Zona Berondong

Zona Berondong
GERD


__ADS_3

^^^Yuhhuuu. ^^^


^^^Udah 100 episode. ^^^


^^^Congrats buat saya sendiri, wkwkwkkk^^^


^^^Thanks a lot buat temen-temen yang udah support. ^^^


...GIVE A WAY...


^^^Kecil-kecilan buat komentar yang bikin author tersentuh di part ini.^^^


^^^Nggak melulu tentang pujian, author jangan kebanyakan dipuji. 🤭🤭🤭^^^


^^^Tapi komentar tentang novel ini. ^^^


^^^Tinggalkan jejak, dan akan diumumkan besok. ^^^


...*HAPPY READING*...


Infus sudah dilepas dan Rista tengah bersiap untuk pulang. Sementara itu Dedi bersama Rudi tengah berbincang serius di salah satu sisi.


"Dan semua yang harus Rista hindari itu adalah makanan favoritnya?"


"Mengenal dia dengan baik sepertinya?" ledek Rudi.


"Iya Om, karena saya adalah baby sitter dia sebelum saya dipekerjakan Dika di kantornya."


Rudi tersenyum sambil mengangguk.


"Mengharuskan Rista tinggal bersama anda memang solusi terbaik Om."


"Iya, meskipun saya harus melihat wajahnya ditekuk seperti itu," Rudi tertawa kecil melihat sekilas putrinya yang duduk sambil melihat keluar jendela.


Dedi sejenak mengikuti arah pandang Rudi dan kembali menghadap dokter yang nampak gagah dan berwibawa di hadapannya ini.


"Gimana kabar kantor?" tanya Rudi memecah kediaman Dedi.


"Sibuk Om, dan saya juga tak tahu kapan bisa menerima pelajaran lagi."


Rudi menghela nafas. "Bagaimana tawaran saya kemarin?"


"Soal apa Om?"


"Soal kuliah."


Dedi menghela nafas. "Dika masih membutuhkan saya Om, dan itu salah satu prioritas saya karena dia yang sudah banyak sekali membantu hidup saya."


"Kamu juga boleh punya keinginan sendiri."


"Jika Dika sudah settle dengan kehidupannya, baru saya akan memikirkan diri saya. Selama dia masih dalam kondisi seperti ini, maka dia akan tetap menjadi prioritas saya."


"Terimakasih Nak."


"Saya yang harus berterimakasih, termasuk pada anda."


Rudi meletakkan sebelah tangannya pada pemuda jangkung di hadapannya.


"Sekarang kamu hampiri Rista. Yang harus dijaga bukan hanya pola makannya tapi pikirannya juga. GERD akan mudah sekali kambuh jika penderitanya stres."


"Sebenarnya apa penyebab GERD ini Om?"


"GERD disebabkan melemahnya atau kendurnya otot yang mengatur katup di bagian bawah esofagus. Sehingga, asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Dalam kondisi normal, katup ini dapat tertutup rapat setelah makanan dari mulut masuk ke perut."


"Pada umumnya GERD dipengaruhi kehamilan atau obesitas, tapi dalam kasus Rista sepertinya karena pola makan."


"Junkfood?"


"Bisa jadi. Porsi makan, waktu makan juga."


Dedi mengernyit. Ia nampak tengah memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Rista kalau udah nemu makanan yang ia suka, porsi makannya bisa dua kali saya, tapi kalau sedang nggak mood, sehari tanpa makan akan biasa saja."


"Rista terus yang diomongin," ketua Rista saat Rudi dan Dedi tiba di sampingnya.


"Emang kita yang ada di sini sekarang lagi fokus sama kamu." Dedi mengusap puncak kepala Rista dengan sayang. Ingin sekali ia mendarat kan sebuah ciuman di keningnya, namun tak mungkin karena ada orang tuanya di sana.


"Kakak nggak bisa jemput ya?"


"Dia lagi ada meeting yang nggak bisa diwakilkan."


Rudi melihat jam dan menghampiri istrinya.


"Dik, kamu pulangnya sama supir ya, aku masih ada jadwal pemeriksaan abis ini."


"Nggak bisa digantiin Mas, di sini dokter nggak cuma Mas Rudi kan?"


Rudi meraih kedua tangan Santi.


"Banyak, banyak sekali. Namun mereka semua sudah punya jadwal periksa yang jauh lebih padat dari saya."


"Ma, Papa ini lagi jadi perantara Allah untuk menyembuhkan orang sakit loh, Mama mau Allah murka."


Dedi takjub dengan ucapan gadisnya. Ia tak mampu menahan hasrat untuk tak mencium puncak kepalanya, meskipun berakhir dengan salah tingkah dan berlagak menerima telfon untuk menghindari tatapan-tatapan yang mungkin menajam kepada dirinya.


Dan Santi pun tetap bersikeras menolak diantar sopir dan memilih pulang dengan mobil Dedi.


...***...


"Akhirnya selesai juga..."


Dika melontarkan dasinya dan menyadarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Ia segera mengecek ponsel smyang sejak pagi belum dijamahnya.


"Pak Edo, apa setelah ini saya masih ada agenda?"


"Selepas magrib pertemuan dengan investor dari Kanada."


Dika urung mendial nomor Rina dan menekan nomor Dedi.


"Ya, ada pa?" tanya Dedi to the point.


"Aku butuh kamu selepas magrib, bisa balik kantor."


"Bisa, ini gue lagi anter Rista balik, abis itu gue ke kantor."


"Rista gimana kondisnya. Jadi bawa dia ke rumah mama?"


"Jadi. Ini gue sama tante Santi dan Rina juga."


"Rina? Coba kasih ponsel lu sama dia."


Panggilan terjeda sejenak, sepertinya Dedi sedang menyerahkan ponselnya pada Rina yang duduk di belakang bersama Santi.


"Hhh, udah nggak ada yang butuh mama lagi"


Sayup-sayup Dika mendengar mamanya menggoda Rina.


"Tante mau ngobrol dulu?"


Dika tersenyum. Rina pasti juga sama seperti dirinya, menunggu momen hnya untuk sekedar menyapa. Namun ia masih memberi tempat untuk orang tuanya.


"*Nggak deh, kamu sekarang mood boosternya."


"Halo*..."


Akhirnya suara yang sangat Dika rindukan menyapa indra pendengarannya.


"I miss you sayang."


Itu adalah kata yang sangat ingin Dika katakan. Namun tak ada jawaban dari Rina. Dika yakin ini karena Rina merasa segan dengan mamanya.


"Sayang, kamu udah makan?" tanya Dika yang segera sadar akan posisi Rina.

__ADS_1


"Udah. Kamu jangan sampai lupa makan ya." Terdengar nada khawatir dari seberang sana.


"Masih mau ini, tadi dzuhur aja balapan, marathon meeting dari pagi baru kelar."


Ingin sekali Rina protes akan hidup kekasihnya yang mulai tak teratur.


"Emang nggak ada gitu yang bisa ngurus makan kamu?"


"Ada, tapi dianya jauh."


"Ya percuma dong kamu gaji dia kalau masalah makan aja nggak terhandle dengan baik."


Entah mengapa Rina bisa tersulut baby karena ucapan Dika.


"Aku nggak mampu gaji dia."


"Berapa sih gaji orang ngurus makanan kamu doang. Sini biar aku gantiin aja kalau masalah gini aja nggak beres."


"I'm waiting for this moment. Kamu dateng tiap waktunya aku makan plus nemenin aku makan dengan makanan yang kamu bawa."


Otak Rina bergerilya. Ia jadi ingat saat-saat mamanya mengantar makan siang untuk Reno saat papany ini terlalu sibuk dan tak bisa pulang.


Rina menggigit pipinya karena tak ingin disangka gila karena tersenyum sendiri di depan mama dari pacarnya.


"Sepertinya kamu cepat tanggap ya."


"Sayang, abis kamu lulus nikah yuk..."


"Uhuk..." Bahkan hanya ludah mampu membuat Rina tersedak.


"Kamu kenapa Nak?" terdengar suara Santi di sana.


"Nggak apa-apa tante. Uhuk. Uhuk Uhuk Uhuk."


Nggak apa-apa gimana sih Rin. Itu buktinya batuknya estafet nggak berhenti-berhenti.


Dika terkekeh sendirian. Ia memang kini tengah di ruang rapat sendiri sementara Edo menyiapkan makan siang setengah sore Dika di ruangannya.


"Dika, kamu masih mau ngobrol sama Tante, Rista atau Dedi mungkin?"


Rina ingin segera menghentikan obrolannya dengan Dika. Sepertinya mengobrol di dekat Santi tak baik untuk kesehatannya jika berlangsung dalam waktu lama.


"Nggak deh, entaran aja."


Rina mengangguk. Ah bodohnya. Mana Dika bisa lihat kalau dia mengangguk.


"Rin, kamu pulangnya mau nunggu aku apa gimana?"


"Abis ini langsung balik aja ya. Takutnya pekerjaan kamu kelarnya nggak sesuai rencana."


"Pulangnya gimana?"


"Grab aja."


"Nggak nebeng Dedi?"


"Nggak lah. Selain beda arah, kamu kan minta dia cepet balik kantor."


"Oke deh, hati-hati."


"Kamu juga."


"*See you."


"Bye*."


Dika menatap ponselnya dengan tersenyum. Jujur ia ingin sekali mengantar Rina, namun ia sendiri tak tahu pasti jam berapa pekerjaannya selesai.


Dan entahlah ia egois atau bagaimana, ia hanya ingin mengetes reaksi Rina saat diminta pulang bersama Dedi. Ia sebenarnya tak rela saat Rina diantar sahabatnya. Ia takut ada cinta yang tumbuh seperti kisah Rudi dan kedua orang tuanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2