
HAPPY READING
Kltak!!
Melvin langsung nyengir setelah mampu menghindari lemparan Dika yang nyaris mengenai kepalanya.
“Maaf Bos…” ujar Melvin sembari meringis dan mengangkat ponselnya untuk menunjukkan isi layar yang membuatnya mengumpat seperti tadi.
“Untung sekarang sekarang kamu masih saya butuhkan, kalau tidak bukan asbak yang dilepmar, tapi kamu.”
“Ampun Bos, ampun. Lagi emosi tadi. Ppadahal dikkiiiiiit lagi menang. Eh kena tembak gara-gara disambi minum.”
“Lain kali kamu yang mati aku tembak.”
Rio tertawa kecil di tempatnya. Dika memang pandai membawa diri. Baru saja ia bisa serius saat berbicara dengannya, sekarang ia sudah seperti anak muda yang mudah terbakar dan berkobar saat menghadapi kegilaan pria bertato yang kerap kali ada di sekitarnya ini.
“Vin, sekarang kamu coba backing Andre dari belakang, aku takut dia diserang seperti waktu itu,” ujar Dika memberi perintah.
“Oke bos.” Melvin menyimpan ponselnya dan bangkit dari tempatnya. "Cabut dulu."
Dika hanya menggerakkan sedikit kepalanya sebelum Melvin angkat kaki dari ruangannya.
“Andre pernah di serang?” tanya Rio begitu Melvin sudah tidah ada.
Dika mengangguk. “Kamu tak tahu?” tanyanya balik pada Rio.
Rio menggeleng sebagai jawabannya. “Kejahatanku sebatas menghalangi hubungan Hana dengan papa,” lanjut Rio yang merasa jika dia masuk ke dalam list orang yang Dika curigai.
Dahi Dika mengernyit. Nampak sekali ia tengah memikirkan sesuatu sekarang ini. “Mungkin nggak kalau papa kamu dalangnya?” tanya Dika hati-hati.
Rio berusaja menjaga wajahnya tetap tegak, namun sebisa mungkin menghindari tatapan langsung dengan Dika. Meskipun ia sendiri tak yakin dengan hal ini, namun yang jelas ia tahu papanya adalah orang yang sadis.
“Papa itu masih membutuhkan Hana, jadi nggak mungkin papa mau mencelakakan Hana.” Sejahat apa pun papanya, namun ia sering kali tak rela mengatakan hal buruk pada pria yang telah memberikan kehidupan padany ini.
“Tapi Andre yang luka parah waktu itu, mungkin nggak…”
Rio menggeleng untuk menanggapi ucapan tak sempurna Dika.
“Ya udah Yo. Aku tak mau memaksamu untuk lebih banyak membahas Hana. Yang jelas hari ini aku sudah tenang karena rekan bisnisku dan mesin pencari uangku sudah tak saling menuduh dan menerka lagi.”
Rio tersenyum menanggapi ujaran Dika. “Sebelum berpamitan, aku ingin menanyakan satu hal.”
Dika hanya menggunakan gesturenya untuk mempersilahkan.
“Hana pernah mencurangi perusahaan ini, bahkan pernah berusaha mencelakakan Rina. Aku penasaran, bagaimana caranya kamu bisa dengan mudah memaafkannya?”
“Gimana ya. Aku juga bingung. Mungkin karena aku tahu alasan yang ada dibalik perbuatan Hana.” Dika tak begitu yakin dengan apa yang menjadi alasannya memang.
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Ya kamu tahu kan Hana melakukan semua ini atas arahan siapa?”
Rio menghela nafas. Jika tak ada Hana, mungkin ia yang akan melakukan hal itu kepada Dika. Haruskah ia berterimakasih sekarang?
“Hanya itu?” tanya Rio memastikan.
“Masih ada sih sebenarnya.”
“Apa?” Rio benar-benar dibuat penasaran sekarang.
Namun Dika tak langsung menjawab. Dia nampak tengah menimbang-nimbang. “Sudah lima tahun aku menikah dengan Rina, dan setelah kami mempublish pernikahan hal pertama yang kami rencanakan adalah punya anak,” jujur Dika mengawali ceritanya.
“Kamu tahu apa yang kami dapat setelah melakukan serangkaian pemeriksaan?”
Rio menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Dika.
“Rina mengalami gangguan kesuburan, sehingga sulit bagi kami menerima keturunan secara alami.”
Ternyata dibalik kecemerlangan karir Dika dia harus mengalami hal seperti ini, batin Rio.
“Akhirnya setelah berjuang melawan tekanan kami memutuskan untuk melakukan rekayasa hormonal untuk mendapatkan keturunan. Namun gagal. Tubuh Rina menolak dengan berbagai komplikasi yang harus ia alami.” Pandangan Dika menerawang.
“Dan kamu tahu, setelah kami menyerah dan pasrah, tiba-tiba Allah memberika keturunan di rahim Rina tanpa di duga. Di saat logika manusia berkata tidak, namun saat Allah berkehendak semua berhasil dibungkam karena seberapa hebatnya manusia, kita hanya makhluk kecil jika dihadapkan dengan kuasanya.”
