
"Benar!" sahut Ling Tian.
"Ayolaah.. Berangkaat!" imbuh Long Yuan dengan semangat.
"Semangat sih semangat cacing biru bodoh! Tapi setidaknya lihat dulu bagaimana kondisimu saat ini? Amburadul dan acak-acakan begitu! Mandi dulu dan pakai pakaian yang layak! Apa kau hendak memalukan senior Wei didepan keturunannya?" cibir Ling Tian menusuk.
"Ahahaha.. Maaf-maaf! Aku terlalu bersemangat!" tawa Long Yuan dengan canggung.
"Bersemangat? Karena apa?" tanya Ling Tian sambil mengangkat alisnya.
"Yaa tentu saja karena disana pasti akan makan dan minum enak melebihi ini semua! Hahaha.." Long Yuan tertawa dengan pecah. Sementara wajah Ling Tian bergerak-gerak tidak karuan menahan kekesalannya.
"Dasar cacing rakus!" keluh Ling Tian mencibir.
"Haha.. Bodo amat! Intinya makan-makaan!" jawab Long Yuan.
Mereka bertiga akhirnya saling membersihkan diri masing-masing dan memakai setelan pakaian yang cukup layak. Seperti biasa, Ling Tian memakai jubah hitam, Long Yuan biru dan Wei Hun merah kehitaman.
Dari pakaian masing-masing secara tidak sengaja mereka menunjukkan elemen-elemen yang dikuasainya. Ling Tian berjubah hitam karena memiliki elemen bayangan, Long Yuan berjubah biru tanda berelemen es dan yang terakhir Wei Hun merah kehitaman meliliki elemen api yang sangat panas.
"Yoyoo.. Ternyata aku lebih tampan dari yang aku kira!" ucap Long Yuan sambil melihat bangga wajahnya sendiri didepan cermin.
"Hueeeekkk!!" Ling Tian dan Wei Hun seketika memuntahkan sedikit minuman anggur dari perutnya karena saking jijiknya dengan ucapan Long Yuan yang dengan percaya dirinya mengatakan dirinya sendiri tampan.
"Cih! Kalian berdua selalu saja iri denganku.. Huh! Jika kalian ingin tampan juga sepertiku, syaratnya hanya satu! Lahirlah kembali dari perut ibumu! Hahaha.." cibir Long Yuan dan tertawa masih dengan mengangkat sedikit dadanya.
Wei Hun dan Ling Tian langsung membuka kedua mulutnya. Tak percaya akan sebegitu sok tampannya si cacing biru sialan itu. Sudah tua bangka bau tanah pula! Percaya dirinya mengalahkan langit.
Baamm...
Meja didalam ruangan itu hancur berkeping-keping oleh Ling Tian.
__ADS_1
"Saudara Tian, apa yang kau lakukan?" tanya Wei Hun penasaran.
"Tidak senior Wei, aku hanya memastikan apa tadi kupingku salah dengar atau otakku sedang eror. Makanya kubenturkan kepalaku dimeja ini.. Haha.. Ternyata benar! Otakku sedikit error!" ujar Ling Tian.
"Hahaha.. Benarkah bisa menyembuhkannya? Sepertinya otakku juga ada yang salah sedikit tadi! Kupingku juga terasa gatal sekali didalamnya! Apakah aku juga boleh membenturkan kepalaku?" kata Wei Hun.
"Hahaha.. Jangan senior Wei! Aku nggak mau bayar dendanya lagi! Ahahaha.." ungkap Ling Tian dengan tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Wei Hun.
"Cih! Kalian itu hanya iri saja dengan rupa tampan Naga Agung ini!" cibir Long Yuan. Sementara Wei Hun dan Ling Tian hanya bodoh amat tidak menanggapi.
Mereka bertiga akhirnya keluar dari penginapan dengan wajah Long Yuan yang sedikit ditekuk. Bagaimanapun dia juga disuruh membayar denda kerusakan meja di ruangan oleh kedua saudara menyebalkannya itu. Mau tidak mau dia harus merogoh sakunya untuk menebusnya.
"Jadi? Apakah kita akan langsung ke istana saudara Wei?" tanya Ling Tian
"Ya! Kita akan langsung kesana! Sudah banyak orang yang menunggu kedatangan kita bertiga!" jawab Wei Hun.
"Menunggu kita?" bingung Ling Tian.
"Sudahlah.. Mari kita kesana saja dan lihat sendiri!" ujar Long Yuan dengan nada kesal.
