Ling Tian

Ling Tian
Hanya Seorang Tuan Muda?


__ADS_3

***


Daratan Tengah, Wilayah Terlarang.


Di wilayah terlarang daratan tengah semakin hari semakin ramai. Orang-orang yang datang juga bukan sembarangan orang. Mereka adalah para kultivator kuat dari masing-masing tempat tinggal mereka.


Mereka semua tentu adalah orang yang ingin berpartisipasi dan mengadu nasib untuk mendapatkan harta langit dan bumi yang ada didunia dibalik celah dimensi yang ada diatas wilayah terlarang.


Kebanyakan dari mereka adalah Patriark atau para Tetua dari berbagai klan besar dari berbagai wilayah. Namun juga beberapa diantaranya adalah para Tuan Muda jenius yang memiliki ranah kultivasi tinggi.


Mereka semua menunggu dimulainya acara ysng mungkin akan dilaksanskan sekitar satu bulan dari sekarang. Hal itu diketahui karena sang Naga hijau memberikan suara telepati kepada seluruh penghuni Benua Langit.


Kedai-kedai dan restoran kecil sengaja didiriksn oleh beberapa orang yang ingin meraup keuntungan dari keramaian yang ada di wilayah terlarang itu. Ling Tian dan Mao An termasuk orang yang menjadi pelanggan dari kedai-kedai atau restoran kecil itu karena memang kebiasaannya adalah makan dan minum layaknya manusia biasa.


Ling Tian dan Mao An yang sedang makan disebuah restoran kecil itu tiba-tiba dikejutkan dengan keributan yang terjadi didepan pintu masuk restoran.


"Minggir! Tuan Muda Lu Ka akan makan! Beri jalan untuknya dan segera tinggalkan restoran ini agar tidak mengganggu ketenangan makan Tuan Muda!" teriak sebuah suara yang mana berasal dari seorang pria setengah baya yang menjadi pengawal Tuan Muda dari Klan Lu itu.


Klan Lu merupakan klan besar yang memiliki seorang Patriark dengan ranah kultivasi Pendekar Berlian Akhir. Patriark Klan Lu itu menjadi kaki tangan atau seorang menteri dari Kekaisaran Xiao daratan tengah.


Klan Lu cukup dikenal oleh kalangan manusia karena kesertaan Patriarknya menjadi bagian dari Kekaisaran Xiao. Banyak orang yang segan dan tidak mau bersinggungan dengan orang-orang dari Klan Lu karena tidak ingin masalahnya merambat menjadi besar dan runyam.


Terlihat dari reaksi orang-orang saat ini setelah mendengar teriakan pengawal Tuan Muda Lu Ka langsung memberikan jalan untuk sosok pemuda berpakaian serba mewah.

__ADS_1


Sementara untuk orang yang terlanjur masuk dan memesan makanan direstoran dengan terpaksa meninggalkannya dan keluar dari restoran. Hanya Ling Tian dan Mao An yang masih tetap duduk dengan tenang disudut ruangan itu dan melahap makanannya dengan santai.


Melihat ada dua orang yang masih saja santai dan tidak menggubris peringatannya, oengawal dari Tuan Muda Klan Lu itu menjadi sangat murka. Dengan aura ranah Pendekar Platinum Manengah Bintang 2 dia berjalan menuju kearah dua orang yang duduk dengan santai disudut ruangan itu.


"Kalian berdua! Apa kalian itu tuli? Aku sudah menyuruh semua orang untuk pergi karena Tuan Muda Lu Ka akan makan! Mengapa kalian tidak menghiraukannya? Apa kalian ingin mati?" teriak pengawal itu dengan berani karena melihat ranah kultivasi kedua orang yang ada didepannya itu hanyalah ranah Pendekar Emas Awal yang hanya bagaikan semut baginya untuk dia bunuh.


Mao An yang masih berpenampilan seperti seorang kakek tua itu menghentikan makannya dan menatap kearah pengawal itu. Setelah lima detik menatap, dia menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada makanannya.


