
Hallo bulan September. Bulan ini jadi favorit Senja nih karena Senja lahir di bulan ini.
HAPPY READING
“Ya ampun. Kok gitu banget cerita hidup Hana ternyata.”
Dika plonga-plongo melihat reaksi istrinya. Semula ia mengira Rina akan mencak-mencak dan menjadi hater garis keras Hana mengingat bagaimana perlakuan buruk yang pernah Rina terima dari Hana. Terlebih setelah tahu sejarah kelam kehidupan Hana. Di luar dugaan, ia justru iba dan merasa kasihan dengan Hana sekarang.
“Ke rumah sakit sekarang yuk,” ujar Rina lagi
Dika makin bengong lagi sekarang. “Mau ngapain?”
“Ya aku mau lihat Hana lah. Aku ngerasa punya andil dengan kondisinya sekarang. Kecelakaan saat bersamaku itu adalah yang pertama, yang membuat kondisinya buruk dan rentan seperti sekarang,” jelas Rina panjang lebar.
Dika masih sulit untuk percaya. “Apa kamu beneran?”
"Beneran apanya?" tanya Rina.
"Ya beneran kamu nggak, emm..." Dika tak enak jika harus mengatakan dugaan yang sebelumnya ia alamatkan pada istrinya. Ia sendiri yang melilih Rina untuk menjadi pendamping hidupnya, dan bisa-bisanya ia menyangkakan periraan seburuk itu pada Rina.
"Kamu beneran khawatir dengan Hana?" tanya Dika hati-hati.
"Ya iya lah. Kamu pikir aku nggak punya hati apa."
Dika tersenyum bangga menatap Rina. Ia pasrah saat Rina menarak tangannya untuk bangkit dari meja makan.
“Eh, eh, eh mau ke mana?” heboh Santi yang sejak kemarin menginap di sini.
“Mau ke rumah sakit Ma,” jelas Rina.
“Mau ngapain?” tanya Santi penuh selidik. Ia segera meletakkan susu khusus ibu hamil yang baru saja ia buat untuk Rina.
“Mau, ennggg…” Rina bingung sendiri bagaimana cara mengatakannya. Kemarin ia dan Dika sudah sepakat untuk tak membahas masalah Andre dan Hana mengingat bagaimana kondisi mereka berdua saat ini.
“Ahhh, Rina pengen makan es krim yang pernah aku beli waktu itu Ma.”
Terpaksa Dika berbohong. Ia tak ingin Andre dan Hana makin tertekan. Mereka memang berdosa, tapi sepertinya mereka sudah sadar kesalahan yang telah mereka lakukan, sehingga Rina dan Dika sepakat akan membackup mereka apa pun resikonya.
“Ya ampun, bukannya beli dimana saja rasanya sama. Itu es krim kemasan kan?”
“Iya Ma, tapi Rina pengan yang sama…” Rina turut masuk ke dalam scenario dadakan yang dibuat suaminya.
“Tapi kamu masih harus bedrest Rina.” Santi coba mengingatkan menantunya.
“Nah kan, dengerin tuh kata Mama,” timpal Dika.
Rina menghela nafas. Ia sendiri baru ingat jika ia sendiri harus banyak istirahat. Ini semua terjadi karena ia sangat mengkhawatirkan kondisi Hana.
__ADS_1
“Iya deh iya. Tapi beliin ya.”
“Pasti sayang,” jawab Dika sambil mencium puncak kepala Rina. “Ya udah aku berangkat.”
Rina mengangguk dan mulai berjalan mengikuti suaminya.
“Ini susunya…” ujar Santi mengambil susu yang semula ia taruh dia atas meja. Ia meminta Rina agar segera meminum
susu yang tadi dibuatnya.
Karena tak enak, Rina menahan Dika sementara ia meminum susu yang khusus dibuatkan oleh mertuanya.
“Makasih Ma,” Rina meletakkan gelas yang telah ia habiskan isinya. “Rina antar Dika ke depan ya Ma…”
Akhirnya Santi pun turut mengantarkan anaknya berangkat bekerja.
“Nitip Rina ya Ma…”
“Tenang, semua aman kalau ada Mama. Nanti mama Ririn juga ke sini, dan…” Santi sengaja menggantung ucapan karena ingin membuat anak dan menantunya penasaran.
“Mamaaaa…, jangan main-main deh. Dan apa?” tanya Dika yang tak suka dibuat penasaran.
“Dan Rista mau pulang, yeeyyy….”
Santi bertepuk tangan girang persis anak kecil yang dikasih coklat.
Berbeda dengan dua wanita yang bersamanya ini, Dika terlihat memasang wajah datarnya.
