
Mereka terus berbincang-bincang untuk mengisi perjalanan mereka hingga sampailah mereka berdua disebut hutan yang cukup lebat dan memiliki aura langit dan bumi yang cukup pekat.
"Kita beristirahat disini dulu saudaraku!" ucap Ling Tian kepada Mao An.
"Hmm?" gumam Mao An sembari mengerutkan keningnya karena tempat yang Ling Tian pilih sepertinya memiliki penghuni.
"Apa Tuan Muda memilih tempat ini karena keberadaan mereka itu?" tanya Mao An.
"Yaa.. Seperti itulah! Mereka memiliki orang membunuh yang cukup lumayan, dan aku yakin sekali tempat itu adalah markas dari salah satu kelompok perampok yang meresahkan masyarakat," jawab Ling Tian sembari tersenyum dan menukik turun dari atas langit.
Tap!
Ling Tian mendarat dengan sempurna di sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang. Setelah itu dirinya menggunakan elemen angin untuk mengumpulkan kayu-kayu yang sudah kering alias kayu bakar dengan cepat yang akan digunakan untuk membuat perapian.
Ling Tian berencana untuk menarik perhatian dari sekelompok orang yang sedang bersembunyi itu dan menghabisi mereka semua jika memang benar mereka adalah kelompok dari salah satu perampok.
Mao An yang sudah turun dari pundak Ling Tian segera bergegas menuju ke sebuah sungai guna mencari ikan untuk mengisi perutnya sebagai penenangnya sebelum tidurnya malam ini. Sungguh yang dipikirkan oleh seekor kucing memanglah selalu ikan, ikan dan ikan kemudian makan, makan dan makan.
Ling Tian hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa melarang apa yang akan dilakukan oleh saudaranya. Dia kemudian membuat perapian menggunakan kayu-kayu kering yang telah dia kumpulkan lalu duduk di depannya.
Saat ini waktu telah berada di ujung sore hari yang sebentar lagi malam pun akan tiba. Dia duduk bermeditasi di atas api unggun itu sembari menunggu kedatangan saudaranya atau orang-orang yang berasal dari kelompok yang bersembunyi di sekitar tempat itu.
2 jam kemudian Mao An pun datang dengan menggunakan tubuh manusianya sembari membawa beberapa ekor ikan yang sedang dia cangking di tangannya dan sudah siap untuk dibakar.
"Kau kembali saudaraku?" tanya Ling Tian sembari membuka kedua kelopak matanya.
"Ya, begitulah. Ikan-ikan di sungai sebelah itu sangatlah langka sekali, sehingga aku perlu beberapa waktu untuk memancingnya hingga mendapatkannya segini." jawab Mao An sembari tersenyum sumringah lalu mulai membakar ikan-ikan itu di perapian yang sepenuhnya telah menjadi bara api.
__ADS_1
Ling Tian hanya tersenyum menanggapi jawaban dari saudaranya itu. Dia tahu bahwa saudaranya saat ini tidak berkata dengan sejujur-jujurnya. Padahal dengan menggunakan kekuatan yang dia miliki maka sangat mudah baginya untuk menangkap ikan-ikan di sungai. Mungkin sebelumnya dia telah melakukan suatu hal yang Ling Tian tidak ketahui dan Ling Tian pun tidak menanyakannya.
Mao An membakar ikan-ikan itu sambil bersenandung ria layaknya seorang pujangga yang sedang jatuh cinta. Dia tidak memperdulikan gelapnya malam karena dia sebenarnya adalah sosok harimau malam yang dapat melihat gelapnya malam tanpa kesulitan sedikitpun.
Setelah memberikan beberapa bumbu, ikan-ikan bakar pun kini telah matang seluruhnya, Mao An memberikan beberapa kepada Ling Tian dan selebihnya dia lahap sendiri.
Srek! Srek!
Saat keduanya sedang asyik menikmati lezatnya ikan bakar, tiba-tiba telinga mereka berdua mendapati sebuah suara gesekan dari berbagai arah di rimbunan pepohonan hutan.
