Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Salah Sangka


__ADS_3

HAPPY READING


"Ehm, saya rasa di sini sudah paham semua ya, tantang siapa saya dan bapak Andre ini..." ujar Rista untuk memecah kaku  wajah-wajah orang yang ada di ruangan ini.


Tangan lentiknya membuka lembaran kertas yang sebelumnya telah Andre persiapkan, karena ia sendir tak tahu benar apa yang harus dikerjakan di sini karena semua persiapan Andre yang melakukan. Ia tinggal datang dan mengalir saja mengikuti skenario yang telah disusun sekertaris kakaknya ini.


“Ini adalah laporan kinerja di Spark Shop. Ada 4 nama yang masuk, yaitu Eka Tyas, Anin Angga, Haning Cahya, dan Arisma.”


“Nama Hana tidak masuk?” kaget Nuke karena sejak awal ia sangat yakin jika Hana adalah kandidat yang akan di tarik ke perusahaan ini.


Andre menggeleng. “Sebelum membahas lebih lanjut tentang masalah ini, mungkin sebagian besar dari kalian bertanya tanya tentang bagaimana saya dan Hana bisa saling mengenal, benar?”


Serempak semuanya mengangguk. Tak terkecuali Rista yang merasa ketinggalan di sini. Hana yang sudah lebih banyak menunduk sejak awal, kini makin menenggelamkan kepalanya karena ia tak yakin dengan nasib yang akan diterimanya.


“Hana ini dulu mantan bawahan saya, jadi dia cukup banyak tahu tentang saya. Makanya ia juga tahu kalau saya harus minum obat ini sebelum makan tadi,” ujar Andre sambil menunjukkan obat yang Rahma antar tadi.


“Bapak dulu sempat di bagian marketing juga sebelum menjabat sebagai sekertaris seperti sekarang?” tanya Eka spontan.


“Marketing?” kaget Rista. “Kak Andre kan…” Rista menahan ucapannya saat melihat samar-samar Andre menggerakkan tangannya.


“Iya…”


Hana mengangkat wajahnya saat Andre dengan mudahnya mengiyakan cerita karangannya.


“Jadi untuk itu nama Hana tidak ada dalam daftar karyawan yang kami pantau kinerjanya karena ia adalah eks karyawan Surya Group. Bukan begitu Hana?”


Hana mengangguk dengan senyum indah menghiasi wajah


cantiknya. Makasih Andre. Kamu sudah mau bersusah payah mencari alasan yang masuk akal. Lanjut Hana dalam Hati.


“Untuk menentukan siapa yang akan direkrut oleh perusahaan, saya serahkan pada Nona Rista untuk secara khusus memilihnya….”


“Saya?” kaget Rista sambil menunjuk dirinya.


“Iya…” jawab Andre dengan penuh wibawa.


“Tapi sebelumnya tidak ada…”  Rista mendengus saat Andre seenaknya memutus kontak dengannya. Tadi katanya aku cuma diminta menemani, dan nggak ada tuh agenda untuk memilih karyawan yang akan ditarik di perusahaan seperti ini, gurutu Rista dalam hati.


Agar para tamu istimewa ini tak meragukan profesionalisme karyawan Surya Group, Rista segera menenangkan diri dan mulai mengobrol dengan keempat wanita yang namanya sudah disebutkan sebelumnya. Ia sempat melontarkan beberapa pertanyaan sebagai bahan pertimbangan siapa yang akan dipilih nantinya. Sedangkan saat Ini Andre sedang mengobrol bertiga bersama Nuke dan Hana di ruang yang sama namun di sisi yang berbeda..


“Saya sempat berfikir kalau Pak Andre ada hubungan apa-apa dengan Hana…” ujar Nuke di sela obrolan dengan mereka.


“Ya memang ada hubungan apa-apa…”


“Hubungan pertemanan maksudnya,” potong Hana cepat sebelum Andre berbicara lebih banyak.


“Bagaimana pengalaman anda bekerja sama dengan perusahaan kami?” tanya Andre pada Nuke.


“Luar biasa sekali Pak. RR Fashion begitu mudah diterima karena desain begitu menarik yang mudah diterima pasar. Surya Group memang luar biasa dalam mempersiapkan produk.”


“Itu semua tak lepas dari loyalitas para pekerja yang menggarapnya, termasuk desainer utama yang saat ini bersama kita,” jelas Andre.


“Siapa?” serempak Hana dan Nuke.


“Dia,” ujar Andre sambil menunjuk Rista.

__ADS_1


“Wah…, hebat ya…” lagi-lagi Nuke dan Hana begitu serempak mengungkap kekagumannya.


“Nona Rista juga aktif menyanyi bukan?” tanya Hana memastikan.


“Iya. Ia juga mengumpulkan pundi-pundi uang dari sana.”


“Oh pantas saya juga merasa tak asing dengan wajah cantik Nona Rista, ternyata saya pernah melihat di kanal youtubenya,” timpal Nuke.


“Dia itu tidak pernah manja, terlebih setelah memutuskan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya,” ujar Andre.


“Sepertinya Pak Andre tahu cukup banyak tentang Nona Rista,” ungkap Nuke.


Rauh wajah Hana berubah saat Nuke menanyakan secara langsung pertanyaan seperti ini pada kekasihnya.


“Benar…”


Degh!


Jantung Hana mencelos mendengar jawaban Andre. Jika sebelumnya ia terganggu dengan pertanyaan Nuke, sekarang ia harus meradang karena jawaban Andre.


