
^^^Wow, nggak nyangka saya bisa nulis sepanjang ini. ^^^
^^^Spesial part 100 rencana ada GIVE A WAY.^^^
^^^Bukan give a way juga sih, cuma sebagai ucapan terimakasih author buat support kalian. ^^^
^^^Nantikan besok ya. ^^^
...*HAPPY READING*...
Duduk berempat namun hanya dua diantaranya yang nampak menapak dunia.
Nita dan Miko, sedang asik dengan candaannya sementara Dian dan pemuda yang tadi datang bersama Miko hanya diam saja tanpa ada niat untuk bersuara.
"Btw kita nggak nyangka loh kalau kalian saling kenal."
"Gue nggak kenal!" serempak Dian dan pemuda itu.
"Nah kan, ngelak nja kompak," seloroh Dian dengan senyum geli di wajahnya.
"Aku cabut."
Dian bangkit begitu saja meninggalkan ketiganya.
"Di, kamu tadi kan nggak bawa mobil!" teriak Nita.
Namun Dian terus saja berjalan. Pantang baginya kini untuk kembali dan duduk bersama orang yang telah mengukir luka di hatinya itu kini.
"Ndre, kalian ada masalah ya?" tanya Miko.
Andre adalah sepupu Miko yang baru hari ini pindah ke sekolah mereka.
Andre hanya diam.
"Ndre. Gue nggak tahu kalian ada masalah apa, dan nggak ada hubungannya sama gue juga, tapi lu kan cowok, yang gentle lah."
"Gue pinjem motor lu."
Andre menyambar kunci motor Miko dan segera pergi dari sana.
Miko dan Nita saling memandang.
"Kira-kira mereka ada masalah apa ya Yang?"
"Nggak tahu sayang. Aku juga baru tahu ini kalau Andre kenal sama Dian."
"Aku pesen dulu ya."
Miko bangkit meninggalkan Dian.
***
Di rumah sakit Dr Rudi Andika.
"Assalamualaikum..."
Rina mengucap salam saat membuka pintu kamar Rista.
"Waalaikum salam..." serempak Santi dan Rista.
"Kamu sama siapa?" tanya Santi begitu melihat Rina yang langsung menutup pintu setelah dirinya memasuki ruangan.
"Sendiri Tante," jawab Rina sambil mencium tangan Santi.
__ADS_1
"Sudah makan?" tanya Santi.
"Aku maunya makan kalau Kak Dedi ke sini."
"Sayang, Mama kan tanyanya sama Rina bukan Rista."
Rina dan Santi saling beradu pandang.
"Rista belum makan?" tanya Rina tanpa suara.
Santi hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Ta, kamu nggak pengen ngasih surprise gitu buat Dedi?"
Santi membelalakkan mata mendengar pertanyaan Rina untuk Rista. Namun Rina menatapnya dengan senyum seolah berkata semua baik-baik saja.
"Ya mau Kak..."
"Berarti kamu sekarang harus makan?"
"Apa hubungannya coba," protes Rista.
Rina duduk di samping Rista. "Karena untuk nemui Dedi dan kasih surprise buat dia kamu harus sehat, karena ngasih surprise itu butuh energi yang banyak."
Rista nampak mulai termakan ucapan Rina. Santi tersenyum simpul melihat kecerdikan pacar anak sulungnya ini.
"Gimana?"
"Ma..." bukannya menjawab Rista justru memanggil mamanya.
"Iya sayang."
"Tolong ambilin makanan Rista deh, biar sini Rista makan."
"Kan kata dokter nggak boleh makan panas, Mama lupa ya?"
Akhirnya Santi menata meja kecil dengan beberapa jenis makanan di atasnya.
"Perlu Mama siapin nggak?"
"Bisa Ma," jawab Rista yang sudah memegang sendok dan garpu di kedua tangannya.
"Itu infusnya Rista nggak apa-apa Tan?"
"Nak, hati-hati sama infusnya ya." Santi segera mengingatkan karena ia juga sempat melupakan infus yang terpasang di tangan kiri putrinya.
Kedua wanita beda usia ini segera duduk di sofa.
"Dika nyuruh kamu ke sini?" tanya Santi.
