
HAPPY READING
“Yakin Nih mau berangkat sekarang?” tanya Rina saat adik iparnya sedang sibuk bersiap-siap.
“Iya Kak…” jawab Rista tanpa menghentika kegiatannya.
“Kenapa nggak tinggal beberapa hari lagi sih?”
“Ya tinggal di rumah pun aku akan sering sendiri.”
“Ya kamu kan bisa ikut ke rumah Kakak…”
Rista menghentikan sejenak pergerakan tangannya. Ini lah yang paling ia tak suka. Ia benar-benar tak suka tinggal di rumah kakaknya karena penuh kenangan yang saat diingat hanya akan membuat hatinya sakit. Karena kini sang pengukir kenangan telah pergi dari hidupnya.
Sang papa telah tiada, meski sekarang ada Rudi, namun Hendro tetaplah punya tempat yang berbeda di hatinya. Kemudian Dedi. Pria ini tak hanya menorehkan sakit hati tapi juga kecewa, kehilangan, dan rindu yang hingga kini belum ia temukan penawarnya.
Rina menepuk bahu Rista saat melihat adik iparnya ini terdiam. Ia tahu apa yang Rista rasakan. Di saat awal gadis ini mengenal cinta, ia harus pula merasakan luka dan kecewa.
“Ada pekerjaan ya?” tanya Rina mengalihkan pembicaraan.
Rista kembali menggerakkan tangannya untuk untuk melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Ia mengangguk sambil tersenyum kecil pada Rina sebagai jawabannya.
“Seumur kamu Kakak masih minta. Lepas minta sama orang tua, ganti minta sama kakak kamu.” Rina tertawa kecil meski Rista enggan menyahutnya.
Keduanya kembali diam karena Rina merasa kehabisan bahan untuk dibicarakan. Dia pun harus berfikir matang sebelum mengganti topic pembicaraan karena ia takut salah bicara dan akan membuat adik iparnya ini makin tak enak hati.
“Itu semua karena Kakak sudah menemukan orang yang benar-benar bisa dijadikan tempat bergantung dan berlindung, Rista pun akan melakukan hal sama jika sosok itu sudah ada. Tapi nyatanya Rista yang masih sendiri, jadi harus pandai-pandai melakukan semuanya sendiri juga…”
Rina menelan ludah. Nah kan salah ngomong lagi. Padahal kan sudah hati-hati. Batinnya dalam hati.
__ADS_1
Rista merasa tubuhnya tertarik tiba-tiba, dan setelah sadar ternyata Rina memang menariknya. Kakak iparnya ini memang merah tubuh kurusnya ke dalam pelukannya.
“Rista, Kakak nggak tahu harus ngomong apa, yang jelas kamu harus semangat ya. Kita semua di sini sayang sama Rista,” ucap Rina saat berhasil merengkuh tubuh adik jangkungnya.
Rina mengusap-usap punggung Rista, berharap gadis ini akan tahu kalau kakak iparnya ini benar-benar peduli dan sayang padanya. Rista yang sebenarnya lelah akhirnya membalas pelukan kakak iparnya dengan erat.
“Ris, kalau statusku sebagai kakak ipar membuatmu tak nyaman, maka anggaplah aku teman curhatmu seperti dulu," ujar Rina masih dengan posisi yang sama.
Rina merasakan anggukan di pundaknya. Meski ia tak pernah berada di posisi Rista, tapi ia berusaha memahami posisi dan perasaannya. Bukan hal yang mudah saat melihat kedua orang tua berpisah di usia yang sangat belia kemudian datang laki-laki lain yang menjadi ayah baru untuknya. Meskipun Rudi adalah sosok ayah sambung yang bisa dibilang baik, namun tak serta merta Rista kecil dapat menerimanya. Ia pun memutuskan pergi dan ikut bersama kakaknya yang telah terlebih dahulu menjalani kehidupannya sendiri.
Di sana Rista pun tak merasa lebih baik, karena sang kakak juga sibuk bekerja karena memikul tanggung jawab besar untuk kelangsungan hidup mereka. Rista benar-benar merasa kehilangan arah dan benar-benar merasa sendiri. Saat ini muncullah Dedi yang berhasil membuat Rista kecil merasa nyaman. Ia menemukan sosok kakak, teman, sahabat, dan cinta saat di waktu yang sama.
Jadi tak heran jika Rista bisa sekecewa ini saat Dedi memutuskan untuk pergi, karena Rista terlanjur menjadikannya tempat menggantungkan hidup, bukan hanya saat ini bahkan pula masa depannya.
***
“Rina barusan ngabari katanya Rista sudah mau balik?”