Dika menatap Rio yang mulai gusar dan penasaran. “Saat itu belum ada yang tahu jika Rina dan Hana hamil, dan tiba-tiba Hana terjatuh dan mengalami pendarahan.”
“Dan kamu tahu bagaimana Hana bisa jatuh?”
“Hana jatuh saat membantu Rina. Jika dia tak membantu Rina, mungkin sekarang aku dan Rina yang harus menangis bukan Hana.”
Dari raut wajahnya, jelas Rio tak menyangka hal semacam ini bisa Hana lakukan.
“Kondisi Hana terus menurun sejak waktu itu, hingga akhirnya ia harus benar-benar kehilangan anaknya sekarang.”
Rio tertegun mendengar cerita Dika.
“Dan satu hal lagi yang membuatku dan Rina tak ragu untuk memaafkan Hana, yaitu karena Hana tanpa ragu membiarkan dirinya sakit di saat Rina dan aku tanpa ragu mengungkapkan kebencian kami padanya.”
“Bisa kamu bayangkan betapa Hana harus berbesar hati saat itu?”
Rio yang semula sudah berniat pamit kini menyandarkan lagi
punggungnya. Tak hanya tubuhnya yang tak mampu tegak, kepalanya pun tertunduk perlahan.
“Indah juga sering mengingatkanku terkait Hana yang tak pernah secara langsung berbuat salah padaku. Namun bagiku kehadirannya adalah sebuah kesalahan. Jadi apa pun yang ia lakukan akan tetap salah di mataku.”
__ADS_1
Kata-kata Rio sarat akan kebencian, tapi dari caranya mengucapkan sepertinya ada penyesalan yang ia ingin sampaikan.
“Aku dan Rina semula juga merasa memaafkan Hana adalah sebuah kemustahilan, tapi ternyata hati kami menyerah dengan mudahnya.”
Dika menarik laci dan mengeluarkan sebuah kotan kecil berwarna putih. “Butuh ini?” Dika menyodorkan kotak setelah ia mengambil satu isinya untuk dirinya sendiri.
Rio tersenyum miring.
“Boleh lah.” Rio menegakkan punggungnya dan mengambil sebatang untuk ia nyalakan. “Aku sangat menahan diri saat di rumah.”
“Apa Indah tak suka?” tanya Dika setelah mengepulkan asap dari mulutnya.
Rio menggeleng. “Aku hanya tak ingin kebiasaan burukku ini mengganggu kesehatan orang-orang yang ada di dekatku.”
Dika hanya menggerakkan alisnya sebelum menghisap batang putih yang terselip di sela jarinya. Setelahnya, dua pria ini hanya diam dan berteman dengan kepulan asap.
Tak heran Dika bisa memaafkan Hana, bahkan dulu saja dia bisa memaafkanku. Memaafkan kesalahan yang aku sendiri malu saat mengingatnya. Batin Rio saat ia sesekali menatap Dika di tempatnya.
“Kabar Indah bagaimana?” tanya Dika setelah merasa cukup kediaman diantara keduanya.
“Dia sehat. Hanya saja di kehamilan ketiganya ini dia gampang sekali lelah, tapi tak sampai selemah hamil pertama dulu,” jelas Rio.
Tiba-tiba Dika tertawa sebelum ia meraih batang yang kedua.
“Ada yang lucu?” tanya Rio heran.
Dika hanya menggeleng karena ia sekarang sedang menyalakan rokoknya keduanya.
“Fuuhhhh….” Dika meniupkan asap itu dengan nikmat sebelum kembali menatap Rio yang masih belum juga menghabiskan batang pertamanya. “Rina sempat stress saat tahu Indah hamil anak ketiga?”
“Loh kenapa?”
“Ya karena ia satu saja belum punya di usia pernikahan yang hampir sama dengan kalian.”
Rio sempat membulatkan mata sebelum kedua sudut bibirnya tertarik sempurna. “Dasar kekanakan.”
“Siapa yang kamu katai,” kesal Dika.
“Ehm, maaf.” Rio merasa tak enak. Karena jujur saja membahas Rina sering kali membuat ia tak nyaman, terlebih ini adalah suami dari mantan pacar singkatnya ini.
“Tapi setidaknya Rina bisa lebih dewasa dalam menyikapi kenyataan,” cuek Dika sebelum kembali menghisap batang putihnya.
Rio ingin menghisap lagi gilingan tembakau di sela jarinya. Namun ternyata sudah habis, sehingga harus ia relakan untuk dilempar ke tempat sampah.
Kamu benar Dika. Kalian yang berusia jauh lebih muda dariku tapi sudah lebih dewasa dari pada aku. Aku mengatai kalian kekanakan namun faktanya justru aku yang pikirannya sangat dangkal. Terimakasih untuk pelajarannya. Tamparanmu sangat terasa, tanpa perlawanan dan tanpa kekerasan. Tapi kamu bersedia menerimaku dengan sangat baik seperti ini melihat sebarapa besar kesalahan yang aku perbuat di masa lampau.
Bersambung…
__ADS_1