
Sorry, sorry.
Setelah suami demam, kemudian Senja sama si Boy yang giliran demam.
Oleng beberapa hari terus kali ini bisa nulis lagi.
Semoga restu dari papa Galih ini bisa mengobati kekecewan temen-temen reader karena updat yang tak muncul beberapa hari terkahir.
HAPPY READING
Indah ternyata belum dibawa ke ruang rawatnya. Ia masih harus dibawa ke ICU untuk memulihkan kesadarannya. Di sana ia juga mendapat pemantauan intensif untuk berjaga jaga jika ada komplikasi pasca operasi yang ia jalani.
Rudi sudah kembali ke ruangannya, sedangkan Dika memilih untuk berada di samping Rina yang tengah menenangkan Hana. Hana sebenarnya diam saja, namun jelas sekali raut cemas tercetak di wajahnya.
Sedangkan Mustika dan kedua orang tua Indah sedang menjada Rida dan Rangga yang mulai bosan dan mengajak kemana-mana.
Tinggallah Andre yang sama sekali tak membiarkan Galih pergi atau pun meninggalkannya barang sejengkal. Ia belum bicara, namun ia berusaha bertahan di samping pria paruh baya papa dari wanita yang dicintainya sedikit membuka diri untuk sekedar mendengar ucapannya.
“Untuk membahas masalah ini, mungkin sebaiknya kita menungga ada Rio dan Mustika, karena mereka juga berhak tahu kebenarannya,” ujar Galih tiba-tiba.
“Jadi intinya?” tanya Andre yang jujur saja sangat penasaran dengan status Hana sebenarnya.
“Intinya yang harus kamu tahu adalah Hana itu anak saya, jadi kamu nggak bisa seenaknya kalau mau nikahi dia.” Hanya ini yang bisa Galih titik beratkan.
Andre menghela nafas. Ia sepertinya harus mempertebal kesabaran.
“Sejauh mana hubungan kalian?” Galih sepertinya mulai memposisikan diri sebagai papa Hana. Terbukti dari pertanyaannya seperti dialog wawancara seorang ayah kepada calon mantunya.
Andre menelan ludah. Dilema kan? Harus diceritakan dari sudut pandang dan bagian apa ini. Bisa-bisa ia kehilangan restu tiba-tiba kalau tahu ia pernah menghamili Hana hingga keguguran akhirnya. Karena sebejat-bejatnya orang tua, tak pernah rela anaknya diperlakukan bejat oleh orang lain meski dasarnya cinta.
“Andre. Jangan sampai saya cabut rasa simpatik saya sama kamu…” ancam Galih melihan Andre diam saja.
Andre meringis. Ketegangannya langsung musnah saat harus bersilat lidah membahas masalah ini. Terlebih ini adalah Galih, pria paruh baya yang kerap kali ia bantai dalam lelang tender atau pertemuan bisnis yang menjadi ajang resmi pertemuan mereka selama ini.
__ADS_1
“Saya sangat mencintai Hana Pak Galih. Entah sejak kapan namun saya menyadarinya sejak saya berhasil menendangnya keluar dari perusahaan,” jujur Andre menceritakan bagaimana awal mula hubungan mereka.
“Kamu yakin?” Galih sepertinya sulit mempercayai ucapan Andre begitu saja. Karena selama beberapa tahun bersinggungan, Galih tahu Andre ini tak sesederhana kelihatannya.
Andre mengangguk mantab namun sejurus kemudian, ia justru menghela nafas dan menundukkan kepala.
“Ada bagian yang membuatmu ragu untuk mengatakannya pada saya?” Sarkas Galih yang kini tengah menggunakan analisanya yang tajam sebagai pembisnis handal selama ini. Memang dia bukan menjadi yang terbaik dan terbesar, namun prestasinya tak bisa dipandang sebelah mata.
Andre menggaruk kepalanya. Kenapa aku jadi lemah kalau sudah urusannya sama Hana. Racaunya dalam hati.
“Ini panggilan terkahir saya. Kalau masih kamu acuhkan, saya ingin segera pergi sembari menunggu menantu dan cucu saya boleh dijenguk.”
“Ehm…” Andre berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Tidak ada waktu untuk menghela nafas atau sekedar menunggu stabil detak jantungnya.
“Mungkin awalnya kami saling punya niat untuk menjatuhkan, namun akhirnya kami jatuh bersama-sama…”
“Maksud kamu?”
“Benar kata Anda jika saya membawa Hana ke sisi saya hanya agar dia tak kembali membahayakan perusahaan, karena saya yakin dengan menjebloskannya ke penjara tak berarti bisa menghentikan langkahnya menghancurkan kami. Apakah dugaan saya benar?”
Kembali Andre mengusap tengkuknya yang tak gatal. Masa iya aku harus bilang kalau kami mulai merasakan cinta setelah aaarrrgghhh!!!