"Sepertinya tikus-tikus itu mulai berdatangan Tuan Muda," ucap Mao An dengan berbisik sembari tersenyum dan mengacuhkan orang-orang yang sedang mengawasi mereka berdua.
"Begitulah.. Tapi janganlah bertindak terlebih dahulu. Kita tunggu saja apa yang akan mereka lakukan. Jika mereka tidak membuat masalah kepada kita maka kita pun tidak akan membuat masalah dengan mereka. Namun jika sebaliknya maka.." kata Ling Tian menghentikan ucapannya.
"Bak! Buk! Bom! Hajar mereka hingga babak-belur! Hahaha.." lanjut Mao An sembari tertawa terkekeh-kekeh.
"Ya.. Semuanya aku serahkan padamu saja, yang penting jangan bunuh mereka dulu. Kita memerlukan beberapa informasi dari mereka tentang siapa mereka dan apa tujuan mereka membuat markas di tempat yang sangat sepi ini," ujar Ling Tian sembari tersenyum penuh arti.
"Tidak masalah." jawab Ling Tian sambil menggeleng-geleng kepalanya dan berusaha untuk menahan tawanya yang ingin meledak. Saudaranya ini masih benar-benar sama seperti kakak keduanya yang sangat sengaja mempermainkan musuh mereka.
Zheep! Zheep!
Satu persatu sosok yang memakai jubah hitam serta penutup kepala muncul mengelilingi Ling Tian dan juga Mao An. Sebilah senjata yang berupa pedang ataupun tombak juga sudah terhunus kan di tangan para sosok berjubah hitam itu.
Ling Tian dan Mao An tetap diam dan mengacuhkan kedatangan mereka. Keduanya terus fokus dengan ikan bakar yang sedang mereka nikmati sehingga membuat kelompok berjubah hitam itu menjadi sangat geram dibuatnya.
"Keparat! Beraninya kalian berdua mengacuhkan kami! Katakan siapa kalian dan mengapa kalian berada di tempat ini?" tanya salah satu di antara mereka yang memiliki kultivasi ranah Pendekar Platinum Awal Bintang 9 dengan nada membentak.
__ADS_1
Mao An menatap sosok pria berjubah hitam yang membentaknya itu lalu tersenyum sinis kepadanya kemudian mengacuhkannya lagi. Hal itu membuat sosok pria berjubah hitam berpenutup kepala semakin kesal dan ingin sekali membunuh pemuda yang menurutnya sangat arogan itu.
"Jawab, sialan!" teriaknya yang tidak sabar.
"Sialan," kata Mao An dengan datar.
"Apa maksudmu mengatakan sialan?" tanya pria berjubah hitam itu.
"Bukankah sebelumnya kamu mengatakan bahwa aku harus menjawab 'sialan'? Maka iya aku jawab sialan!" jawab Mao An dengan acuh tak acuh lalu melahap kembali ikan bakarnya.
"Bangs*t!" teriak sosok itu yang merasa dirinya dipermainkan oleh Mao An.
Sosok pria berjubah hitam berbentuk kepala itu lalu memberikan kode kepada teman-temannya untuk menyerang Mao An dan Ling Tian. Dengan serentak mereka pun bergerak maju sembari mengayunkan tangannya untuk menusukkan tombak atau menebaskan pedang mereka.
Trankk!
Semua sosok itu dibuat sangat terkejut karena sebuah formasi array yang tiba-tiba terbentuk melindungi Ling Tian dan juga Mao An.
"Apaa! Sejak kapan?" ucap salah satu diantara sosok berjubah hitam itu.
Zhuung!
Sebuah formasi array yang lainnya yang berbentuk seperti jaring laba-laba kemudian terbentuk lagi dan mengurung mereka semua.
"Kejutan!" seru Mao An dengan tersenyum menyeringai.
Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kelompok pria berjubah hitam berpenutup kepala. Semua orang itu langsung secara reflek mundur untuk menjaga jarak dari pemuda misterius yang tidak mereka ketahui asal usulnya itu.
__ADS_1
"Waktunya bermain!" ucap Mao An sembari tersenyum menyeringai lalu melesat dengan cepat menuju ke sosok pria bertopeng yang sebelumnya meneriaki dirinya.
Plaaakk!