Sementara itu didalam istana Kekaisaran Wei, saat ini sedang banyak sekali orang yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing namun satu komando. Ada yang menata tempat dan kursi, ada yang tugas merias, ada yang hanya duduk-duduk dan ngacungin sana-sini, bahkan ada pula yang hanya diam melongo karena tidak tau apa yang sebenarnya para anggota keluarganya menjadi sesibuk itu. Mereka adalah para orang-orang yang baru saja dipaksa pulang dari menjalankan misi dan belum tau alasan kepulangannya.
"Cepat-cepaaat! Semua harus selesai secepat mungkin!" teriak salah satu dari dua orang tua bangka yang sebelumnya hanya duduk-duduk santai sambil tunjak-tunjuk kesana-kesini. Dia tidak lain adalah Kaisar Wei terdahulu.
"Baik leluhur!" jawab serentak mereka semua, bahkan Kaisar Heian juga ikut menurut dan sibuk sekali.
Para orang-orang yang baru pulang dari misi segera menghadap Kaisar Wei terdahulu dan memberi hormat.
"Salam Yang Mulia!" ujar mereka serentak sambil berlutut.
"Iya!" jawab singkat Kaisar Wei terdahulu tanpa melihat siapa yang memberi salam.
__ADS_1
"Maaf Yang Mulia, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka sangat sibuk dan menata tempat serajin ini?" salah satu pemuda memberanikan diri bertanya.
"Apaa! Apa kalian bodoh? Leluhur Pendiri akan berkunjung! Dan kalian belum menyadarinya! Sial! Sana pergi! Bantu mereka!" bentak Kaisar Wei terdahulu dan menyuruh mereka semua pergi.
"Apaaa! Baik Yang Mulia!" jawab mereka serentak dengan raut wajah penuh keterkejutan.
Mereka langsung melesat pergi dan membantu saudara-saudaranya yang lain sebisa mungkin.
"LELUHUR PENDIRI TELAH TIBA!"
Suara teriakan salah satu prajurit penjaga gerbang terdengar diseantero Istana Kekaisaran Wei.
"Sial! Mengapa secepat ini? Padahal belum semuanya cukup! Aku bisa mati diocehi sahabat Leluhur Pendiri karena tidak menyambutnya dengan baik!" keluh Kaisar Wei terdahulu dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Kaisar Wei tentu masih ingat saat terakhir kali Leluhur Pendiri bersama sahabatnya yang tidak lain adalah Long Yuan datang berkunjung. Saat itu dia melakukan sedikit kesalahan dan berakhir dirawat setengah tahun diatas tempat tidur. Sial! Ternyata Long Yuan sangat merajalela dan kejam!
Kaisar Wei terdahulu tidak mau kesalahan kecil seperti itu kembali terulang meski dalam bentuk hal lain. Tentunya dia yang akan disalahkan nantinya karena saat ini dialah yang paling tua di Istana Kekaisara Wei.
"Cepaaat! Leluhur sudah tiba! Segera tinggalkan tempat ini dan sambut Leluhur Pendiri didepan gerbang!" titah Kaisar Wei terdahulu dengan berteriak.
Semua orang mendengar teriakan Kaisar Wei terdahulu atau lebih tepatnya bernama Wei Zhuo segera bergegas ke pintu gerbang istana untuk penyambutan.
Wei Zhuo sendiri bersama istrinya Tu Ju'er juga ikut melangkahkan kakinya ke gerbang Istana Kekaisaran. Mereka berdua menjadi penyambut utama dan diikuti oleh Kaisar Wei Heian bersama kedua putra dan satu putrinya, Wei Ziin.
Semua orang dapat melihat tiga orang sedang melayang diatas mereka dengan aura yang sangat kuat dan menekan. Mereka bertiga tak lain adalah Ling Tian, Ling Yuan dan Wei Hun yang ditengah-tengah.
"Selamat datang dan hormat kami Leluhur Pendiri!" teriak Wei Zhuo dengan berlutut yang kemudian diikuti oleh semua orang yang juga berlutut pula.
"Ya! Berdirilah! Aku terima hormat kalian!" ujar Wei Hun dengan ekspresi datarnya.
Semua orang menurut dan kembali berdiri menatap Leluhurnya dengan bangga. Kecuali satu orang! Ya, dia adalah Wei Ziin yang mengerutkan kening dan terkejut saat mengenali salah satu dari rombongan Leluhurnya.
__ADS_1
'Pemuda itu..?'
"Kita berjumpa lagi Tuan Putri!" ucap suara yang tiba-tiba bergema difikirannya.