Melihat itu sang pengawal dan Tuan Muda Lu Ka menjadi sangat muram. Kakek tua bangka didepannya ini benar-benar mengacuhkannya.


Brakkk!


"Keparat! Apa maksudnya menatapku lalu menggelengkan kepalamu tua bangka?" teriak pengawal itu setelah menggebrak meja makan tempat Mao An dan Ling Tian hingga terbelah menjadi dua bagian.


Melihat wajah cemberut dari Ling Tian dan Mao An, pengawal Tuan Muda Lu Ka justru tersenyum mengejek. Dia sama sekali tidak peduli dengan makanan yang jatuh berhamburan itu.


"Hanya seorang Tuan Muda dari babu Kekaisaran Xiao saja begitu sombong? Apakah anak muda jaman sekarang memang sudah tidak punya tata krama dengan yang lebih tua?" ucap Mao An sambil berdiri dari tempat duduknya.


Pakaian Mao An sedikit kotor akibat terkena cipratan dari makanan yang sebelumnya dia lahap. Dia menatap si pengawal lalu berpindah ke Tuan Muda Lu Ka dan kemudian berakhir ke Ling Tian.


"Apa yang harus aku lakukan Tuan Muda?" tanya Mao An kepada Ling Tian.


"Harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bagi seseorang yang mengganggu dan bahkan membuat makanan menjadi tersia-sia bukan?" Ling Tian balik bertanya kepada Mao An sambil berusaha membersihkan pakaiannya yang juga terkena tumpahan makanan.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda! Aku mengerti!" ujar Mao An mengangguk.


Mao An lalu tiba-tiba menghilang dari pandangan sang pengawal dan Tuan Muda Lu Ka. Dia muncul didepan pengawal itu sambil mengibaskan tangannya lalu mengilang kembali serta muncul didekat Tuan Muda Lu Ka dan mencekiknya dengan sangat kuat.


Pengawal itu ingin bereaksi mencegah Mao An untuk melukai Tuan Mudanya. Akan tetapi dia tiba-tiba merasakan rasa perih dibagian lehernya. Pengawal itu spontan mengeceknya dengan memegangnya. Saat mengeceknya, mata sang pengawal itu langsung melotot karena ternyata tenggorokan serta kerongkongannya telah putus.


Dia lalu melihat Mao An yang sedang mencekik Tuan Mudanya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia bahkan tidak menyadari serangan pria tua itu.


Pria itu lalu terjatuh dengan tidak bernyawa dengan darah yang langsung banjir diatas lantai. Pria itu mati seperti seseorang yang dis*mbelih hanya dengan satu kali sayatan.


Hal itu tentu Mao An lakukan dengan cakarnya yang sangat tajam. Kekuatan dan kecepatan Ranah Kaisar Tahap Puncak tentu bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan kultivator yang hanya ada di ranah Pendekar Platinum. Bahkan perumpamaan semut masih terlalu besar untuk jarak antara mereka yang teramat jauh itu.


Tuan Muda Lu Ka yang melihat pengawalnya mati begitu saja didepan matanya menjadi sangat ketakutan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena lehernya kini tercekik dengan sangat kuat seperti dicapit oleh sebuah baja.


"Namamu Lu Ka bukan?" tanya Mao An sambil tersenyum iblis.


"B-benar! A-aku adalah Tuan Muda dari Klan Lu!" jawab Tuan Muda Lu Ka dengan nafas yang terputus-putus karena cekikan tangan Mao An.


"Huh! Aku hanya tanya namamu saja! Tidak dengan klan bodohmu itu! Baiklah.. Berhubung namamu adalah Lu Ka, maka akan aku buat kau menjadi luka betulan!" ujar Mao An lalu mulai menampari wajah Tuan Muda Lu Ka.


Plak!


Plakk!

__ADS_1


Plakkk!


__ADS_2