“Kamu nggak seneng Rista pulang?” tanya Rina penasaran.
“Ya seneng lah…” ujar Dika sambil melihat jam di pergelangan
tangannya. “Aku berangkat sayang.”
Dika mencium puncak kepala Rina kemudian mencium tangan mamanya. Ia kemudian segera masuk mobil dan pergi bersama supirnya.
“Suami kamu kenapa?” tanya Santi pada menantunya.
Rina menggelengkan kepala. “Nggak ngerti Ma…”
***
“Kusut banget itu muka?” tanya Rahma pada Elis yang baru tiba dengan wajah lesunya.
Elis hanya menanggapinya dengan senyum kecut sebelum mendaratkan pantatnya di kursi kerjanya.
“Eh beneran ya?” kaget Rahma saat melihat Elis wajahnya masih sama meski ia telah menggodanya.
__ADS_1
Rahma bangkit dari tempat duduknya. Ia kemudian berjalan menghampiri Elis.
“Kamu ada masalah, cerita dong…”
Elis menghela nafas dan membalas tatapan Rahma. “Bukan masalah aku sih, tapi masalah…”
Tiba-tiba terdengar derap langkah bersahutan yang bisa mereka tebak jika itu bukan Andre dia adalah Dika. Buru-buru Rahma kembali ke tempatnya, sementara Elis mulai melihat pekerjaannya hari ini. Tak berselang lama ternyata dua orang yang mereka perkirakan datang berbarengan. Tak ada obrolan tak ada sapaan. Mereka berjalan bersama dalam diam dan menghiraukan sapaan Rahma dan Elis yang baru saja diberikan. Sampai tiba waktunya mereka menghilang di balik pintu.
“Pst, pst…”
Elis yang paham kode yang Rahma berikan segera menatap ke arahnya. Ia hanya menggerakkan alisnya seolah berkata kenapa.
“Pak Andre sekarang ikutan membeku kayak pak Restu nggak sih?”
Elis mengangguk setuju. Jika saja ia sendiri tak sedang kecewa karena kenyataan pahit yang tak sengaja kemarin ia ketahui tentang Andre, mungkin sekarang ia sudah menumpahkan isi kepalanya yang masih penuh memikirkan pria ini.
“Aku jadi penasaran. Yang biasa jadi penyejuk mata, sekarang malah over power jadi dua kulkas berwujud manusia.”
Elis menghela nafas. “Yuk ah kita kerja. Mbak Riza hari ini sakit, jadi kita harus bekerja ekstra berdua,” ujar Elis mengingatkan.
“Coba Hana masih ada, dengan ketangkasan dan kepinteran dia, pasti nggak masalah dengan semua ini. Napa sih pakai naksir pak Restu dan jadi dalang kecurangan? Kalau dia kerjanya fair, pasti masih di sini bareng-bareng kita.” Rahma menyesalkan jalan yang dipilih Hana, mantan rekan mereka.
Elis melempar pandangannya ke arah langit-langit. Dulu saat Hana baru masuk ia pernah minder karena kecantikannya. Ia semula menyangka jika Hana bisa meraih posisi tinggi dengan cepat karena mengandalkan kecantikan. Ternyata setelah bekerja sama ternyata Hana tak hanya cantik, bahkan juga sangat cerdas dan cekatan. Dan ia kembali dikejutkan dengan adanya fakta Hana mengincar orang nomor satu di perusahaan mereka, dan berhasil melakukan penggelapan serta pembocoran data yang entah kapan ia melakukannya.
“Hana juga sih pakai maruk mentang-mentang cantik.”
“Ehmm…”
Rahma dan Elis nyaris melompat saking kagetnya mendengar suara deheman Andre yang tiba-tiba. Saking asiknya berbicara, mereka bahkan tak sadar jika Andre baru saja keluar dari ruangannya.
“Kalian di sini dibayar untuk bekerja. Bukan untuk ngobrol dan
mendapat gaji buta.”
Elis dan Rahma menunduk di tempat masing-masing.
“Selesaikan pekerjaan kalian sebelum jam sembilan, saya tunggu di ruangan saya.”
Andre berkata tanpa melihat kedua stafnya. Ia kemudian pergi dan menghilang di balik ruangan Dika.
“Lu sih pakai bahas masalah Hana,” kesal Rahma.
“Hello. Elu yang mulai dulu tadi,” protes Elis mengingatkan.
Rahma menghela nafas. “Oke deh, oke deh. Ayo kerja, kerja, kerja…”
Kedua wanita ini ,ulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sementara Andre dan Dika juga tengah berpacu dengan waktu untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung…