau tidak sengajanya Hong Lie membunuh buruan Xuan Ji, di area bagian tengah penjara ilusi jiwa atau tempat babak kedua dilaksanakan, seorang pemuda tampan sedang duduk santai diatas sebuah ranting pohon yang sangat besar sembari menyaksikan dua orang peserta yang saling serang demi memperebutkan poin.


Pemuda itu tersenyum dengan sinis kepada kedua peserta itu dan memikirkan beberapa rencana.


'Tuan Muda Ling Tian mengatakan bahwa merebut poin dari peserta lain tidaklah masalah! Maka dengan ini...' pemuda itu memotong gumamannya dan tersenyum menyeringai.


'Teruslah berebut hingga salah satu dari kalian tereliminasi! Setelah itu giliranku mendupak pemenang kalian agar adil! Kekeke..' lanjutnya sambil tertawa kecil alias cekikikan. Pemuda itu kemudian memakai sebuah topeng untuk terlihat lebih misterius dan tidak dikenali oleh calon korbannya.


Setelah menunggu hampir setengah jam lebih, akhirnya salah satu dari kedua orang yang bertarung terbunuh dan melebur menjadi udara tipis tanda dia telah tereliminasi. Si pemenang tampak sangat kelelahan. Namun dari lelahnya itu dia menyunggingkan senyum kepuasan karena telah memenangkan pertarungan dengan musuh bebuyutannya di dunia nyata.


Si pemenang menarik nafasnya berulang kali untuk menyetabilkan jantungnya yang lumayan berdetak dengan cepat. Setelah beberapa saat, si pemenang sudah bisa mengontrol detak jantung dan sirkulasi darahnya seperti sedia kala. Dia bangkit dari tempatnya duduk dan berniat untuk pergi. Namun tiba-tiba dia dikejutkan oleh pemuda bertopeng yang menghentikannya.


Plok! Plok! Plok!


Pemuda bertopeng bertepuk tangan kepada si pemenang yang entah apa maksudnya tiada yang tahu.


"Menyerah atau mati dengan mengenaskan!" ucap pemuda bertopeng.


"S-siapa kau?" tanya si pemenang dengan terbata-bata. Sial! Sial! Sial! Si pemenang merasa nasibnya benar-benar sial saat ini. Disaat dirinya baru merasakan sedikit kebahagiaan karena telah memenangkan pertarungan dengan musuh bebuyutannya dan memperoleh poinnya, sekarang saat tenaganya sudah terkuras habis malah dibegal oleh peserta lain.


"Aku adalah orang baik! Maka serahkan saja poinmu, maka kamu akan melepaskanmu tanpa cedera!" jawab pemuda bertopeng dengan tenang.

__ADS_1


Baik? Baik darimananya? Bisa-bisanya tukang begal menyebut dirinya sebagai orang baik? Sungguh konyol sekonyol- konyolnya!


'Brengs*k! Kenapa harus disaat seperti sekarang musuh datang?' gumam si pemenang mengeluhkan takdirnya yang sangat sial hari ini.


Pemuda bertopeng menyadongkan tangan kirinya memberikan isyarat kepada si pemenang untuk memberikan token miliknya.


"Bajing*n! Aku tidak akan menyerahkan tokenku kepadamu meskipun aku harus mati!" geram si pemenang.


"Ooh.. Jadi itu adalah pilihanmu? Baiklah.. Aku tidak akan basa-basi lagi! Jangan salahkan aku jika beebuat sedikit kasar kepadamu!" ucap pemuda bertopeng.


Tanpa aba-aba, pemuda bertopeng langsung menyerang dengan kecepatan tinggi. Si pemenang sangat terkejut dan membulatkan matanya hingga sempurna saat dirinya diserang dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mungkin bisa menghindarinya.


Swush...


Buak!


Bammmmm...


Dada si pemenang langsung di hantam keras oleh bogem pemuda bertopeng dan dikirim terbang sejauh lima puluhan meter.


Si pemenang langsung batuk darah dan terkapar tidak berdaya. Pemuda bertopeng berjalan dengan santai kearah si pemenang.


