Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Roda Kehidupan


__ADS_3

HAPPY READING


“Assalamu alaikum…!!!!”


Tok, tok tok tok, tok tok


Tok, tok tok tok, tok tok


“Waalaikum salam.”


Mendengar ketukan pintu yang bernada dan berulang dari luar ini, membuat Hana berjalan cepat-cepat untuk membukanya. Ia tak perlu bertanya ini siapa karena ia sudah hafal bahwa ini suara dari pemilik tempat tinggal yang ditumpanginya ini.


“Ya ampun, mau patah kakiku,” gerutu Risma sambil berjalan gontai melewati kamarnya.


Risma melepas sepatunya begitu saja dan melempar kaos kakinya ke sembarang arah. Hana tahu wanita ini lelah makanya ia berinisiatif untuk memungutnya dan menaruh di keranjang cucian di salah satu sudut ruangan.


“Ada yang gangguin kamu lagi ya?” tanya Hana setelah kembali dan duduk di samping Risma.


“Aman sih, cuma yang nggak aman pelanggan. Sampe makan aja hampir nggak sempet…”


“Ada pelanggan yang rese?” tanya Hana penasaran.


“Nggak sih Han, cuma nggak tahu kenapa toko hari ini rame bbbbwwaaaaaaannnnnggggeeettt, nget, nget, nget, nget, nnggeeetttttt. Dah nggak ngerti gue…”


Risma langsung melempar tubuhnya dan berbaring dengan tangan terlentang di atas lantai.


“Jangan di situ Ma, nanti masuk angin.”


Risma mendengus. “Lidah kamu kenapa sih? Bener-bener nggak bisa ya manggil nama depanku?” gerutu Risma lirih sekali.


“Apa Ma?” tanya Hana yang tak begitu dengan jelas mendengar ucapan Risma.


“Kagak.” Risma bangkit dan menyambar handuk sebelum masuk ke kamar mandi.


Hana masih duduk sambil memperhatikan kamar Risma yang luasnya tak seberapa itu. Perutnya sudah tak seberapa sakit, lukanya juga sudah mulai membaik, namun darah istihadhah yang keluar pasca keguguran belum juga hilang sampai sekarang. Ia khawatir jika darah ini tak juga berhenti, bisa-bisa Risma berfikir macam-macam karena haidnya tak selesai selesai.


“Han, ambilin fash wash dong!” teriak Risma dari dalam kamar mandi.


“Dimana?” tanya Hana dari luar.


“Di tas aku, tas yang barusan aku pakai…” teriak Risma dari dalam kamar mandi.


“Bentar…”


Hana bangkit dan meraih tas yang baru saja Risma tanggalkan saat pulang kerja. Di sana tak ada bedak, lipstick atau parfum yang biasa ada di tas wanita pada umumnya termasuk dia dulu. Hanya ada HP, dompet, beberapa kertas yang Hana tak tahu apa dan satu buah fashial wash yang masih tersegel yang Risma minta tadi. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Hana segera bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi.


“Makasih…” ujar Risma yang kepalanya muncul dan tangannya terulur.

__ADS_1


Hana hanya tersenyum dan kembali ke tempat semula.


Di atas kursi, Hana melihat kedua telapak tangannya yang iritasi saat ia mencuci tadi. Belum juga cucian yang ia renadam dikucek semua, tangannya sudah terasa panas dan memerah di beberapa bagian. Semula rasa itu tak ia hiraukan. Ia hanya berfikir ini hanya reaksi detergent karena ia sudah lama tak pernah mencuci langi dengan tangan. Namun baru dapat satu potong, ia benar-benar tak tahan. Sehingga terpaksa ia hentikan. Beruntung ia menumukan sarung tangan karet di kamar Hana. Sehingga ia bisa menyelesaikan mencuci meski sekarang tangannya harus perih dan gatal karena iritasi.


“Lagi ngeliatin apa sih?”


Hana benar-benar terkejut saat melihat Risma tiba-tiba muncul dan sudah menyelesaikan mandinya. Ia langsung menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang badan.


“Cepet banget?” Hana balik bertanya untuk menghindari pertanyaan Risma.


“Apanya?”


“Kamu mandinya?”


“Mandi doang emang butuh berapa lama sih. 5 menit itu sudah lebih dari cukup…” ujar Risma sebelum menyampirkan handuknya.


“Wah, super memang.”


"Apanya yang super?"


"Ya kamu itu. Mandinya kilat sekali. Padahal keramas juga."


“Ah, biasa. Yuk makan, udah laper gue. Aku beli nasi campur nih. Nggak tahu isinya…” kata Risma sambil melepas karet yang mengikat bungkusan.


Tanpa ba-bi-bu Risma langsung melahap makanannya begitu saja tanpa alas piring dan tanpa mengambil sendok sebelumnya.


Berbeda dengan Hana. Ia dulu punya tak pernah masalah makan dengan tangan atau bahkan sambil jongkok sekalian, tapi sekarang ia sudah kehilangan kemampuan makan bar-bar seperti ini. Tepatnya setelah ia hidup bersama Galih kemudian bersama Andre yang benar-benar diperlakukan bak ratu beberapa waktu terakhir.