Untungnya Andre masih bisa menahan diri. Sehingga ia sama sekali tak menyuarakan kekacauan di dalam kepalanya.
“Karena Hana sangat cantik. Bagaimana saya bisa menolak wanita secantik Hana.” Andre memang asal bicara, namun yang dikatakannya adalah sebuah fakta.
Hana yang semula gugup ingin sekali menggetok kepala Andre. Ia kesal, namun tersanjung di waktu yang sama. Ditambah dengan Rina yang menyenggol bahunya dan Dika yang melengos entah menatap apa. Ia makin salah tingkah dan bingung harus berbuat apa.
“Aku sudah bilang kan, Andre itu orangnya random. Dia kek kulkas itu cuma kalau urusan pekerjaan, sejak SMA dia yang paling pecah,” bisik Rina yang diamini dengan lengkung di bibir Dika yang tertarik sebelah.
“Ssttt, sstt…”
Hana tak mau menanggapi. Ia justru meminta Rina untuk diam karena masih ingin fokus mendengar apa yang Galih dan Andre bicarakan juga sekalian ingin mengurangi rasa gugup yang ia rasakan.
__ADS_1
Kecantikan memang sukar untuk ditolak, terlebih jika dipoles sedikit dengan perhatian dan rasa nyaman. Itu lah sebabnya Galih hingga terjebak dengan dua wanita hingga punya anak dari dua wanita yang berbeda. Jadi sepertinya alasan Andre ini bisa ia terima.
“Lantas maksud kamu Hana yang juga ingin menjatuhkanmu?” Galih benar-benar ingin tahu, karena sejak misi terakhirnya, Hana benar-benar pergi darinya.
“Hana ingin menyerang perusahaan dari dalam. Karena melalui Dika sudah gagal, ia ingin coba melewati saya,” ujar Andre apa adanya, karena ini lah yang pernah Hana akui di hadapannya.
Galih enggan bersuara. Ia hanya meminta Andre melanjutkan ucapannya.
“Hingga saat itu kami diserang entah siapa yang menyerang, tapi jujur kami kira itu adalah suruhan Om untuk membawa Hana pulang.” Entah dasar apa Andre tiba-tiba merubah panggilannya pada Galih. Namun sepertinya Galih tak keberatan dengan panggilan Om oleh Andre.
Namun di sisi lain kening Galih berkerut. Ia tak menyangka aksinya waktu itu justru mengantarkan putrinya pada keruntuhan niat awalnya.
“Sampai dua kali Om yang parah. Sampai-sampai Hana…, Hana harus masuk rumah sakit karena cidera.” Bisa-bisanya gitu lo Andre gugup dan hampir mengatakan yang sebenarnya jika Hana sampai keguguran dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Hana bernafas lega karena Andre bisa mengendalikan diri dan tak menceritakan sedikitpun tentang keguguran yang ia alami, padahal faktanya itu hampir terjadi.
“Dua kali…” Galih mengulang ucapan Galih dengan nada rendah. Aku hanya menurunkan perintah untuk membawa Hana kembali sebanyak satu kali, tapi kenapa ada serangan lain. Siapa yang ingin mencelakakan Hana. Atau mungkin bukan Hana target utamanya.
“Kamu tahu siapa pelakunya?” tanya Galih to the point.
Andre menggeleng. “Untuk itu saya beranikan untuk bertanya langsung kepada Om sekarang? Mungkinkah kecurigaan saya benar atau justru salah besar?”
Galih menggeleng.
“Hhh, syukurlah.” Andre mengurut dada diakhir kalimat pendeknya.
Merasa jalan hubungannya dengan Hana terbuka, Andre memutar kepalanya untuk mencari keberadaan Hana yang sempat ia acuhkan beberapa saat lamanya. Setelah tahu keberadaannya, ia baru sadar jika kekasihnya ini ternyata terus memperhatikannya sejak tadi. Keduanya saling melempar senyum dan memutus kontak sedetik kemudian.
Agak berat memang, tapi Galih akhirnya mengangkat juga sebelah tangannya. Dengan gerakan perlahan ia meletakkannya di bahu Andre. Ia yakin akan ketulusan pria ini. Andre berbeda dengan dia dulu yang masih labil dan butuh tangga untuk mencapai puncak. Sehingga tak akan ada Mustika atau Erika di masa depan yang akan membuat hidup Andre rumit seperti hidupnya.
Melihat apa yang Galih lakukan padanya, Andre langsung menatap pria paruh baya yang belum hilang kharismanya hingga masa kini berhadapan dengannya.
“Om…” Andre sepertinya butuh waktu untuk sekali lagi memantabkan hati meminta restu pada pria ini.
__ADS_1
“Saya tidak akan menghalangi hubungan kalian…” ujar Galih memberi restu.
Bersambung…