"Aku sudah sangat baik hati telah memberimu kesempatan untuk hidup, namun kamu lebih memilih untuk mati!" tutur pemuda bertopeng.


"S-iapa kamu? Mengapa kamu menyerang dengan brutal seseorang yang tidak lagi mempunyai energi Qi tersisa!" kata si pemenang dengan lemah.


"Hahaha.." bukannya pemuda bertopeng itu menjawab, dia malah justru tertawa dengan lantang.


"Siapa aku tidaklah penting! Yang jelas aku akan merebut poinmu dengan cara kasar karena itu adalah pilihanmu!" lanjut pria bertopeng.


"Dasar tidak tahu diri! Menodong orang disaat orang itu lemah! Jika berani tunggu aku pulih. Baru setelah itu kit-" ucapan si pemenang dipotong oleh pemuda bertopeng.

__ADS_1


"Aku bukannya tidak tahu diri, tapi aku cerdas dan memanfaatkan keadaan! Sudahlah! Tidak perlu banyak omong! Waktunya bagimu mati!" tutur pemuda bertopeng.


"T-tidak! T-tolong jangan bunuh aku disini! Baik! Aku akan menerahkan poiku kepadamu!" kata si pemenang dengan ketakutan.


"Terlambat!" ujar pemuda bertopeng melayangkan tinjunya yang sangat kuat kekepala si pemenang.


Boommmm...


Kepala si pemenang itu hancur menjadi kabut darah dan perlahan seluruh tubuhnya melebur menjadi angin. Dia keluar dari penjara ilusi jiwa dan dinyatakan gugur dalam babak kedua.


Pemuda bertopeng tersenyum melihat angka pada token kecil di pergelangan tangannya bertambah 85 poin.


'Tidak buruk untuk dua orang yang biasa-biasa saja seperti mereka!...'


'Saat ini poinku sudah mencapai 160 poin. Apakah ini sudah cukup bagiku untuk lolos ke babak final?...'


'Tidak! Ini masih hari ketujuh perburuan babak kedua! Masih terlalu cepat bagiku mengatakan cukup untuk menjadi peserta yang lolos ke babak final!' gumam pemuda bertopeng sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah itu, dia langsung melesat pergi meninggalkan tempatnya membegal dan bersiap mencari korban yang baru. Sial! Dia sangat tidak tahu diri!


Tapi memang ini bukanlah sesuatu yang dilarang dalam turnamen babak kedua. Hal ini juga sudah dikatakan oleh Ling Tian. Mereka semua bebas melakukan apapun demi mendapatkan poin paling banyak. Tidak peduli dengan membegal, menghianati teman ataupun menusuk dari belakang. Yang terpenting adalah poin, poin dan poin!


Dan lagi, jika pun ada peserta yang terbunuh disini, dia tidak akan mati di dunia luar. Dia hanya akan tereliminasi dari turnamen babak kedua saja. Jadi hanya dengan alasan itu saja, pemuda bertopeng melakukan pembegalan bagi peserta lain yang sedang lemah karena baru selesai bertarung dengan monster beast, hewan iblis ataupun sesema peserta seperti yang sebelumnya terjadi.


.


.


Sementara didalam hutan yang cukup gelap di penjara ilusi jiwa atau arena babak kedua dilakasanakan, Ling Lianhua baru saja selesai mengembalikan seluruh tenaganya setelah memaksakan diri mengeksekusi jurus pedang petir tingkat kedua yang harusnya hanya boleh dilakukan oleh orang yang berada di ranah Pendekar Perunggu.


"Haahh.." Ling Lianhua menghela nafas lega setelah hampir seharian penuh untuk mengembalikan semua tenaga dan energi Qi hingga seperti sedia kala.

__ADS_1


Untung saja lokasi Ling Lianhua tidak berada didekat pemuda bertopeng berada. Jika saja berdekatan, pasti pemuda bertopeng tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.


"Baiklah.. Masih ada waktu dua puluh tiga hari! Mari lanjutkan perburuan!"


__ADS_2