“Sudah mau balik? Emang tu bocah kapan pulangnya?” Setidak akrab-akrabnya Andre dengan adik Dika, at least dia tahu sedikit ceritanya.
“Kemaren…” jawab Dika tanpa menatap sekertarisnya ini.
“Wah, dasar bocah. Nggak kerasan bener di rumah. Jangan-jangan dia baru mau balik ke rumah kalau Dedi sudah balik dari Amerika?”
Dika menggidikkan bahu. “Hubungan mereka dulu nggak lebih dari sekedar hubungan cinta monyet. Aku nggak banyak berharap.”
“Emang kamu nggak setuju kalau mereka ngelanjutin hubungannya?”
“Itu terserah mereka. Aku balik ya, tolong beresin yang belum aku selesaikan…”
__ADS_1
Andre melambaikan tangan saat Dika pergi meninggalkan ia seorang diri di ruangannya begitu saja. Ia tak bisa protes meski pun Dika mengacuhkan pertanyaannya.
Saat ini pikirannya Andre berkelana saat dimana ia full bekerja dengan Dedi sebagai atasannya. Beberapa bulan yang ia lalui itu terasa sangat berat, karena ia yang minim pengalaman harus mengimbangi Dedi yang kecerdasan dan kemampuannya luar biasa.
Namun bukan itu yang ingin Andre bahas saat ini, melainkan kelakuan dua sejoli yang sering ia pergoki saat dengan cerobohnya pasangan ini bermesraan di kantor di sela bekerja. Rista sering datang untuk Dedi yang menunggu kekasihnya selesai bekerja, selanjutnya mereka akan pulang bersama.
Andre sempat terkejut saat tahu Dedi dan Rista sempat tinggal dibawah atap yang sama yaitu di rumah Dika. Sehingga dengan mudahnya pikirannya traveling kemana-mana. Sehingga kadang ia berfikir, ini lah yang membuat Rista enggan berhubungan lagi dengan laki-laki, karena tempatnya sudah untuk Dedi.
“Ah sudahlah Ndre. Jangan melulu fokus pada keburukan orang lain yang kamu sendiri tak yakin dengan faktanya. Kamu saja sekarang sudah menghamili anak orang, dan pertanggung jawaban pun belum mampu kamu berikan.” Andre berbicara sendiri sambil memperingati dirinya.
Andre bergegas mengalihkan pikirannya. Ia berusaha memusatkan fokus pada pekerjaan yang harus segera diselesaikannya.
Matanya menatap jajaran huruf dan angka di hadapannya, tapi hampir lima belas menit membaca, ia belum juga beralih dari halaman pertama.
Pikirannya kacau membayangkan nasib hubungannya bersama Hana. Edo memang sudah menyerah. Ia tak akan menentang meski sebenarnya tak sepebuhnya ikhlas. Sekarang tinggal mamanya. Mamanya mau Andre menikah dengan perempuan di lingkup sosial yang sama dengannya. Ia tak mau Andre harus bersusah payah jika harus menikah dengan mereka yang berasal dari luar link mereka.
Jadi jika tahu asal-usul Hana yang tak jelas, pastilah hal ini akan sulit untuk mamanya terima.
Andre meletakkan kasar pekerjaannya. Ia menyerah. Sekeras apa pun ia berusaha, sekarang ia benar-benar tak bisa berfikir jernih untuk bekerja.
Ia menyandarkan punggungnya setelah sebelumnya mengusap kasar wajahnya. “Dedi, Dedi. Saat keluarga Rista sudah oke, eh malah kamunya pergi. Coba kita tuker tempat, pasti aku sekarang nggak pusing gini mikirin kelanjutan hubungan sama Hana.”
Andre berbicara seolah Dedi ada di hadapannya. Ia memang tak cukup dekat dengan pria ini, tapi dibilang tak kenal ia cukup banyak tahu tentangnya meski tak sampai ke daging-dagingnya.
Dika, Andre, dan Dedi merupakan tiga laki-laki yang sama-sama merelakan masa mudanya untuk terjun ke dalam kerasnya dunia kerja. Di saat para anak muda masih menikmati kesenangannya, mereka bertiga sudah tak punya waktu untuk sekedar memikirkannya.
Kesamaan lain diantara mereka bertiga adalah mereka kini berada dalam karir dan kemapanan financial yang sangat baik, namun hal mencolok yang membuatnya berbeda adalah kisah cinta ketiganya yang berada di jalur dan track yang berbeda. Entah bagaimana nantinya, yang jelas mereka hanya ingin bahagia.
Bersambung…
__ADS_1