Apa maksud Andre ini?


“Jangan-jangan hubungan kalian lebih dari rekan?” tanya Nuke lebih berani.


“Ya itu terserah saja yang melihatnya bagaimana,” cuek Andre sambil menyalakan rokoknya.


Mata Hana memanas. “Saya permisi ke kamar mandi…” Ia segera pergi tanpa menunggu untuk sekedar dipersilahkan. Ia tak mau kalau sampai ada yang melihat ia meneteskan air mata.


“Han, mau kemana, Hana. Lah… pergi…” desah Nuke.


Nuke meringis karena semula ia merasa tak enak karena kelakuan anak buahnya yang dinilai kurang ajar. Tapi sekarang ia baru ingat kalau Andre bahkan sudah mengenal Hana sebelum dirinya.


“Saya juga permisi sebentar.”


Andre mematikan rokok yang belum lama ia nyalakan, kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan.


“Silahkan…” singkat Nuke sambil menundukkan kepala.


Tak membutuhkan waktu lama, Andre segera menghilang di balik pintu.


Di kamar mandi, Hana membasuh wajahnya dengan air tanpa memperdulikan jika ada make up yang melekat di wajahnya. yang mungkin saja luntut saat terbasuh air. Untung yang Andre belikan adalah make up mahal, yang tak mudah luntur jika hanya dengan membasuhnya.


Setelah di rasa sisa air matanya bersih sempurna, Hana meraih tissue untuk mengeringkan wajahnya. Hana mencermati tampilannya yang terpantul dari cermin besar yang di pasang di hadapannya. Ia membuka tas dan mengeluarkan bedak dari sana. Di tap-tap bedak itu di beberapa bagian yang Hana rasa harus ia sempurnakan. Ia tatap sekali lagi wajahnya dan benda berbentuk bundar itu kembali ia simpan setelahnya.


Hana memperhatikan dengan sama setiap bagian di wajahnya. Setelah puas ia memandangi pantulan dirinya dari balik cermin, matanya turun ke bawah untuk mengamati bagian lain di tubuhnya.


"Ini bukan perkara yang nampak saja, tapi tentang sesuatu yang terpancar dari dalam diri seseorang. Aku dan Rista memang berada di level yang jauh berbeda. Jadi pantas lah jika Andre tak bisa berpaling jika sudah dihadapkan pada pesonanya," gumam Hana eakan berbicara pada dirinya.


Hana menghela nafas. "Sadar Hana, sadar."


Hana menarik nafas dalam beberapa kali dan bersiap jika ada hal tak terduga yang nanti akan Andre ungkapkan setelah ia kembali ke dalam.


Tak ingin terlalu lama menghilang dan membuat semua yang ada di ruangan tadi curiga, Hana memutuskan untuk segera kembali ke tempat semula.


Cklek!!

__ADS_1


Greb!!!


Mata Hana membulat saat tiba-tiba tubuhnya merasa tertarik dan menabrak seseorang. Saat ia ingin mengembalikan keseimbangan, barulah ia sadar jika kini ia sedang terkungkung dalam pelukan.


“Kenapa lama sekali?”


Hana menggigit bibirnya saat ditatap secara intens seperti ini.


“Kenapa diam saja…” Andre menggerakkan jempolnya untuk membebaskan bibir Hana dari gigitannya.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Hana setelah mampu lebih menguasai dirinya.


“Hanya ingin memastikanmu untuk tak pergi dan menghilang lagi,” jawab Andre masih dengan kuncian mautnya.


“Bukannya kamu sudah bersiap membiarkanku pergi?” sarkas Hana yang masih meyakini dugaan Andre punya hubungan lebih dengan Rista.


Andre merendahkan tubuhnya dan mempererat pelukannya.


“Atas dasar apa kamu menarik kesimpulan seperti itu, hmm?”


Hana menghela nafas. “Aku sadar kalau aku berada di level yang jauh berbeda dengan Nona…”


“Nona siapa yang kamu maksud?” Andre paham maksud Hana, namun ia sengaja mempermainkan wanitanya ini. Ia kian merendahkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hana. Perlahan tapi pasti beberapa kecupan lembut mendarat manis di atas permukaan kulit yang putih dan mulus milik Hana.


“Nah, nah, nah….”


Hana hendak menarik tubuhnya namun lengan Andre dengan sigap menahan tubuhnya.


“Aku sudah curiga kalau kalian ada apa-apa…”


Rista menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap dua sejoli yang berpelukan mesra di hadapannya ini.


“Coba lanjutkan tadi mau ngomong apa?” tantang Andre pada Hana dengan suara rendah namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Rista yang ada di sana.


Hana yang awalnya ingin menarik tubuhnya kini justru menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andre. Andre sadar betul kalau Hana sedang salah tingkah.


“Ris, tadi tu ada yang, emb…”


Entah darimana tangan Hana muncul dan membungkam mulut Andre tiba-tiba.


“Apa?” tanya Rista penasaran.


Andre menggeleng karena Hana benar-benar tak mengizinkannya berbicara.


“Ssshhhh… aku balik…” Gerutu Rista.


“Nona tunggu.”


Ristaa menahan langkahnya saat merasa Hana memanggilnya.


“Jangan bilang pada orang-orang di dalam kalau kami…” Hana mendesah karena cukup malu mengatak hal ini.


"Tenang saja..." ujar Rista sambil mengibaskan tangannya. Ia melanjutkan langkah meninggalkan Andre dan Hana yang ia yakini akan melakukan adegan lanjutan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2