Risma hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan. Setelah mendapat apa yang ia cari, Hana segera membuka makanan yang Risma bawa. Ia menarik nafas panjang setelah melihat makanan dengan porsi nasi yang sangat banyak.


“Kenapa dilihatin? Nggak doyan ya?” tanya Risma saat melihat Hana diam memandangi makanan di hadapannya.


“En, enggak kok.”


“Terus kenapa nggak dimakan. Kamu butuh makan loh biar cepet pulih.”


Hana menatap Risma yang kini tengah menatapnya juga.


“Aku cuma heran di daerah sini beras murah apa gimana ya. Soalnya porsi nasinya banyak sekali,” ujar Hana dengan cengiran yang jarang sekali ia gunakan.


“Lah, makanan emang porsinya segini. Kalau ini dikurangi pasti pada pindah nanti. Emang sebelumnya kamu itnggal dimana sih?”


“Ehm, makan Ma…” Hana berlagak tak mendengar pertanyaan Risma dan segera memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.


“Hmmm…” Risma mendengus. Ia segera memasukkan sesuap besar makanan karena dongkol Hana tetap saja memanggilnya dengan cara itu. Sementara Hana masih harus berjuang memakan karbo yang jauh lebih besar dari pada protein atau semacamnya ini.


***

__ADS_1


“Sudah ada perkembangan?” tanya Andre saat ia baru saja menjawab sebuah panggilan tersambung di ponselnya.


“….”


“Cari terus dan laporkan jika kalian menemukan sesuatu.”


Bip


Andre kembali menyimpan ponselnya setelah yakin jika panggilan yang sebelumnya ia langsungkan sudah terputus. Ia kemudian kembali bergabung bersama Dika yang tengah rapat bersama para tenaga ahli yang menggarap proyeknya ini.


Setelah membahas perkembangan proyek beserta segala kendala dan hambatan yang dijumpai oleh pekerja, Dika memutuskan untuk mengajak Andre istriahat terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan lagi agenda yang belum usai hari ini.


“Masih ada waktu berapa lama lagi?” tanya Dika pada Andre yang nampak sibuk dengan gadget di tangannya.


Andre mencocokkan draft agenda dengan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia baru sadar jika ia tak mengenakan jam tangan saat ini karena jam tangan yang beberapa waktu terakhir menemaninya telah pergi bersama Hana yang menghilang darinya saat ini.


“Andre…” panggil Dika saat sekertarisnya ini diam saja.


“Maaf Bos…” Andre kemudian memeriksa jam di ponselnya. “Masih ada satu jam. Dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit…” lanjut Andre menjelaskan.


Dika mengangguk paham. Ia meraih kopi hitam miliknya dan menyeruput sedikit di ujungnya. “Bagaimana kabar pencarian kamu?” tanya Dika pada Andre.


Andre hanya menggeleng sebagai jawabannya.


“Apa kamu menyerah?”


“Tentu tidak. Aku memang tak sengaja jatuh cinta dengan Hana, tapi niatku sudah bulat untuk hidup dengannya,” jelasnya tanpa ditanya.


“Kamu siap menghadapi orang tuamu jika ternyata mereka tetap tak mengikhlaskanmu menjalin hubungan dengan Hana?”


“Aku hanya memperjuangkan apa yang seharusnya aku perjuangkan. Aku tak berniat durhaka pada mama papa, hanya saja aku sadar jika kita tak bisa selamanya menyenangkan semua orang.


Keduanya sempat saling menatap hingga akhirnya Dika mengangguk sebagai wujud dukungan.


"Selain itu aku tak bisa lepas tangan setelah semua yang aku lakukan pada Hana,” ujar Andre.


“Jadi intinya kamu ingin hidup dengan Hana sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kesalahan yang telah kamu perbuat?” tanya Dika memastikan.


“Tidak begitu juga. Aku memang merasa yakin jika memang ia yang terbaik untukku.”


“Bukan karena parasnya?” goda Dika.


“Jujur saat aku sedang memejamkan mata bukan bayangan kecantikan Hana yang terlihat, melainkan kenyamanan yang aku rasakan saat bersamanya,” jawab Andre dengan wajah serius.


“Maksudnya kenikmatan?” Dika masih belum menyerah menggoda sekertarisnya ini. Terlebih ketika sadar Andre yang sekarang bukanlah Andre sekertarisnya yang polos dulu yang bahkan stress saat melihat adiknya dan Dedi bermesraan di ruang kerja dulu.


“Sebenarnya maksud anda ini apa Pak Restu Andika?” tanya Andre yang kini dengan beraninya menatap kesal atasannya.

__ADS_1


“Ha ha ha…” Dika benar-benar tak bisa menahat tawanya. Dan Andre yang juga tak benar-benar marah turut larut dalam candaan bersama bosnya kemudian. Keduanya saling mengobrol dan mencurahkan isi hati sembari sejenak mengistirahatkan badan sebelum kembali menjalani roda kehidupan.


Bersambung…


__ADS_2