"Nggak sih Tante, Rina yang pengen jenguk Rista, dan Dika jug belum ada kabar dari pagi." Rina menunduk setelah menyelesaikan ucapannya.
"Kamu kenapa, kok murung gitu sih?" tanya Santi yang menyadari benar perubahan raut wajah Rina.
Rina segera mengangkat wajahnya. "Cuma lagi mikirin Dika aja Tan, pasti dia capek." Rina memaksakan senyum di wajahnya, khawatir jika Santi akan curiga akan kegelisahannya.
Santi meraih tangan kiri Rina dan disatukan dengan kedua tangannya.
"Dika yang capek atau hati kamu yang capek?"
Rina membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia makin didera gelisah mendengar terkaan ibu dari kekasihnya.
"Boleh Tante cerita?"
__ADS_1
Rina membaranikan diri untuk kembali menatap wanita yang tak luntur cantiknya meski sudah cukup berusia. Perlahan tatapan keduanya bertemu.
"Apa Tante boleh menebak perasaan Rina?"
Belum juga pertanyaan pertama dijawab, Santi sudah kembali mengumpankan tanya.
Perlahan Rina mengangguk.
"Saya tahu kamu gelisah, karena akhir-akhir ini Restu sering hilang kabar, tak hanya satu dua jam bahkan berhati-hari, benar."
Rina mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu juga gelisah jika Restu mungkin bersama wanita lain saat kamu tak bersamanya?"
Rina menunduk.
"Angkat wajah kamu," pinta Santi dengan lembut.
Rina menghela nafas.
"Apa kehidupan Dika selamanya akan seperti ini."
"Tergantung."
"Tergantung?"
Santi tersenyum dan mengusap kepala Rina.
"Saya tak begitu paham dengan dunia bisnis. Orang tua saya juga pengusaha namun hanya usaha kecil jika dibanding dengan yang Restu jalankan sekarang. Mas Rudi juga berkecimpung dalam bisnis, namun ia tak turun langsung di dalamnya. Jika beruntung pundi-pundi akan datang, jika tak beruntung sejumlah uangpun akan dengan mudah hilang."
"Namun satu hal yang harus kamu tahu, apa pun jalan yang dipilih para laki-laki, itu semua semata demi membahagiakan keluarga."
Hanya helaan nafas yang menjadi jawaban Rina. Dia sendiri tak tahu dengan jelas apa sebenarnya yang membuat ia merasa khawatir.
Dika tampan, Dika mencintai Rina, Dika punya kepribadian yang baik, Dika cerdas, Dika punya harta yang cukup untuk memberi makan dia dan mungkin anak-anaknya jika memang mereka berjodoh, Dika...
Hanya dalam bayangan saja Rina kesulitan untuk menemukan cela dari kekasihnya ini.
"Kenapa kamu sepertinya bingung?"
"Ma, Rista udah nih..."
Baru saja Rina hendak membuka mulutnya, namun Rista sudah terlebih dahulu menginterupsi Santi.
Santi pun bangkit dan membereskan makanan putrinya.
"Kalian deketan sini dong, masak ngobrol jauhan gini..."
Rina pun berjalan menghampiri Rista sedangkan Santi masih merapikan bekas makanan anaknya di meja.
"Mama sama Kak Rina ngobrolin apa sih...?" tanya Rista begitu Santi duduk di dekatnya.
"Lagi ngobrolin kakak kamu yang dari pagi nggak ada kabar," jawab Santi sambil merapikan selimut putrinya.
"Iya ih. Kak Dedi juga ikutan sibuk kan. Jadi jarang banget nemenin Rista sekarang."
Santi menghela nafas. Dua gadis remaja di hadapannya ini memang tengah menjalin kasih dengan laki-laki yang tak biasa seperti Dedi dan Dika.
"Karena tugas laki-laki itu nggak sekedar jadi teman hidup tapi juga menanggung hidup kalian para gadis yang selalu mendapat yang terbaik dalam keluarga."
"Ya kan uang kita sudah banyak Ma, nggak langsung habis juga kalau kerjanya santai dikit."
Santi memijat keningnya. Jika dengan Rina ia masih bisa santai, tapi kalau Rista tidak bisa. Putri kecilnya ini akan terus mendebatnya hingga ada kalimat yang benar-benar membuatnya skak Matt.
__ADS_1
TBC